Rabu, 26 Agustus 2009

RakyatMerdeka - Berita Foto : JK BERTEMU HABIBIE

RakyatMerdeka - Berita Foto : JK BERTEMU HABIBIE: "JK BERTEMU HABIBIE
Rabu, 26/08/09, 00:22:15 WIB





Wapres Jusuf Kalla (kanan) bertemu dengan mantan Presiden B.J Habibie (kiri) di Raudah, samping makam Nabi Besar Muhammad SAW di kompleks Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Selasa (25/8). Kedua tokoh tersebut berada di Mekkah untuk menunaikan ibadah khususnya pada bulan suci Ramadhan ini. SETWAPRES"

rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus

rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus: "Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus
Senin, 24 Agustus 2009, 12:14:10 WIB
Laporan: Yayan Sopyani al-Hadi

Jakarta, RMOL. Ajaran agama yang ditanamkan sang kakek, sangat berpengaruh besar pada konsep hidup Ketua DPP Partai Golkar, Zainal Bintang."

rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu

rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu: "Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu
Selasa, 25 Agustus 2009, 12:21:16 WIB
Laporan: Yayan Sopyani al-Hadi

Jakarta, RMOL. Meraih gelar doktor bidang ekonomi dari Universitas Queensland, Australia, tak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar. Prinsipnya, long life education atau dalam bahasa hadits Nabi Muhammad SAW tholab al-ilmi mina al-mahdi ila al-lahdi, terus mencari ilmu dari buaian hingga berakhir kehidupan. Kini, sang ekonom ini sedang belajar membaca dan memahami tulisan Arab gundul."

KOMPAS cetak - Diungkap, Detail Keberadaan Tan Malaka

KOMPAS cetak - Diungkap, Detail Keberadaan Tan Malaka: "PELUNCURAN BUKU
Diungkap, Detail Keberadaan Tan Malaka

Rabu, 26 Agustus 2009 | 05:07 WIB

Jakarta, Kompas - Sejarawan dari Universitas Leiden, Belanda, Harry A Poeze, Selasa (25/8) di Jakarta, meluncurkan buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 2 (Penerbit Yayasan Obor Indonesia). Keberadaan Tan Malaka tidak saja dipaparkan detail melalui tulisan di buku tersebut, tetapi Harry juga menayangkan sejumlah dokumen penting berupa foto-foto dan film."

KOMPAS cetak - Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju

KOMPAS cetak - Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju: "Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju

Rabu, 26 Agustus 2009 | 04:22 WIB

Entrepreneurship harus terus dikembangkan karena tak akan ada habisnya. Akan terus ada peluang untuk entrepreneurship dalam mengubah kotoran menjadi emas,” ujar Ciputra dalam acara Hari Pendiri (Founder’s Day) Grup Ciputra di Jakarta, Senin (24/8). Suara Ciputra tetap prima walau telah mengikuti acara sepanjang hari."

Selasa, 18 Agustus 2009

Perginya Seorang WS Rendra



Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Di saat jenazah WS Rendra, penyair besar ini, mau dikebumikan sesudah salat Jumat 7 Agustus 2009, hanya seorang menteri yang saya lihat hadir dengan wajah duka yang dalam, seperti wajah-wajah lain juga yang sama larut dalam kepiluan. Menteri itu adalah Rahmat Witoelar.

Tampaknya, menteri lingkungan hidup ini hadir sebagai pribadi, bukan mewakili pemerintah. Bagi Rendra tentunya tidak penting, apakah negara menghormatinya atau tidak menghiraukannya, bukanlah bagian esensial dari filosofi hidupnya. Yang jelas, cinta Rendra kepada Indonesia sebagai bangsa sungguh berakar dalam. Rendra bukan hanya seorang penyair, dramawan, peminat sejarah, tetapi pemikir dan pengamat sosial yang tajam. Rendra adalah pribadi merdeka yang tidak bisa diam melihat segala ketidakberesan dan ketidakjujuran yang masih melilit sekujur tubuh bangsa dan negara tercinta ini. Saya banyak belajar langsung pada penyair dengan stamina spiritual yang mengagumkan ini.

Sudah lebih 10 tahun saya bersahabat dengannya, sesuatu yang terlambat. Hampir setiap berjumpa, ada saja lontaran pemikiran segar yang keluar dari tutur katanya. Forum AJ (Akademi Jakarta) bagi saya adalah di antara sarana yang cukup berjasa mempertemukan para anggotanya yang hadir dalam rapat dengan Rendra. Dalam beberapa tahun terakhir, dua kali Rendra mengundang saya berkunjung ke padepokannya. Di sana pasti disuguhi dengan makanan khas serbaalami. Sala, karyawan PP Muhammadiyah Jakarta, pernah mengantarkan saya ke padepokan itu. Dengan penuh bahagia, Sala menikmati suguhan keluarga Rendra yang beraneka itu. Ada nasi merah, pisang dan kacang rebus, dan beraneka macam makanan lainnya, yang diambil dari hasil tanah miliknya seluas enam hektare itu.

Entah karena apa Bung Sala pulalah yang mengantar saya bersama Asmul Khairi, putra sepupu saya, karyawan dephub, melayat Rendra sampai terkubur siang Jumat yang penuh sesak oleh para pelayat itu, termasuk Rosihan Anwar, Moerdiono, Eros Djarot, dan Sitor Situmorang. Sebelum Sala menjemput saya ke bandara Soekarno-Hatta, saya kirim SMS ini kepadanya: ''Terima kasih sekali, Bung Sala, seperti diatur Allah, kita pernah makan di rumah Rendra, sekarang kita akan ke sana lagi untuk berpisah selama-lamanya dengan sahabat kita ini, saya terpukul berat. Saya sampai di bandara jam 10.20 dengan GA.'' Seorang karyawan seperti Bung Sala merasakan benar betapa Rendra tidak membeda-bedakan siapa tamunya. Diplomat asing, duta besar, menteri, petani, jenderal, mahasiswa, dosen, atau siapa saja, bagi Rendra semuanya adalah manusia penuh yang diperlakukan sebagai manusia utuh. Filosofi politik Bung Hatta dalam formula ''Daulat Rakyat'' sebagai lawan ''Daulat Tuanku'' telah lama menjadi bagian menyatu dengan seluruh bangunan pandangan politik Rendra.

Untuk memanaskan kepekaan kita pada situasi bangsa yang kadang-kadang tidak menentu, simaklah baik-baik puisi Rendra dengan judul Kesaksian Bapak Saija yang saya kutip sebagian saja. Puisi ini betarikh 7 Juli 1994.

O, kali yang membawa kesuburan,
Akhirnya samudra menampung air mata.
Panen yang melimpah setiap tahun
bukanlah rezeki petani yang menanamnya.

O, Adipati Tanah Jawa!
Tatanan hidup yang kalian tegakkan
Ternyata menjadi tatanan kemandulan.
Tatanan yang tak mampu mencerdaskan bangsa.
Akhirnya kita dijajah Belanda.

Hidup tanpa pilihan
Adalah hidup penuh persoalan.

Rasa putus asa
menjadi bara dendam.
Dendam yang tak berdaya
membusukkan kehidupan.
Apa yang seharusnya diucapkan
tidak menemukan kata-kata.
Apa yang seharusnya dilakukan
tidak mendapat dorongannya.

Kesaksianku ini
kesaksian orang mati
yang terlambat diucapkan.
Hendaknya ia menjadi batu nisan
bagi mayatku yang dianggap hilang
karena ditendang ke dalam jurang
.

(Lih. Edi Haryono (ed.), Rendra Penyair dan Kritik Sosial. Jogjakarta: Kepel Press, 2001, hlm. 142-143).

Bisikan batin saya: Kesaksianmu Rendra, bukan kesaksian orang mati. Sekalipun negara tidak hirau dengan kepergianmu ini, jutaan anak bangsa sedang siap untuk terus membaca puisimu yang akan bertahan dalam lipatan kurun yang panjang, panjang sekali. Selamat jalan Rendra!

(-)

VIVANEWS - POLITIK - Sosok Zaenal Ma'arif, Si Pemicu Gempa Politik

VIVANEWS - POLITIK - Sosok Zaenal Ma'arif, Si Pemicu Gempa Politik: "Sosok Zaenal Ma'arif, Si Pemicu Gempa Politik"

Minggu, 16 Agustus 2009

Minggu, 09 Agustus 2009

Pesan Terakhir Burung Merak

DOKUMENTASI KOMPAS
WS Rendra bersama istri-istrinya, Sunarti (kanan)
dan Sitoresmi (belakang), serta sebagian anak- anaknya.

Minggu, 9 Agustus 2009 | 03:25 WIB

Putu Fajar Arcana & Ninuk M Pambudy

WS Rendra sesungguhnya sudah meninggal di rumah anak bungsunya dari Sunarti, Clara Sinta, di Perumahan Pesona Khayangan, Depok, Kamis (6/8), pukul 22.10. Setelah mengembuskan napas terakhir barulah dibawa ke RS Mitra Keluarga, Depok, untuk memastikan kepergiannya.

Pesan terakhir ayahandanya, menurut Clara, hanya ingin tanah di Citayam seluas 6 hektar, di mana Bengkel Teater Rendra beralamat, dihutankan. Rendra sudah menanam ratusan pohon ulin dan eboni, yang tidak boleh ditebang sampai berusia 20 tahun. Dan tidak ada pesan apa pun dari Rendra menyangkut kelanjutan Bengkel Teater Rendra.

Clara termasuk anggota keluarga besar Rendra yang paling dekat dengan ayahnya. Kepada Rachel Saraswati (31), anak Rendra dari Sitoresmi Prabuningrat (59), ”Si Burung Merak” pernah berkata, ”Kalau penyakit tak bisa diatasi, aku mau dipeluk Clara,” tutur Rachel.

Kedekatan itulah yang membuat Rendra meminta secara khusus pada hari-hari terakhirnya berbaring di rumah Clara Sinta. Meskipun selama dua hari di situ, Rendra juga ditemani istrinya, Ken Zuraida, serta anak bungsu mereka, Meriam Supraba.

”Papa itu sebagai ayah sangat unik. Dia mengekspresikan perhatiannya dengan cara unik, jujur menghadapi situasi kehidupannya. Papa selalu ke saya, bahkan untuk hal yang sangat pribadi,” tutur Clara. Dia mengenang, bagaimana ayahnya baru bisa menggunakan layanan pesan singkat SMS tiga bulan terakhir dan sejak itu seperti tak bisa dipisahkan dari telepon selulernya, bahkan ketika terbaring di rumah sakit.

Rachel sendiri melihat Rendra sebagai a complete man. ”Dia itu orang lengkap, figur ayah, teman, dan guru. Saya anak beruntung karena tidak semua anak mempunyai pergaulan kreatif dengan ayahnya,” kata Rachel.

Pergaulan kreatif itu, tambah Rachel, anak-anaknya bisa eyel-eyelan atau gojekan (bercanda) dengan Rendra. ”Saya anak yang paling cerewet, dia bisa menyikapi kecerewetan saya. Misalnya, papa bilang, jangan cerewet dong sama bapaknya yang sudah tua. Caranya mengatakan sangat lucu,” ujar Rachel.

Minta lagu

Saat-saat dirawat di rumah sakit, kata Rachel, ia selalu diminta ayahnya menyanyikan lagu Don’t Cry for Me Argentina yang dipopulerkan Madonna lewat film Evita Peron. Lagu itu, kata Rachel, mewakili perasaan ayahnya dalam menjalani hari-harinya di rumah sakit. ”Rendra menyadari sakitnya mungkin tak bisa disembuhkan, tetapi semangatnya tetap kuat,” tutur Rachel, yang menetap di Yogyakarta.

Sebelum pergi untuk selama-lamanya, ujar Ken Zuraida sembari menahan tangis, seusai pemakaman Rendra, Jumat (7/8), suaminya seperti berkhotbah panjang. ”Ia me-review saya selama sejam lebih. Saya ini memang masih harus banyak belajar, belum juga bisa apa-apa, tetap bodo...,” tutur Idha, panggilan Ken Zuraida. Mas Willy, menurut Idha, sempat mengatakan, dia sangat berbahagia. ”Saat itu ada juga Clara,” kata dia.

Bagi Sitoresmi Prabuningrat yang pernah menjadi istri Rendra, meski telah berpisah, hubungannya dengan Rendra dan Bengkel Teater tetap baik. Sampai sekarang jika diminta membaca puisi, Sito tetap merasa paling sreg ketika membacakan puisi karya Rendra. Kekaguman Sito pada Rendra dalam keberhasilannya melahirkan sosok-sosok seniman yang mandiri, seperti Putu Wijaya, Chaerul Umam, Sitok Srengenge, Sawung Jabo, serta banyak lainnya.

”Saya mendapat manfaat dari gemblengan di Bengkel Teater, mungkin tanpa gemblengan itu saya tidak akan sekuat sekarang,” tutur Sito. Gemblengan di Bengkel adalah gemblengan hidup, belajar dari kekurangan materi. ”Sekarang kalau melihat ada masalah, saya mengatakan dalam hati, saya pernah melalui yang lebih berat,” kata Sito. Sitoresmi terlibat dalam kehidupan Bengkel pada periode 1970-1979 ketika masih bermarkas di Yogyakarta.

Menurut Rachel, ketika Rendra dan Bengkel pindah ke Jakarta pada awal tahun 1980-an, ia masih balita. ”Setahu saya, Papa inginnya Bengkel harus berusaha agar semua anggota bisa dapat uang tidak hanya menunggu mendapat tawaran pentas, harus jemput bola,” kata dia.

Tentang masa-masa sulit yang dialami Bengkel ketika di Yogya, Clara mengatakan, ayah dan juga ibunya, Sunarti, mengajarkan, ”Anak-anak kandung Papa adalah rahim bagi cita-cita Papa.” Anak-anak Bengkel kerap didahulukan kepentingannya daripada anak-anak kandungnya.

Bengkel Teater Rendra memang satu cita-cita yang diwujudkan. Komunitas ini dibangun Rendra sebagaimana ia juga menyuarakan soal-soal kehidupan dalam komunitas manusia. Sitok bahkan menggambarkan Rendra adalah guru yang mengajarkan tentang keberanian hidup.

Keberanian itulah, yang menurut sahabat terdekat Rendra, budayawan Emha Ainun Nadjib, dihancurkan ketika ia sedang berbaring di rumah sakit. Rendra secara fisik memang sudah berumur, tetapi dia terlahir dengan semangat hidup menyala. ”Nah, jika semangat hidupnya yang dihancurkan, tahulah apa jadinya...,” tutur Emha.

Kini penyair yang selalu seperti mengepakkan sayapnya saat-saat membacakan puisi itu telah pergi. Mungkin keadaannya sebagaimana yang ia gambarkan dalam puisinya Kenangan dan Kesepian. //Rumah tua/dan pagar batu/Langit desa/sawah dan bambu//Berkenalan dengan sepi/pada kejemuan disandarkan dirinya/Jalanan berdebu tak berhati/lewat nasib menatapnya//Cinta yang datang/burung tak tergenggam/Batang baja waktu lengang/dari belakang menikam//Rumah tua/dan pagar batu/Kenangan lama/dan sepi yang syahdu//. (XAR/IAM)

Mengenang Rendra


Karena Namanya Tertulis di Langit

Minggu, 9 Agustus 2009 | 03:26 WIB

Mengenang Rendra adalah mengenang keberaniannya menerobos batas dan kebebasannya berkreasi. Bukankah kebebasan berpikir dan keberanian melakukannya yang membawa perubahan?

Aktor Ikranegara telah bergaul dengan Rendra sejak 1960-an. Ketika Rendra pulang dari belajar di The American Academy of Dramatic Art di New York, Amerika, tahun 1967, Ikra melihat Rendra mengejutkan publik dengan mementaskan teater di luar cara yang dikenal selama ini.

”Dia membawa teater tanpa dialog dengan seminim mungkin menggunakan suara. Goenawan Mohamad kemudian memberi nama teater mini kata,” kata Ikra, yang saat itu menjadi wartawan lepas.

Dari wawancara Ikra dengan Rendra, dramawan dan penyair itu menyebut pentas itu sebagai ”bipbop” karena aktornya bergerak sambil mengucapkan ”bipbop”. Menurut Rendra, bentuk tersebut bermula dari kunjungannya ke Bali.

Dramawan dan novelis Putu Wijaya menilai, bunyi bipbop itu berasal dari hiphop, jenis musik jalanan yang melawan kemapanan. ”Itulah mengapa lahir istilah bipbop, tetapi Goenawan memberi nama teater mini kata” kata Putu.

Menurut Ikra, saat di Bali Rendra menyaksikan tari Cak dengan gerak dan vokal. ”Itulah yang menginspirasi Rendra membuat bipbop. Jadi, dia bukan orang yang antitradisi sebagaimana ditafsirkan banyak orang setelah pernyataan tentang kebudayaan Jawa hanyalah kasur tua,” kata Ikra.

Pemimpin Redaksi Majalah Prisma Daniel Dhakidae yang mengenal Rendra sejak awal 1967-an saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melihat Rendra sebagai sosok yang melawan feodalisme yang kental di Yogyakarta, tempat Bengkel Teater berada. Karena itu, Rendra mengeluarkan pernyataan tentang kebudayaan Jawa seperti kasur tua yang harus dirombak. Tetapi, itu menurut Daniel menjadi energi kreatif Rendra yang melawan budaya yang dia anggap sebagai penghalang. Daniel mencontohkan puisi ”Khotbah” yang terdapat di dalam Blues untuk Bonnie (1971).

Menjadi awal

Periode Rendra dan Bengkel Teater di Yogya bagi Daniel, yang juga peneliti dan pemerhati sastra itu, adalah periode produktif Rendra yang menghasilkan karya paling hebat dan indah. Periode Yogya dan periode Jakarta tidak bisa dipisahkan tegas karena—seperti disebutkan anggota Bengkel Teater, Edi Haryono—Bengkel Teater boyong dari Yogya ke belakangan setelah Rendra mulai tinggal di Jakarta sejak 1978.

Sebagai penggiat dunia teater, Ikra melihat bipbop menjadi awal lahirnya teater kontemporer Indonesia. Sebelumnya, teater modern masuk ke Indonesia dengan realisme Barat sebagaimana dimainkan Teguh Karya. ”Rendra hadir dengan teater kontemporer yang meramu gerak dan vokal, Dan itu dipentaskan justru saat pernikahan Arief Budiman dan Leila di Jakarta,” kata Ikra.

Bagi sastrawan Danarto (69), Rendra adalah sosok seniman yang, selain menghasilkan bentuk-bentuk baru, juga mewakili suara hati masyarakatnya.

Danarto yang mengenal Rendra sejak 1958 terlibat dalam produksi Oedipus Rex pada tahun 1962 di Yogyakarta sebagai produser dan art director. Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2009 ini menyebut Rendra sebagai pujangga dengan semangat melakukan perubahan sosial.

Danarto ingat bagaimana pembacaan puisi oleh Rendra di Teater Terbuka TIM Jakarta pada 28 April 1978 dilempari amoniak oleh orang tak dikenal. ”Saya ingat Bang Ali waktu itu berteriak, ’Teruskan, teruskan’. Lalu acara diteruskan dan ada satu penonton pingsan karena mencium amoniak,” kata Danarto.

Lalu, apakah seorang seniman dapat mengubah kedaan, seperti yang dikhawatirkan pemerintahan Orde Baru sehingga perlu memenjarakannya selama enam bulan pada tahun 1978?

”Saya tidak percaya seniman akan mengubah keadaan, seperti yang terjadi pada revolusi. Peran Mas Willy sebagai seniman adalah memberi visi, arah perjalanan bangsnya,” kata Danarto.

Apabila pengaruh Rendra terasa begitu luas dan dalam, Danarto mengatakan, ”Karena nama Rendra sudah tertulis di langit.” (NMP/CAN/IAM)

Inspirasi dari Rendra

KOMPAS/DANU KUSWORO
Pentas puisi Rendra di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, tahun 2005.
Inspirasi dari Rendra

Minggu, 9 Agustus 2009 | 03:27 WIB

Di balik pesona sebagai ”Burung Merak”, almarhum WS Rendra adalah pekerja seni budaya yang teguh memperjuangkan cita-cita. Melintasi berbagai tekanan ekonomi dan politik, Bengkel Teater-nya menancapkan tonggak penting teater modern serta melahirkan sejumlah seniman kuat di Tanah Air.

”Bersumpahlah.... Jangan bikin grup teater.... Hasilnya apa? Jangan nulis sastra.... Gajinya tak seberapa. Tidak ada kesempatan beridealisme di Indonesia,” kata Narti. Demikian catatan Rendra mengutip ancaman istri pertamanya, Sunarti, dalam buku Rendra dan Teater Modern Indonesia (editor Edi Haryono, tahun 2000).

Ancaman itu dilontarkan Narti ketika Rendra baru pulang studi dari American Academy of Dramatic Arts di New York, Amerika Serikat, tahun 1967. Namun, ternyata larangan itu didobrak, bahkan kemudian Narti ikut hanyut dalam idealisme jalan kesenian.

Rendra mendirikan kelompok teater tahun 1967—yang kemudian dikenal sebagai Bengkel Teater Rendra. Kelompok ini berlatih di depan rumahnya di Ketanggungan Wetan, Yogyakarta. Dia sendiri juga berkembang sebagai penyair besar.

Meski begitu, peringatan Narti tentang sulitnya beridealisme di negeri ini juga menjadi kenyataan. Dari kenyataan inilah, Bengkel Teater itu tumbuh. Begitu pula lika-liku hidupnya sebagai penyair.

Pada masa awal, Bengkel Teater menghadapi kesulitan ekonomi. Untuk mementaskan lakon Bip-Bop di Balai Budaya Jakarta tahun 1968, misalnya, mereka merogoh kocek sendiri. Sebagaimana diceritakan Rendra dalam catatan tadi, pertunjukan itu didanai dari uangnya sendiri, uang Chaerul Umam (katanya, dengan menggadaikan sepeda), serta sumbangan uang tiket dari Trisno Soemardjo.

Bengkel kemudian berlatih menghidupi diri sendiri dengan menjual tiket pentas, terutama sejak pentas Oedipus Sang Raja (tahun 1969). Setiap pemain dapat honorarium yang cukup untuk hidup.

Sitoresmi Prabuningrat (59), istri kedua Rendra, yang aktif di Bengkel tahun 1970-1979, menceritakan seusai pemakaman Rendra di padepokan Bengkel Teater Rendra di Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8), produksi teater mengandalkan penghasilan satu pentas untuk membiayai pentas berikutnya. ”Saat uang habis, kami, anak- anak teater, utang pada warung yang menjadi tetangga teater dengan janji akan dibayar kalau dapat persekot pentas berikut. Mereka memberi utangan karena kami tinggal di situ,” kata Sito.

Masa sulit

Karena semua anggota belum bekerja dan sehari-hari hanya berlatih teater, Rendra menanggung makan mereka. ”Saya tanya, ’Mau makan apa?’. Rendra bilang, ’Sudah, pokoknya makan di rumah’. Dan saya tahu persis, banyak kawan disuruh Rendra menggadaikan apa saja, termasuk piring makan Mbak Narti,” tutur Amaq Baldjun, anggota Bengkel Teater sewaktu bermarkas di Yogyakarta.

Masa-masa sulit menerpa ketika Rendra dijebloskan dalam penjara selama beberapa bulan tahun 1978 karena dianggap membahayakan pemerintahan Orde Baru. Kesusahan makin menjadi Bengkel dilarang pentas sejak tahun 1979 hingga 1986. ”Kami mencari makan dengan membuat berbagai kerajinan kulit atau batu akik,” kata Edi Haryono, anggota Bengkel Teater sejak tahun 1974.

Kelompok bisa bertahan karena ikatan kekeluargaan kuat, sedangkan Rendra juga punya jiwa sosial tinggi. Kadang, bahkan anak-anak kandungnya harus mengalah. ”Di bengkel, hubungan keluarga erat sekali. Dia saya anggap sebagai kakak sendiri,” kata Udin Mandarin, anggota Bengkel sejak tahun 1973.

Sitok Srengenge, penyair dan anggota Bengkel Teater, mengenang bagaimana seorang Rendra menekankan kebersamaan dan ketahanan dalam segala situasi. Seluruh anggota, misalnya, hanya boleh punya dua celana. Jika lebih, harus diberikan kepada kawan lain. ”Tujuannya, mengajarkan kesederhanaan. Kata Rendra, kegagahan dalam kemiskinan,” kenang Sitok.

Bengkel Teater pindah ke Depok, Jawa Barat, tahun 1986, ketika mulai menggarap lakon Penembahan Reso. Setelah diundang pentas di Amerika tahun 1988, kemudian pentas keliling Eropa, mereka dapat uang lumayan banyak. Hasilnya dibelikan tanah dan membuat semacam padepokan di Citayam, Depok, tahun 1989.

Pada masa itu, anggota teater mencapai sekitar 30 orang dan sebagian tinggal di bengkel. Setelah keuangan membaik dan dengan manajemen keuangan lebih profesional, anggota dapat uang transpor dan uang saku untuk keluarga. ”Bagi Rendra, berkesenian adalah jalan hidup dan kami bisa hidup dari karya seni,” kata Edi menambahkan.

Bengkel Teater terakhir kali pentas dengan lakon Sobrat tahun 2005. Setelah itu, tak ada lagi pentas atas nama kelompok ini karena biaya pentas semakin mahal dan sulit mencari sponsor. Rendra kemudian memilih banyak tampil membaca puisi, mengunjungi kelompok seni di daerah-daerah, dan berceramah.

Tonggak

Lalu, bagaimana nasib Bengkel sepeninggal Rendra yang dipanggil Allah, Kamis malam lalu? ”Tak ada pesan baru menyangkut kelanjutan Bengkel. Bengkel Teater adalah Rendra. Kalau tidak ada Rendra, ya tidak menjadi Bengkel Teater Rendra lagi. Papa tak pernah menyiapkan seseorang untuk melanjutkannya,” kata Clara Sinta, anak kelima Rendra dari istri pertamanya, Sunarti.

Mungkin memang sulit meneruskan kelompok ini. Namun, spirit Rendra dengan Bengkel Teater dan kepenyairannya telah menjadi tonggak sejarah teater dan sastra modern di Indonesia. Rendra telah mendorong seni untuk bergumul dengan konteks sosial dengan mengangkat persoalan-persoalan kehidupan nyata. Secara bentuk, lakon-lakon teater itu menyumbangkan berbagai pendekatan, seperti bentuk mini kata, lalu jadi drama penuh kata-kata, drama tragedi besar, drama syair dan gerak, juga drama pamflet.

Sosok Rendra bersama Bengkel Teater-nya telah menjadi kawah penggodok beberapa seniman penting di Tanah Air. Beberapa anggota Bengkel yang kemudian tumbuh menjadi seniman mandiri, sebut saja, antara lain, dramawan dan penyair Putu Wijaya, sutradara Chaerul Umam, aktor Amaq Baldjun, Edi Haryono, penyair Sitok Srengenge, dan aktor Adi Kurdi.

”Kehidupan dan kesenian Rendra itu sangat impresif dan inspiratif bagi anggota teater dan para seniman lain, mungkin juga siapa pun yang pernah menjumpainya,” kata Adi Kurdi, anggota Bengkel saat masih di Yogyakarta. (ilham khoiri/ putu fajar arcana/ ninuk mardiana pambudy)

Jumat, 07 Agustus 2009

Setelah Pergi, Baru Menyadari Betapa Pentingnya Rendra


Jumat, 7 Agustus 2009 | 06:06 WIB

Duka datang berendeng menghampiri kita. Setelah pada Selasa (4/8) kemarin penyanyi Mbah Surip pergi, pada Kamis malam (6/8) pukul 20.30 WIB, giliran budayawan dan WS Rendra menyusul menghadap Sang Khalik.

Seperti telah saling janjian, kedua seniman yang telah mendahului kita itu menempati "rumah" abadi yang sama hanya selisih dua hari, yakni di pekarangan rumah WS Rendra di daerah Cipayung, Depok, Jawa Barat.

Willy Brodus Surendra Broto yang kemudian berganti nama menjadi Wahyu Sulaiman Rendra setelah dirinya muslim, menjalani perawatan jantung sejak setahun lalu. Berkali-kali ia masuk rumah sakit, sebelum akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya di kediaman salah satu putrinya, Clara Shinta, di Perumahan Pesona Kayangan, Depok, Bogor.

Sebagai pengagumnya, tentu saja saya amat sangat kehilangan dia. Gara-gara salah satu puisinya yang terangkum dalam Potret Pembangunan Dalam Puisi, saya bersikeras kepada ayah untuk tak lagi repot-repot mengongkosi kuliah saya. Saya pilih berhenti sebagai Sarjana Muda dan memulai "kuliah" di jalanan bersama para seniman, buruh-buruh pabrik di Srondol, dan gelandangan di Simpang Lima, Semarang, di pertengahan tahun 80-an. Puisi itu kurang lebih bercerita tentang pendidikan. Pendidikan kita berkiblat ke Barat. Di Barat, anak-anak dididik untuk menjadi mesin industri, sedangkan kita? Dididik untuk menjadi kuli! Wah..., jiwa muda saya yang membara pun langsung bergetar.

Pertama kali melihat ia membacakan puisi-puisinya di Semarang pada tahun 1985. Sungguh menggelorakan jiwa muda saya saat itu. Masih saya kenang hingga kini, bagaimana ia membawakan sajak-sajaknya dan lalu melemparkan ke udara setelah rampung dibaca.

Dengan tangan terkepal meninju udara, ia melangkah membelah panggung, lantas suaranya yang parau itu pun meneriakan judul puisi yang akan dibacakannya:

Sajak Sebatang Lisong

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka

matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan

aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan

delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya

Meski ia telah nampak sepuh karena usia telah menginjak limapuluh, toh sihir suara dan ekspresinya sungguh-sungguh telah menjadi racun bagi saya untuk makin dalam bergulat dengan dunia teater dan susastra.

Saya pun mulai melahap puisi-puisi karyanya. Beberapa puisinya bahkan pernah saya hafal di luar kepala. Nyanyian Angsa, itulah salah satunya. Saya pun terkesan dengan gaya bercerita Rendra yang kuat dalam kumpulan puisi Balada Orang-Orang Tercinta yang ia bukukan di pertengahan tahun 50-an. Bahasanya yang lentur dan keseharian, membuat puisi-puisinya yang getir tetap enak dinikmati.

Balada Terbunuhnya Atmo Karpo yang berkisah tentang matinya seorang perampok bernama Atmo Karpo di tangan anaknya sendiri, Joko Pandan, adalah puisi yang amat dramatik.

Dan inilah ujung puisi Balada Terbunuhnya Atmo Karpo yang selalu saya kenang,

Berberita ringkik kuda muncullahJoko Pandan
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba
pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka terbuka daging kelopak-kelopak angsoka

Malam bagai kodok hutan bopeng oleh luka
pesta bulan, sorak sorai, anggur darah

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
ia telah membunuh bapaknya

Hmm... saya juga tak bosan-bosannya menikmati romantisme hitam puisi Balada Ibu yang Dibunuh

Ibu musang dilindung pohon tua meliang
bayinya dua ditinggal mati lakinya.

Bulan sabit terkait malam memberita datangnya
waktu makan bayi-bayinya mungil sayang

Lalu, hingga kini.. saban kali kangen pada ibu, saya pun lantas teringat pada puisi Nyanyian Bunda yang Manis.

Kalau putraku datang
ia datang bersama bulan
kena warna jingga dan terang
adalah warna buah di badan

Wahai telor madu dan bulan!
Perut langit dapat sarapan

Ia telah berjalan jauh sekali
dan kakiknya tak henti-henti
menapaki di bumi hatiku
Ah, betapa jauh kembara burungku!

Awal tahun 90an, saya bertemu dan berkenalan dengannya. Saya pun memanggilnya Mas Willy, sebagaimana orang-orang menyapanya. Tubuhnya yang selalu wangi, roman mukanya yang ganteng, serta tutur katanya yang terjaga dalam kecerdasan, membuat siapapun akan menyimak hikmat tiap kali ia bicara.

Rendra bak kamus berjalan. Ia, kendati tak kelar kuliah, adalah pemikir ulung untuk urusan sejarah bangsa ini. Ia jabarkan dengan detil riwayat kekuasaan raja-raja Jawa. Ia pun paham benar mengenai kultur orang darat dan air. Saya masih ingat dengan statemen dia tentang kekuasaan di negeri ini, menurutnya dari dulu hingga kini negeri ini dikuasai oleh preman. "Anda kira siapa itu Gajah Mada? Ken Arok, Soeharto... preman!" kata Rendra dalam sebuah diskusi.

Di Makassar pada tahun 1998, saya kian dekat dengan Rendra. Kami makan malam bersama di sebuah rumah makan dekat Pantai Losari yang menyajikan ikan bakar. Bagai tokoh kuliner, ia pun berkata, "Yang gosong jangan dibuang, itu justru yang enak. Hmmm," Rendra mengupas kulit ikan yang gosong lalu langsung mengudapnya.

Setelah itu, kami kian kerap bertemu. Kadang di rumah Setiawan Djody, atau di acara diskusi, tapi sekali-sekala saya juga menyempatkan diri datang ke kediamannya yang asri di Cipayung.

Pernah pada sebuah sore di tahun 2003, di halaman sebuah gedung pertemuan di kota Jambi, kami bersitatap sambil bersalaman. Kala itu kami bersepakat, untuk mengaku saya sebagai anaknya dan ia sebagai bapak saya.

Entah apa sebabnya tiba-tiba kesepakatan itu terjadi. Yang terang saat itu saya terharu kala melihat Rendra bicara tentang kesehatan masyarakat terutama untuk mereka yang terkena penyakit TBC. Bukan materi pembicaraan dia yang membuat saya tertegun, tapi gerak tubuhnya yang telah lamban itulah yang membikin saya ingin melindunginya.

Saya sungguh trenyuh kala itu. Dalam hati saya berucap, inikah orang yang dulu pernah menaklukan beribu-ribu mata dan jiwa penggemarnya ketika dirinya di panggung. Inikah orang yang dulu galak memimpin kawan-kawan demonstran melawan rezim Soeharto? Pertanyaan berjubal-jubal di kepala saya.

Begitu selesai bicara di muka forum, saya pun langsung bergegas menghampirinya seraya menuntun tangannya keluar ruangan. Di Belakang kami ada Ken Zuraida, istri Rendra, serta beberapa anak Bengkel Teater, mengiringi kami.

Di luar, seorang wartawan mencegat Rendra untuk memberitahu, sebentar nanti ada acara diskusi bersama kawan-kawan seniman Jambi. Lantaran Mba Ida, demikian Ken Zuraida biasa disapa, tak bisa mengikuti acara diskusi, ia pun meminta saya untuk mengiringi Mas Willy, "Tolong dijaga Mas Willy," kata Mba Ida sebelum kami berangkat ke acara diskusi.

Sejak saat itu, saya pun kerap memanggil Mas Willy dengan sebutan Pak Rendra.

Dari Jambi kami meneruskan perjalanan ke Medan untuk acara yang sama dengan di kota Jambi. Pak Rendra nampak kelelahan setibanya di Medan. Sebab, karena cuaca buruk, dari Jambi pesawat yang kami tumpangi harus menuju ke Jakarta lebih dahulu, sebelum akhirnya terbang ke Medan.

Di tengah-tengah road show itu, saya sempat berterus terang kepadanya, mengapakah dirinya tampak begitu letih. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia pun berterus terang bahwa dirinya bukan bapak yang baik bagi anak-anaknya, dan ia sangat ngungun karenanya.

Kini Rendra telah pergi. Ia tak cuma meninggalkan catatan-catatan susastra yang diakui komunitas sastra dunia, tapi juga pemikiran-pemikiran brilian tentang bangsa ini. Dialah yang senantiasa mengingatkan para penguasa negeri ini agar selalu berpihak kepada rakyat. Dia pula yang selalu membela orang-orang tertindas untuk bangkit.

Rendra telah berpulang. Bukan cuma ini kali kita ditinggal pergi oleh orang-orang besar macam Rendra. Sebelum Rendra ada Ali Sadikin, Soekarno, Mbah Surip, dan tokoh-tokoh lainnya. Tapi selalu saja kita tak pernah belajar bagaimana kita menghargai dan memulyakan orang-orang besar itu secara sepatutnya semasa hidupnya. Lihatlah Drs. Sujadi yang tokoh Pak Raden dalam film si Unyil itu yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk dunia anak-anak; ia masih mengontrak rumah padahal usianya telah senja. Pandanglah juga Pak Gesang yang baru diingat justru setelah orang Jepang mengingatnya. Lihatlah juga para atlet yang telah mengharumkan bangsa ini yang sebagian di antaranya hidup terlunta-lunta, dan masih banyak orang-orang besar lainnya yang dilupakan.

Sesal apa yang harus kita sesali. Rendra telah kembali menghadap Ilahi. Satunya yang sisa adalah harapan akan lahirnya Rendra Rendra baru yang sanggup menggedor ketidakadilan dengan pena dan suara.

Begitulah, kita merasa kehilangan Rendra justru ketika dia telah tiada.

Jodhi Yudono

Hidup Bukanlah untuk Mengeluh dan Mengaduh


Ekspresi WS Rendra dengan "seribu wajahnya" dalam acara pembacaan sajak-sajak "Penabur Benih" di Teater Terbuka TIM, 25-26 Juli 1992.
Jumat, 7 Agustus 2009 | 05:29 WIB

KOMPAS.com - ...Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samodra/serta mencipta dan mengukir dunia/Kita menyandang tugas/kerna tugas adalah tugas/Bukannya demi sorga atau neraka/Tetapi de mi kehormatan seorang manusia//Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu/meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu/Kita dalah kepribadian/dan harga kita adalah kehormatan kita/Tolehlah lagi ke belakang/ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya....

Dalam percakapan lewat telepon, 4 Agustus lalu, Ken Zuraida, istri budayawan WS Rendra, mengabarkan, ”Mas Willy pulang pukul lima hari ini,” dengan nada riang. Saat itu, Rendra sudah hampir sebulan dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Penyair berjuluk ”Si Burung Merak” itu, ujar Ken, tidak akan pulang langsung ke Bengkel Teater Rendra di Cipayung, tetapi menuju rumah Clara Shinta di Depok. ”Mas Willy masih harus kontrol. Nanti ada perawat yang menemani,” kata Ken.

Kami benar-benar tak bisa menangkap isyarat nasib. Kamis (6/8) pukul 22.00, Rendra benar-benar pulang untuk selamanya di RS Mitra Keluarga. Tentu ia pergi dengan kepak sayap burung meraknya yang ”jantan” dan perkasa.

Sebagaimana puisi yang berjudul ”Sajak Seorang Tua untuk Istrinya” yang ditulis Rendra tahun 1970-an, hidup bukan untuk mengeluh dan mengaduh dan bukan pula demi surga atau neraka, tetapi demi kehormatan seorang manusia. Meski ia telah tua dan reyot pada usia 74 tahun, ia menyeru harga kita adalah kehormatan kita.

Rendra, bagi kita, bukan sekadar penyair dan dramawan, ia tegar sebagai manusia dan berani menantang zamannya. Dramawan dan novelis Putu Wijaya yang pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra semasa di Yogyakarta mengatakan, Rendra guru yang memberikan ilmu, sahabat yang bisa diajak becanda, sekaligus musuh yang menjadi sparring partner. ”Murid yang baik adalah murid yang mampu naik ke atas kepala gurunya. Itu selalu kata Mas Willy,” ujar Putu Wijaya.

Putu adalah mantan murid Rendra yang kemudian mendirikan Teater Mandiri. Tentu ungkapan Rendra tidak bermaksud mengajarkan ketidaksopanan kepada seorang murid, tetapi alangkah indahnya jika prestasi murid jauh melebihi gurunya. Putu dengan Teater Mandiri barangkali telah menjadi prestasi lain dalam prestasi dunia perteateran di Tanah Air.

Penyair Sapardi Djoko Damono menuturkan, Rendra adalah ”tukang kata” yang telah menyihir dirinya memasuki dunia sunyi seorang penyair. ”Ia telah meyakinkan saya untuk bisa dihayati penyair tak boleh berlindung di balik bahasa yang ruwet, hanya dengan demikian kata bisa unggul dari bedil,” kata Sapardi.

Pernyataan itu menjelaskan kepada kita bahwa Rendra sesungguhnya bukan sekadar penyair atau dramawan. Ia memperjuangkan hakikat manusia ”bebas”, yang senantiasa berpikir mandiri, tanpa mau ditekan atau dipengaruhi oleh kekuasaan. Itulah yang bisa menjelaskan mengapa pada tahun 1975 sepulang dari bersekolah di American Academy of Dramatic Art, New York, Amerika Serikat, ia menggelar Perkemahan Kaum Urakan di Parangtritis, Yogyakarta.

Peristiwa itu selalu dikenang Rendra sebagai gerakan penyadaran kebudayaan. Ia selalu mengatakan, ”Posisi seorang budayawan yang ideal itu tidak berpihak pada apa pun atau siapa pun, akan tetapi pada kebenaran.”

Maka dari situ kita bisa memahami secara lebih utuh mengapa Rendra menulis sajak-sajak yang dicap sebagai sajak pamflet, yang tidak jarang membawanya berurusan dengan penguasa. Bisa pula dimengerti mengapa ia selalu menuliskan dan mementaskan drama-dramanya yang sarat akan kritik terhadap kesewenang-wenangan penguasa.

Tentu tak seorang lupa akan pementasan drama Panembahan Reso pada pertengahan tahun 1980-an, yang tidak saja berdurasi lebih dari tujuh jam, tetapi juga mengkritik dengan cara menyindir kekuasaan yang absolut pada saat itu.

Kini ”Si Burung Merak” boleh pergi, boleh berkubang tanah, tetapi segala hal yang pernah dia kerjakan tidak akan mudah dilumerkan oleh zaman. Rendra tetap ada dalam catatan hari-hari kita menjalani hidup sebagai manusia Indonesia...(CAN/THY/IAM)

Rendra Pergi Jauh Setelah Minta Makan


Budayawan WS Rendra saat tampil di acara Java Jazz Festival 2008, Jakarta, 9 Maret 2009 lalu. Penyair ternama yang dijuluki 'Burung Merak' ini meninggal dunia, Kamis (6/8) pukul 22.05, dalam usia 74 tahun.
Jumat, 7 Agustus 2009 | 04:55 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Pulang ke rumah adalah keinginan Almarhum WS Rendra ketika dirawat terakhir kali di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading beberapa waktu lalu. Keinginan itu terwujud setelah dokter membolehkannya pulang.

Diizinkan pulang, Rendra dirawat di kediaman putrinya Clara Sinta atau yang akrab dipanggil Auk di kompleks Pesona Depok Blok AV/5, Depok.

Di rumah inilah, ajal menjemput pria kelahiran Solo, 7 November 1935 ini. "Meningggalnya ditunggui putrinya ketika minta minum dan makan, tiba-tiba menghilang saja. Tidak ada raungan, kesakitan. Meninggal dengan tenang dan dengan baik. Ini jalan terbaik baginya," tutur rekan seperjuangan Rendra, Eros Djarot di depan rumah duka, Jumat (7/8).

Mengutip cerita putri Rendra, Auk, Eros mengatakan Rendra sempat menyatakan ingin terus hidup. Namun sayangnya, setelah minta makan bubur, pria yang dijuluki Burung Merak ini 'terbang' untuk selamanya.

"Jadi tidak ada tanda-tanda yang cukup berarti mau pergi. Yang sangat menyenangkan, kepergiannya di sebuah kamar, seperti yang dia inginkan sebelumnya, pulang ke rumah," lanjut Eros.