Sabtu, 09 Januari 2010

"In Memoriam": Frans Seda


Sabtu, 9 Januari 2010 | 03:20 WIB

Toeti Heraty N Roosseno

Tahun 1956 seorang putra Flores Indonesia lulus sarjana ekonomi Belanda, Universitas Katolik Tilburg. Lulusan Belanda masih langka sejak penyerahan kedaulatan Belanda-Indonesia, dan Frans memanfaatkan beberapa waktu untuk menikmati sisa waktu sebelum kembali ke Indonesia dengan idealisme tinggi.

Ia antara lain pernah menghadiri suatu pementasan drama oleh mahasiswa Indonesia: naskahnya ciptaan Basuki Gunawan dan sutradaranya Iwan Simatupang. Persoalannya, siapa yang akan memperoleh peran utama.

Konon kabarnya ini selalu diperebutkan setiap tahun antara dua tokoh berposisi primadona ialah Titi Sutan Assin atau Nora Panggabean–Waney, jadi akhirnya yang beruntung adalah pendatang baru di Amsterdam, ialah Toeti Heraty, aku sendiri.

Judul naskah ”Hujan Tak Datang Juga”, temanya tentang kehilangan cinta. Latihan dimulai di Michel-Angelo straat 39, tempat tinggalku. Iwan Simatupang berkunjung dengan jas korduroi merah menyala: temperamen artistik dan meyakinkan, tetapi konflik tak terabaikan antara penulis naskah dan sutradara. Kami pemain akhirnya ditinggalkan tanpa arahan dan terpaksa maju ke pentas. Untung berhasil!

Lalu aku diwawancarai di radio Hilversum oleh Frans Seda sendiri karena pemerananku yang disebut oleh resensi liputan media sebagai grandioos en ongeposeerd ! Mengagumkan dan alamiah.

Pertemuan dengan Frans tidak berakhir di situ; menonton pentas, berwawancara, dan kunjungan ke Amsterdam untuk membantuku pindah alamat dan belanja buku. Sederet buku Margareth Mead dan satu buku tentang kematian dibelikan olehnya untuk tanda mata, sebelum Frans kembali ke Tanah Air. Lalu dari jauh aku saksikan kesuksesannya dalam berkarier dan bermasyarakat.

CATATAN 1956

untuk Frans

pasar malam terang, keriuhannya!

balon aneka warna, lepas satu meluncur

ke langit

manusia mencari, menjulurkan leher

berdesakan di atas tumit

gelisah mimpi, hidup ibarat pelita

nyamuk pun enggan menyentuhnya

pagar rotan berpindah tangan, selendang leher

yang ketinggalan

beberapa buku berjejer di papan, salah satu

ajarkan manusia

bagaimana seharusnya ia hadapi mautnya

keriuhan pasar di malam hari, tersesat hati

bagaimana temukan cinta kembali

perahu layar bergetar meriah, arah tujuan

belum pasti

angin pun tak sabar, (di karang mana terdampar nanti)

terbangun dari mimpi, - esok tak dapat dielakkan lagi -

kuseka air mata dari pipi

Sepuluh tahun kemudian, aku sudah kembali ke Indonesia, Frans telah menjadi salah satu menteri, dan dengan Ibu Jo, istrinya, terkadang menunjukkan perhelatan di rumah orangtuaku di Jalan Imam Bonjol. Suatu pasangan yang serasi dan menyejukkan hati. Sempat masih bertemu untuk acara makan dan berdialog. Dia sudah berhasil menerapkan idealismenya secara nyata dan aku kagumi. Mungkin juga sedikit iri.

Tetapi waktu berlanjut, dan terakhir di Katedral pada tanggal 2 Januari 2010 aku mengucapkan selamat berpisah, selamat jalan kepada Frans. Menyampaikan belasungkawa kepada istrinya, Jo, yang tabah, pula kepada Eri dan Nessa. Suatu era telah lewat, kesaksian masa lalu dengan idealisme masing-masing, lalu ditinggalkan dalam kekalutan negara, khususnya di bidang hukum yang tentu terkait dengan ekonomi, bidang pergulatannya hingga 83 tahun.

Frans, istirahatlah dengan damai, senantiasa.

DIALOG

untuk Frans

di atas meja

antara mereka berdua

vas besar dengan kembang kembang

kembang kertas menutupi pandang

belum ada yang menyisihkan

kata dan pandanglah

yang melintasi kembang

sementara itu sembunyi diam karena

pertemuan yang terlampau telanjang

dan tiba tiba

harus diatasi

tak ada malam tapi bulan turut bicara

dan kerlap kerlip bintang meluncur karena

kapal terlalu lancar tahu benar

apa yang dituju

asing dari kegagalan –

di atas meja

kini terang

dengan kelangsungan kata dan pandang

bunga-bunga,

telah disingkirkan olehnya

Juni ’67

Toeti Heraty N Roosseno Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia

Tidak ada komentar: