<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488</id><updated>2011-07-31T02:48:21.554+07:00</updated><title type='text'>Sosok 2009</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>92</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1601418150247399063</id><published>2010-07-08T16:31:00.000+07:00</published><updated>2010-07-08T16:32:29.382+07:00</updated><title type='text'>Otunbayeva, Perempuan Pendekar dari Kirgistan</title><content type='html'>&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Pascal S Bin Saju&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak  mengambil alih kekuasaan dari Presiden Kirgistan Kurmanbek Bakiyev pada  7 April 2010, nama Roza Isakovna Otunbayeva terus melambung. Ibu dua  anak ini adalah wanita satu-satunya yang amat berpengaruh di sentral  geopolitik Asia Tengah. Setelah berada dalam ketidakpastian selama 2,5  bulan, pada 3 Juli ini dia pun dilantik menjadi Presiden Kirgistan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia  menyadari, kekuasaan yang dia peroleh selama ini dilakukan lewat sebuah  kudeta ilegal. Tidak heran, setelah berhasil mengambil alih kekuasaan,  pemerintahan ad interim terus dirongrong oleh massa pendukung Bakiyev di  Kirgistan selatan, yakni di Jalalabad dan Osh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlepas dari  bagaimana ia mendapatkan kekuasaan itu, yang pasti Otunbayeva telah  berada di puncak kekuasaan Kirgistan. Sejak memimpin gerakan oposisi  melawan pemerintahan Bakiyev yang dinilai korup, nepotis, dan tidak  memedulikan kepentingan rakyat, kiprah politiknya menanjak tajam membawa  sejumlah agenda penting bagi perubahan yang lebih baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agenda  pertamanya, yakni menggelar referendum mengenai perubahan konstitusi,  sudah dilakukan dan meraih mayoritas suara. Lebih dari 90 persen suara  mendukung perlunya perubahan konstitusi yang antara lain akan membatasi  kekuasaan seorang presiden dan memberikan kewenangan lebih pada  parlemen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang menarik, Otunbayeva hanya menjadi presiden  sementara untuk jabatan enam bulan, yang akan berakhir pada awal 2011.  Setelah berhasil menggelar referendum, agenda politik berikutnya adalah  mempersiapkan pemilu parlemen yang dijadwalkan digelar 10 Oktober, lalu  persiapan untuk pemilu presiden.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk pertama kalinya dalam  sejarah Kirgistan, bahkan di Asia Tengah, seorang pionir perempuan  menentukan langkah sebuah negara. Ia telah menjadi toko sentral oposisi  salah satu negara paling strategis di Asia Tengah itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Otunbayeva  memiliki reputasi yang baik di negaranya dan juga luar negeri, dan  karena itu ia pantas berada di posisinya. Meski demikian, kalau hanya  seorang diri dia tidak dapat melakukan apa pun,” kata pakar politik  Kirgistan, Beate Eschment.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Tumbuh  dari Komunis&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Otunbayeva berasal dari era komunis negara  itu. Ia lahir 23 Agustus 1950 di Osh, kota terbesar kedua di Kirgistan,  yang juga daerah kelahiran Bakiyev. Osh dikenal sejak abad kedelapan  sebagai pusat produksi sutra di sepanjang Jalan Sutra, rute perdagangan  terkenal melintasi gunung Alay untuk mencapai Kashgar di timur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari  Osh kemudian ia mendalami filsafat di Universitas Moskwa dan tamat  tahun 1972. Pada tahun 1980-an ia menjadi anggota Partai Komunis  Kirgistan, lalu Duta Besar Uni Soviet di UNESCO, Paris, dan sempat pula  menjadi Dubes Uni Soviet untuk Malaysia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah Kirgistan  merdeka, ia menjadi Dubes negaranya untuk AS, Inggris, dan Kanada, lalu  menjadi Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Presiden pertama  Kirgistan, Askar Akayev. Jabatan itu dipangku selama tiga tahun, lalu ia  kembali menjadi diplomat. Pada tahun 2005, bersama Bakiyev, dia menjadi  otak Revolusi Tulip menggulingkan Akayev.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bakiyev menjadi  Presiden Kirgistan, tetapi Otunbayeva tetap berada di kubu oposisi. Ia  tetap berada di luar kekuasaan untuk mengontrol pemerintah. Sejak awal  ia berharap Bakiyev benar-benar bisa berpihak kepada rakyat dan bebas  dari korupsi, kolusi dan nepotisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dalam perjalanannya tidak  demikian, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme merusak tatanan  pemerintahan. Dampak paling buruk bagi rakyat, harga berbagai kebutuhan  pokok melambung tajam. Banyak rakyat jatuh miskin. Nurani saya  mengatakan, perlawanan harus dilakukan untuk rakyat,” kata Otunbayeva.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Kecewa  pada Bakiyev&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Otunbayeva kecewa terhadap Bakiyev yang  naik karena Revolusi Tulip. Ia memutuskan untuk bergabung dengan Partai  Sosial Demokrat, partai oposisi yang didirikan 1 Oktober 1993. Di sini  perempuan berperawakan pendek berusia 60 tahun ini melakukan manuver  politik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aksi massa yang meluas mendesak Presiden Kurmanbek  Bakiyev mundur. Puncaknya terjadi 7 April lalu, berupa gebrakan kedua  terbesar setelah Revolusi Tulip. Bakiyev pun kabur dan kini berlindung  di Belarus. Otunbayeva langsung menjalin hubungan dengan Rusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mahir  berbahasa Inggris dan Rusia menjadi modal kuatnya untuk mendobrak  kebekuan komunikasi antara Bakiyev dengan Rusia dan AS, dua negara yang  sama-sama memiliki pangkalan militer di Kirgistan. Referendum yang  dilakukan pada 4 Juli justru mendapat dukungan dari PBB, Rusia, dan AS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Otunbayeva  benar-benar mencapai posisi strategis di Kirgistan. ”Setelah komisi  pemilihan pusat mengumumkan hasil pasti referendum tentang perubahan  konstitusi pada 2 Juli, Otunbayeva pun dilantik menjadi presiden pada 3  Juli,” kata juru bicara Pemerintahan Sementara Kirgistan, Farid Niyazov.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tugas  besar Otunbayeva belum selesai. Potensi konflik di selatan, yang  menjadi basis pendukung Bakiyev, masih terbuka lebar. Ia sendiri  mengakui hal itu, yang dibuktikan dengan masih diberlakukannya jam malam  hingga awal Agustus mendatang, sejak pecah aksi pembantaian terhadap  kelompok minoritas Uzbekistan pada 10-11 Juni lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jalan menuju  pemilu parlemen masih panjang. Terbuka kemungkinan munculnya kelompok  ekstremis yang akan berusaha merebut kekuasaan Otunbayeva, terutama dari  selatan. Atau juga pertikaian etnis yang mematikan, seperti yang  terjadi pada pekan kedua Juni lalu yang menewaskan 2.000 orang dan  400.000 orang mengungsi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Otunbayeva mengaku tetap tegar menghadapi  semua kemungkinan itu. Sebab hasil referendum memperlihatkan dukungan  mayoritas warga terhadap perubahan konstitusi. Dukungan itu sekaligus  berarti rakyat menyetujui pembatasan kekuasaan presiden, dan kewenangan  lebih diberikan kepada parlemen kelak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di bawah kepemimpinan  Otunbayeva, Kirgistan menjadi negara pertama di Asia Tengah yang  menganut sistem demokrasi parlementer. Kekuasaan presiden dibatasi  setiap lima tahun, sedangkan masa jabatan di parlemen enam tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Referendum  sekaligus menjadi ”stempel” yang punya legitimasi terhadap kudeta pada 7  April lalu sekaligus legitimasi internasional atas kekuasaan  Otunbayeva. Inilah jalan yang disebutnya sebagai jalan menuju  terciptanya ”demokrasi rakyat sejati”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kirgistan berpenduduk 5,3  juta jiwa itu memiliki potensi pertanian dan pertambangan yang besar,  tapi lebih dari 70 persen rakyatnya masih miskin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Krisis etnis  antara suku Kirgistan yang mayoritas dan Uzbekistan yang minoritas  tetapi menguasai ekonomi kini menjadi luka dalam. Presiden perempuan ini  menghadapi ujian untuk menuntaskan hubungan etnis yang terkoyak itu.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1601418150247399063?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1601418150247399063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1601418150247399063' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1601418150247399063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1601418150247399063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/07/otunbayeva-perempuan-pendekar-dari.html' title='Otunbayeva, Perempuan Pendekar dari Kirgistan'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1295519080320362524</id><published>2010-03-21T16:35:00.000+07:00</published><updated>2010-03-21T16:36:37.553+07:00</updated><title type='text'>Sukowaluyo Mintorahardjo:</title><content type='html'>&lt;div class="upperdeck"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;h3 class="title"&gt;&lt;a href="http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2005/04/04/WAW/mbm.20050404.WAW109403.id.html#"&gt;Semua Orangnya  Taufiq Kiemas &lt;/a&gt;&lt;/h3&gt; &lt;!--foto--&gt; &lt;p&gt;RASA lapar mengusik perut Sukowaluyo Mintorahardjo. Di kantor LKaDe (Lembaga Kajian Demokrasi), politisi PDI Perjuangan itu meminta seorang pesuruh untuk mencarikan nasi bungkus. Pecel berlauk tempe dan kerupuk menjadi pilihannya. "Jangan lupa empal," katanya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siang itu rambut Koordinator Nasional Gerakan Pembaruan PDI Perjuangan ini acak-acakan. Matanya nanar. Gurat kelelahan tampak di wajahnya setelah ia mengikuti Kongres PDIP II di Bali. Memang, Kongres Partai Banteng Gemuk itu ditutup pada Kamis malam, tapi siang sebelum acara bubar, Sukowaluyo memilih kembali ke Jakarta. "Sudah seminggu lebih saya tidur cuma dua-tiga jam sehari," katanya. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesungguhnya, kelelahan tubuh Sukowaluyo tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan makan hati yang dideranya selama kongres. Menurut dia, PDIP sudah jauh dari demokrasi dan berada di ambang kehancuran. Kata dia, banyak orang di seputar Taufiq Kiemas yang bekerja keras mengultuskan Megawati, anak biologis Soekarno. "Pengurus PDIP sesak oleh orang-orang yang terus ingin berkuasa," ujarnya getir. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Suko, 56 tahun, adalah seorang dokter. Ia pernah menjadi Direktur Rumah Sakit Mardiwaluyo, Metro, Lampung, dan menjadi konsultan bidang kesehatan masyarakat Rumah Sakit PGI Cikini. Tapi politik membuatnya melepas stetoskop. Sejak 1987 hingga sekarang ia menjadi anggota DPR. Ketika PDI pecah, ia memilih bergabung dengan Megawati. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi di perjalanan ia bersimpang arah dengan putri Bung Karno itu. Suko menilai Ketua Umum PDIP ini tak lagi menegakkan demokrasi. Ia memberontak dan mendirikan Gerakan Pembaruan PDI Perjuangan-wahana yang mengumpulkan orang yang kecewa terhadap Mega. Dalam Kongres PDIP II pekan lalu, ia ingin mendongkrak Mega, tapi gagal. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam letih dan kecewa, Suko dua kali menerima wartawan  &lt;i&gt;Tempo&lt;/i&gt; untuk wawancara khusus. Pertama dengan Rofiqi Hasan sesaat sebelum ia meninggalkan arena kongres di Sanur, Bali, dan kedua dengan Sunudyantoro di kantor LKaDe, di lantai 11 Century Tower, Kuningan, Jakarta Selatan. Berikut petikannya. &lt;/p&gt;&lt;hr noshade="noshade"  style="font-size:78%;"&gt;  &lt;p&gt;&lt;b&gt;Anda kecewa dengan hasil kongres PDIP? &lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Ya! Kongres PDIP II di Bali jauh dari harapan. Menurut laporan  teman-teman di dalam, mereka diintimidasi, &lt;i&gt;mike  &lt;/i&gt;tak bisa digunakan, interupsi tak didengarkan. Kalau mau interupsi,  dihalangi &lt;i&gt;pecalang&lt;/i&gt;. Masa, &lt;i&gt;pecalang &lt;/i&gt;punya  kewenangan melebihi pimpinan sidang? &lt;i&gt;Pecalang  &lt;/i&gt;itu cuma satuan tugas PDIP atau polisi yang diberi pakaian  &lt;i&gt;pecalang &lt;/i&gt;untuk mengintimidasi dan menghalang-halangi utusan untuk menggunakan hak bicara dan hak suara. Ini kongres yang sama sekali jauh dari demokrasi. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Megawati melakukan itu hanya agar terpilih lagi sebagai ketua umum?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Saya tidak mengerti, dia itu tahu demokrasi atau tidak. Kita dulu berjuang meruntuhkan rezim Soeharto untuk membangun demokrasi. Sikap Mbak Mega dalam Kongres PDIP ini hampir mirip sikap Soeharto. Ini reinkarnasi rezim totaliter Soeharto. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Apakah sikap itu akibat orang-orang di sekelilingnya?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Kalau Mbak Mega tidak begitu, tentu ia tidak dikelilingi orang seperti itu. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Ia dipengaruhi Taufiq Kiemas?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Pengaruh Taufiq sangat besar. Ia mempengaruhi Mega dalam segala hal.  Ambisi dan motivasi Taufiq banyak mewarnai Mega. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Betulkah sikap Mega bergantung pada pembisiknya?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Ah, tidak. Dia dengan senang hati mempertontonkan pertunjukan antidemokrasi di kongres. Bagi dia, kritik adalah perlawanan berbahaya. Dia bukan seorang demokrat. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Apa yang akan terjadi pada PDIP setelah kongres di Bali ini?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Kita memprediksi, kalau dengan kepengurusan biasa saja, 2009 PDIP hancur. Tahun 2004 sudah terbukti. Karena itu Gerakan Pembaruan ingin melakukan perubahan ke arah perbaikan. Kita memiliki empat "re". Pertama, harus ada regenerasi. Mbak Mega harus menyediakan diri, ini saatnya regenerasi. Jangan pegangi perahu yang hampir karam, berikan kepada nakhoda baru. Kedua, harus ada revitalisasi. Semua aset harus diberdayakan, bukannya aset positif disuruh pergi. Ketiga, rekonsiliasi. Dia harus membuka luas partisipasi berbagai macam orang yang berbeda, asalkan tujuannya membesarkan PDIP. Keempat, reorganisasi. Semua ditata. Jika peran ini menjadi suatu sinergi, organisasi menjadi efektif. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Apakah termasuk menampung orang yang telah keluar dari PDIP?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Tarik lagi saja. Mereka kan sesama teman perjuangan. Tapi Mega malah menciptakan musuh-musuh baru. Orang yang masih di dalam pun disuruh pergi. "Sana, bikin partai baru," katanya. Itu bukan sikap pemimpin. Dulu mitos Mega pemersatu partai. Tapi figur pemersatu sudah habis dihancurkannya sendiri. Kini ia pemecah belah partai. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Apa pendapat Anda tentang struktur pengurus nasional PDIP yang baru?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Struktur pengurus pusat PDIP sekarang kacau, tidak jelas. Ada wakil sekjen urusan internal, eksternal, dan sebagainya. Ada ketua-ketua bidang eksternal dan internal, ada juga bidang fungsi-fungsi pemerintahan, itu makin memberikan kekacauan dalam menata organisasi. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bukankah itu maunya kepengurusan yang profesional?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Ya, kita buktikan saja, bagaimana amburadulnya tatanan struktur, fungsi, dan bidang tugas organisasi yang disusun di dalam kongres. Dalam perjalanan waktu akan kelihatan. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bagaimana konstelasi orang-orang yang masuk pengurus nasional?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Orang-orang yang ditaruh adalah &lt;i&gt;the looser  team&lt;/i&gt;, para pecundang. Ketua umumnya figur yang kalah, pembantu-pembantunya tim yang kalah. Jadi secara keseluruhan PDIP dipimpin kumpulan orang kalah. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Melihat figur pengurus baru, tampaknya peran Taufiq Kiemas sangat besar?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Sudahlah, mereka semua orangnya Taufiq. Pramono Anung orangnya Taufiq dan Mega. Mangara Siahaan orangnya Taufiq, juga loyal ke Mega. Agnita Singedikane dekat dengan Mega. Sutradara Ginting orangnya Mega-Taufiq. Philip Wijaya lebih dekat ke Taufiq ketimbang ke Mega. Daniel Setiawan, Cahyo Kumolo, Murdaya Poo, Panda Nababan, Maruar Sirait, Dudi Makmun Murod, semua orang Taufiq. Taufiq juga menempatkan Daryatmo Mardiyanto, Emir Moeis, Arif Budimanto, Firman Jaya Daeli. Theo Syafei mencoba bermain dekat Mega. Soetjipto jelas ke Mega-Taufiq. Jadi ini DPP-nya Taufiq Kiemas. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bagaimana dengan Suwarno dan Alex Litaay?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Dia orang lepas. Kedua orang itu relatif tidak berbau Taufiq, tetapi lebih dekat ke Mega. Jacob Nuwa Wea orang Taufiq-Mega. Guruh ke Mega. Mindo Sianipar ke Mega. Hamka Haque saya tidak tahu. Dia profesor dari Makassar, anggota baru.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bagaimana Anda menilai Taufiq Kie-mas?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Siapa dia sebenarnya? Di mana dia ketika peristiwa 27 Juli 1996? Apa dia pernah tampil di mimbar demokrasi? Mega juga lupa, kita membesarkan partai bersama-sama dengan segala risiko. Dia kan simbol. Dulu kita melihat, untuk melawan rezim Soeharto kita butuh dia. Mega orangnya diam tapi kita bantu: dia kita &lt;i&gt;blow up &lt;/i&gt;dan kita bicarakan di mana-mana. Kita buka akses ke kedutaan-kedutaan. Pers memihak kita. Kami bumbui macam-macam sehingga dia dianggap &lt;i&gt;the rising leader&lt;/i&gt;. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Ternyata Mega kurang berkembang. Sikapnya yang tertutup dan malas omong terus berlanjut setelah menjadi ketua partai dan presiden. Seolah-olah semua pemerintahannya sendiri, urusannya sendiri. Teman-temannya tak diajak lagi. Dia malah menyingkirkan orang-orang yang mendukungnya. Setiap tahapan dirancang ada yang digusur. Misalnya, setelah menang di Pemilu 1999 justru dia menggelar kongres, mestinya lima tahun setelah 1998. Tujuannya cuma untuk menyingkirkan orang-orang dekatnya. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Padahal, kalau mengambil prinsip pertempuran, pasukan yang menang tak akan diganti. Saat itu Alex Litaay, Haryanto Taslam, Muchtar Buchori, dan yang lain malah digusur. Juga ketika berhasil menjadi presiden setelah Gus Dur diturunkan, teman-teman yang akrab dipanggil koboi Senayan juga ditinggalkan. Ini bukan persoalan balas budi, tapi soal moral kesetiakawanan dan dalam perjuangan. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sempat ada tawaran rujuk dari Mega?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Kalaupun diminta, kita tidak mau bergabung dengan tim  yang seperti itu. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;PDIP akan menjadi partai oposisi, Anda yakin peran itu bisa dilakukan?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Itu mimpi di siang bolong. Secara keseluruhan, tahun 2004 Partai telah kehilangan kepercayaan publik, baik di eksekutif maupun legislatif. Mengapa PDIP ditinggalkan pemilihnya? Karena pemilih tidak percaya. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Pada Pemilu 1999 rakyat berbondong-bondong mendukung karena percaya dan berharap. Tahun 2004, 14 juta pemilih meninggalkan PDIP dan ketua umumnya dalam pemilu presiden. Sekarang Mega mengatakan akan menjadi pemimpin oposisi. Rakyat bertanya, kok baru sekarang membela rakyat. Dulu kekuasaan dan mandat diberikan, digunakan untuk apa? &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Rakyat dengan lugu dan sederhana mengatakan, "Dulu sewaktu berkuasa tidak ingat kita. Kebijakan-kebijakan politiknya tidak membela kita." Sutiyoso menggusur rakyat diam saja, malah dijadikan gubernur atas perintah Mega. Pepatah mengatakan, sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya. Mega adalah pemimpin partai dan presiden yang lancung ke ujian. Megawati gagal menjalankan amanat yang sudah diberikan. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jikapun PDIP dipimpin Gerakan Pembaruan, apakah tidak juga  ditinggalkan rakyat karena pamor PDIP sudah merosot?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Justru akan naik. Karena kita melakukan empat "re" tadi. Keempatnya tidak bisa dipisahkan. Tanpa regenarasi, revitalisasi, rekonsiliasi, dan reorganisasi. Pimpinan harus memasukkan orang-orang yang konsisten terhadap rakyat, seperti Sophan Sophiaan. Ia mundur dari partai karena memprotes Mega yang tidak mempedulikan janji-janjinya kepada rakyat dalam kampanye. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Bukankah Puan Maharani, anak Mega, kini mulai dipersiapkan?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Ya, tetapi PDIP sudah menjadi partai nol koma sekian persen. Rakyat  makin maju dan makin cerdas. Mereka tidak akan omong  "&lt;i&gt;pokoke&lt;/i&gt; anak Soekarno". Orang-orang tua yang bernostalgia terhadap Bung Karno sudah lewat. Pemilih pada Pemilu 2009 adalah anak-anak yang sekarang duduk di bangku SMP yang lahir tahun 1990-an ke sini. Mereka tidak kenal Soekarno dan kebesaran nama Bung Karno. Anak-anak itu makin rasional, aspirasi dan ekspektasinya terukur. Mereka ini tidak hanya omong, "Wah, hebat!" tapi juga bertanya, "Bisa apa dia?" &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Apakah Gerakan Pembaruan akan mendirikan partai baru?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Kami akan berjuang di dalam PDIP. Kami tidak akan keluar. Bukan itu tujuan kami. Kami kader PDIP yang ingin berjuang membangun kembali kewibawaan dan kejayaan Partai melalui pembangunan sistem. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Caranya?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Aspirasi yang ada harus kami konsolidasikan agar menjadi bola salju di dalam Partai. Kami akan mengambil langkah-langkah organisatoris. Kami akan membentuk dewan pimpinan mulai tingkat nasional hingga tingkat cabang di kota dan kabupaten. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Jika Mega mencabut keanggotaan orang yang aktif di Gerakan Pembaruan?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Menjadi anggota partai itu sifatnya sukarela. Apa yang kami langgar dengan Gerakan Pembaruan? Buktikan pelanggaran kami? Mereka adalah utusan kongres yang memiliki legitimasi, kok. Mereka &lt;i&gt;walk  out&lt;/i&gt; di kongres dan itu tidak ada salahnya. Apakah kami akan dipecat karena tidak memilih Mega? Kalau itu Megawati yang melanggar aturan partai. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Kubu Mega menuding Gerakan Pembaruan disokong pemerintah?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Yudhoyono, Kalla, dan siapa pun calon presiden 2009 bertepuk tangan dengan hasil Kongres PDIP II, karena Gerakan Pembaruan kalah. Mereka akan mendapat lawan enteng. Mega terbukti berkali-kali gagal. Kalau Gerakan Pembaruan berhasil di kongres ini, mereka bilang berat yang akan dihadapi. &lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Menurut Anda, mengapa Guruh membelot ke Mega?&lt;/b&gt;  &lt;/p&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;p&gt;Dia berbeda pandangan dengan kami. Sebab, menurut dia, pembaruan jangan sampai menimbulkan perpecahan. Secara prinsip dia setuju dengan gagasan pembaruan. Bukan cuma Guruh, di kalangan pembaruan memang ada perbedaan di tingkat strategi. Roy Janis dan Noviantika, misalnya, minta agar pembentukan formatur pengurus tandingan ditunda dua-tiga hari. Tapi kami menganggap, mestinya pada hari kedua kongres (Selasa) sudah diumumkan karena desakan daerah begitu kuat. Kenyataannya Rabu, terlambat satu hari. Roy dan Novi juga menginginkan dewan diberi nama Dewan Penyelamat Partai, jadi lebih moderat kedengarannya. Tapi kami bilang, kalau namanya begitu, akan menjadi subordinat DPP Kongres.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt; &lt;hr noshade="noshade" size="1"&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:+1;color:#999900;"&gt;&lt;b&gt;Dr Sukowaluyo Mintorahardjo, M.Kes.&lt;/b&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Tempat/tanggal lahir:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;ul type="square"&gt;&lt;li&gt;Wates, DI Yogyakarta, 3 Agustus 1949&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pendidikan:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;ul type="square"&gt;&lt;li&gt;Fakultas Kedokteran UGM&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Karier:&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1295519080320362524?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1295519080320362524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1295519080320362524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1295519080320362524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1295519080320362524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/03/sukowaluyo-mintorahardjo.html' title='Sukowaluyo Mintorahardjo:'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3246749474956770046</id><published>2010-03-19T07:24:00.000+07:00</published><updated>2010-03-19T07:25:21.544+07:00</updated><title type='text'>Rajmohan Gandhi, Penerus Ahimsa</title><content type='html'>&lt;!-- ===================================================  DAERAH  =========================================================== --&gt;     &lt;!-- ===================================================  BODYLINE  =========================================================== --&gt; &lt;div class="ml_50 mr_50 pl_20 pr_20 "&gt;  &lt;!-- kolom kiri --&gt; &lt;div class="left w650"&gt;    &lt;!-- headline--&gt;         &lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/19/03202247/rajmohan.gandhi.penerus.ahimsa#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/03/19/0611576p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                                              &lt;div class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rajmohan Gandhi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;                            &lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                           &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;         &lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;         &lt;p&gt;Jumat, 19 Maret 2010 | 03:20 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;Oleh &lt;strong&gt;Fransisca Romana Ninik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;lead&gt;Seperti sang kakek, Rajmohan Gandhi meyakini bahwa perlawanan tanpa kekerasan akan memakan waktu lama untuk mencapai tujuan. Akan tetapi, satu hal pasti: kekerasan tidak akan menuntun pada keberhasilan.&lt;/lead&gt; &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keyakinan itulah yang membawa cucu Mahatma Gandhi ini mengampanyekan rasa saling percaya, rekonsiliasi, dan demokrasi selama lebih dari setengah abad.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Tentu saya kadang merasa kecewa, frustrasi. Namun, selalu ada sesuatu yang membangkitkan semangat sehingga kekecewaan dan frustrasi itu hanya sebentar,” kata Rajmohan seusai memberikan ceramah di Gandhi Memorial International School, Jakarta, Jumat (12/3).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dia melawat ke Jakarta dan sejumlah kota lain di dunia untuk mendorong perubahan positif bagi dunia, bersama lembaga nonpemerintah Initiative for Change International yang dipimpinnya. Khusus di Jakarta, dia membawakan pidato tentang mengapa Mahatma Gandhi memilih jalan nir-kekerasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Mengapa saya di sini? Tentu karena saya cucu Mahatma Gandhi,” katanya, disambut tawa hadirin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menurut dia, sudah sifat alami manusia untuk berkuasa. ”Apakah Gandhi terlahir menolak kekerasan dan apakah Gandhi selalu nir-kekerasan?” tanyanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rajmohan menuturkan, sebagai anak muda, Gandhi marah atas pendudukan Inggris. Namun, dari berbagai hal yang dialami, dilihat, didengar, dan dibaca Gandhi, akhirnya muncul pemahaman dirinya bahwa kekerasan tidak pernah berhasil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Gandhi melihat, pembalasan warga India terhadap pasukan Inggris sangat brutal, begitu juga sebaliknya. Saat seorang India melakukan hal buruk terhadap Inggris, tak hanya orang itu yang mendapat balasan, tetapi seluruh desanya. Ibu-ibu dan anak-anak tak bersalah pun menjadi korban,” katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terbukti dengan prinsip ahimsa atau nir-kekerasan, India berhasil lepas dari penjajahan Inggris.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rajmohan menulis biografi tentang kakeknya, Mohandas: A True Story of a Man, His People and an Empire (2007). Buku itu merupakan kenangan Rajmohan terhadap salah seorang paling berpengaruh di dunia, tentang perjalanan hidup Gandhi dan kehidupan bersama orang-orang terdekatnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;crosshead&gt;Melindungi kakek&lt;/crosshead&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tentang sang kakek, Rajmohan mengenang saat dia duduk di samping Gandhi dalam doa bersama berbagai pemeluk agama. Gandhi biasa mengutip ayat-ayat dari berbagai kitab suci. Hal itu sering kali memunculkan keberatan dari kalangan pemeluk Hindu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Mereka sering marah kepada Gandhi. Saya, sebagai anak kecil yang duduk di sampingnya, hanya berpikir bagaimana bisa melindungi orang tua itu dari mereka yang marah. Ternyata, meskipun kurus, orang tua itu sangat berani,” ujar Rajmohan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rajmohan membawa buku itu serta satu buku karya terbarunya, A Tale of Two Revolts: India 1857 &amp;amp; the American Civil War (2009), dalam lawatannya ke sejumlah negara. Dari situlah Rajmohan meneruskan perjuangan Gandhi menebarkan prinsip nir-kekerasan kepada berbagai lapisan masyarakat dunia.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Untuk mengubah dunia, kita harus mulai mengubah diri kita dulu. Ingat, saat kita menunjuk orang lain, satu jari menunjuk mereka dan tiga jari lain menunjuk balik kepada kita,” ujarnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Rajmohan secara konsisten bekerja untuk rekonsiliasi India-Pakistan. Dalam sebuah wawancara tahun 2009, dia menuturkan, saat berusia 16 tahun, tiga tahun setelah Gandhi dibunuh pada 1947 dan saat India-Pakistan sudah terpisah, dia mendengar berita bahwa Perdana Menteri Pakistan Liaquat Ali Khan ditembak. Kepada orang yang membawa berita itu, Rajmohan mengatakan, dia memperkirakan akan segera mendengar berita PM meninggal.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Orang itu mematung, saya sangat malu dengan pernyataan konyol dan buruk tentang seseorang yang tidak melakukan hal buruk pada saya,” ujarnya tentang peristiwa waktu itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sejak saat itulah, Rajmohan bekerja untuk mempromosikan hubungan yang lebih baik antara India dan Pakistan. Dia secara rutin berkunjung ke Pakistan. Pemikirannya tentang hal itu tertuang dalam dua buku, Eight Lives: A Study of Hindu-Muslim Encounter dan Reconciliation &amp;amp; Revenge: Understanding South Asian History.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;crosshead&gt;India-Pakistan&lt;/crosshead&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat ditanya tentang kondisi hubungan India-Pakistan sekarang, Rajmohan dengan tegas mengatakan, hubungan itu bukanlah konflik, melainkan hanya sebuah rasa saling tidak percaya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;”Sekarang ini beberapa pembicaraan telah digelar, yang tentu saja bagus. Tetapi, seharusnya tidak hanya antara pemerintah dan pemerintah, juga harus antara masyarakat (India) dan masyarakat (Pakistan),” katanya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pembicaraan antara India dan Pakistan adalah sesuatu yang paling menimbulkan semangat Rajmohan. ”Kendati demikian, iklimnya belum bagus. Masih ada saling curiga. Saya ingin hal itu berubah,” tuturnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada Januari lalu, saat terjadi serangan teroris di Mumbai, India, yang disebut-sebut terkait dengan jaringan teroris di Pakistan, Rajmohan termasuk salah satu di antara para intelektual India dan Pakistan yang mengatakan perang bukanlah pilihan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di sebuah negara di mana Gandhi masih sangat dihormati, pernyataan Rajmohan patut diperhitungkan. Namun, nama besar Rajmohan bukan hanya karena dia adalah cucu Mahatma Gandhi. Kerja kerasnya sebagai wartawan, reformis sosial, dan akademisi, telah memberinya sederet penghargaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tahun 1963, Rajmohan menggelar ”March on Wheel” di seantero India dan menginspirasi ribuan orang untuk bekerja demi India yang bersih, kuat, dan bersatu. Setelah itu, Rajmohan juga mengembangkan pusat pelatihan dan konferensi Initiatives of Change bernama Asia Plateau di Panchgani pada tahun 1968.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang ini, Rajmohan adalah profesor peneliti pada Center for South Asian and Middle Eastern Studies di University of Illinois, Amerika Serikat. Delapan buku telah lahir dari tangannya.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3246749474956770046?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3246749474956770046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3246749474956770046' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3246749474956770046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3246749474956770046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/03/rajmohan-gandhi-penerus-ahimsa.html' title='Rajmohan Gandhi, Penerus Ahimsa'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4005706112677313867</id><published>2010-03-08T06:31:00.000+07:00</published><updated>2010-03-08T06:32:14.672+07:00</updated><title type='text'>Jalan Paradoks Sjahrir</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Senin, 8 Maret 2010 | 04:04 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;strong&gt;B Herry Priyono&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perkenankan saya mengaku, saya belum pernah bertemu muka dengan almarhum Sutan Sjahrir. Ketika beliau wafat di Zürich, Swiss, 9 April 1966, saya bahkan belum tahu membaca dan menulis. Tatkala menginjak dewasa, sayup-sayup saya mendengar orang sering menyebut namanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanpa tahu mengapa, ia terdengar sebagai satu di antara deretan nama yang menjulang tinggi ke angkasa Indonesia. Namun, lantaran jarak generasi, ia lebih terdengar sebagai gema ketimbang suara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika mulai melek-huruf, sesekali saya membaca renungan-renungannya dari penjara dan pembuangan. Sebagai anak muda, saya merasa renungan-renungan itu menyimpan teka-teki yang misterius tetapi menawan. Saya kadang membaca ulasan dari para ahli atau juga kenang-kenangan dari para muridnya, pengagum, dan kritikus Sjahrir. Namun, jauh dalam hati, saya merasa ada yang selalu saja lolos dari genggaman ulasan dan refleksi kenangan itu. Saya tidak mengerti apa. Mungkin itu suara keabadian yang tak pernah tertampung oleh keterbatasan. Mungkin juga karena Sjahrir terlalu besar untuk kita, atau kita terlalu kecil untuk Sjahrir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Dilema pilihan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai ungkapan rasa hormat dan terima kasih kepada Sjahrir, perkenankan saya mengajukan satu kemungkinan memahami mengapa Sjahrir selalu lolos dari genggaman ideologi yang pasti. Ia seorang sosialis, tetapi corak sosialismenya terlalu licin untuk dipatok dalam kategori sosialisme yang luas dipahami. Dalam pemahaman sederhana saya, itu lantaran Sjahrir adalah seorang yang menghidupi dan memeluk erat-erat apa yang akan saya sebut ”jalan paradoks”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Paradoks” adalah posisi atau sikap yang kelihatan kontradiktif atau tidak masuk akal karena secara logis tampak tidak konsisten, tetapi sesungguhnya mengandung ”kebenaran” lebih tinggi karena didasarkan pada fondasi lebih kokoh dan lebih lengkap daripada yang tampak. Ambillah satu contoh kecil. Kita mungkin pernah mengalami luka batin yang dalam. Luka batin tidak akan sembuh dengan kita tolak, tetapi justru dengan kita peluk/terima sebagai bagian sejarah hidup, luka batin itu akan pergi/sembuh. Suatu X dicapai bukan dengan kategori yang sama (yaitu X), tetapi melalui non-X. Dalam ungkapan penyair Jerman, Friedrich Schiller, yang diangkat Ignas Kleden dalam pengantar buku Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan (2010), hidup hanya dimenangkan dengan mempertaruhkan hidup itu sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paradoks tampil dalam berbagai wajah. Salah satunya adalah dilema pilihan. Namun, ada beda antara dilema praktis dan dilema eksistensial. Contoh dilema praktis adalah jika kita harus memilih salah satu dari dua acara yang diadakan pada waktu yang bersamaan karena secara fisik kita tak mungkin berada di dua tempat sekaligus. Ketidaksanggupan kita berada di salah satu acara bukan cacat atau ketidakmatangan pilihan, tetapi persis kelugasan pilihan praktis yang sederhana. Banyak dilema pilihan adalah dilema praktis seperti itu. Perkaranya kadang kecil, kadang besar. Putusan Sjahrir bekerja sama atau tidak bekerja sama dengan Jepang juga bercorak dilema praktis semacam itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan tetapi, mana yang dipilih Sjahrir: nasionalisme atau internasionalisme, kebebasan individual atau solidaritas sosial? Boleh juga itu berupa dilema aksi atau refleksi, spontanitas individu atau tertib tatanan, yang lokal atau yang global, roh atau materi, dan sebagainya? Itulah dilema-dilema eksistensial. Ia disebut ”eksistensial” sebab tegangan-tegangan itu secara niscaya senantiasa terlibat dalam perjuangan kita meraih kualitas hidup-personal ataupun hidup-bersama yang bermutu dan matang. Dengan kata lain, dilema memilih ”kebebasan individual atau solidaritas sosial” adalah oposisi semu. Memilih salah satu dengan menyingkirkan yang lain adalah resep pasti menuju kesesatan dan ketidakmatangan. Keduanya hanya perlu dipeluk erat-erat dan dihidupi dalam tegangan abadi sebagai paradoks eksistensial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika alam tidak suka kehampaan, politik tidak suka kerumitan. Itulah mengapa dunia politik praktis berisi kelugasan kubu-kubu pilihan eksklusif ”ini atau itu”. Pilihan eksklusif itu tentu sering niscaya lantaran ia dilema praktis yang sederhana. Akan tetapi, pada banyak momen lain, dunia politik juga berisi dilema-dilema eksistensial: kebebasan atau solidaritas, nasional atau global?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tergelincir ke salah satunya adalah resep pasti menuju kesesatan. Yang diperlukan adalah menghidupinya sebagai tegangan abadi. Itulah mengapa dalam diri Sjahrir, kita menemukan keengganan tetapi sekaligus kesediaan terhadap dunia politik. Dalam bahasa Sol Tas yang mengenal Sjahrir: ”Dia terlibat dalam politik dari rasa kewajiban, bukan dari minat”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Mengenali patologi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti apa Sjahrir menuliskan jalan paradoks itu? Dari serakan renungan-renungannya, beginilah contoh ia meyakini jalan paradoks itu:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Hanya merekalah yang sudah matang dan mengerti akan kehidupan oleh pengalaman, tidak lagi menyobek kehidupan itu dalam dua bagian yang bertentangan satu dengan yang lain; tapi mereka itu melihat peralihan-peralihan, sambungan-sambungan, percampuran-percampuran dari kedua bagian itu” (Surat 16 Desember 1934).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kali lain, Sjahrir menulis prinsip menghidupi tegangan antara individualitas dan sosialitas:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Suatu perasaan yang luas dan dalam, suatu rasa bahagia yang sungguh-sungguh, tidak pernah eksklusif. Kita ingin membaginya kepada orang lain... Sebab itu kukira kebahagiaan pribadi yang setinggi-tingginya yang bisa kita raih, mestilah berbarengan dengan kebahagiaan umum umat manusia” (Surat 22 Juli 1934).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sjahrir menulis, memilih salah satunya adalah ”gambaran manusia yang belum matang”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa yang boleh kita pelajari dari keluhuran jalan paradoks Sjahrir itu? Pertama, silakan mengenali patologi apa yang sedang membusukkan periode sejarah kita dewasa ini? Apakah ia ekstremisme agama, ekstremisme pasar, globalisme, ataukah campuran semua itu? Menurut jalan paradoks Sjahrir, ekstremisme adalah buah busuk dari ketidakmatangan pribadi dan kolektif. Terhadap patologi itu, &lt;line&gt;&lt;/line&gt;jalan menuju kematangan hidup pribadi dan berbangsa menuntut kita melancarkan gerakan balik. Kedua, jalan paradoks Sjahrir juga mengajar kita bahwa pemimpin politik sejati bukanlah mereka yang haus akan kursi dan kekuasaan, tetapi mereka yang justru punya sikap curiga dan skeptis terhadap kekuasaan dan jabatannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya belum pernah bertemu muka dengan Sjahrir. Pada hari pemakamannya, saya bahkan belum tahu menulis dan membaca. Akan tetapi, bahwa sekian tahun kemudian saya boleh belajar dari Sjahrir tentang rahasia kehidupan dan tentang ”jalan paradoks” bagi kematangan politik, ekonomi, budaya, dan intelektual suatu bangsa, itu sudah sebuah kegembiraan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sjahrir memang tidak bisa lagi bersuara, tetapi ia tetap nyaring bergema.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;strong&gt;B Herry Priyono&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Dosen pada Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta. &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4005706112677313867?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4005706112677313867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4005706112677313867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4005706112677313867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4005706112677313867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/03/jalan-paradoks-sjahrir.html' title='Jalan Paradoks Sjahrir'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4437835859717950056</id><published>2010-03-05T10:22:00.000+07:00</published><updated>2010-03-05T10:23:02.368+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;!-- ===================================================  DAERAH  =========================================================== --&gt;     &lt;!-- ===================================================  BODYLINE  =========================================================== --&gt; &lt;div class="ml_50 mr_50 pl_20 pr_20 "&gt;  &lt;!-- kolom kiri --&gt; &lt;div class="left w650"&gt;    &lt;!-- headline--&gt;         &lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/04/05390484/bo.xilai.bintang..di.partai.komunis.china#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/03/04/2129459p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5" align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;                            &lt;div class="font36 c_black"&gt;Bo Xilai, Bintang  di Partai Komunis China&lt;/div&gt;                           &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;         &lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;         &lt;p&gt;Kamis, 4 Maret 2010 | 05:39 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Rakaryan Sukarjaputra&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Partai Komunis China berkongres pekan ini dan menjadi peristiwa politik besar di negara komunis yang menjadi kekuatan ekonomi terkemuka dunia itu. Nama Bo Xilai pun banyak disebut sebagai calon pemimpin China baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Surat kabar resmi Partai Komunis China (PKC), People’s Daily&lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Regular" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="601" gray="100" h="9036m" it="0" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;, menobatkan Ketua PKC Provinsi Chongqing itu sebagai ”Tokoh Tahun Ini” dari hasil jajak pendapat. Kepopulerannya disetarakan dengan Rudy Giuliani, mantan Gubernur New York, yang populer di mata warganya. Akan tetapi, masih menjadi pertanyaan apakah Bo juga populer di mata para tokoh PKC.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bo kelahiran Juli 1949 lulus dari Akademi Ilmu-ilmu Sosial China pada 1982 dengan gelar master. Pada tahun 1968 atau pada usia 19 tahun, dia sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan perbaikan perangkat- perangkat keras bagian dari Biro Second Light Industry, Beijing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penghasilan dari pekerjaannya itu kemudian dijadikan bekal biaya kuliah di Universitas Peking jurusan sejarah (1977). Dia secara khusus memperdalam sejarah dunia hingga mendapat gelar sarjana pada 1979.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bo adalah putra Bo Yibo, seorang tokoh gaek Revolusi Komunis. Dia mengikuti jalur politik ayahnya dengan bergabung ke PKC pada Oktober 1980. Dia mendapatkan penugasan pertama di Kantor Riset Sekretariat Komite Sentral PKC. Setelah itu, dia ditunjuk sebagai Wakil Ketua dan kemudian Ketua Komite PKC Kecamatan Jinxian, di Provinsi Liaoning.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kariernya di PKC terus menanjak hingga kemudian ditunjuk sebagai penjabat Wali Kota Dalian, Distrik Jinzhou, pada 1992. Kemudian dia secara resmi menjadi Wali Kota Dalian sejak 1993 untuk dua kali masa jabatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah itu, dia memegang jabatan Wakil Gubernur Provinsi Liaoning berada dalam genggamannya pada Januari 2001 dan sebulan kemudian dia langsung ditunjuk sebagai Gubernur Liaoning, yang lalu ditetapkan pada pemilihan umum PKC 2003.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bo dianugerahi gelar Model Nasional untuk Penghormatan pada Orangtua pada 1995, kemudian disusul dengan penghargaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Habitat Scroll of Honor pada 1999, atas kontribusi briliannya pada konstruksi perumahan dan pembangunan berkelanjutan, sebuah karyanya sebagai Wali Kota Dalian yang dikenal sebagai kota tebersih di China pada saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Sadar media&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bo adalah gambaran generasi pemimpin baru China yang sangat sadar dan memanfaatkan media massa untuk membuat sosoknya dikenal luas. Reputasi dia cukup dikenal luas di China daratan, Hongkong, bahkan di luar China. Dia, bahkan, menjulang sebagai bintang politik China setelah menjabat sebagai Menteri Perdagangan 2004 hingga 2007.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan kemampuan bahasa Inggris yang memadai, Bo ditunjuk sebagai Menteri Perdagangan pada kabinet Perdana Menteri Wen Jiabao, menggantikan Lu Fuyuan yang mengalami masalah kesehatan sehingga tidak mampu meneruskan tugasnya. Dengan penampilan yang selalu rapi, gaya bicara yang tegas dan jelas, etos kerja yang tinggi dan terbuka, setiap hari Bo bergelut dengan upaya menarik investasi asing masuk ke China. Media massa dia manfaatkan betul untuk menarik para investor asing masuk ke negerinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hasilnya kemudian terlihat nyata, China menjadi negara tujuan investasi nomor satu di dunia. Perdagangan China-AS pun naik 67 persen dan terus meningkat. Semua itu tidak terlepas dari cara Bo menghadapi para pemimpin Eropa dan AS, yaitu dengan kepercayaan diri yang tinggi dan sikap yang tegas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Prestasi sebagai Menteri Perdagangan kemudian mengorbitkan Bo sebagai Ketua PKC Provinsi Chongqing dan kemudian juga masuk ke dalam jajaran elite politbiro PKC pada kongres ke-17 PKC tahun 2007. Bo pun diberi tugas baru di wilayah barat daya China itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai Gubernur Chongqing, Bo berjuang memerangi kejahatan terorganisasi yang marak di wilayahnya. Sejak Juni 2009, tak kurang 2.000 orang telah ditangkap dan ditahan dalam operasi pembersihan kelompok-kelompok kejahatan di Chongqing. Kampanye antimafia dia jalankan bukan hanya menyasar kelompok-kelompok di kalangan warga, tetapi juga sejumlah pejabat pemerintahan yang membekingi kelompok-kelompok kriminal itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagian pengamat politik China melihat pembasmian kelompok-kelompok mafia dan para pejabat yang melindunginya itu sebagai serangan tidak langsung terhadap Wang Yang, pesaing sekaligus sekutu dekat Presiden Hu Jintao yang sebelumnya menjabat sebagai Gubernur Chongqing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Dituntut di AS&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bo yang berasal dan lahir dari Dingrang, Provinsi Shanxi, menikahi Gu Kailai pada 1986. Gu adalah seorang pengacara kawakan yang merupakan pengacara China pertama yang berhasil memenangi sebuah kasus publik di AS. Dia juga keturunan dari Perdana Menteri Dinasti Song yang juga seorang penyair, Fan Zhongyan. Mereka mempunyai seorang putra, Bo Guagua, yang merupakan putra dari China daratan pertama yang masuk ke sekolah khusus anak lelaki Harrow di Inggris. Dia juga kemudian diterima di Balliol College, Oxford University.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di luar prestasinya yang mendapat pujian tinggi di negerinya, Bo juga menjadi target beberapa organisasi pejuang hak asasi manusia AS. Center for Investigative Reporting melaporkan, mereka memasukkan tuntutan terhadap Bo ke pengadilan AS, dengan dakwaan anggota elite politbiro itu mengoperasikan sejumlah kamp pekerja paksa di mana para pekerjanya dipukuli dan dibunuh. Bo dituduh melakukan aksi-aksi tersebut pada saat menjabat sebagai Gubernur Provinsi Liaoning antara 2001 dan 2004.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan tetapi, pemerintahan Presiden George Walker Bush ketika itu meminta hakim Richard J Leon, yang memimpin sidang kasus Bo itu di Pengadilan Federal Distrik Columbia, untuk mengabaikan kasus itu, dengan alasan tuntutan itu mempunyai ”konsekuensi-konsekuensi langsung atas kebijakan luar negeri”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;PBB dalam laporannya mengenai tindak penyiksaan di sejumlah negara, pada 2007 menuduh Bo membunuhi sejumlah anggota Falun Gong untuk diambil bagian jantung, liver, dan organ-organ tubuh lainnya, yang kemudian diberikan kepada para pasien yang membutuhkan transplantasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan tetapi, tuduhan itu langsung dibantah Pemerintah China dan menganggap tuduhan itu hanyalah ”desas-desus semata”. &lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;(AP/Reuters)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4437835859717950056?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4437835859717950056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4437835859717950056' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4437835859717950056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4437835859717950056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/03/bo-xilai-bintang-di-partai-komunis.html' title=''/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-167554736086960442</id><published>2010-03-05T10:20:00.000+07:00</published><updated>2010-03-05T10:21:17.899+07:00</updated><title type='text'>Mengenang Sutan Sjahrir</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Jumat, 5 Maret 2010 | 04:40 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;strong&gt;Sabam Siagian&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Perdana Menteri Republik Indonesia pertama (November 1945-Juni 1947), Sutan Sjahrir, lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Maret 1909. Selama setahun sejak peringatan Seratus Tahun Sjahrir pada 5 Maret 2009, serangkaian acara diselenggarakan—baik di Jakarta maupun di beberapa daerah—dalam bentuk seminar, pameran foto, maupun malam peringatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semuanya itu bermuara pada hari ini, 5 Maret 2010, bertepatan dengan 101 tahun Sutan Sjahrir, dengan diluncurkannya dua buku tentang Bung Sjahrir dalam suatu acara untuk para undangan. Buku pertama adalah terbitan baru berjudul Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan/True Democrat, Fighter for Humanity; 1909-1966. Buku ini unik karena diterbitkan dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris) yang memuat tulisan esai biografis oleh wartawan senior Rosihan Anwar (87) dengan kata pengantar oleh Ignas Kleden.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seratus foto tentang perjalanan hidup Sutan Sjahrir sejak ia di besarkan di kota Medan sampai dimakamkan di Taman Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, menunjang dua tulisan tersebut. Buku kedua (tebalnya hampir 500 halaman!) sebenarnya merupakan cetak ulang dari buku Mengenang Sjahrir yang diterbitkan pada awal 1980, sehubungan dengan peringatan 14 tahun meninggalnya Sjahrir pada 9 April 1966 di Zurich saat masih sebagai tahanan politik rezim Presiden Soekarno.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku itu (editor Rosihan Anwar; kata pendahuluan oleh Soedjatmoko) memuat sumbangan tulisan dari sejumlah besar tokoh di dalam dan di luar negeri yang pernah bekerja sama atau pernah mengenal Sjahrir. Cetak ulang ini menjadi tebal karena ditambahkan dengan beberapa tulisan oleh peserta dalam diskusi terbatas yang diselenggarakan di gedung Kompas, 2 Maret 2009, untuk memperingati Seratus Tahun Sutan Sjahrir. Cetak ulang ini atas dorongan Jakob Oetama dan St Sularto yang menulis 100 Tahun Sjahrir: Inspirator untuk Bangsanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buku Sutan Sjahrir, Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan dikonsepsikan oleh Jaap Erkelens, warga Belanda, yang bertahun-tahun pernah bertugas sebagai Kepala Perwakilan Badan Riset dan Penerbitan Belanda, KITLV, di Jakarta. Ia fasih berbahasa Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cita-citanya adalah menerbitkan buku foto dengan esai biografis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tentang tiga tokoh utama Revolusi Indonesia pada HUT ke-100 mereka, yakni Soekarno (terbit tahun 2001), Mohammad Hatta (terbit tahun 2002), dan Sutan Sjahrir, yang seharusnya terbit pada tahun 2009, tetapi karena beberapa kendala teknis baru terbit tahun 2010.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jaap Erkelens bertekad untuk menunjang setiap buku dengan 100 foto yang dipilih secara ketat. Untuk buku seratus tahun Sjahrir ini, ia memerlukan dua tahun menelusuri sejumlah arsip yang menyimpan foto-foto Sjahrir. Dan, kalaupun diketemukan, pemilik arsip minta harga yang cukup tinggi untuk setiap foto yang akan dimuat sehingga memerlukan pendekatan diplomasi yang agaknya dilakukan oleh Jaap Erkelens secara efektif. Beberapa dari foto dalam buku Sjahrir, Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan memang mengharukan dengan penulisan teks keterangan yang sarat dengan ungkapan khas (kadang-kadang teks dalam bahasa Inggris lebih menarik dibandingkan dengan versi Indonesia), seperti foto di halaman 94: Amir Sjarifoeddin dan Sutan Sjahrir berdiri di tangga Istana Rijswijk (sekarang Istana Negara), dua tokoh pemimpin Sosialisme Demokrasi yang kemudian berpisah haluan; dan di halaman 163: Sjahrir, dengan istri dan keluarga sedang menghirup udara segar di tepi Danau Zurich tahun 1966, beberapa bulan sebelum ia meninggal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ukuran buku baru tentang Sjahrir ini, hasil gagasan Jaap Erkelens, amat menarik: 21 x 21 cm, dicetak dengan kertas kualitas luks. Sejumlah foto tua berhasil ”diremajakan” oleh Penerbit Buku Kompas sehingga lebih cemerlang pantulannya. Dua tulisan dalam buku ini: kata pengantar oleh Ignas Kleden dan esai biografis oleh Rosihan Anwar (padat, tidak bertele-tele) mengesankan kualitasnya. Tulisan Ignas Kleden bukan saja mencerminkan didikan solid yang dialaminya di Jerman di bidang sosiologi dan filsafat, tetapi ia juga menguasai kerangka teoretis dari alam pemikiran Sjahrir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Cita-cita Sjahrir&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rosihan Anwar dalam tulisannya memanfaatkan pengetahuan serta pengalamannya di bidang drama sehingga mampu menyajikan hidup Sjahrir dengan suasana suspense. Bung Rosihan meminjam alat utama untuk menganalisa drama, yaitu ”premis”. Tulisnya: ”Riwayat hidup Sjahrir, kita rumuskan premisnya sebagai berikut: Cita-cita yang luhur membawa kepada maut, tapi juga harapan.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam buku kedua, cetak ulang Mengenang Sjahrir (1980) dicantumkan subjudul yang tidak ada pada edisi aslinya, yakni kata-kata berikut: ”Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Label ”Tersisih dan Terlupakan” tampaknya sudah merupakan merek pada figur Sutan Sjahrir. Merek itu sudah diberikan pada tahun 1995 oleh penulis biografi Sjahrir, Rudolf Mrazek, Sjahrir, Politics and Exile in Indonesia. Dalam bab penutup, ia secara prematur berkonklusi bahwa Sjahrir mulai dilupakan karena mereka yang mengenal dan mengaguminya satu per satu meninggal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paradoksnya, usaha mencetak buku tebal Mengenang Sjahrir itu sendiri membuktikan bahwa tidak begitu akurat menyebut Sjahrir sebagai ”Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan”. Kalau demikian halnya, apa yang mendorong masyarakat, bahkandari generasi muda sekalipun, sekarang ini ingin mengetahui mengenai sosok, pemikiran, dan cita-cita Sutan Sjahrir?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin, seperti yang pernah dinyatakan Soedjatmoko, karena: ”Sjahrir, dalam tulisan-tulisannya, ataupun dalam tindakan-tindakannya, mencerminkan keyakinan bahwa kemerdekaan nasional hanya merupakan jembatan untuk tercapainya tujuan-tujuan perjuangan kebangsaan lainnya, yaitu kerakyatan, kemanusiaan, kebebasan dari kemelaratan dan tekanan dan pengisapan, keadilan dan pembebasan bangsa dari genggaman sisa-sisa feodalisme, serta pendewasaan bangsa”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sepuluh tahun setelah reformasi merekah, tampaknya justru meningkat urgensi untuk menemukan kembali tujuan esensial dari kemerdekaan nasional. Mungkin karena itulah, memperingati dan mengenang Sutan Sjahrir bukanlah sekadar ritual hampa belaka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Sabam Siagian&lt;/strong&gt; Redaktur Senior The Jakarta Post&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-167554736086960442?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/167554736086960442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=167554736086960442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/167554736086960442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/167554736086960442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/03/mengenang-sutan-sjahrir.html' title='Mengenang Sutan Sjahrir'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4874346023532421447</id><published>2010-01-21T09:49:00.001+07:00</published><updated>2010-01-21T09:49:51.526+07:00</updated><title type='text'>James Cameron, Masa Depan Teknologi Film</title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/20/04072995/james.cameron.masa.depan.teknologi.film#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2010/01/20/0435032p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5" align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;                            &lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                           &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;         &lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;         &lt;p&gt;Rabu, 20 Januari 2010 | 04:07 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt; &lt;strong&gt;Amir Sodikin&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Sutradara film yang juga mantan sopir truk, James Cameron (55), kini mewakili generasi yang yakin akan masa depan teknologi. Ia mampu mengelola dan mengulur waktu, rela menunda bertahun-tahun untuk tidak membuat film, hanya untuk menunggu berkembangnya teknologi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di film Avatar,&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt; Cameron sudah memulainya tahun 1994 dengan menulis naskah cerita 80 halaman. Setelah menyelesaikan film Titanic&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt; (1997), ia berjanji membuat Avatar&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt; yang mengandalkan aktor-aktor yang dihasilkan dari komputer dengan rencana rilis tahun 1999.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, teknologi dirasa belum mampu memfasilitasi standar visual yang diinginkan Cameron. Sambil menunggu perkembangan teknologi, ia berkonsentrasi memperkaya dokumentasi Avatar. Film ini baru dirilis akhir 2009.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Avatar&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt; mengisahkan bangsa Na’vi yang menghuni satelit Pandora di bawah planet Polyphemus yang masuk tata surya Alpha Centauri. Dengan setting&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt; tahun 2154, bangsa Na’vi yang warna kulitnya biru ini kedatangan bekas personel angkatan laut Amerika, Jake Sully (Sam Worthington), yang menjalani program avatar&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;, sebuah program yang bisa mengubah manusia menjadi Na’vi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Istilah avatar diambil Cameron dari khazanah agama Hindu, yang berarti inkarnasi. Film berbiaya 280 juta-310 juta dollar AS ini fenomenal karena selain dirilis dalam versi 2D juga dirilis dalam format 3D, RealD 3D, Dolby 3D, dan IMAX 3D.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kerja keras Cameron tak hanya memodifikasi sistem 3D, tetapi juga menciptakan lingkungan Pandora, mulai dari budaya, bahasa, hingga ekologi. Bahasa Na’vi diciptakan ahli bahasa University of Southern California, Dr Paul Frommer, dengan membuat kosakata 1.000 kata, sekitar 30 kata sumbangan Cameron.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jodie S Holt, profesor fisiologi tumbuhan dari University of California, Riverside, juga dilibatkan memberi masukan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Film sci-fi Avatar ini di sejumlah belahan dunia telah mendominasi box office dan meraup lebih dari 1,6 miliar dollar AS. Tak mengherankan jika perhelatan Golden Globes, Senin (11/1) lalu, menobatkan Avatar sebagai film terbaik drama sekaligus menjadikan Cameron sutradara terbaik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Awalnya murahan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cameron dilahirkan di sebuah kota Kapuskasing, dekat air terjun Niagara, Ontario, Kanada. Ayahnya, Phillip, adalah teknisi pabrik bubur kertas. Ibunya, Shirley, adalah seorang pelukis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cameron menganggap dirinya mewarisi sifat ibunya yang seniman-irasional dan sifat ayahnya yang rasional-disiplin. Karena itu, selain jago fisika, dia juga berminat pada teater. Selain analitis dan logis, dia juga punya khayalan tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya menghabiskan waktu luang di perpustakaan dan selalu membaca buku-buku fiksi ilmiah, dari situ saya menyadari antara fantasi dan realitas itu tak jelas,” katanya. Bacaan yang ia senangi menyangkut biologi terutama mutasi genetik dan soal alien.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cameron memulai kariernya sebagai pembuat film horor murahan. Namanya baru dikenal ketika membuat The Terminator (1984) yang naskah ceritanya ia tulis sendiri. Awalnya, tak ada studio yang mau karena disutradarai Cameron. Film inilah akhirnya yang mengangkat karier Cameron di dunia penyutradaraan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Film Aliens (1986) dan True Lies (1994) semakin menguatkan posisi Cameron sebagai sutradara film aksi. Karakter Cameron yang mengambil gambar secara dekat dan dramatis membuat ia percaya diri membuat film romantis dramatis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka, ia pun membuat Titanic (1997) dan menjadi orang pertama yang bisa menembus pendapatan 1 miliar dollar AS, tepatnya 1,8 miliar dollar AS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Titanic &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;juga mencetak penghargaan fantastis dengan mendapat 11 nominasi Academy Awards atau Oscar, di antaranya menang sebagai sutradara terbaik, penyuntingan terbaik, dan film terbaik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam hal pendapatan, pesaing Titanic hanya Avatar, yang ia sutradarai juga. Jika Titanic yang merajai Golden Globes akhirnya juga merajai Oscar, apakah Avatar yang merajai Golden Globes juga mampu mendominasi Oscar yang digelar Maret nanti?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bisa jadi demikian, tetapi mengingat genre fiksi ilmiah jarang menyabet penghargaan di kategori bergengsi, tampaknya itu berat untuk Avatar. Cameron menyadarinya karena itu ia tak menyangka menyabet sutradara terbaik di Golden Globes mengalahkan mantan istrinya, Kathryn Bigelow (The Hurt Locker).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Cara kerja Cameron&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cameron memodifikasi sistem kamera sendiri dengan menggunakan kamera dengan satu body dilengkapi dua lensa high-definition agar bisa mengambil gambar 3D. Untuk menciptakan grafis presisi, aktor terlebih dulu memerankan aksi nyata, misalnya memanjat pohon.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cameron melihat aksi itu dengan kamera, saat bersamaan para alien di lingkungan Pandora juga memainkan aksi di grafis komputer. Dengan cara ini, Cameron bisa langsung membandingkan gerakan aktor dengan gerakan alien di komputer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aktor juga memakai pakaian yang dilengkapi reflektor kecil, semua gerakan aktor direkam oleh 140 kamera digital. Data ini menjadi sumber membuat gerakan grafis yang natural.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiap aktor memakai kamera kecil yang dikaitkan di kepala untuk merekam ekspresi wajah, mata, bibir, dan semua gerakan di muka. Data kemudian dipetakan di grafis agar mimik wajah hasil rekaan komputer mirip aslinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebenarnya, sejak lama, para pencipta video game sudah menggunakan teknik ini untuk membuat gerakan tokoh di video game lebih nyata. Namun, kehadiran Avatar telah membuat penyadaran luas soal kekuatan teknologi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlepas suka atau tidak suka dengan Avatar, film ini telah menjadi kunci dimulainya teknologi inovatif. Dengan revolusi 3D yang modifikasi peralatannya ia rancang sendiri, Cameron telah memberikan kontribusi akan harapan masa depan film.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ke depannya, jika sepakat teknologi 3D adalah sebuah standar format yang harus ada, problem pembajakan bisa diminimalkan mengingat teknologi 3D tak bisa dihadirkan secara murah di ruang teater rumah.  (AP/AFP)&lt;textmetadata&gt;&lt;/textmetadata&gt;&lt;textlinkedpage number="16"&gt;&lt;/textlinkedpage&gt;&lt;/p&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/div&gt;         &lt;!-- end isi berita --&gt;                                        &lt;!-- komentar --&gt;                           &lt;!--s:rating and share --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4874346023532421447?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4874346023532421447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4874346023532421447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4874346023532421447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4874346023532421447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/01/james-cameron-masa-depan-teknologi-film.html' title='James Cameron, Masa Depan Teknologi Film'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4027489426181595112</id><published>2010-01-09T07:11:00.000+07:00</published><updated>2010-01-09T07:12:00.212+07:00</updated><title type='text'>"In Memoriam": Frans Seda</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Sabtu, 9 Januari 2010 | 03:20 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt; &lt;strong&gt;Toeti Heraty N Roosseno&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1956 seorang putra Flores Indonesia lulus sarjana ekonomi Belanda, Universitas Katolik Tilburg. Lulusan Belanda masih langka sejak penyerahan kedaulatan Belanda-Indonesia, dan Frans memanfaatkan beberapa waktu untuk menikmati sisa waktu sebelum kembali ke Indonesia dengan idealisme tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia antara lain pernah menghadiri suatu pementasan drama oleh mahasiswa Indonesia: naskahnya ciptaan Basuki Gunawan dan sutradaranya Iwan Simatupang. Persoalannya, siapa yang akan memperoleh peran utama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konon kabarnya ini selalu diperebutkan setiap tahun antara dua tokoh berposisi primadona ialah Titi Sutan Assin atau Nora Panggabean–Waney, jadi akhirnya yang beruntung adalah pendatang baru di Amsterdam, ialah Toeti Heraty, aku sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Judul naskah ”Hujan Tak Datang Juga”, temanya tentang kehilangan cinta. Latihan dimulai di Michel-Angelo straat 39, tempat tinggalku. Iwan Simatupang berkunjung dengan jas korduroi merah menyala: temperamen artistik dan meyakinkan, tetapi konflik tak terabaikan antara penulis naskah dan sutradara. Kami pemain akhirnya ditinggalkan tanpa arahan dan terpaksa maju ke pentas. Untung berhasil!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu aku diwawancarai di radio Hilversum oleh Frans Seda sendiri karena pemerananku yang disebut oleh resensi liputan media sebagai grandioos en ongeposeerd ! Mengagumkan dan alamiah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertemuan dengan Frans tidak berakhir di situ; menonton pentas, berwawancara, dan kunjungan ke Amsterdam untuk membantuku pindah alamat dan belanja buku. Sederet buku Margareth Mead dan satu buku tentang kematian dibelikan olehnya untuk tanda mata, sebelum Frans kembali ke Tanah Air. Lalu dari jauh aku saksikan kesuksesannya dalam berkarier dan bermasyarakat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;CATATAN 1956&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;untuk Frans&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pasar malam terang, keriuhannya!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;balon aneka warna, lepas satu meluncur&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ke langit&lt;/p&gt;&lt;p&gt;manusia mencari, menjulurkan leher&lt;/p&gt;&lt;p&gt;berdesakan di atas tumit&lt;/p&gt;&lt;p&gt;gelisah mimpi, hidup ibarat pelita&lt;/p&gt;&lt;p&gt;nyamuk pun enggan menyentuhnya&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;pagar rotan berpindah tangan, selendang leher&lt;/p&gt;&lt;p&gt;yang ketinggalan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;beberapa buku berjejer di papan, salah satu&lt;/p&gt;&lt;p&gt;ajarkan manusia&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bagaimana seharusnya ia hadapi mautnya&lt;/p&gt;&lt;p&gt;keriuhan pasar di malam hari, tersesat hati&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bagaimana temukan cinta kembali&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;perahu layar bergetar meriah, arah tujuan&lt;/p&gt;&lt;p&gt;belum pasti&lt;/p&gt;&lt;p&gt;angin pun tak sabar, (di karang mana terdampar nanti)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;terbangun dari mimpi, - esok tak dapat dielakkan lagi -&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kuseka air mata dari pipi&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sepuluh tahun kemudian, aku sudah kembali ke Indonesia, Frans telah menjadi salah satu menteri, dan dengan Ibu Jo, istrinya, terkadang menunjukkan perhelatan di rumah orangtuaku di Jalan Imam Bonjol. Suatu pasangan yang serasi dan menyejukkan hati. Sempat masih bertemu untuk acara makan dan berdialog. Dia sudah berhasil menerapkan idealismenya secara nyata dan aku kagumi. Mungkin juga sedikit iri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tetapi waktu berlanjut, dan terakhir di Katedral pada tanggal 2 Januari 2010 aku mengucapkan selamat berpisah, selamat jalan kepada Frans. Menyampaikan belasungkawa kepada istrinya, Jo, yang tabah, pula kepada Eri dan Nessa. Suatu era telah lewat, kesaksian masa lalu dengan idealisme masing-masing, lalu ditinggalkan dalam kekalutan negara, khususnya di bidang hukum yang tentu terkait dengan ekonomi, bidang pergulatannya hingga 83 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Frans, istirahatlah dengan damai, senantiasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;DIALOG&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;untuk Frans&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;di atas meja&lt;/p&gt;&lt;p&gt;antara mereka berdua&lt;/p&gt;&lt;p&gt;vas besar dengan kembang kembang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kembang kertas menutupi pandang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;belum ada yang menyisihkan&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;kata dan pandanglah&lt;/p&gt;&lt;p&gt;yang melintasi kembang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;sementara itu sembunyi diam karena&lt;/p&gt;&lt;p&gt;pertemuan yang terlampau telanjang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dan tiba tiba&lt;/p&gt;&lt;p&gt;harus diatasi&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;tak ada malam tapi bulan turut bicara&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dan kerlap kerlip bintang meluncur karena&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kapal terlalu lancar tahu benar&lt;/p&gt;&lt;p&gt;apa yang dituju&lt;/p&gt;&lt;p&gt;asing dari kegagalan –&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;di atas meja&lt;/p&gt;&lt;p&gt;kini terang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;dengan kelangsungan kata dan pandang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;bunga-bunga,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;telah disingkirkan olehnya&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Juni ’67&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Toeti Heraty &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;N Roosseno&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4027489426181595112?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4027489426181595112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4027489426181595112' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4027489426181595112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4027489426181595112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/01/in-memoriam-frans-seda.html' title='&quot;In Memoriam&quot;: Frans Seda'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1283847249176120391</id><published>2010-01-09T07:10:00.001+07:00</published><updated>2010-01-09T07:10:42.858+07:00</updated><title type='text'>Gus Dur dan Politik Multikulturalisme</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Sabtu, 9 Januari 2010 | 02:53 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;&lt;strong&gt;A SONNY KERAF&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Banyak yang telah ditulis tentang keberpihakan Gus Dur terhadap pluralisme dan multikulturalisme. Harus diakui bahwa komentar, tafsir, dan berbagai teks tentang Gus Dur akan terus mengalir tiada henti. Ini konsekuensi logis dari dua hal.&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Pertama, pluralisme bagi Gus Dur bukan sebuah wacana dan bukan pula sekadar sebuah perjuangan untuk menjadi realitas kehidupan bersama. Bagi Gus Dur, pluralisme adalah eksistensi kehidupan dan menjadi sebuah penghayatan eksistensial bagi dirinya. Karena itu, kedua, konsekuensi logisnya, ia menerima adanya tafsir beragam-ragam atas sikap eksistensi hidupnya. Hidupnya adalah sebuah teks multitafsir yang beragam. Yang berarti kontroversi, perbedaan, dan keragaman tafsir atas sikap dan penghayatan hidup Gus Dur sudah menjadi konsekuensi logis dari eksistensi Gus Dur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tulisan ini ingin mengangkat tiga aspek penting dari sikap eksistensial Gus Dur sebagai penghayatan hidupnya akan multikulturalisme. Ketiga aspek itu kiranya dapat menjadi landasan bagi terbangunnya sebuah politik multikulturalisme di Indonesia, yaitu terbangunnya penghayatan hidup bersama akan keberagaman sebagai bagian dari hidup bersama yang perlu dihayati secara konsekuen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Pengakuan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aspek pertama dari multikulturalisme yang dengan gigih dihayati oleh Gus Dur adalah pengakuan akan adanya pluralitas atau perbedaan cara hidup, baik secara agama, budaya, politik, maupun jenis kelamin. Menerima dan menghayati multikulturalisme berarti pertama-tama ada pengakuan mengenai adanya orang lain dalam keberbedaan dan keberlainannya. Inilah yang disebut Will Kymlicka sebagai &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;the politics of recognition: sikap yang secara konsekuen mengakui adanya keragaman, keberbedaan, dan kelompok lain sebagai yang memang lain dalam identitas kulturalnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsekuensi lebih lanjut dari pengakuan ini, semua orang dan kelompok masyarakat yang beragam-ragam itu harus dijamin dan dilindungi haknya untuk hidup sesuai dengan keunikan dan identitasnya. Dasar moral dari pengakuan, jaminan, dan perlindungan ini adalah humanisme: setiap orang hanya bisa berkembang menjadi dirinya sendiri dalam keunikannya: agama, suku, jenis kelamin, aliran politik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemaksaan terhadap cara hidup yang berbeda dari yang dianutnya adalah sebuah pelanggaran atas harkat dan martabat manusia yang unik, dan sekaligus juga pengingkaran atas identitas dan jati diri setiap orang sebagai pribadi yang unik. Demikian pula sebaliknya, penghambatan terhadap orang lain dalam melaksanakan identitas agama, budaya, jenis kelamin, dan aliran politiknya yang berbeda sejauh tidak mengganggu tertib bersama adalah juga sebuah pelanggaran atas harkat dan martabat manusia yang unik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini semua dihayati oleh Gus Dur secara konsekuen, termasuk bahkan dianggap &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;nyeleneh dan kontroversial. Namun, itu adalah risiko dari pilihan politik atas multikulturalisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Toleransi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsekuensi logis dari pilihan politik seperti itu adalah toleransi menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari politik pengakuan. Akibat logis yang masuk akal dari politik pengakuan adalah membiarkan orang lain berkembang dalam identitasnya yang unik. Memaksa orang lain menjadi kita, atau menghambat orang lain menjadi orang lain, sama artinya dengan membangun monokulturalisme. Yang berarti antimultikulturalisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hanya saja, yang menarik pada Gus Dur, toleransi pertama-tama dihayati oleh beliau bukan secara negatif-minimalis: sekadar membiarkan orang lain menjalankan identitas kulturalnya (dalam pengertian luas mencakup agama, adat istiadat, jenis kelamin, dan aliran politik). Toleransi yang negatif-minimalis adalah sekadar tidak melarang, tidak menghambat, tidak mengganggu, dan tidak merecoki orang lain dalam penghayatan identitas kulturalnya. Toleransi negatif-minimalis inilah yang masih menjadi perjuangan berat bagi kita semua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gus Dur justru menghayati dan mempraktikkan toleransi yang berbeda dan sudah satu langkah lebih maju dari toleransi negatif-minimalis di atas. Yang dihayati dan dipraktikkan beliau adalah toleransi positif-maksimal: membela kelompok mana saja—termasuk khususnya minoritas—yang dihambat pelaksanaan identitas kulturalnya. Bahkan, lebih maksimal lagi, ia mendorong semua kelompok melaksanakan penghayatan identitas kulturalnya secara konsekuen selama tidak mengganggu ketertiban bersama, tidak mengganggu dan menghambat kelompok lain. Maka, ia mendorong orang Kristen menjadi orang Kristen sebagaimana seharusnya seorang Kristen yang baik. Ia mendorong orang Papua menjadi orang Papua dalam identitas budayanya yang unik. Dan seterusnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Toleransi positif-maksimal ini bahkan dihayati Gus Dur secara konsekuen tanpa kalkulasi politik dan tanpa dipolitisasi untuk kepentingan politik apa pun selain demi humanisme: mendorong semua manusia menjadi dirinya sendiri yang unik tanpa merugikan pihak lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Kian jadi diri sendiri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aspek ketiga dari multikulturalisme Gus Dur adalah semakin ia mengakui kelompok lain dalam perbedaannya dan mendorong kelompok lain menjadi dirinya sendiri, semakin Gus Dur menjadi dirinya sendiri dalam identitas kultural dan jati dirinya. Semakin Gus Gur mendorong umat dari agama lain menghayati agamanya secara murni dan konsekuen, beliau justru semakin menjadi seorang Muslim yang baik dan tulen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ini hanya mungkin terjadi karena Gus Dur sendiri sudah oke dengan jati dirinya sendiri, dengan identitas kulturalnya, dan menjalankan identitas kulturalnya secara murni dan konsekuen sebagaimana ia menghendaki orang lain melakukan hal yang sama. Itu disertai dengan keyakinan yang teguh bahwa semakin orang menjadi dirinya sendiri dalam identitas kulturalnya, maka semakin terjamin tertib sosial. Sebab, ketika seseorang melaksanakan identitas kulturalnya sampai merusak tertib sosial, ia merusak citra diri dan identitasnya, serta identitas semua kelompok kultural terkait.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Artinya, multikulturalisme bukan sebuah ancaman terhadap tertib sosial. Multikulturalisme dengan politik pengakuan dan toleransinya yang dihayati secara konsekuensi sebagai eksistensi manusia akan justru menjamin tertib sosial dan melalui itu setiap orang akan bisa menjadi dirinya sendiri dalam keragamannya yang unik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Proyek besar yang ditinggalkan Gus Dur, yang sekaligus menjadi tantangan kita bersama, adalah bahwa kita masih berbicara tentang multikulturalisme pada tingkat wacana. Kita belum benar-benar menghayati dan melaksanakannya secara konsekuen sebagaimana Gus Dur. Hal itu, antara lain, karena kita terhambat oleh ketakutan kita sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama, kita takut tidak diterima orang lain dalam keberbedaan dan keunikan identitas kultural dan jati diri kita. Kedua, kita takut akan bayangan kita sendiri yang kita proyeksikan pada orang lain seakan orang lain akan menolak segala praktik kultural kita karena kita sendiri tidak benar-benar oke dengan identitas kultural dan jati diri kita. Ketiga, kita takut kalau-kalau dengan mengakui identitas kultural pihak lain, kita sendiri terbawa hanyut dalam identitas kultural pihak lain lalu kehilangan jati diri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Minimal Gus Dur telah mengajarkan dan meninggalkan warisan bagi kita bahwa ternyata menghayati dan mempraktikkan multikulturalisme secara murni dan konsekuen itu tidak repot. ”Betul, Gus. &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;Gitu aja kok repot.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;strong&gt;A SONNY KERAF&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Menteri Negara Lingkungan Hidup pada Pemerintahan Presiden Gus Dur (1999-2001) dan Pengajar Universitas Atma Jaya, Jakarta&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1283847249176120391?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1283847249176120391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1283847249176120391' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1283847249176120391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1283847249176120391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2010/01/gus-dur-dan-politik-multikulturalisme.html' title='Gus Dur dan Politik Multikulturalisme'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-9215472672301036647</id><published>2009-12-31T11:07:00.000+07:00</published><updated>2009-12-31T11:08:07.032+07:00</updated><title type='text'>Gusdur Wafat</title><content type='html'>http://www.kompas.com/lipsus122009/gusdur&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-9215472672301036647?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/9215472672301036647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=9215472672301036647' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/9215472672301036647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/9215472672301036647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/12/gusdur-wafat.html' title='Gusdur Wafat'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-7555002563148926608</id><published>2009-12-30T20:19:00.000+07:00</published><updated>2009-12-30T20:20:00.923+07:00</updated><title type='text'>Mengenang Perjalanan Hidup Gus Dur</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;       &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2008/09/08/172128p.JPG" border="0" width="298" /&gt;     &lt;/div&gt;                   &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/12/30/19533632/Mengenang.Perjalanan.Hidup.Gus.Dur#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;DHONI SETIAWAN&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Abdurahman Wahid.&lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                &lt;!--- video --&gt;                                                                                            &lt;/div&gt;  &lt;div class="tanggal"&gt;Rabu, 30 Desember 2009 | 19:53 WIB&lt;/div&gt;      &lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Kiai Haji Abdurrahman Wahid yang sering dikenal dengan nama Gus Dur adalah salah satu tokoh nasional yang banyak mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Cucu ulama besar KH Hasyim Asy'ari tersebut pernah menjabat Ketua Nahdlatul Ulama (NU). Gus Dur pula yang mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di era reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur meninggal dunia, Rabu (30/12/2009), sekitar pukul 18.45 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) setelah sempat dirawat beberapa hari dan menjalani cuci darah. Gus Dur meninggalkan seorang istri Shinta Nuriyah dan empat orang anak masing-masing Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zanuba Arifah, Anita Hayatunnufus, dan Inayah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanan hidupnya dimulai di Jombang, Jawa Timur, tempat kelahirannya pada 4 Agustus 1940. Ia menjalani pendidikan sekolah dasar di Jakarta sejak tahun 1953 dan melanjutkan ke SMEP di Yogayakarta tahun 1956. Kemudian, Gus Dur melanjutkan pendidikan di pesantren Tambakberas Jombang pada tahun 1963. Gus Dur juga sempat mengenyam pendidikan di - Universitas Al Azhar, Department of Higher Islamic and Arabic Studies, Kairo dan Fakultas Sastra, Universitas Baghdad, Irak pada tahun 1970 namun tak sempat menyelesaikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selepas itu, Gus Dur berkarir menjadi guru dan dosen selama bertahun-tahun. Gus Dur menjadi Guru Madrasah Mu'allimat, Jombang (1959 - 1963), Dosen Universitas Hasyim Asyhari, Jombang (1972-1974), Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asyhari, Jombang dan (1972-1974).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Gus Dur juga aktif di pesantren menjadi Sekretaris Pesantren Tebuireng, Jombang (1974 - 1979) dan menjadi konsultan di berbagai lembaga dan departemen pemerintahan pada tahun 1976. Selanjutnya, Gus Dur menjadi pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta sejak tahun 1976 hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di organisasi Nahdlatul Ulama, Gus Dur menjadi anggota Syuriah Nahdlatul Ulama tahun 1979- 1984. Ia juga menjabat Ketua Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk empat periode. Masing-masing 1984-1989, 1989-1994, dan1994 - 1999, dan 2000-2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di bidang pemerintahan, Gus Dur pernah duduk di lembaga legislatif maupun eksekutif. Ia menjadi anggota MPR dari utusan golongan  selama dua periode. Masing-masing periode 1987-1992 dan 1999-2004. Karir politik tertinggi menjadi Presiden RI selama 2 tahun 1999-2001.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Gus Dur dikenal sebagai tokoh kerukunan umat beragama bahkan cukup kontroversial karena menjadi anggota Dewan Pendiri Shimon Peres Peace Center, Tel Aviv, Israel. Ia pernah menjadi Wakil Ketua Kelompok Tiga Agama yaitu Islam, Kristen dan Yahudi yang di bentuk di Universitas Al Kala, Spanyol, Pendiri Forum 2000 (Organisisasi yang mementingkan Hubungan Antaragama). Ia juga pernha menjabat Ketua Dewan Internasional Konferensi Dunia bagi Agama dan Perdamaian (World Conference on Religion and Peace-WCRP), Italia tahun 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur juga pernah Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) Dewan Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) periode 1983-1985. Meski mengalami penurunan kemampuan melihat, Gus Dur dikenal masih suka membaca melalui suido book bahkan sampai menjelang akhir hayatnya. Ia juga dikenal produktif menulis artikel dan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur juga banyak mendapat penghargaan seperti gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Jawaharlal Nehru, India, Bintang Tanda Jasa Kelas 1, Bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan dari Pemerintah Mesir, Pin Penghargaan Keluarga Berencana dari Perhimpunan Keluarga Berencana I, Ramon Magsaysay, Bintang Mahaputera Utama dari Presiden RI BJ Habibie, Gelar Doktor Honoris Causa, Bidang Perdamaian dari Soka University Jepang ( 2000 ), Global Tolerance Award dari Friends of the United Nations, New York ( 2003 ), World Peace Prize Award dari World Peace Prize Awarding Council (WPPAC), Seoul, Korea Selatan ( 2003 ), Presiden World Headquarters on Non-Violence Peace Movement ( 2003 ), Penghargaan dari Simon Wiethemtal Center, Amerika Serikat ( 2008 ), Penghargaan dari Mebal Valor, Amerika Serikat (2008), Penghargaan dan kehormatan dari Temple University, Philadelphia, Amerika Serikat, yang memakai namanya untuk penghargaan terhadap studi dan pengkajian kerukunan antarumat beragama, Abdurrahman Wahid Chair of Islamic Study (2008).&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-7555002563148926608?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/7555002563148926608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=7555002563148926608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7555002563148926608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7555002563148926608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/12/mengenang-perjalanan-hidup-gus-dur.html' title='Mengenang Perjalanan Hidup Gus Dur'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3681978210040757986</id><published>2009-11-28T16:42:00.000+07:00</published><updated>2009-11-28T16:43:13.604+07:00</updated><title type='text'>Riezka, Pewaralaba Pisang Ijo</title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/11/28/0303048/riezka.pewaralaba.pisang.ijo#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/11/28/3593404p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5" align="right"&gt;KOMPAS/STEFANUS OSA TRIYATNA&lt;/div&gt;                     &lt;div class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;Riezka Rahmatiana&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div style="font-weight: bold;" class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;              &lt;div class="font10a c_orange"&gt;PROFIL USAHA&lt;/div&gt;              &lt;div class="font36 c_black"&gt;Riezka, Pewaralaba Pisang Ijo&lt;/div&gt;                           &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Sabtu, 28 November 2009 | 03:03 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Oleh &lt;strong&gt;Stefanus Osa&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jasmine memang berarti melati. Dalam plesetan yang dibuat perempuan Riezka Rahmatiana (23), kata ”jasmine” diubah menjadi ”JustMine” untuk mengangkat penganan tradisional pisang ijo asli Makassar ke masyarakat. Bahkan, pisang ijo ini dijadikan peluang usaha waralaba.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Mirip semerbak keharuman bunga melati, gadis kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada 26 Maret 1986 ini mengawali usaha kecilnya pada saat duduk di bangku kuliah sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Kini, kartu namanya sudah tertulis Riezka Rahmatiana sebagai Presiden Direktur ”JustMine”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semangat kewirausahaan, begitulah yang mengawali Riezka. Awalnya, kata Riezka, adalah kesumpekan. Banting tulang orangtuanya dalam mencukupi kebutuhan keluarga, termasuk menyekolahkan anak-anak, mendasari pikiran Riezka untuk berupaya agar dia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang tua bekerja sejak pagi hingga larut malam. Hasil banting tulang seharian dilakukan untuk meraih gaji. Kemandirian wirausaha itulah yang secara diam-diam tumbuh dalam diri Riezka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya tidak mau menyusahkan orangtua. Berbekal modal awal Rp 13,5 juta, tahun 2007 bisnis makanan pisang ijo yang segar mulai menjadi pilihan untuk dipasarkan di Kota Bandung,” kata Riezka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika mengambil keputusan berwirausaha di sela-sela kuliahnya, anak pertama dari dua bersaudara ini mengaku mendapat larangan keras dari orangtuanya. Mereka menganjurkan dia agar mencari pekerjaan yang aman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Riezka pun menuturkan jatuh dan bangunnya mencicipi aneka pekerjaan di sela-sela kuliahnya. Mulai dari menjadi anggota jaringan pemasaran alias &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;multi level marketing (MLM), penjual pulsa telepon seluler, hingga menjajal bekerja di sebuah kafe. Dari sebagian menyisihkan penghasilan bekerjanya selama itulah, Riezka memulai usaha pisang ijo khas Makassar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tanggal 16 Maret 2009 menjadi momentum perjalanan wirausahanya. Riezka memang belum pernah ke Makassar, tetapi ketekunannya mencari penganan tradisional dan kemauannya untuk belajar memproduksi pisang ijo itulah menjadi modal dasarnya. Tanya-tanya resep pun terus dilakukannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pisang dipandang sebagai bahan baku yang relatif murah dan selalu mudah diperoleh di pasar. Hanya dengan dibalut adonan tepung beras yang diberi warna hijau, sajian khas ini bisa mulai dipasarkan dengan nama tren Pisang Ijo.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sanalah kreativitas Riezka bermunculan. Dari sajian pisang ijo orisinal, Riezka mengembangkannya dengan aneka rasa, seperti pisang ijo vanila, stroberi, coklat, dan durian. Semangkok pisang ijo yang disiram sedikit cairan fla yang gurih akan menjadi bertambah segar apabila ditambah pecahan es batu. Apalagi, kreativitasnya dilakukan dengan menambahkan serutan keju dan mesis coklat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Penghasilan tak terbatas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dorongan menjadi &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;entrepreneur terjadi justru ketika Riezka membaca buku berjudul &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;Cashflow Quadrant bahwa tidak ada karyawan yang bisa memperoleh penghasilan tak terbatas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Benarkah hipotesis tersebut? Riezka membuktikan lewat ketekunannya. ”Kalau orang atau setidaknya orangtua saya bekerja dari pagi hingga malam, untuk pada akhirnya mencari penghasilan, saya justru sebaliknya. Kita semestinya tidak bekerja mengejar penghasilan, tetapi biarlah uang mendatangi kita,” ujar Riezka yang akhirnya mewaralabakan usahanya itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari usaha kecilnya ini, Riezka membuka peluang berinvestasi dengan sistem waralaba. Alhasil, dari satu gerai, kini ada 10 pewaralaba pisang ijo yang tersebar, terutama di kota Bandung, Jawa Barat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemilihan mitra pun dilakukan selektif karena visi yang diemban adalah ”Kepuasan konsumen adalah kepuasan kami. Kesuksesan mitra adalah kesuksesan kami.” Pemilihan gerai bukan sekadar melihat berkas yang diajukan calon mitra, apalagi uang waralaba yang disiapkan mitra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melalui penelitian lokasi pasar, Riezka berani mengambil keputusan diterima atau tidaknya seorang mitra. Dia pun memprediksi, besarnya potensi pasar terhadap produknya di lokasi tertentu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sasarannya tetaplah mahasiswa. Karena itu, lingkungan kampus menjadi target lokasi,” kata Riezka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bersama sahabatnya, Erwin Burhanudin, Riezka membangun sistem waralaba. Mereka pun mengaku tidak ingin gegabah memperoleh sebanyak-banyaknya pewaralaba. Kapasitas produksi tetap harus menjadi acuan usahanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cepat atau lambat, Riezka yang murah senyum kini sudah mulai menuai hasil. Enam karyawannya ikut bekerja keras menunjang usaha waralabanya dengan memproduksi sekitar 500 porsi setiap harinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Soal keuntungan, pokoknya sangat menggiurkan. Sebagai wirausaha muda yang berhasil masuk sebagai finalis tingkat nasional Wirausaha Muda Mandiri 2008, Riezka hanya berharap, setitik perjalanan hidupnya bisa memberikan napas kehidupan masyarakat sekitarnya.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3681978210040757986?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3681978210040757986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3681978210040757986' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3681978210040757986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3681978210040757986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/11/riezka-pewaralaba-pisang-ijo.html' title='Riezka, Pewaralaba Pisang Ijo'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-2595472283364746998</id><published>2009-11-20T17:00:00.000+07:00</published><updated>2009-11-20T17:01:14.328+07:00</updated><title type='text'>YUDHI LATIF</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;Menjaga Modal Demokrasi Indonesia&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Senin, 2 November 2009 | 02:57 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Oleh &lt;strong&gt;M Hernowo&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nurcholish Madjid kecil. Demikian orang sering menyebut Yudi Latif. Perhatian Yudi yang besar terhadap Islam dan kebangsaan serta kemampuannya menggabungkan ilmu politik, sejarah, filsafat, dan sastra dalam melihat suatu fenomena memang akan langsung mengingatkan orang pada sosok Nurcholish Madjid. &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, berbagai kemampuan itu tidak hanya didapat Yudi dari pergaulannya yang intensif dengan Cak Nur, demikian Nurcholish Madjid sering dipanggil, setelah mereka bertemu muka untuk pertama kalinya pada tahun 1994, tetapi juga dibentuk oleh sejarah hidup Yudi sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ayah Yudi, yaitu Utom Mulyadi, yang merupakan tokoh Nahdlatul Ulama, dan ibunya, Yuyun Mustika, yang nasionalis, telah mengajarkannya sejak kecil tentang Islam dan kebangsaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Garis pemikirannya makin dilengkapi oleh pengalamannya saat mondok di Pondok Pesantren Modern Gontor, Jawa Timur, petualangannya sebagai aktivis saat kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung, serta kehidupan dan pemikiran modern yang didapatnya ketika belajar di Australia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Matangnya pemikiran Yudi membuat Cak Nur pada tahun 1996 memercayainya sebagai salah satu pembuat rencana induk Universitas Paramadina.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Cak Nur lebih tertarik membuat kelompok yang kritis meski itu hanya berjumlah kecil dibandingkan massa yang besar sebab kelompok kritis ini yang akhirnya mewarnai wacana di publik. Sebagai universitas swasta, Cak Nur berharap Paramadina harus memiliki nilai tertentu, yaitu kekritisan, terutama di bidang kebangsaan dan Islam,” ungkap Yudi tentang tujuan Universitas Paramadina yang akhirnya berdiri pada tahun 1997/1998.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagaimana efektivitas dari massa yang kritis tersebut?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cukup baik. Pemikiran tokoh seperti Abdurrahman Wahid atau Cak Nur selalu berpengaruh. Misalnya terlihat dari sejumlah partai yang meski menyatakan Islam sebagai identitasnya, mereka tetap terbuka terhadap pandangan dari luar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemikiran tokoh-tokoh itu juga menjadi wacana yang cukup diminati dan berpengaruh di sejumlah simpul Islam yang pemahaman agamanya amat kuat, misalnya di kalangan mahasiswa IAIN atau Nahdlatul Ulama.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Wacana Islam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perhatian Yudi terhadap wacana Islam dan kebangsaan tidak pudar meski sekarang dia tidak lagi aktif di Universitas Paramadina.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahkan, setelah Cak Nur meninggal dunia pada 29 Agustus 2005 karena gangguan fungsi hati, Yudi bersama sejumlah orang, termasuk Ommy Komariah Madjid, istri Cak Nur, mendirikan Nurcholish Madjid Society.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lewat yayasan yang ingin melestarikan gagasan Cak Nur ini, setiap enam bulan diterbitkan sebuah jurnal bernama Titik Temu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diilhami oleh harapan Cak Nur agar umat Islam jangan sampai menjadi tamu di negerinya sendiri, Yudi juga menggagas pertemuan mahasiswa dari 38 kampus di Indonesia untuk berdiskusi tentang Islam dan masalah lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Nilai Islam harus menjadi bagian dari pengisian nilai keindonesiaan. Oleh karena menjadi bagian pengisian, Islam harus memberikan tempat bagi partisipasi kelompok lain. Oleh karena Islam kelompok mayoritas, wacana pluralisme juga akan dapat lebih tumbuh efektif jika berkembang di Islam,” kata dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa harus menggelar diskusi yang melibatkan 38 kampus?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terbatasnya bacaan untuk mahasiswa selama ini menjadi salah satu masalah di kampus. Akibatnya, tidak banyak mahasiswa yang dapat membaca berbagai ajaran Islam dari buku aslinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam diskusi ini, selain membebaskan pesertanya untuk bicara, juga dimaksudkan untuk membagikan pengetahuan tentang pemikiran Islam, langsung dari buku aslinya. Hasilnya ternyata cukup spektakuler. Banyak wacana dan pemahaman baru tentang Islam, pluralisme, dan kebangsaan muncul di diskusi-diskusi tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di era demokratisasi dan globalisasi selama 10 tahun terakhir, seberapa penting isu pluralisme dan kebangsaan di Indonesia?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Globalisasi telah memperbaiki apresiasi terhadap demokrasi dan hak asasi manusia. Namun, pada saat yang sama, globalisasi juga membangkitkan etnosentrisme.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rivalitas yang melibatkan agama dan etnis makin menguat di Indonesia. Bahkan, dalam politik saat ini perlu diwaspadai munculnya anggapan bahwa agar identitasku ada, yang lain harus ditiadakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah munculnya etnosentrisme ini karena kurangnya modal kita untuk berdemokrasi?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Indonesia sebenarnya telah memiliki prasyarat dan modal penting untuk menjadi negara demokrasi, yaitu adanya persatuan nasional dan persepsi tentang satu bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, modal itu perlu dijamin dan terus dipupuk, antara lain dengan mewujudkan keadilan sosial. Tiadanya jaminan yang kuat ini membuat sebagian elemen kecil dari masyarakat terpancing untuk beralih dari politik nasional ke radikalisme agama atau etnis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemunculan radikalisme ini juga dipicu oleh belum adanya upaya yang komprehensif untuk menyelesaikan hingga tuntas sejumlah memori kekerasan, khususnya pada masa Orde Baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kondisi makin diperparah oleh masalah global, seperti dominasi ekonomi oleh dunia barat dan berbagai peristiwa di sejumlah negara, seperti Afganistan dan Irak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Pelemahan demokrasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kompleksnya permasalahan yang melingkupi Islam dan kebangsaan di Indonesia membuat Yudi juga bergerak kompleks untuk menjaganya. Aktivitasnya tidak hanya sebatas di Nurcholish Madjid Society atau menggelar diskusi antarkampus. Dia juga aktif menulis di media massa dan membuat buku.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yudi juga kerap bersuara untuk mengkritisi sejumlah upaya yang diduga berpotensi melemahkan bangunan demokrasi, yang antara lain terjadi dalam pemilihan umum lalu dan yang menimpa gerakan antikorupsi belakangan ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia juga khawatir jika sampai tidak muncul kekuatan penyeimbang dalam pemerintahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhirnya, mencermati langkah dan pemikiran Yudi seperti melihat Indonesia yang majemuk. Dengan demikian, untuk menjaga Indonesia ini juga dibutuhkan langkah yang majemuk dan yang berani keluar dari ”sekat-sekat tradisional” seperti etnis dan agama.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-2595472283364746998?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/2595472283364746998/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=2595472283364746998' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2595472283364746998'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2595472283364746998'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/11/yudhi-latif.html' title='YUDHI LATIF'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-5681248076664626621</id><published>2009-11-20T16:55:00.001+07:00</published><updated>2009-11-20T16:55:44.833+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/31/03114814/berpolitik.setelah.mapan.berbisnis#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/10/31/3550156p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5" align="right"&gt;KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO&lt;/div&gt;                                      &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;              &lt;div class="font10a c_orange"&gt;TOKOH MUDA INSPIRATIF (4)&lt;/div&gt;              &lt;div class="font36 c_black"&gt;Berpolitik Setelah Mapan Berbisnis&lt;/div&gt;                           &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Sabtu, 31 Oktober 2009 | 03:11 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Dewi Indriastuti/Subur Tjahjono&lt;/strong&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Lahir dan tumbuh di tengah keluarga nasionalis, Pramono Anung Wibowo (46) menjalani hidupnya dengan tertata. Hidupnya selalu diisi dengan menentukan pilihan, termasuk saat ia akhirnya memilih bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tahun 1998. &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karier politiknya sebagai ”anak kos”—istilah yang ditujukan kepadanya saat masuk PDI-P karena pendatang baru—di lingkungan partai politik pimpinan Megawati Soekarnoputri saat itu terus melesat. Terakhir, ia bisa menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PDI-P hasil kongres tahun 2005 di Bali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjalanannya masih tetap diisi dengan pilihan. Seperti saat ia meninggalkan kursi eksekutif di perusahaannya yang bergerak di bidang pertambangan dan energi, lalu berkecimpung di dunia politik. Minatnya di bidang politik sudah terbentuk sejak duduk di bangku sekolah dan kuliah di Institut Teknologi Bandung. Kini Pramono Anung duduk di kursi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perbincangan Kompas dengan Pramono Anung berlangsung suatu siang di rumahnya yang asri dan berkolam renang di kawasan Jakarta Selatan, Oktober 2009. Perbincangan sempat terputus saat kami berkeliling rumah Pramono, menikmati sejenak ratusan lukisan yang dikoleksinya. Karya-karya pelukis, seperti Le Mayeur, Antonio Blanco, dan Basuki Abdullah, menghiasi dinding ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, ruang kebugaran, dan kamar mandi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Setelah lulus kuliah, kok bisa sukses di bisnis? Memanfaatkan jaringan?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak. Saya orang yang tidak pernah setengah-setengah. Perusahaan pertama adalah PT Tanito Harum (milik Kiki Barki, pengusaha pertambangan). Saya masih terlibat sampai hari ini. Waktu itu saya masuk sebagai manajer yunior.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Waktu itu ada Profesor Ambyo (Ambyo Mangunwidjaja), dosen pembimbing saya. Waktu itu saya mahasiswa bandel (Pramono memimpin sejumlah aksi unjuk rasa di Jakarta dan Bandung 1986-1987). Prof Ambyo titipkan saya sama Kiki Barki. Jadi, tidak ada proses buat lamaran.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kalau perusahaan sendiri?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1994 saya mendirikan PT Yudhistira Group, bidang pertambangan dan energi. Saya kontraktor PT Aneka Tambang dari tahun 1996 sampai sekarang. Saya bisnis di PT Timah, PT Aneka Tambang, dan PT Pertamina.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bagaimana menjalankan bisnis sekarang?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu saya jadi politisi, saya tidak pernah duduk di perusahaan saya sebagai eksekutif. Semua saya lepaskan. Profesional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Dengan terjun ke bisnis lebih dulu, apakah modal sudah cukup untuk terjun ke politik?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang paling utama sebetulnya orang di politik itu kredibilitas karena kredibilitas itu yang akan menentukan orang ke depan. Nah, kenapa materi dalam politik juga menjadi penting? Sebab, sistem politik di negara kita itu masih sangat menggoda bagi siapa pun yang ada pada kekuasaan untuk melakukan abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kapan Anda berpikir akan jadi politisi&lt;/em&gt;?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebenarnya sejak kecil. Keluarga kami pengagum berat Bung Karno. Bapak saya itu dulu, kalau sekarang, seperti Pasukan Pengamanan Presiden. Waktu Mbak Mega masih di Gedung Agung di Yogya, bapak saya termasuk penjaga di situ.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nah, perdebatan di keluarga itu memengaruhi pola dan pandangan kita waktu kecil. Memang keluarga demokratis terbuka. Bapak saya, kan, PNI (Partai Nasional Indonesia), tapi sebagai guru, kan, sembunyi-sembunyi. Tapi, di rumah itu dibuka dialektika. Saya merasa sejak kecil itu keinginan itu sudah kuat. Kalau ada pemilihan ketua OSIS, saya mencalonkan diri. Ketika terjun ke politik pertama kali di PDI-P, sebenarnya saya tidak kenal secara pribadi dengan Mbak Mega.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Ditawari atau daftar ke PDI-P?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya daftar. Saya diajak Heri Akhmadi (sekarang anggota F-PDIP DPR). Sebenarnya instan saja karena saya memang mencari partai politik yang tengah, nasionalis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Manajemen PDI-P dulu masih tradisional. Sekarang sudah mirip-mirip Golkar. Peranan Anda bagaimana?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya termasuk yang membangun sistem. Tentunya kalau tidak dapat dukungan dari Mbak Mega tidak bisa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal yang sederhana, misalnya, tidak pernah ada keputusan partai yang tidak diputuskan dalam rapat partai. Tiap rapat partai sudah punya agenda, materi, itu sudah diatur dalam keputusan terbuka. Semua orang punya hak bersuara, tetapi kata akhir tetap di ketua umum. Tapi, tetap dalam rapat partai, itu sudah jadi tradisi yang kuat dalam PDI-P.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sekarang tidak ada lagi surat palsu. Kepengurusan rapi, sampai anak ranting terbentuk. Maka, untuk partai yang besar, dalam hal ini kita boleh berbangga, secara administrasi, sistem kepartaian mungkin hanya dua-tiga partai yang cukup rapi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Regenerasi politik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Lima tahun ke depan ini adalah momentum regenerasi politik. Bagaimana pandangan Anda?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebenarnya the battle of the last Mohicans (”perang” antara tokoh politik dianalogikannya dengan suku Indian terakhir di Amerika, Mohican) sudah terjadi tahun 2009 ini. The last Mohicans-nya ada Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Amien Rais, Megawati, Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, termasuk Jusuf Kalla. Mereka ini the last Mohicans.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Politik ke depan, tantangan akan berbeda. Masyarakat akan semakin rasional, kemudian juga hal yang dihadapi generasi setelah ini akan berbeda. Apa yang terjadi di DPR saat ini , di mana dipimpin anak-anak muda, saya, Anis Matta (PKS), Priyo Budi Santoso (Partai Golkar), Marzuki Alie (Partai Demokrat), secara historis tidak punya dendam atau friksi apa pun. Beda dengan antara Mbak Mega dengan Pak Harto, ini kan tidak bisa dihindari. Antara Gus Dur dengan Pak Harto, Amien Rais dengan Pak Harto. Ada luka secara pribadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kalau kita melihat sekarang ini, saya melihat ke depan yang bertarung adalah politik rasionalitas. Hal yang dihadapi akan lebih rasional.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demokrasi yang kita potret 1999 bergeser memasuki 2004. Pada 2009 ke depan, pergeseran akan semakin tajam. Perdebatan Presiden-Wakil Presiden pada tahun 2009 masih bersifat pada seremonial, bukan substansi. Saya melihat lima tahun ke depan, perdebatan pasti akan rasional, misalnya bagaimana persoalan pajak, subsidi bahan bakar minyak, juga pupuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Orang tidak lagi bicara tentang tema-tema besar. Orang akan bicara tentang tema yang implementatif, bisa diterapkan secara langsung di masyarakat sehingga memang akhirnya yang akan muncul lebih pada orang-orang yang punya latar belakang aktivis, intelektual, dan pendidik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keuntungan yang utama dari demokrasi adalah menyeleksi secara alamiah. Siapa orang yang secara rasional bisa dipegang, bisa dibanggakan, menjadi pemimpin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perdebatannya sederhana, mungkin detail. Berapa pajak untuk buku, berapa pajak untuk surat kabar, misalnya, berapa harga beras. Demokrasi sudah mengalami transformasi. Dari sekarang yang transisi demokrasi menjadi lebih dewasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Mengapa sekarang ini susah mencari sosok-sosok anak muda yang akan cemerlang dalam lima tahun ke depan?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama, proses rekrutmen dalam partai masih didominasi oleh senior. Kedua, yang namanya regenerasi tidak secara alamiah diberikan, dari ini kepada itu. Kalau proses rekrutmen diberikan kepada anak-anak muda dengan begitu, maka tidak akan menghadapi tempaan sejarah yang kuat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya lihat proses pematangan sebagai pemimpin tidak lagi seperti zaman Pak Harto, Bung Karno, umur 30-40 sudah jadi pemimpin. Umur akan lebih panjang. Itu terjadi juga di Amerika. Faktor Barrack Obama adalah faktor keajaiban. Kalau lihat John McCain yang berusia 73 tahun dan pemimpin lain-lain, ini kan menunjukkan bahwa proses politiknya panjang. Obama menjadi presiden ini adalah kemampuan memanfaatkan komunikasi, dengan facebook, dengan hal tidak dilakukan oleh yang lain. Saya lihat ke depan akan muncul pemimpin-pemimpin usia 40-an, 50-an, secara alamiah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Siapa calon presiden dari PDI-P tahun 2014?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut saya, akan terjadi proses alami. Sebagaimana kita lihat, seluruh pemimpin yang jadi pemimpin republik ini bukan yang digadang-gadang, disiapkan jauh-jauh hari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemunculan Bung Karno beda dengan yang lain, melalui proses yang lebih panjang karena muncul pada masa revolusi. Pak Harto saat itu bukan yang disiapkan, termasuk munculnya Gus Dur, Mbak Mega, Juga kemunculan Habibie, Yudhoyono, bahkan Boediono.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bisa disiapkan 5 tahun ini?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yang menyiapkan publik dan partai. Publik yang akan terima itu. Saya melihat, orang yang mempersiapkan diri jadi pemimpin biasanya malah tidak akan sampai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;***&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;PRAMONO ANUNG WIBOWO&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;strong&gt;• Tempat/Tanggal Lahir:&lt;/strong&gt; Kediri, 11 Juni 1963&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;strong&gt;• Pendidikan:&lt;/strong&gt; SMA 1 Kediri ( 1982), Jurusan Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (1988), Magister Manajemen Ekonomi Universitas Gadjah Mada (1992)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;strong&gt;• Pengalaman Kerja:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;1. PT Tanito Harum, perusahaan penambangan batu bara di Kaltim (1988-1994). Jabatan terakhir: Direktur Operasi&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;2. PT Vietmindo Energitama, perusahaan penambangan batu bara di Vietnam (1990-1994). Jabatan terakhir: Direktur Operasi&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;3. PT Yudhistira Group, lima perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, perminyakan, dan pengadaan barang dan jasa. Jabatan sebagai presiden direktur dan komisaris utama.&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;4. Anggota DPR pada periode 1999-2004 dan 2004-2009. Tahun 2005 mengundurkan diri, berkonsentrasi penuh pada kegiatan DPP PDI-P.&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;5. Anggota DPR (2009-2014)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Pengalaman Organisasi:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;1. Ketua Himpunan Mahasiswa Pertambangan ITB (1985-1986)&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;2. Ketua Forum Komunikasi Himpunan Jurusan ITB (1986-1987)&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;3. Ketua Ahli Pertambangan Indonesia (1998-2001)&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;5. Sekretaris Jenderal DPP PDI-P (2005-sekarang)&lt;br /&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;6. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (2009-sekarang)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-5681248076664626621?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/5681248076664626621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=5681248076664626621' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5681248076664626621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5681248076664626621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/11/kompastotok-wijayanto-tokoh-muda.html' title=''/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-8327132486064315375</id><published>2009-10-31T17:30:00.000+07:00</published><updated>2009-10-31T17:31:02.808+07:00</updated><title type='text'>TOKOH MUDA INSPIRATIF (4)  Berpolitik Setelah Mapan Berbisnis</title><content type='html'>Sabtu, 31 Oktober 2009 | 03:11 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Indriastuti/Subur Tjahjono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir dan tumbuh di tengah keluarga nasionalis, Pramono Anung Wibowo (46) menjalani hidupnya dengan tertata. Hidupnya selalu diisi dengan menentukan pilihan, termasuk saat ia akhirnya memilih bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tahun 1998. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karier politiknya sebagai ”anak kos”—istilah yang ditujukan kepadanya saat masuk PDI-P karena pendatang baru—di lingkungan partai politik pimpinan Megawati Soekarnoputri saat itu terus melesat. Terakhir, ia bisa menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat PDI-P hasil kongres tahun 2005 di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanannya masih tetap diisi dengan pilihan. Seperti saat ia meninggalkan kursi eksekutif di perusahaannya yang bergerak di bidang pertambangan dan energi, lalu berkecimpung di dunia politik. Minatnya di bidang politik sudah terbentuk sejak duduk di bangku sekolah dan kuliah di Institut Teknologi Bandung. Kini Pramono Anung duduk di kursi Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan Kompas dengan Pramono Anung berlangsung suatu siang di rumahnya yang asri dan berkolam renang di kawasan Jakarta Selatan, Oktober 2009. Perbincangan sempat terputus saat kami berkeliling rumah Pramono, menikmati sejenak ratusan lukisan yang dikoleksinya. Karya-karya pelukis, seperti Le Mayeur, Antonio Blanco, dan Basuki Abdullah, menghiasi dinding ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, ruang kebugaran, dan kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus kuliah, kok bisa sukses di bisnis? Memanfaatkan jaringan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Saya orang yang tidak pernah setengah-setengah. Perusahaan pertama adalah PT Tanito Harum (milik Kiki Barki, pengusaha pertambangan). Saya masih terlibat sampai hari ini. Waktu itu saya masuk sebagai manajer yunior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu ada Profesor Ambyo (Ambyo Mangunwidjaja), dosen pembimbing saya. Waktu itu saya mahasiswa bandel (Pramono memimpin sejumlah aksi unjuk rasa di Jakarta dan Bandung 1986-1987). Prof Ambyo titipkan saya sama Kiki Barki. Jadi, tidak ada proses buat lamaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau perusahaan sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1994 saya mendirikan PT Yudhistira Group, bidang pertambangan dan energi. Saya kontraktor PT Aneka Tambang dari tahun 1996 sampai sekarang. Saya bisnis di PT Timah, PT Aneka Tambang, dan PT Pertamina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana menjalankan bisnis sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu saya jadi politisi, saya tidak pernah duduk di perusahaan saya sebagai eksekutif. Semua saya lepaskan. Profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terjun ke bisnis lebih dulu, apakah modal sudah cukup untuk terjun ke politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling utama sebetulnya orang di politik itu kredibilitas karena kredibilitas itu yang akan menentukan orang ke depan. Nah, kenapa materi dalam politik juga menjadi penting? Sebab, sistem politik di negara kita itu masih sangat menggoda bagi siapa pun yang ada pada kekuasaan untuk melakukan abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan Anda berpikir akan jadi politisi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sejak kecil. Keluarga kami pengagum berat Bung Karno. Bapak saya itu dulu, kalau sekarang, seperti Pasukan Pengamanan Presiden. Waktu Mbak Mega masih di Gedung Agung di Yogya, bapak saya termasuk penjaga di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, perdebatan di keluarga itu memengaruhi pola dan pandangan kita waktu kecil. Memang keluarga demokratis terbuka. Bapak saya, kan, PNI (Partai Nasional Indonesia), tapi sebagai guru, kan, sembunyi-sembunyi. Tapi, di rumah itu dibuka dialektika. Saya merasa sejak kecil itu keinginan itu sudah kuat. Kalau ada pemilihan ketua OSIS, saya mencalonkan diri. Ketika terjun ke politik pertama kali di PDI-P, sebenarnya saya tidak kenal secara pribadi dengan Mbak Mega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditawari atau daftar ke PDI-P?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya daftar. Saya diajak Heri Akhmadi (sekarang anggota F-PDIP DPR). Sebenarnya instan saja karena saya memang mencari partai politik yang tengah, nasionalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen PDI-P dulu masih tradisional. Sekarang sudah mirip-mirip Golkar. Peranan Anda bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk yang membangun sistem. Tentunya kalau tidak dapat dukungan dari Mbak Mega tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sederhana, misalnya, tidak pernah ada keputusan partai yang tidak diputuskan dalam rapat partai. Tiap rapat partai sudah punya agenda, materi, itu sudah diatur dalam keputusan terbuka. Semua orang punya hak bersuara, tetapi kata akhir tetap di ketua umum. Tapi, tetap dalam rapat partai, itu sudah jadi tradisi yang kuat dalam PDI-P.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tidak ada lagi surat palsu. Kepengurusan rapi, sampai anak ranting terbentuk. Maka, untuk partai yang besar, dalam hal ini kita boleh berbangga, secara administrasi, sistem kepartaian mungkin hanya dua-tiga partai yang cukup rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regenerasi politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun ke depan ini adalah momentum regenerasi politik. Bagaimana pandangan Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya the battle of the last Mohicans (”perang” antara tokoh politik dianalogikannya dengan suku Indian terakhir di Amerika, Mohican) sudah terjadi tahun 2009 ini. The last Mohicans-nya ada Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), Amien Rais, Megawati, Wiranto, Susilo Bambang Yudhoyono, termasuk Jusuf Kalla. Mereka ini the last Mohicans.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik ke depan, tantangan akan berbeda. Masyarakat akan semakin rasional, kemudian juga hal yang dihadapi generasi setelah ini akan berbeda. Apa yang terjadi di DPR saat ini , di mana dipimpin anak-anak muda, saya, Anis Matta (PKS), Priyo Budi Santoso (Partai Golkar), Marzuki Alie (Partai Demokrat), secara historis tidak punya dendam atau friksi apa pun. Beda dengan antara Mbak Mega dengan Pak Harto, ini kan tidak bisa dihindari. Antara Gus Dur dengan Pak Harto, Amien Rais dengan Pak Harto. Ada luka secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita melihat sekarang ini, saya melihat ke depan yang bertarung adalah politik rasionalitas. Hal yang dihadapi akan lebih rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi yang kita potret 1999 bergeser memasuki 2004. Pada 2009 ke depan, pergeseran akan semakin tajam. Perdebatan Presiden-Wakil Presiden pada tahun 2009 masih bersifat pada seremonial, bukan substansi. Saya melihat lima tahun ke depan, perdebatan pasti akan rasional, misalnya bagaimana persoalan pajak, subsidi bahan bakar minyak, juga pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tidak lagi bicara tentang tema-tema besar. Orang akan bicara tentang tema yang implementatif, bisa diterapkan secara langsung di masyarakat sehingga memang akhirnya yang akan muncul lebih pada orang-orang yang punya latar belakang aktivis, intelektual, dan pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan yang utama dari demokrasi adalah menyeleksi secara alamiah. Siapa orang yang secara rasional bisa dipegang, bisa dibanggakan, menjadi pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perdebatannya sederhana, mungkin detail. Berapa pajak untuk buku, berapa pajak untuk surat kabar, misalnya, berapa harga beras. Demokrasi sudah mengalami transformasi. Dari sekarang yang transisi demokrasi menjadi lebih dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa sekarang ini susah mencari sosok-sosok anak muda yang akan cemerlang dalam lima tahun ke depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, proses rekrutmen dalam partai masih didominasi oleh senior. Kedua, yang namanya regenerasi tidak secara alamiah diberikan, dari ini kepada itu. Kalau proses rekrutmen diberikan kepada anak-anak muda dengan begitu, maka tidak akan menghadapi tempaan sejarah yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lihat proses pematangan sebagai pemimpin tidak lagi seperti zaman Pak Harto, Bung Karno, umur 30-40 sudah jadi pemimpin. Umur akan lebih panjang. Itu terjadi juga di Amerika. Faktor Barrack Obama adalah faktor keajaiban. Kalau lihat John McCain yang berusia 73 tahun dan pemimpin lain-lain, ini kan menunjukkan bahwa proses politiknya panjang. Obama menjadi presiden ini adalah kemampuan memanfaatkan komunikasi, dengan facebook, dengan hal tidak dilakukan oleh yang lain. Saya lihat ke depan akan muncul pemimpin-pemimpin usia 40-an, 50-an, secara alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa calon presiden dari PDI-P tahun 2014?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, akan terjadi proses alami. Sebagaimana kita lihat, seluruh pemimpin yang jadi pemimpin republik ini bukan yang digadang-gadang, disiapkan jauh-jauh hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemunculan Bung Karno beda dengan yang lain, melalui proses yang lebih panjang karena muncul pada masa revolusi. Pak Harto saat itu bukan yang disiapkan, termasuk munculnya Gus Dur, Mbak Mega, Juga kemunculan Habibie, Yudhoyono, bahkan Boediono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa disiapkan 5 tahun ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menyiapkan publik dan partai. Publik yang akan terima itu. Saya melihat, orang yang mempersiapkan diri jadi pemimpin biasanya malah tidak akan sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRAMONO ANUNG WIBOWO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tempat/Tanggal Lahir: Kediri, 11 Juni 1963&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; • Pendidikan: SMA 1 Kediri ( 1982), Jurusan Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (1988), Magister Manajemen Ekonomi Universitas Gadjah Mada (1992)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pengalaman Kerja: &lt;br /&gt;1. PT Tanito Harum, perusahaan penambangan batu bara di Kaltim (1988-1994). Jabatan terakhir: Direktur Operasi &lt;br /&gt;2. PT Vietmindo Energitama, perusahaan penambangan batu bara di Vietnam (1990-1994). Jabatan terakhir: Direktur Operasi &lt;br /&gt;3. PT Yudhistira Group, lima perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, perminyakan, dan pengadaan barang dan jasa. Jabatan sebagai presiden direktur dan komisaris utama. &lt;br /&gt;4. Anggota DPR pada periode 1999-2004 dan 2004-2009. Tahun 2005 mengundurkan diri, berkonsentrasi penuh pada kegiatan DPP PDI-P. &lt;br /&gt;5. Anggota DPR (2009-2014)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pengalaman Organisasi: &lt;br /&gt;1. Ketua Himpunan Mahasiswa Pertambangan ITB (1985-1986) &lt;br /&gt;2. Ketua Forum Komunikasi Himpunan Jurusan ITB (1986-1987) &lt;br /&gt;3. Ketua Ahli Pertambangan Indonesia (1998-2001) &lt;br /&gt;5. Sekretaris Jenderal DPP PDI-P (2005-sekarang) &lt;br /&gt;6. Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (2009-sekarang)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-8327132486064315375?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/8327132486064315375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=8327132486064315375' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8327132486064315375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8327132486064315375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/10/tokoh-muda-inspiratif-4-berpolitik.html' title='TOKOH MUDA INSPIRATIF (4)  Berpolitik Setelah Mapan Berbisnis'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-7120096494923065694</id><published>2009-10-05T16:23:00.001+07:00</published><updated>2009-10-05T16:23:44.720+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Pengeras Suara Digital Premium</title><content type='html'>&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/02394696/pengeras.suara.digital.premium"&gt;KOMPAS cetak - Pengeras Suara Digital Premium&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shared via &lt;a href="http://addthis.com"&gt;AddThis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-7120096494923065694?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/7120096494923065694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=7120096494923065694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7120096494923065694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7120096494923065694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/10/kompas-cetak-pengeras-suara-digital.html' title='KOMPAS cetak - Pengeras Suara Digital Premium'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-8197685737529674761</id><published>2009-10-05T16:22:00.001+07:00</published><updated>2009-10-05T16:22:12.553+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Konflik Internal PAN Berlanjut</title><content type='html'>&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/11483170/konflik.internal.pan.berlanjut"&gt;KOMPAS cetak - Konflik Internal PAN Berlanjut&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shared via &lt;a href="http://addthis.com"&gt;AddThis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-8197685737529674761?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/8197685737529674761/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=8197685737529674761' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8197685737529674761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8197685737529674761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/10/kompas-cetak-konflik-internal-pan.html' title='KOMPAS cetak - Konflik Internal PAN Berlanjut'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-6848059800355794044</id><published>2009-10-05T16:19:00.001+07:00</published><updated>2009-10-05T16:19:26.076+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Sri Widiyantoro, Membedah Lempeng Bumi</title><content type='html'>&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/02543824/sri.widiyantoro.membedah.lempeng.bumi"&gt;KOMPAS cetak - Sri Widiyantoro, Membedah Lempeng Bumi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shared via &lt;a href="http://addthis.com"&gt;AddThis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-6848059800355794044?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/6848059800355794044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=6848059800355794044' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6848059800355794044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6848059800355794044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/10/kompas-cetak-sri-widiyantoro-membedah.html' title='KOMPAS cetak - Sri Widiyantoro, Membedah Lempeng Bumi'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4304646736067896015</id><published>2009-10-05T12:14:00.001+07:00</published><updated>2009-10-05T12:14:38.594+07:00</updated><title type='text'>Surya Paloh</title><content type='html'>&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/05/03123867/surya.paloh"&gt;KOMPAS cetak - Surya Paloh&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shared via &lt;a href="http://addthis.com"&gt;AddThis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4304646736067896015?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4304646736067896015/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4304646736067896015' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4304646736067896015'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4304646736067896015'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/10/surya-paloh.html' title='Surya Paloh'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-6010426797241083733</id><published>2009-09-23T16:59:00.000+07:00</published><updated>2009-09-23T17:01:04.523+07:00</updated><title type='text'>Sesepuh Jatim Muhammad Noer Dirawat di RS Darmo</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: arial; font-size: 17px; line-height: 23px; "&gt;&lt;div class="judulisiberita" style="font: normal normal bold 18pt/normal arial; color: rgb(51, 102, 153); letter-spacing: -1px; line-height: 21pt; margin-bottom: 5px; margin-top: 5px; width: 500px; margin-right: 0px; margin-left: 0px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-top: 20px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px; "&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-top: 10px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-top: 5px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font: normal normal normal 9px/normal arial; color: rgb(102, 102, 102); "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 0); font-size: 17px; line-height: 23px; "&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/images/stickerbanner/reg_nas.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/23/16271685/Sesepuh.Jatim.Muhammad.Noer.Dirawat.di.RS.Darmo" target="_blank" style="text-decoration: none; color: rgb(102, 102, 102); font: normal normal normal 9px/normal arial; "&gt;/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-top: 10px; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-top: 0px; padding-right: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; "&gt;&lt;ul id="vidlist" style="margin-left: 0px; margin-top: 5px; margin-bottom: 0px; padding-left: 0px; list-style-type: none; list-style-position: initial; list-style-image: initial; border-top-width: 1px; border-top-style: solid; border-top-color: rgb(238, 238, 238); "&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="clear: both; "&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="tanggal" style="font: normal normal normal 10px/normal arial; color: rgb(51, 153, 204); margin-bottom: 2px; text-transform: uppercase; "&gt;RABU, 23 SEPTEMBER 2009 | 16:27 WIB&lt;/div&gt;&lt;div id="article_body"&gt;&lt;p style="margin-top: 0px; line-height: 20px; "&gt;&lt;strong&gt;SURABAYA, KOMPAS.com — &lt;/strong&gt;Gubernur Jawa Timur periode 1967-1976, Muhamamd Noer, dirawat di rumah sakit (RS) Darmo, Jalan Darmo No 90, Kota Surabaya, Jawa Timur, akibat penyakit yang dideritanya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Salah seorang staf bagian informasi RS, Teti, di Surabaya, Rabu (23/9), membenarkan adanya pasien bernama Muhammad Noer umur 95 tahun yang dirawat di RS Darmo sejak tanggal 20 September 2009. "Pasien Muhammad Noer dirawat di ICU (Intensive Care Unit atau instalasi unit perawatan intensif)," katanya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Menurut dia, sebelumnya sesepuh Jawa Timur itu dirawat di Ruang Paviliun 7, tetapi karena kondisi kurang membaik sehingga pada Selasa kemarin terpaksa dirawat di ICU.  Namun, ia tidak mengetahui secara detail penyakit apa yang diderita Muhammad Noer.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Saya tidak tahu penyakitnya apa, tapi di bagian informasi hanya disebutkan penyakit dalam," katanya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Saat dikonfirmasi ke bagian medis yang bertugas di ICU, pegawai setempat enggan memberikan informasi terkait penyakit yang diderita Muhammad Noer beserta kondisi yang ada saat ini. "Saya tidak berani memberikan informasi terkait itu. Silakan saja ke pihak keluarganya," ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-6010426797241083733?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/6010426797241083733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=6010426797241083733' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6010426797241083733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6010426797241083733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/09/sesepuh-jatim-muhammad-noer-dirawat-di.html' title='Sesepuh Jatim Muhammad Noer Dirawat di RS Darmo'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-9066891305988044997</id><published>2009-09-12T15:38:00.000+07:00</published><updated>2009-09-12T15:38:09.480+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Rosella Sensi, Bos Besar "Pasukan Serigala"</title><content type='html'>&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/11/03503299/rosella.sensi.bos.besar.pasukan.serigala"&gt;KOMPAS cetak - Rosella Sensi, Bos Besar "Pasukan Serigala"&lt;/a&gt;: "AP PHOTO/RICCARDO DE LUCA&lt;br /&gt;Rosella Sensi, Bos Besar 'Pasukan Serigala'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat, 11 September 2009 | 03:50 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tiga pekan terakhir, Kota Roma, Italia, seperti diselimuti awan hitam. Dua kekalahan klub sepak bola AS Roma pada awal musim Liga Serie A seperti membawa duka mendalam. Suporter Roma kecewa dan marah. Mereka menumpahkan kesalahan kepada Rosella Sensi, perempuan berusia 37 tahun. Gatot Widakdo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosella Sensi bukan wanita biasa. Dialah bos besar ”Il Lupi” (Pasukan Serigala) AS Roma. Rosella adalah trah takhta keluarga Sensi. Dia anak mendiang Presiden AS Roma sebelumnya, Franco Sensi. Sang ayah mangkat pada 17 Agustus 2008, dan Rosella naik menjadi orang nomor satu di AS Roma. Sebelumnya, Franco Sensi memimpin klub anggota Liga Italia Serie A itu selama 15 tahun."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-9066891305988044997?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/11/03503299/rosella.sensi.bos.besar.pasukan.serigala' title='KOMPAS cetak - Rosella Sensi, Bos Besar &quot;Pasukan Serigala&quot;'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/9066891305988044997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=9066891305988044997' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/9066891305988044997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/9066891305988044997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/09/kompas-cetak-rosella-sensi-bos-besar.html' title='KOMPAS cetak - Rosella Sensi, Bos Besar &quot;Pasukan Serigala&quot;'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4323032974156115822</id><published>2009-09-12T15:25:00.000+07:00</published><updated>2009-09-12T15:25:34.112+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS.com - Kubur Tan Malaka Dibongkar Besok</title><content type='html'>&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/12/09294682/Kubur.Tan.Malaka.Dibongkar.Besok"&gt;KOMPAS.com - Kubur Tan Malaka Dibongkar Besok&lt;/a&gt;: "Kubur Tan Malaka Dibongkar Besok&lt;br /&gt;istimewa&lt;br /&gt;/&lt;br /&gt;Artikel Terkait:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Harry A Poeze Temukan Detail Keberadaan Tan Malaka&lt;br /&gt;  * Lagi, Buku Tan Malaka Diluncurkan&lt;br /&gt;  * Tidak Sekadar Biografi Tan Malaka&lt;br /&gt;  * Sayup-sayup Gaung Perjuangan Tan Malaka&lt;br /&gt;  * 60 Tahun Tan Malaka, Peletak Dasar Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 12 September 2009 | 09:29 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEDIRI, KOMPAS.com — Perangkat desa asal Selopanggung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sudah mempersiapkan pembongkaran makam yang diduga terdapat kerangka tubuh tokoh revolusioner beraliran kiri, Tan Malaka."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4323032974156115822?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://regional.kompas.com/read/xml/2009/09/12/09294682/Kubur.Tan.Malaka.Dibongkar.Besok' title='KOMPAS.com - Kubur Tan Malaka Dibongkar Besok'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4323032974156115822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4323032974156115822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4323032974156115822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4323032974156115822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/09/kompascom-kubur-tan-malaka-dibongkar.html' title='KOMPAS.com - Kubur Tan Malaka Dibongkar Besok'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4551162050086333382</id><published>2009-09-07T11:25:00.001+07:00</published><updated>2009-09-07T11:25:54.530+07:00</updated><title type='text'>Mahyudin "Gila" karena Keris Melayu</title><content type='html'>&lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;                                      &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;         &lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;         &lt;p&gt;Jumat, 8 Agustus 2008 | 00:47 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Satu lagi orang ”gila” menyeruak di tengah kehidupan yang kian pengap. Seorang pedagang buku dari Yogyakarta, sejak tujuh tahun terakhir mewakafkan waktu dan tabungan yang ia kumpulkan selama 21 tahun untuk memuliakan sebuah peradaban.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemicunya hanya soal keris. Itu pun bukan jenis keris yang banyak dicari para kolektor lantaran mempunyai ”pamor” dan karena itu diyakini bertuah. Keris yang membuat hidupnya berputar haluan itu adalah keris melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mahyudin Al Mudra (50), lelaki kelahiran Tembilahan, Riau, yang masuk dalam jebakan tuah keris melayu itu. Sukses sebagai ”pedagang buku” di tanah perantauannya, Yogyakarta, lewat bendera Penerbit AdiCita Grup yang ia dirikan tahun 1987, tak membuat Mahyudin lupa pada puak Melayu yang mengalir dalam tubuhnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cerita bermula dari hobinya mengoleksi keris dari berbagai daerah di Nusantara. Sekali waktu ia berkesempatan pulang ke kampung halamannya di Tembilahan. Dengan percaya diri, Mahyudin yakin akan mendapatkan dengan mudah keris melayu saat mampir di Pekanbaru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kenyataan yang ia temui justru sebaliknya. Bukan saja tak segampang mendapatkan keris jawa, orang-orang Melayu yang ditemuinya pun tak punya lagi ingatan akan keris melayu. Begitu pun di Tembilahan, Kampar, Inderagiri, dan Bengkalis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Di Tanjung Pinang, Bintan, yang disebut-sebut paling Melayu, sama saja. Juga di museum. Di Pekanbaru, kalau orang Melayu menikah, ya, pakai keris jawa,” tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perburuan Mahyudin menemukan keris melayu berlanjut dan menjadi semacam obsesi. Ada apa dengan Melayu? Pasti ada sesuatu yang salah, tetapi apa?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dibalut rasa penasaran, dia pergi ke Malaysia, dan diborongnya 17 buku tentang kajian keris melayu. Ia kian kecut sekaligus kaget tatkala tahu sebagian besar buku tentang hal itu malah ditulis oleh orang Barat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbekal setumpuk buku yang dibelinya di Malaysia tahun 2001, Mahyudin pergi ke tempat pembuatan keris di Imogiri, Bantul. Setelah empat-lima kali dirombak, keris ”langgam” melayu itu pun jadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;MelayuOnline.com&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akan tetapi, pencarian Mahyudin ke akar budaya Melayu justru baru dimulai. ”Dari pengalaman mencari keris melayu, saya tersadar mengapa budaya Jawa masih terpelihara. Itu tak lain karena ada yang telaten mendokumentasikannya,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dokumentasi ternyata berperan besar dalam pelestarian peradaban. Ini yang diabaikan orang Melayu. Kalaupun ada, belum ada dokumentasi yang rapi. Warisan khazanah sejarah dan budaya Melayu masih berupa mosaik yang tersebar di mana-mana.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbekal semangat untuk menggali dan mendokumentasikan segala ihwal yang berkaitan dengan peradaban Melayu, tahun itu juga (2001) dia mendirikan Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (PKPBM). Enam tahun kemudian, setelah melalui pergulatan panjang, PKPBM melahirkan ”anak kandung” yang pertama berupa situs atau laman yang berisi pangkalan data tentang Melayu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak itu perhatian Mahyudin terbelah. Usaha penerbitan yang sudah ia tekuni sejak 1987 justru dijadikan ”sapi perah” untuk membiayai aktivitasnya merawat peradaban Melayu melalui jaringan internet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak hanya itu. Tabungannya selama 21 tahun, senilai Rp 3 miliar lebih, tersedot untuk operasional portal MelayuOnline.com. Ia pun rela kehilangan dua bidang tanah, satu rumah, dan dua mobil yang turut dilego agar MelayuOnline.com tetap eksis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mahyudin mengakui memang berat membiayai kegiatan budaya seperti yang ia lakoni. Setiap bulan, sedikitnya Rp 75 juta harus tersedia. Alokasi terbesar untuk sewa satelit, Rp 19 juta. Selebihnya untuk gaji 24 tenaga profesional yang menangani operasional MelayuOnline.com, cetak buku, dan biaya lain, seperti pengumpulan bahan dari berbagai daerah di Nusantara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tapi, ini konsekuensi dari suatu pilihan hidup. MelayuOnline.com yang beralamat di http://www.melayuonline.com (baca juga Menduniakan Melayu dari Yogya, hal 53) memang didedikasikan sepenuhnya bagi kegemilangan tamadun Melayu. Saya yakin investasi semacam ini akan berbuih meski bukan dalam bentuk materi,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adakah pihak yang tersentuh membantu? Dia cuma tertawa lantaran banyak pejabat yang menjanjikan angin surga, tetapi hasilnya nol besar. Bahkan, seorang menteri yang mengaku kagum pada MelayuOnline.com dan berjanji segera menurunkan bantuan juga setali tiga uang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Iklan pun tak ada. Tapi, Mahyudin segera menukas, ”Sebetulnya ada yang membantu kami. Seorang guru SD di Pekanbaru yang sempat menengok portal MelayuOnline.com pernah mengirimkan uang Rp 100.000. Saya sangat terharu. Bayangkan, berapa sih gaji guru SD, tetapi dia rela mendermakan penghasilannya yang tak seberapa itu untuk kegiatan kebudayaan semacam ini.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Titik balik&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak tamat SD (1970) dan ”terdampar” bersama orangtua di Yogyakarta, berbagai kesulitan hidup membelit keluarga mereka. Akan tetapi, anak dari pasangan Mudra Mukhlis dan Mulia ini bisa melewati masa sulit itu, hingga berhasil menyelesaikan pendidikan S-1 Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta (1984).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seusai kuliah, ia tidak tertarik menjadi pamong di birokrasi pemerintahan. Ia juga tak tergiur terjun sebagai praktisi hukum. Mahyudin justru merintis karier di dunia bisnis dengan menjadi ”pedagang buku”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ketika itu saya punya banyak opsi. Tetapi, saya memutuskan terjun jadi pedagang buku,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak mahasiswa, Mahyudin dikenal sebagai ”pengecer” buku dan jurnal terbitan LP3ES dan LSP. Tak ada kios, apalagi toko buku. Kampus di lingkungan almamaternya adalah pasar yang dibidik Mahyudin.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dosen-dosen saya todong agar beli buku dan jurnal Prisma. Karena yang maksa aktivis mahasiswa, atau mungkin karena takut dianggap tidak ilmiah, dagangan buku dan jurnal Prisma-ku laris manis,” tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Persinggungan Mahyudin dengan dunia perbukuan dan pemikiran kebudayaan sesungguhnya berawal dari masa sulit saat ia masih di SMP. Berangkat dari keluarga yang secara ekonomi serba terbatas, tiap hari tak pernah ada uang jajan di kantongnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Agar bisa ikut menikmati semangkuk soto saja, baru terwujud bila ada teman sekolah yang mentraktirnya. Itu pun biasanya setelah sebelumnya ia mengerjakan pekerjaan rumah si teman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Semasa di SMP itu, saat istirahat, biasanya saya ke perpustakaan. Bukan karena saya kutu buku, tapi lantaran tak punya uang untuk ikut teman-teman ke kantin. Tapi belakangan saya bersyukur, berkat hidup dalam ketiadaan itulah saya banyak belajar, termasuk tentang hidup,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari uang tabungan yang ia kumpulkan, laman MelayuOnline.com menorehkan andil Mahyudin untuk memuliakan tradisi besar peradaban Melayu. Akan tetapi, dengan modal yang kian menipis—sementara tawaran dari negeri serumpun yang berniat membeli laman MelayuOnline.com senilai satu juta ringgit sudah ditolak—sampai kapan ia bisa bertahan? (pra/ken)&lt;/p&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4551162050086333382?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4551162050086333382/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4551162050086333382' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4551162050086333382'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4551162050086333382'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/09/mahyudin-gila-karena-keris-melayu.html' title='Mahyudin &quot;Gila&quot; karena Keris Melayu'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-5712021099405965492</id><published>2009-09-01T15:48:00.000+07:00</published><updated>2009-09-01T15:48:36.577+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Hatoyama, PM Jepang Berikutnya</title><content type='html'>&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/31/04223734/hatoyama.pm.jepang.berikutnya."&gt;KOMPAS cetak - Hatoyama, PM Jepang Berikutnya&lt;/a&gt;: "Hatoyama, PM Jepang Berikutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 31 Agustus 2009 | 04:22 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu Parlemen Jepang 30 Agustus 2009 akhirnya menjadi tonggak pergantian rezim di negara itu. Partai Demokratik Liberal (LDP) yang telah berkuasa selama lebih dari setengah abad takluk pada kekuatan Partai Demokrat Jepang (DPJ). Pemimpin DPJ, Yukio Hatoyama, sudah pasti menjadi perdana menteri Jepang. Rakaryan Sukarjaputra"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-5712021099405965492?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/31/04223734/hatoyama.pm.jepang.berikutnya.' title='KOMPAS cetak - Hatoyama, PM Jepang Berikutnya'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/5712021099405965492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=5712021099405965492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5712021099405965492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5712021099405965492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/09/kompas-cetak-hatoyama-pm-jepang.html' title='KOMPAS cetak - Hatoyama, PM Jepang Berikutnya'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-146827190668330419</id><published>2009-08-26T12:18:00.000+07:00</published><updated>2009-08-26T12:18:34.586+07:00</updated><title type='text'>RakyatMerdeka - Berita Foto : JK BERTEMU HABIBIE</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.rakyatmerdeka.co.id/foto/hal/1/view/3089/jk-bertemu-habibie"&gt;RakyatMerdeka - Berita Foto : JK BERTEMU HABIBIE&lt;/a&gt;: "JK BERTEMU HABIBIE&lt;br /&gt;Rabu, 26/08/09, 00:22:15 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Wapres Jusuf Kalla (kanan) bertemu dengan mantan Presiden B.J Habibie (kiri) di Raudah, samping makam Nabi Besar Muhammad SAW di kompleks Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Selasa (25/8). Kedua tokoh tersebut berada di Mekkah untuk menunaikan ibadah khususnya pada bulan suci Ramadhan ini. SETWAPRES"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-146827190668330419?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rakyatmerdeka.co.id/foto/hal/1/view/3089/jk-bertemu-habibie' title='RakyatMerdeka - Berita Foto : JK BERTEMU HABIBIE'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/146827190668330419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=146827190668330419' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/146827190668330419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/146827190668330419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/rakyatmerdeka-berita-foto-jk-bertemu.html' title='RakyatMerdeka - Berita Foto : JK BERTEMU HABIBIE'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-146022963176341796</id><published>2009-08-26T12:17:00.000+07:00</published><updated>2009-08-26T12:17:36.753+07:00</updated><title type='text'>rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/08/24/80187/PUASA-POLITIK-Politisi-Golkar-Asyik-Buka-Puasa-Plus-plus"&gt;rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus&lt;/a&gt;: "Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus&lt;br /&gt;Senin, 24 Agustus 2009, 12:14:10 WIB&lt;br /&gt;Laporan: Yayan Sopyani al-Hadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, RMOL. Ajaran agama yang ditanamkan sang kakek, sangat berpengaruh besar pada konsep hidup Ketua DPP Partai Golkar, Zainal Bintang."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-146022963176341796?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/08/24/80187/PUASA-POLITIK-Politisi-Golkar-Asyik-Buka-Puasa-Plus-plus' title='rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/146022963176341796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=146022963176341796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/146022963176341796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/146022963176341796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/rakyatmerdekacoid-puasa-politik.html' title='rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Politisi Golkar Asyik Buka Puasa Plus-plus'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1925813231261644845</id><published>2009-08-26T12:02:00.000+07:00</published><updated>2009-08-26T12:02:15.500+07:00</updated><title type='text'>rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/08/25/80230/PUASA-POLITIK-Tolak-Kapitalisme,-Drajad-Buka-Puasa-Dengan-Tahu--"&gt;rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu&lt;/a&gt;: "Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu&lt;br /&gt;Selasa, 25 Agustus 2009, 12:21:16 WIB&lt;br /&gt;Laporan: Yayan Sopyani al-Hadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, RMOL. Meraih gelar doktor bidang ekonomi dari Universitas Queensland, Australia, tak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar. Prinsipnya, long life education atau dalam bahasa hadits Nabi Muhammad SAW tholab al-ilmi mina al-mahdi ila al-lahdi, terus mencari ilmu dari buaian hingga berakhir kehidupan. Kini, sang ekonom ini sedang belajar membaca dan memahami tulisan Arab gundul."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1925813231261644845?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.rakyatmerdeka.co.id/news/2009/08/25/80230/PUASA-POLITIK-Tolak-Kapitalisme,-Drajad-Buka-Puasa-Dengan-Tahu--' title='rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1925813231261644845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1925813231261644845' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1925813231261644845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1925813231261644845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/rakyatmerdekacoid-puasa-politik-tolak.html' title='rakyatmerdeka.co.id - PUASA POLITIK, Tolak Kapitalisme, Drajad Buka Puasa Dengan Tahu'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3963093949274372093</id><published>2009-08-26T10:45:00.000+07:00</published><updated>2009-08-26T10:45:36.380+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Diungkap, Detail Keberadaan Tan Malaka</title><content type='html'>&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/26/05075498/diungkap.detail.keberadaan.tan.malaka"&gt;KOMPAS cetak - Diungkap, Detail Keberadaan Tan Malaka&lt;/a&gt;: "PELUNCURAN BUKU&lt;br /&gt;Diungkap, Detail Keberadaan Tan Malaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 26 Agustus 2009 | 05:07 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, Kompas - Sejarawan dari Universitas Leiden, Belanda, Harry A Poeze, Selasa (25/8) di Jakarta, meluncurkan buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 2 (Penerbit Yayasan Obor Indonesia). Keberadaan Tan Malaka tidak saja dipaparkan detail melalui tulisan di buku tersebut, tetapi Harry juga menayangkan sejumlah dokumen penting berupa foto-foto dan film."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3963093949274372093?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/26/05075498/diungkap.detail.keberadaan.tan.malaka' title='KOMPAS cetak - Diungkap, Detail Keberadaan Tan Malaka'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3963093949274372093/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3963093949274372093' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3963093949274372093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3963093949274372093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/kompas-cetak-diungkap-detail-keberadaan.html' title='KOMPAS cetak - Diungkap, Detail Keberadaan Tan Malaka'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-673804353490879525</id><published>2009-08-26T10:39:00.000+07:00</published><updated>2009-08-26T10:39:48.132+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju</title><content type='html'>&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/26/04222577/jiwa.wirausaha.bagi.indonesia.maju"&gt;KOMPAS cetak - Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju&lt;/a&gt;: "Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 26 Agustus 2009 | 04:22 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entrepreneurship harus terus dikembangkan karena tak akan ada habisnya. Akan terus ada peluang untuk entrepreneurship dalam mengubah kotoran menjadi emas,” ujar Ciputra dalam acara Hari Pendiri (Founder’s Day) Grup Ciputra di Jakarta, Senin (24/8). Suara Ciputra tetap prima walau telah mengikuti acara sepanjang hari."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-673804353490879525?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/26/04222577/jiwa.wirausaha.bagi.indonesia.maju' title='KOMPAS cetak - Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/673804353490879525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=673804353490879525' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/673804353490879525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/673804353490879525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/kompas-cetak-jiwa-wirausaha-bagi.html' title='KOMPAS cetak - Jiwa Wirausaha bagi Indonesia Maju'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4357162043700669405</id><published>2009-08-18T06:25:00.001+07:00</published><updated>2009-08-18T06:25:55.915+07:00</updated><title type='text'>Perginya Seorang WS Rendra</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Verdana; font-size: 13px; line-height: 18px; "&gt;&lt;h1 style="margin-top: 0px; margin-right: 0px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; padding-top: 4px; padding-right: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 0px; display: block; font-size: 16px; color: rgb(10, 99, 149); "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div class="clear"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Oleh: &lt;strong&gt;Ahmad Syafii Maarif&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat jenazah WS Rendra, penyair besar ini, mau dikebumikan sesudah salat Jumat 7 Agustus 2009, hanya seorang menteri yang saya lihat hadir dengan wajah duka yang dalam, seperti wajah-wajah lain juga yang sama larut dalam kepiluan. Menteri itu adalah Rahmat Witoelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, menteri lingkungan hidup ini hadir sebagai pribadi, bukan mewakili pemerintah. Bagi Rendra tentunya tidak penting, apakah negara menghormatinya atau tidak menghiraukannya, bukanlah bagian esensial dari filosofi hidupnya. Yang jelas, cinta Rendra kepada Indonesia sebagai bangsa sungguh berakar dalam. Rendra bukan hanya seorang penyair, dramawan, peminat sejarah, tetapi pemikir dan pengamat sosial yang tajam. Rendra adalah pribadi merdeka yang tidak bisa diam melihat segala ketidakberesan dan ketidakjujuran yang masih melilit sekujur tubuh bangsa dan negara tercinta ini. Saya banyak belajar langsung pada penyair dengan stamina spiritual yang mengagumkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lebih 10 tahun saya bersahabat dengannya, sesuatu yang terlambat. Hampir setiap berjumpa, ada saja lontaran pemikiran segar yang keluar dari tutur katanya. Forum AJ (Akademi Jakarta) bagi saya adalah di antara sarana yang cukup berjasa mempertemukan para anggotanya yang hadir dalam rapat dengan Rendra. Dalam beberapa tahun terakhir, dua kali Rendra mengundang saya berkunjung ke padepokannya. Di sana pasti disuguhi dengan makanan khas serbaalami. Sala, karyawan PP Muhammadiyah Jakarta, pernah mengantarkan saya ke padepokan itu. Dengan penuh bahagia, Sala menikmati suguhan keluarga Rendra yang beraneka itu. Ada nasi merah, pisang dan kacang rebus, dan beraneka macam makanan lainnya, yang diambil dari hasil tanah miliknya seluas enam hektare itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena apa Bung Sala pulalah yang mengantar saya bersama Asmul Khairi, putra sepupu saya, karyawan dephub, melayat Rendra sampai terkubur siang Jumat yang penuh sesak oleh para pelayat itu, termasuk Rosihan Anwar, Moerdiono, Eros Djarot, dan Sitor Situmorang. Sebelum Sala menjemput saya ke bandara Soekarno-Hatta, saya kirim SMS ini kepadanya: ''Terima kasih sekali, Bung Sala, seperti diatur Allah, kita pernah makan di rumah Rendra, sekarang kita akan ke sana lagi untuk berpisah selama-lamanya dengan sahabat kita ini, saya terpukul berat. Saya sampai di bandara jam 10.20 dengan GA.'' Seorang karyawan seperti Bung Sala merasakan benar betapa Rendra tidak membeda-bedakan siapa tamunya. Diplomat asing, duta besar, menteri, petani, jenderal, mahasiswa, dosen, atau siapa saja, bagi Rendra semuanya adalah manusia penuh yang diperlakukan sebagai manusia utuh. Filosofi politik Bung Hatta dalam formula ''Daulat Rakyat'' sebagai lawan ''Daulat Tuanku'' telah lama menjadi bagian menyatu dengan seluruh bangunan pandangan politik Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memanaskan kepekaan kita pada situasi bangsa yang kadang-kadang tidak menentu, simaklah baik-baik puisi Rendra dengan judul &lt;em style="color: rgb(153, 0, 0); font-size: 11px; "&gt;Kesaksian Bapak Saija&lt;/em&gt; yang saya kutip sebagian saja. Puisi ini betarikh 7 Juli 1994.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em style="color: rgb(153, 0, 0); font-size: 11px; "&gt;O, kali yang membawa kesuburan,&lt;br /&gt;Akhirnya samudra menampung air mata.&lt;br /&gt;Panen yang melimpah setiap tahun&lt;br /&gt;bukanlah rezeki petani yang menanamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, Adipati Tanah Jawa!&lt;br /&gt;Tatanan hidup yang kalian tegakkan&lt;br /&gt;Ternyata menjadi tatanan kemandulan.&lt;br /&gt;Tatanan yang tak mampu mencerdaskan bangsa.&lt;br /&gt;Akhirnya kita dijajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tanpa pilihan&lt;br /&gt;Adalah hidup penuh persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa putus asa&lt;br /&gt;menjadi bara dendam.&lt;br /&gt;Dendam yang tak berdaya&lt;br /&gt;membusukkan kehidupan.&lt;br /&gt;Apa yang seharusnya diucapkan&lt;br /&gt;tidak menemukan kata-kata.&lt;br /&gt;Apa yang seharusnya dilakukan&lt;br /&gt;tidak mendapat dorongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesaksianku ini&lt;br /&gt;kesaksian orang mati&lt;br /&gt;yang terlambat diucapkan.&lt;br /&gt;Hendaknya ia menjadi batu nisan&lt;br /&gt;bagi mayatku yang dianggap hilang&lt;br /&gt;karena ditendang ke dalam jurang&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lih. Edi Haryono (ed.), &lt;em style="color: rgb(153, 0, 0); font-size: 11px; "&gt;Rendra Penyair dan Kritik Sosial&lt;/em&gt;. Jogjakarta: Kepel Press, 2001, hlm. 142-143).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan batin saya: Kesaksianmu Rendra, bukan kesaksian orang mati. Sekalipun negara tidak hirau dengan kepergianmu ini, jutaan anak bangsa sedang siap untuk terus membaca puisimu yang akan bertahan dalam lipatan kurun yang panjang, panjang sekali. Selamat jalan Rendra!&lt;/p&gt;(-) &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4357162043700669405?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4357162043700669405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4357162043700669405' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4357162043700669405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4357162043700669405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/perginya-seorang-ws-rendra.html' title='Perginya Seorang WS Rendra'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-2158514233227392549</id><published>2009-08-18T05:37:00.000+07:00</published><updated>2009-08-18T05:37:54.687+07:00</updated><title type='text'>VIVANEWS - POLITIK - Sosok Zaenal Ma'arif, Si Pemicu Gempa Politik</title><content type='html'>&lt;a href="http://politik.vivanews.com/news/read/78668-sosok_zaenal_ma_arif__si_pemicu_gempa_politik"&gt;VIVANEWS - POLITIK - Sosok Zaenal Ma'arif, Si Pemicu Gempa Politik&lt;/a&gt;: "Sosok Zaenal Ma'arif, Si Pemicu Gempa Politik"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-2158514233227392549?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://politik.vivanews.com/news/read/78668-sosok_zaenal_ma_arif__si_pemicu_gempa_politik' title='VIVANEWS - POLITIK - Sosok Zaenal Ma&apos;arif, Si Pemicu Gempa Politik'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/2158514233227392549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=2158514233227392549' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2158514233227392549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2158514233227392549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/vivanews-politik-sosok-zaenal-maarif-si.html' title='VIVANEWS - POLITIK - Sosok Zaenal Ma&apos;arif, Si Pemicu Gempa Politik'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-5680617150036438044</id><published>2009-08-17T06:14:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T06:14:25.445+07:00</updated><title type='text'>VIVANEWS - POLITIK - Blog Indra J Piliang: Dunia Terlalu Keras pada Wiranto</title><content type='html'>&lt;a href="http://politik.vivanews.com/news/read/74696-dunia_terlalu_keras_pada_wiranto"&gt;VIVANEWS - POLITIK - Blog Indra J Piliang: Dunia Terlalu Keras pada Wiranto&lt;/a&gt;: "Dunia Terlalu Keras pada Wiranto"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-5680617150036438044?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://politik.vivanews.com/news/read/74696-dunia_terlalu_keras_pada_wiranto' title='VIVANEWS - POLITIK - Blog Indra J Piliang: Dunia Terlalu Keras pada Wiranto'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/5680617150036438044/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=5680617150036438044' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5680617150036438044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5680617150036438044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/vivanews-politik-blog-indra-j-piliang.html' title='VIVANEWS - POLITIK - Blog Indra J Piliang: Dunia Terlalu Keras pada Wiranto'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3029199914578570083</id><published>2009-08-17T06:00:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T06:00:57.030+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Seperti Pemain Piano</title><content type='html'>&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/16/03565576/seperti.pemain.piano"&gt;KOMPAS cetak - Seperti Pemain Piano&lt;/a&gt;: "Seperti Pemain Piano"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3029199914578570083?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/16/03565576/seperti.pemain.piano' title='KOMPAS cetak - Seperti Pemain Piano'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3029199914578570083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3029199914578570083' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3029199914578570083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3029199914578570083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/kompas-cetak-seperti-pemain-piano.html' title='KOMPAS cetak - Seperti Pemain Piano'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1173173680755821490</id><published>2009-08-17T05:58:00.000+07:00</published><updated>2009-08-17T05:58:28.450+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Optimisme Kemerdekaan Taufik Abdullah</title><content type='html'>&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/16/03580195/optimisme.kemerdekaan.taufik.abdullah"&gt;KOMPAS cetak - Optimisme Kemerdekaan Taufik Abdullah&lt;/a&gt;: "Optimisme Kemerdekaan Taufik Abdullah"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1173173680755821490?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/16/03580195/optimisme.kemerdekaan.taufik.abdullah' title='KOMPAS cetak - Optimisme Kemerdekaan Taufik Abdullah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1173173680755821490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1173173680755821490' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1173173680755821490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1173173680755821490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/kompas-cetak-optimisme-kemerdekaan.html' title='KOMPAS cetak - Optimisme Kemerdekaan Taufik Abdullah'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-7119130409229112784</id><published>2009-08-16T20:47:00.000+07:00</published><updated>2009-08-16T20:47:35.818+07:00</updated><title type='text'>KOMPAS cetak - Meninjau "Orang Sukses" secara Kontekstual</title><content type='html'>&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/16/03551577/meninjau.orang.sukses.secara.kontekstual"&gt;KOMPAS cetak - Meninjau "Orang Sukses" secara Kontekstual&lt;/a&gt;: "Meninjau 'Orang Sukses' secara Kontekstual"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-7119130409229112784?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/16/03551577/meninjau.orang.sukses.secara.kontekstual' title='KOMPAS cetak - Meninjau &quot;Orang Sukses&quot; secara Kontekstual'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/7119130409229112784/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=7119130409229112784' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7119130409229112784'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7119130409229112784'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/kompas-cetak-meninjau-orang-sukses.html' title='KOMPAS cetak - Meninjau &quot;Orang Sukses&quot; secara Kontekstual'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-6966095135797124108</id><published>2009-08-09T13:29:00.000+07:00</published><updated>2009-08-09T13:30:48.747+07:00</updated><title type='text'>Pesan Terakhir Burung Merak</title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/09/03251640/pesan.terakhir.burung.merak#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/08/09/3448485p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div style="text-align: left; font-weight: bold;" class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5"&gt;DOKUMENTASI KOMPAS&lt;/div&gt;                     &lt;div style="font-weight: bold;" class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;WS Rendra bersama istri-istrinya, Sunarti (kanan)&lt;br /&gt;dan Sitoresmi (belakang), serta sebagian anak- anaknya.&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;                            &lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;         &lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;         &lt;p&gt;Minggu, 9 Agustus 2009 | 03:25 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Putu Fajar Arcana &amp;amp; Ninuk M Pambudy&lt;/span&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;WS Rendra sesungguhnya sudah meninggal di rumah anak bungsunya dari Sunarti, Clara Sinta, di Perumahan Pesona Khayangan, Depok, Kamis (6/8), pukul 22.10. Setelah mengembuskan napas terakhir barulah dibawa ke RS Mitra Keluarga, Depok, untuk memastikan kepergiannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Pesan terakhir ayahandanya, menurut Clara, hanya ingin tanah di Citayam seluas 6 hektar, di mana Bengkel Teater Rendra beralamat, dihutankan. Rendra sudah menanam ratusan pohon ulin dan eboni, yang tidak boleh ditebang sampai berusia 20 tahun. Dan tidak ada pesan apa pun dari Rendra menyangkut kelanjutan Bengkel Teater Rendra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Clara termasuk anggota keluarga besar Rendra yang paling dekat dengan ayahnya. Kepada Rachel Saraswati (31), anak Rendra dari Sitoresmi Prabuningrat (59), ”Si Burung Merak” pernah berkata, ”Kalau penyakit tak bisa diatasi, aku mau dipeluk Clara,” tutur Rachel.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kedekatan itulah yang membuat Rendra meminta secara khusus pada hari-hari terakhirnya berbaring di rumah Clara Sinta. Meskipun selama dua hari di situ, Rendra juga ditemani istrinya, Ken Zuraida, serta anak bungsu mereka, Meriam Supraba.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Papa itu sebagai ayah sangat unik. Dia mengekspresikan perhatiannya dengan cara unik, jujur menghadapi situasi kehidupannya. Papa selalu ke saya, bahkan untuk hal yang sangat pribadi,” tutur Clara. Dia mengenang, bagaimana ayahnya baru bisa menggunakan layanan pesan singkat SMS tiga bulan terakhir dan sejak itu seperti tak bisa dipisahkan dari telepon selulernya, bahkan ketika terbaring di rumah sakit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rachel sendiri melihat Rendra sebagai a complete man. ”Dia itu orang lengkap, figur ayah, teman, dan guru. Saya anak beruntung karena tidak semua anak mempunyai pergaulan kreatif dengan ayahnya,” kata Rachel.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pergaulan kreatif itu, tambah Rachel, anak-anaknya bisa eyel-eyelan atau gojekan (bercanda) dengan Rendra. ”Saya anak yang paling cerewet, dia bisa menyikapi kecerewetan saya. Misalnya, papa bilang, jangan cerewet dong sama bapaknya yang sudah tua. Caranya mengatakan sangat lucu,” ujar Rachel.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Minta lagu&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat-saat dirawat di rumah sakit, kata Rachel, ia selalu diminta ayahnya menyanyikan lagu Don’t Cry for Me Argentina yang dipopulerkan Madonna lewat film Evita Peron. Lagu itu, kata Rachel, mewakili perasaan ayahnya dalam menjalani hari-harinya di rumah sakit. ”Rendra menyadari sakitnya mungkin tak bisa disembuhkan, tetapi semangatnya tetap kuat,” tutur Rachel, yang menetap di Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebelum pergi untuk selama-lamanya, ujar Ken Zuraida sembari menahan tangis, seusai pemakaman Rendra, Jumat (7/8), suaminya seperti berkhotbah panjang. ”Ia me-review saya selama sejam lebih. Saya ini memang masih harus banyak belajar, belum juga bisa apa-apa, tetap bodo...,” tutur Idha, panggilan Ken Zuraida. Mas Willy, menurut Idha, sempat mengatakan, dia sangat berbahagia. ”Saat itu ada juga Clara,” kata dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Sitoresmi Prabuningrat yang pernah menjadi istri Rendra, meski telah berpisah, hubungannya dengan Rendra dan Bengkel Teater tetap baik. Sampai sekarang jika diminta membaca puisi, Sito tetap merasa paling sreg ketika membacakan puisi karya Rendra. Kekaguman Sito pada Rendra dalam keberhasilannya melahirkan sosok-sosok seniman yang mandiri, seperti Putu Wijaya, Chaerul Umam, Sitok Srengenge, Sawung Jabo, serta banyak lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya mendapat manfaat dari gemblengan di Bengkel Teater, mungkin tanpa gemblengan itu saya tidak akan sekuat sekarang,” tutur Sito. Gemblengan di Bengkel adalah gemblengan hidup, belajar dari kekurangan materi. ”Sekarang kalau melihat ada masalah, saya mengatakan dalam hati, saya pernah melalui yang lebih berat,” kata Sito. Sitoresmi terlibat dalam kehidupan Bengkel pada periode 1970-1979 ketika masih bermarkas di Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Rachel, ketika Rendra dan Bengkel pindah ke Jakarta pada awal tahun 1980-an, ia masih balita. ”Setahu saya, Papa inginnya Bengkel harus berusaha agar semua anggota bisa dapat uang tidak hanya menunggu mendapat tawaran pentas, harus jemput bola,” kata dia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentang masa-masa sulit yang dialami Bengkel ketika di Yogya, Clara mengatakan, ayah dan juga ibunya, Sunarti, mengajarkan, ”Anak-anak kandung Papa adalah rahim bagi cita-cita Papa.” Anak-anak Bengkel kerap didahulukan kepentingannya daripada anak-anak kandungnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bengkel Teater Rendra memang satu cita-cita yang diwujudkan. Komunitas ini dibangun Rendra sebagaimana ia juga menyuarakan soal-soal kehidupan dalam komunitas manusia. Sitok bahkan menggambarkan Rendra adalah guru yang mengajarkan tentang keberanian hidup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keberanian itulah, yang menurut sahabat terdekat Rendra, budayawan Emha Ainun Nadjib, dihancurkan ketika ia sedang berbaring di rumah sakit. Rendra secara fisik memang sudah berumur, tetapi dia terlahir dengan semangat hidup menyala. ”Nah, jika semangat hidupnya yang dihancurkan, tahulah apa jadinya...,” tutur Emha.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini penyair yang selalu seperti mengepakkan sayapnya saat-saat membacakan puisi itu telah pergi. Mungkin keadaannya sebagaimana yang ia gambarkan dalam puisinya Kenangan dan Kesepian. //Rumah tua/dan pagar batu/Langit desa/sawah dan bambu//Berkenalan dengan sepi/pada kejemuan disandarkan dirinya/Jalanan berdebu tak berhati/lewat nasib menatapnya//Cinta yang datang/burung tak tergenggam/Batang baja waktu lengang/dari belakang menikam//Rumah tua/dan pagar batu/Kenangan lama/dan sepi yang syahdu//. &lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;(XAR/IAM)&lt;textmetadata&gt;&lt;/textmetadata&gt;&lt;textlinkedpage number="18"&gt;&lt;/textlinkedpage&gt;&lt;/p&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/div&gt;         &lt;!-- end isi berita --&gt;                                        &lt;!-- komentar --&gt;                           &lt;!--s:rating and share --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-6966095135797124108?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/6966095135797124108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=6966095135797124108' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6966095135797124108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6966095135797124108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/pesan-terakhir-burung-merak.html' title='Pesan Terakhir Burung Merak'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1346416006940781338</id><published>2009-08-09T13:28:00.000+07:00</published><updated>2009-08-09T13:29:09.703+07:00</updated><title type='text'>Mengenang Rendra</title><content type='html'>&lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;              &lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;              &lt;div style="font-weight: bold;" class="font36 c_black"&gt;Karena Namanya Tertulis di Langit&lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Minggu, 9 Agustus 2009 | 03:26 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Mengenang Rendra adalah mengenang keberaniannya menerobos batas dan kebebasannya berkreasi. Bukankah kebebasan berpikir dan keberanian melakukannya yang membawa perubahan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Aktor Ikranegara telah bergaul dengan Rendra sejak 1960-an. Ketika Rendra pulang dari belajar di The American Academy of Dramatic Art di New York, Amerika, tahun 1967, Ikra melihat Rendra mengejutkan publik dengan mementaskan teater di luar cara yang dikenal selama ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dia membawa teater tanpa dialog dengan seminim mungkin menggunakan suara. Goenawan Mohamad kemudian memberi nama teater mini kata,” kata Ikra, yang saat itu menjadi wartawan lepas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari wawancara Ikra dengan Rendra, dramawan dan penyair itu menyebut pentas itu sebagai ”bipbop” karena aktornya bergerak sambil mengucapkan ”bipbop”. Menurut Rendra, bentuk tersebut bermula dari kunjungannya ke Bali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dramawan dan novelis Putu Wijaya menilai, bunyi bipbop itu berasal dari hiphop, jenis musik jalanan yang melawan kemapanan. ”Itulah mengapa lahir istilah bipbop, tetapi Goenawan memberi nama teater mini kata” kata Putu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut Ikra, saat di Bali Rendra menyaksikan tari Cak dengan gerak dan vokal. ”Itulah yang menginspirasi Rendra membuat bipbop. Jadi, dia bukan orang yang antitradisi sebagaimana ditafsirkan banyak orang setelah pernyataan tentang kebudayaan Jawa hanyalah kasur tua,” kata Ikra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemimpin Redaksi Majalah Prisma Daniel Dhakidae yang mengenal Rendra sejak awal 1967-an saat kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, melihat Rendra sebagai sosok yang melawan feodalisme yang kental di Yogyakarta, tempat Bengkel Teater berada. Karena itu, Rendra mengeluarkan pernyataan tentang kebudayaan Jawa seperti kasur tua yang harus dirombak. Tetapi, itu menurut Daniel menjadi energi kreatif Rendra yang melawan budaya yang dia anggap sebagai penghalang. Daniel mencontohkan puisi ”Khotbah” yang terdapat di dalam Blues untuk Bonnie (1971).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Menjadi awal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Periode Rendra dan Bengkel Teater di Yogya bagi Daniel, yang juga peneliti dan pemerhati sastra itu, adalah periode produktif Rendra yang menghasilkan karya paling hebat dan indah. Periode Yogya dan periode Jakarta tidak bisa dipisahkan tegas karena—seperti disebutkan anggota Bengkel Teater, Edi Haryono—Bengkel Teater boyong dari Yogya ke belakangan setelah Rendra mulai tinggal di Jakarta sejak 1978.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai penggiat dunia teater, Ikra melihat bipbop menjadi awal lahirnya teater kontemporer Indonesia. Sebelumnya, teater modern masuk ke Indonesia dengan realisme Barat sebagaimana dimainkan Teguh Karya. ”Rendra hadir dengan teater kontemporer yang meramu gerak dan vokal, Dan itu dipentaskan justru saat pernikahan Arief Budiman dan Leila di Jakarta,” kata Ikra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi sastrawan Danarto (69), Rendra adalah sosok seniman yang, selain menghasilkan bentuk-bentuk baru, juga mewakili suara hati masyarakatnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Danarto yang mengenal Rendra sejak 1958 terlibat dalam produksi Oedipus Rex pada tahun 1962 di Yogyakarta sebagai produser dan art director. Penerima Penghargaan Achmad Bakrie 2009 ini menyebut Rendra sebagai pujangga dengan semangat melakukan perubahan sosial.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Danarto ingat bagaimana pembacaan puisi oleh Rendra di Teater Terbuka TIM Jakarta pada 28 April 1978 dilempari amoniak oleh orang tak dikenal. ”Saya ingat Bang Ali waktu itu berteriak, ’Teruskan, teruskan’. Lalu acara diteruskan dan ada satu penonton pingsan karena mencium amoniak,” kata Danarto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu, apakah seorang seniman dapat mengubah kedaan, seperti yang dikhawatirkan pemerintahan Orde Baru sehingga perlu memenjarakannya selama enam bulan pada tahun 1978?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya tidak percaya seniman akan mengubah keadaan, seperti yang terjadi pada revolusi. Peran Mas Willy sebagai seniman adalah memberi visi, arah perjalanan bangsnya,” kata Danarto.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apabila pengaruh Rendra terasa begitu luas dan dalam, Danarto mengatakan, ”Karena nama Rendra sudah tertulis di langit.” &lt;credit&gt;&lt;/credit&gt;(NMP/CAN/IAM)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1346416006940781338?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1346416006940781338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1346416006940781338' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1346416006940781338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1346416006940781338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/mengenang-rendra.html' title='Mengenang Rendra'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1934019109224832605</id><published>2009-08-09T13:26:00.000+07:00</published><updated>2009-08-09T13:27:46.060+07:00</updated><title type='text'>Inspirasi dari Rendra</title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/09/03272417/inspirasi.dari.rendra#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/08/09/3448488p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div style="text-align: left; font-weight: bold;" class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5"&gt;KOMPAS/DANU KUSWORO&lt;/div&gt;                     &lt;div style="font-weight: bold;" class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;Pentas puisi Rendra di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, tahun 2005.&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div style="font-weight: bold;" class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;                            &lt;div class="font36 c_black"&gt;Inspirasi dari Rendra&lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Minggu, 9 Agustus 2009 | 03:27 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Di balik pesona sebagai ”Burung Merak”, almarhum WS Rendra adalah pekerja seni budaya yang teguh memperjuangkan cita-cita. Melintasi berbagai tekanan ekonomi dan politik, Bengkel Teater-nya menancapkan tonggak penting teater modern serta melahirkan sejumlah seniman kuat di Tanah Air.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Bersumpahlah.... Jangan bikin grup teater.... Hasilnya apa? Jangan nulis&lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Regular" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="601" gray="100" h="9036m" it="0" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt; sastra.... Gajinya tak seberapa. Tidak ada kesempatan beridealisme di Indonesia,” kata Narti. Demikian catatan Rendra mengutip ancaman istri pertamanya, Sunarti, dalam buku Rendra dan Teater Modern Indonesia&lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Regular" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="601" gray="100" h="9036m" it="0" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt; (editor Edi Haryono, tahun 2000).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ancaman itu dilontarkan Narti ketika Rendra baru pulang studi dari American Academy of Dramatic Arts di New York, Amerika Serikat, tahun 1967. Namun, ternyata larangan itu didobrak, bahkan kemudian Narti ikut hanyut dalam idealisme jalan kesenian.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rendra mendirikan kelompok teater tahun 1967—yang kemudian dikenal sebagai Bengkel Teater Rendra. Kelompok ini berlatih di depan rumahnya di Ketanggungan Wetan, Yogyakarta. Dia sendiri juga berkembang sebagai penyair besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski begitu, peringatan Narti tentang sulitnya beridealisme di negeri ini juga menjadi kenyataan. Dari kenyataan inilah, Bengkel Teater itu tumbuh. Begitu pula lika-liku hidupnya sebagai penyair.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada masa awal, Bengkel Teater menghadapi kesulitan ekonomi. Untuk mementaskan lakon Bip-Bop di Balai Budaya Jakarta tahun 1968, misalnya, mereka merogoh kocek sendiri. Sebagaimana diceritakan Rendra dalam catatan tadi, pertunjukan itu didanai dari uangnya sendiri, uang Chaerul Umam (katanya, dengan menggadaikan sepeda), serta sumbangan uang tiket dari Trisno Soemardjo.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bengkel kemudian berlatih menghidupi diri sendiri dengan menjual tiket pentas, terutama sejak pentas Oedipus Sang Raja (tahun 1969). Setiap pemain dapat honorarium yang cukup untuk hidup.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sitoresmi Prabuningrat (59), istri kedua Rendra, yang aktif di Bengkel tahun 1970-1979, menceritakan seusai pemakaman Rendra di padepokan Bengkel Teater Rendra di Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8), produksi teater mengandalkan penghasilan satu pentas untuk membiayai pentas berikutnya. ”Saat uang habis, kami, anak- anak teater, utang pada warung yang menjadi tetangga teater dengan janji akan dibayar kalau dapat persekot pentas berikut. Mereka memberi utangan karena kami tinggal di situ,” kata Sito.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Masa sulit&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Karena semua anggota belum bekerja dan sehari-hari hanya berlatih teater, Rendra menanggung makan mereka. ”Saya tanya, ’Mau makan apa?’. Rendra bilang, ’Sudah, pokoknya makan di rumah’. Dan saya tahu persis, banyak kawan disuruh Rendra menggadaikan apa saja, termasuk piring makan Mbak Narti,” tutur Amaq Baldjun, anggota Bengkel Teater sewaktu bermarkas di Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masa-masa sulit menerpa ketika Rendra dijebloskan dalam penjara selama beberapa bulan tahun 1978 karena dianggap membahayakan pemerintahan Orde Baru. Kesusahan makin menjadi Bengkel dilarang pentas sejak tahun 1979 hingga 1986. ”Kami mencari makan dengan membuat berbagai kerajinan kulit atau batu akik,” kata Edi Haryono, anggota Bengkel Teater sejak tahun 1974.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kelompok bisa bertahan karena ikatan kekeluargaan kuat, sedangkan Rendra juga punya jiwa sosial tinggi. Kadang, bahkan anak-anak kandungnya harus mengalah. ”Di bengkel, hubungan keluarga erat sekali. Dia saya anggap sebagai kakak sendiri,” kata Udin Mandarin, anggota Bengkel sejak tahun 1973.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sitok Srengenge, penyair dan anggota Bengkel Teater, mengenang bagaimana seorang Rendra &lt;line&gt;&lt;/line&gt;menekankan kebersamaan dan ketahanan dalam segala situasi. Seluruh anggota, misalnya, hanya boleh punya dua celana. Jika lebih, harus diberikan kepada kawan lain. ”Tujuannya, mengajarkan kesederhanaan. Kata Rendra, kegagahan dalam kemiskinan,” kenang Sitok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bengkel Teater pindah ke Depok, Jawa Barat, tahun 1986, ketika mulai menggarap lakon Penembahan Reso. Setelah diundang pentas di Amerika tahun 1988, kemudian pentas keliling Eropa, mereka dapat uang lumayan banyak. Hasilnya dibelikan tanah dan membuat semacam padepokan di Citayam, Depok, tahun 1989.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada masa itu, anggota teater mencapai sekitar 30 orang dan sebagian tinggal di bengkel. Setelah keuangan membaik dan dengan manajemen keuangan lebih profesional, anggota dapat uang transpor dan uang saku untuk keluarga. ”Bagi Rendra, berkesenian adalah jalan hidup dan kami bisa hidup dari karya seni,” kata Edi menambahkan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bengkel Teater terakhir kali pentas dengan lakon Sobrat tahun 2005. Setelah itu, tak ada lagi pentas atas nama kelompok ini karena biaya pentas semakin mahal dan sulit mencari sponsor. Rendra kemudian memilih banyak tampil membaca puisi, mengunjungi kelompok seni di daerah-daerah, dan berceramah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Tonggak&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu, bagaimana nasib Bengkel sepeninggal Rendra yang dipanggil Allah, Kamis malam lalu? ”Tak ada pesan baru menyangkut kelanjutan Bengkel. Bengkel Teater adalah Rendra. Kalau tidak ada Rendra, ya tidak menjadi Bengkel Teater Rendra lagi. Papa tak pernah menyiapkan seseorang untuk melanjutkannya,” kata Clara Sinta, anak kelima Rendra dari istri pertamanya, Sunarti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mungkin memang sulit meneruskan kelompok ini. Namun, spirit Rendra dengan Bengkel Teater dan kepenyairannya telah menjadi tonggak sejarah teater dan sastra modern di Indonesia. Rendra telah mendorong seni untuk bergumul dengan konteks sosial dengan mengangkat persoalan-persoalan kehidupan nyata. Secara bentuk, lakon-lakon teater itu menyumbangkan berbagai pendekatan, seperti bentuk mini kata, lalu jadi drama penuh kata-kata, drama tragedi besar, drama syair dan gerak, juga drama pamflet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sosok Rendra bersama Bengkel Teater-nya telah menjadi kawah penggodok beberapa seniman penting di Tanah Air. Beberapa anggota Bengkel yang kemudian tumbuh menjadi seniman mandiri, sebut saja, antara lain, dramawan dan penyair Putu Wijaya, sutradara Chaerul Umam, aktor Amaq Baldjun, Edi Haryono, penyair Sitok Srengenge, dan aktor Adi Kurdi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kehidupan dan kesenian Rendra itu sangat impresif dan inspiratif bagi anggota teater dan para seniman lain, mungkin juga siapa pun yang pernah menjumpainya,” kata Adi Kurdi, anggota Bengkel saat masih di Yogyakarta. &lt;credit&gt;&lt;/credit&gt;(ilham khoiri/ putu fajar arcana/ ninuk mardiana pambudy)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1934019109224832605?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1934019109224832605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1934019109224832605' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1934019109224832605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1934019109224832605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/inspirasi-dari-rendra.html' title='Inspirasi dari Rendra'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3599093301821605087</id><published>2009-08-07T06:49:00.001+07:00</published><updated>2009-08-07T06:49:43.376+07:00</updated><title type='text'>Setelah Pergi, Baru Menyadari Betapa Pentingnya Rendra</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;       &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/08/06/2240305p.jpg" width="298" border="0" /&gt;     &lt;/div&gt;                   &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/06061651/Setelah.Pergi..Baru.Menyadari.Betapa.Pentingnya.Rendra#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;PERSDA/ BIAN HARNANSA&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;WS RENDRA&lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                &lt;!--- video --&gt;             &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/06061651/Setelah.Pergi..Baru.Menyadari.Betapa.Pentingnya.Rendra" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;" target="_blank"&gt;/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div id="boxterkait" style="width: 300px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 20px;"&gt;      &lt;b class="judulnolead"&gt;Artikel Terkait:&lt;/b&gt;      &lt;ul id="navlist"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/05183086/jenazah.rendra.diantar.menuju.bengkel.teater"&gt;Jenazah Rendra Diantar Menuju Bengkel Teater&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/02583525/rendra.tetap.suarakan.nasib.rakyat"&gt;Rendra Tetap Suarakan Nasib Rakyat&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/01283029/ws.rendra.burung.merak.itu.terbang.selamanya....."&gt;WS Rendra, Burung Merak Itu Terbang Selamanya...  &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/0050396/si.burung.merak.dimakamkan.jumat.di.bengkel.teater.ws.rendra"&gt;Si Burung Merak Dimakamkan Jumat di Bengkel Teater WS Rendra&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/00211672/kemarin.iwan.fals.sempat.menghibur.rendra"&gt;Kemarin Iwan Fals Sempat Menghibur Rendra&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;/div&gt;       &lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;                                  &lt;/div&gt;  &lt;div class="tanggal"&gt;Jumat, 7 Agustus 2009 | 06:06 WIB&lt;/div&gt;       &lt;p&gt;Duka datang berendeng menghampiri kita. Setelah pada Selasa (4/8) kemarin penyanyi Mbah Surip pergi, pada Kamis malam (6/8) pukul 20.30 WIB, giliran budayawan dan WS Rendra menyusul menghadap Sang Khalik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti telah saling janjian, kedua seniman yang telah mendahului kita itu menempati "rumah" abadi yang sama hanya selisih dua hari, yakni di pekarangan rumah WS Rendra di daerah Cipayung, Depok, Jawa Barat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Willy Brodus Surendra Broto yang kemudian berganti nama menjadi Wahyu Sulaiman Rendra setelah dirinya muslim, menjalani perawatan jantung sejak setahun lalu. Berkali-kali ia masuk rumah sakit, sebelum akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya di kediaman salah satu putrinya, Clara Shinta, di Perumahan Pesona Kayangan, Depok, Bogor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai pengagumnya, tentu saja saya amat sangat kehilangan dia. Gara-gara salah satu puisinya yang terangkum dalam &lt;em&gt;Potret Pembangunan Dalam Puisi&lt;/em&gt;, saya bersikeras kepada ayah untuk tak lagi repot-repot mengongkosi kuliah saya. Saya pilih berhenti sebagai Sarjana Muda dan memulai "kuliah" di jalanan bersama para seniman, buruh-buruh pabrik di Srondol, dan gelandangan di Simpang Lima, Semarang, di pertengahan tahun 80-an. Puisi itu kurang lebih bercerita tentang pendidikan. Pendidikan kita berkiblat ke Barat. Di Barat, anak-anak dididik untuk menjadi mesin industri, sedangkan kita? Dididik untuk menjadi kuli! Wah..., jiwa muda saya yang membara pun langsung bergetar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama kali melihat ia membacakan puisi-puisinya di Semarang pada tahun 1985. Sungguh menggelorakan jiwa muda saya saat itu. Masih saya kenang hingga kini, bagaimana ia membawakan sajak-sajaknya dan lalu melemparkan ke udara setelah rampung dibaca.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan tangan terkepal meninju udara, ia melangkah membelah panggung, lantas suaranya yang parau itu pun meneriakan judul puisi yang akan dibacakannya:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Sajak Sebatang Lisong&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;menghisap sebatang lisong&lt;br /&gt;melihat Indonesia Raya&lt;br /&gt;mendengar 130 juta rakyat&lt;br /&gt;dan di langit&lt;br /&gt;dua tiga cukung mengangkang&lt;br /&gt;berak di atas kepala mereka&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;matahari terbit&lt;br /&gt;fajar tiba&lt;br /&gt;dan aku melihat delapan juta kanak - kanak&lt;br /&gt;tanpa pendidikan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;aku bertanya&lt;br /&gt;tetapi pertanyaan - pertanyaanku&lt;br /&gt;membentur meja kekuasaan yang macet&lt;br /&gt;dan papantulis - papantulis para pendidik&lt;br /&gt;yang terlepas dari persoalan kehidupan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;delapan juta kanak - kanak&lt;br /&gt;menghadapi satu jalan panjang&lt;br /&gt;tanpa pilihan&lt;br /&gt;tanpa pepohonan&lt;br /&gt;tanpa dangau persinggahan&lt;br /&gt;tanpa ada bayangan ujungnya&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meski ia telah nampak sepuh karena usia telah menginjak limapuluh, toh sihir suara dan ekspresinya sungguh-sungguh telah menjadi racun bagi saya untuk makin dalam bergulat dengan dunia teater dan susastra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya pun mulai melahap puisi-puisi karyanya. Beberapa puisinya bahkan pernah saya hafal di luar kepala. &lt;em&gt;Nyanyian Angsa&lt;/em&gt;, itulah salah satunya. Saya pun terkesan dengan gaya bercerita Rendra yang kuat  dalam kumpulan puisi &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Balada Orang-Orang Tercinta&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; yang ia bukukan di pertengahan tahun 50-an. Bahasanya yang lentur dan keseharian, membuat puisi-puisinya yang getir tetap enak dinikmati.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Balada Terbunuhnya Atmo Karpo&lt;/em&gt; yang berkisah tentang matinya seorang perampok bernama Atmo Karpo di tangan anaknya sendiri, Joko Pandan,  adalah puisi yang amat dramatik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan inilah ujung puisi &lt;strong&gt;Balada Terbunuhnya Atmo Karpo&lt;/strong&gt; yang selalu saya kenang,&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Berberita ringkik kuda muncullahJoko Pandan&lt;br /&gt;segala menyibak bagi derapnya kuda hitam&lt;br /&gt;ridla dada bagi derunya dendam yang tiba&lt;br /&gt;pada langkah pertama keduanya sama baja&lt;br /&gt;pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo&lt;br /&gt;panas luka-luka terbuka daging kelopak-kelopak angsoka&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Malam bagai kodok hutan bopeng oleh luka&lt;br /&gt;pesta bulan, sorak sorai, anggur darah&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang&lt;br /&gt;ia telah membunuh bapaknya&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hmm... saya juga tak bosan-bosannya menikmati romantisme hitam puisi &lt;em&gt;Balada Ibu yang Dibunuh&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ibu musang dilindung pohon tua meliang&lt;br /&gt;bayinya dua ditinggal mati lakinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bulan sabit terkait malam memberita datangnya&lt;br /&gt;waktu makan bayi-bayinya mungil sayang&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lalu, hingga kini.. saban kali kangen pada ibu, saya pun lantas teringat pada puisi &lt;em&gt;&lt;strong&gt;Nyanyian Bunda yang Manis&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kalau putraku datang&lt;br /&gt;ia datang bersama bulan&lt;br /&gt;kena warna jingga dan terang&lt;br /&gt;adalah warna buah di badan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Wahai telor madu dan bulan!&lt;br /&gt;Perut langit dapat sarapan&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;Ia telah berjalan jauh sekali&lt;br /&gt;dan kakiknya tak henti-henti&lt;br /&gt;menapaki di bumi hatiku&lt;br /&gt;Ah, betapa jauh kembara burungku!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Awal tahun 90an, saya bertemu dan berkenalan dengannya. Saya pun memanggilnya Mas Willy, sebagaimana orang-orang menyapanya. Tubuhnya yang selalu wangi, roman mukanya yang ganteng, serta tutur katanya yang terjaga dalam kecerdasan, membuat siapapun akan menyimak hikmat tiap kali ia bicara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rendra bak kamus berjalan. Ia, kendati tak kelar kuliah, adalah pemikir ulung untuk urusan sejarah bangsa ini. Ia jabarkan dengan detil riwayat kekuasaan raja-raja Jawa. Ia pun paham benar mengenai kultur orang darat dan air. Saya masih ingat dengan statemen dia tentang kekuasaan di negeri ini, menurutnya dari dulu hingga kini negeri ini dikuasai oleh preman. "Anda kira siapa itu Gajah Mada? Ken Arok, Soeharto... preman!" kata Rendra dalam sebuah diskusi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Makassar pada tahun 1998, saya kian dekat dengan Rendra. Kami makan malam bersama di sebuah rumah makan dekat Pantai Losari yang menyajikan ikan bakar. Bagai tokoh kuliner, ia pun berkata, "Yang gosong jangan dibuang, itu justru yang enak. Hmmm," Rendra mengupas kulit ikan yang gosong lalu langsung mengudapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah itu, kami kian kerap bertemu. Kadang di rumah Setiawan Djody, atau di acara diskusi, tapi sekali-sekala saya juga menyempatkan diri datang ke kediamannya yang asri di Cipayung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pernah pada sebuah sore di tahun 2003, di halaman sebuah gedung pertemuan di kota Jambi, kami bersitatap sambil bersalaman. Kala itu kami bersepakat, untuk mengaku saya sebagai anaknya dan ia sebagai bapak saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Entah apa sebabnya tiba-tiba kesepakatan itu terjadi. Yang terang saat itu saya terharu kala melihat Rendra bicara tentang kesehatan masyarakat terutama untuk mereka yang terkena penyakit TBC. Bukan materi pembicaraan dia yang membuat saya tertegun, tapi gerak tubuhnya yang telah lamban itulah yang membikin saya ingin melindunginya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya sungguh trenyuh kala itu. Dalam hati saya berucap, inikah orang yang dulu pernah menaklukan beribu-ribu mata dan jiwa penggemarnya ketika dirinya di panggung. Inikah orang yang dulu galak memimpin kawan-kawan demonstran melawan rezim Soeharto? Pertanyaan berjubal-jubal di kepala saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitu selesai bicara di muka forum, saya pun langsung bergegas menghampirinya seraya menuntun tangannya keluar ruangan. Di Belakang kami ada Ken Zuraida, istri Rendra, serta beberapa anak Bengkel Teater, mengiringi kami.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di luar, seorang wartawan mencegat Rendra untuk memberitahu, sebentar nanti ada acara diskusi bersama kawan-kawan seniman Jambi. Lantaran Mba Ida, demikian Ken Zuraida biasa disapa, tak bisa mengikuti acara diskusi, ia pun meminta saya untuk mengiringi Mas Willy, "Tolong dijaga Mas Willy," kata Mba Ida sebelum kami berangkat ke acara diskusi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sejak saat itu, saya pun kerap memanggil Mas Willy dengan sebutan Pak Rendra.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari Jambi kami meneruskan perjalanan ke Medan untuk acara yang sama dengan di kota Jambi. Pak Rendra nampak kelelahan setibanya di Medan. Sebab, karena cuaca buruk, dari Jambi pesawat yang kami tumpangi harus menuju ke Jakarta lebih dahulu, sebelum akhirnya terbang ke Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah road show itu, saya sempat berterus terang kepadanya, mengapakah dirinya tampak begitu letih. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia pun berterus terang bahwa dirinya bukan bapak yang baik bagi anak-anaknya, dan ia sangat ngungun karenanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini Rendra telah pergi. Ia tak cuma meninggalkan catatan-catatan susastra yang diakui komunitas sastra dunia, tapi juga pemikiran-pemikiran brilian tentang bangsa ini. Dialah yang senantiasa mengingatkan para penguasa negeri ini agar selalu berpihak kepada rakyat. Dia pula yang selalu membela orang-orang tertindas untuk bangkit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rendra telah berpulang. Bukan cuma ini kali kita ditinggal pergi oleh orang-orang besar macam Rendra. Sebelum Rendra ada Ali Sadikin, Soekarno, Mbah Surip, dan tokoh-tokoh lainnya. Tapi selalu saja kita tak pernah belajar bagaimana kita menghargai dan memulyakan orang-orang besar itu secara sepatutnya semasa hidupnya. Lihatlah Drs. Sujadi  yang tokoh Pak Raden dalam film si Unyil itu yang telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk dunia anak-anak; ia masih mengontrak rumah padahal usianya telah senja. Pandanglah juga Pak Gesang yang baru diingat justru setelah orang Jepang mengingatnya. Lihatlah juga para atlet yang telah mengharumkan bangsa ini yang sebagian di antaranya hidup terlunta-lunta, dan masih banyak orang-orang besar lainnya yang dilupakan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sesal apa yang harus kita sesali. Rendra telah kembali menghadap Ilahi. Satunya yang sisa adalah harapan akan lahirnya Rendra Rendra baru yang sanggup menggedor ketidakadilan dengan pena dan suara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Begitulah, kita merasa kehilangan Rendra justru ketika dia telah tiada.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jodhi Yudono&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3599093301821605087?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3599093301821605087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3599093301821605087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3599093301821605087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3599093301821605087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/setelah-pergi-baru-menyadari-betapa.html' title='Setelah Pergi, Baru Menyadari Betapa Pentingnya Rendra'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-8319246023862862977</id><published>2009-08-07T06:47:00.001+07:00</published><updated>2009-08-07T06:47:48.182+07:00</updated><title type='text'>Hidup Bukanlah untuk Mengeluh dan Mengaduh</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;       &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/08/07/3443776p.jpg" width="298" border="0" /&gt;     &lt;/div&gt;                   &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/05294724/Hidup.Bukanlah.untuk.Mengeluh.dan.Mengaduh#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;KOMPAS/JULIAN SIHOMBING&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Ekspresi WS Rendra dengan "seribu wajahnya" dalam acara pembacaan sajak-sajak "Penabur Benih" di Teater Terbuka TIM, 25-26 Juli 1992.&lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                &lt;!--- video --&gt;             &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/05294724/Hidup.Bukanlah.untuk.Mengeluh.dan.Mengaduh" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;" target="_blank"&gt;/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;       &lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;                                  &lt;/div&gt;  &lt;div class="tanggal"&gt;Jumat, 7 Agustus 2009 | 05:29 WIB&lt;/div&gt;       &lt;!-- end judul + lead --&gt;                             &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;             &lt;p&gt;&lt;strong&gt;KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - ...Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samodra/serta mencipta dan mengukir dunia/Kita menyandang tugas/kerna tugas adalah tugas/Bukannya demi sorga atau neraka/Tetapi de mi kehormatan seorang manusia//Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu/meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu/Kita dalah kepribadian/dan harga kita adalah kehormatan kita/Tolehlah lagi ke belakang/ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapusnya....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Dalam percakapan lewat telepon, 4 Agustus lalu, Ken Zuraida, istri budayawan WS Rendra, mengabarkan, ”Mas Willy pulang pukul lima hari ini,” dengan nada riang. Saat itu, Rendra sudah hampir sebulan dirawat di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Penyair berjuluk ”Si Burung Merak” itu, ujar Ken, tidak akan pulang langsung ke Bengkel Teater Rendra di Cipayung, tetapi menuju rumah Clara Shinta di Depok. ”Mas Willy masih harus kontrol. Nanti ada perawat yang menemani,” kata Ken.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kami benar-benar tak bisa menangkap isyarat nasib. Kamis (6/8) pukul 22.00, Rendra benar-benar pulang untuk selamanya di RS Mitra Keluarga. Tentu ia pergi dengan kepak sayap burung meraknya yang ”jantan” dan perkasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagaimana puisi yang berjudul ”Sajak Seorang Tua untuk Istrinya” yang ditulis Rendra tahun 1970-an, hidup bukan &lt;line&gt;&lt;/line&gt;untuk mengeluh dan mengaduh dan bukan pula demi surga atau neraka, tetapi demi kehormatan seorang manusia. Meski ia telah tua dan reyot pada usia 74 tahun, ia menyeru harga kita adalah kehormatan kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rendra, bagi kita, bukan sekadar penyair dan dramawan, ia tegar sebagai manusia dan berani menantang zamannya. Dramawan dan novelis Putu Wijaya yang pernah bergabung dengan Bengkel Teater Rendra semasa di Yogyakarta mengatakan, Rendra guru yang memberikan ilmu, sahabat yang bisa diajak becanda, sekaligus musuh yang menjadi sparring partner. ”Murid yang baik adalah murid yang mampu naik ke atas kepala gurunya. Itu selalu kata Mas Willy,” ujar Putu Wijaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Putu adalah mantan murid Rendra yang kemudian mendirikan Teater Mandiri. Tentu ungkapan Rendra tidak bermaksud mengajarkan ketidaksopanan kepada seorang murid, tetapi alangkah indahnya jika prestasi murid jauh melebihi gurunya. Putu dengan Teater Mandiri barangkali telah menjadi prestasi lain dalam prestasi dunia perteateran di Tanah Air.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penyair Sapardi Djoko Damono menuturkan, Rendra adalah ”tukang kata” yang telah menyihir dirinya memasuki dunia sunyi seorang penyair. ”Ia telah meyakinkan saya untuk bisa dihayati penyair tak boleh berlindung di balik bahasa yang ruwet, hanya dengan demikian kata bisa unggul dari bedil,” kata Sapardi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pernyataan itu menjelaskan kepada kita bahwa Rendra sesungguhnya bukan sekadar penyair atau dramawan. Ia memperjuangkan hakikat manusia ”bebas”, yang senantiasa berpikir mandiri, tanpa mau ditekan atau dipengaruhi oleh kekuasaan. Itulah yang bisa menjelaskan mengapa pada tahun 1975 sepulang dari bersekolah di American Academy of Dramatic Art, New York, Amerika Serikat, ia menggelar Perkemahan Kaum Urakan di Parangtritis, Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peristiwa itu selalu dikenang Rendra sebagai gerakan penyadaran kebudayaan. Ia selalu mengatakan, ”Posisi seorang budayawan yang ideal itu tidak berpihak pada apa pun atau siapa pun, akan tetapi pada kebenaran.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka dari situ kita bisa memahami secara lebih utuh mengapa Rendra menulis sajak-sajak yang dicap sebagai sajak pamflet, yang tidak jarang membawanya berurusan dengan penguasa. Bisa pula dimengerti mengapa ia selalu menuliskan dan mementaskan drama-dramanya yang sarat akan kritik terhadap kesewenang-wenangan penguasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu tak seorang lupa akan pementasan drama Panembahan Reso pada pertengahan tahun 1980-an, yang tidak saja berdurasi lebih dari tujuh jam, tetapi juga mengkritik dengan cara menyindir kekuasaan yang absolut pada saat itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini ”Si Burung Merak” boleh pergi, boleh berkubang tanah, tetapi segala hal yang pernah dia kerjakan tidak akan mudah dilumerkan oleh zaman. Rendra tetap ada dalam catatan hari-hari kita menjalani hidup sebagai manusia Indonesia...&lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;(&lt;strong&gt;CAN/THY/IAM&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-8319246023862862977?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/8319246023862862977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=8319246023862862977' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8319246023862862977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8319246023862862977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/hidup-bukanlah-untuk-mengeluh-dan.html' title='Hidup Bukanlah untuk Mengeluh dan Mengaduh'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3911890191592326993</id><published>2009-08-07T06:44:00.000+07:00</published><updated>2009-08-07T06:45:25.760+07:00</updated><title type='text'>Rendra Pergi Jauh Setelah Minta Makan</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;       &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/08/07/0454556p.jpg" width="298" border="0" /&gt;     &lt;/div&gt;                   &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/04552914/Rendra.Pergi.Jauh.Setelah.Minta.Makan#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;PERSDA NETWORK/Bian Harnansa&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;      &lt;div id="boxtitle" style="margin-bottom: 0px; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 11px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Budayawan WS Rendra saat tampil di acara Java Jazz Festival 2008, Jakarta, 9 Maret 2009 lalu. Penyair ternama yang dijuluki 'Burung Merak' ini meninggal dunia, Kamis (6/8) pukul 22.05, dalam usia 74 tahun. &lt;/div&gt;       &lt;/div&gt;                                &lt;!--- video --&gt;             &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://oase.kompas.com/read/xml/2009/08/07/04552914/Rendra.Pergi.Jauh.Setelah.Minta.Makan" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;" target="_blank"&gt;/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;       &lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;                                  &lt;/div&gt;  &lt;div class="tanggal"&gt;Jumat, 7 Agustus 2009 | 04:55 WIB&lt;/div&gt;       &lt;p&gt;&lt;strong&gt;DEPOK, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Pulang ke rumah adalah keinginan Almarhum WS Rendra ketika dirawat terakhir kali di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading beberapa waktu lalu. Keinginan itu terwujud setelah dokter membolehkannya pulang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Diizinkan pulang, Rendra dirawat di kediaman putrinya Clara Sinta atau yang akrab dipanggil Auk di kompleks Pesona Depok Blok AV/5, Depok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di rumah inilah, ajal menjemput pria kelahiran Solo, 7 November 1935 ini. "Meningggalnya ditunggui putrinya ketika minta minum dan makan, tiba-tiba menghilang saja. Tidak ada raungan, kesakitan. Meninggal dengan tenang dan dengan baik. Ini jalan terbaik baginya," tutur rekan seperjuangan Rendra, Eros Djarot di depan rumah duka, Jumat (7/8).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengutip cerita putri Rendra, Auk, Eros mengatakan Rendra sempat menyatakan ingin terus hidup. Namun sayangnya, setelah minta makan bubur, pria yang dijuluki Burung Merak ini 'terbang' untuk selamanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Jadi tidak ada tanda-tanda yang cukup berarti mau pergi. Yang sangat menyenangkan, kepergiannya di sebuah kamar, seperti yang dia inginkan sebelumnya, pulang ke rumah," lanjut Eros.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3911890191592326993?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3911890191592326993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3911890191592326993' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3911890191592326993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3911890191592326993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/08/rendra-pergi-jauh-setelah-minta-makan.html' title='Rendra Pergi Jauh Setelah Minta Makan'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1747004384499973738</id><published>2009-07-31T16:27:00.000+07:00</published><updated>2009-07-31T16:29:21.111+07:00</updated><title type='text'>Malalai Joya, Perempuan Berani Mati Afganistan</title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/31/04213529/malalai.joya.perempuan.berani.mati.afganistan#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/31/0724223p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;Malalai Joya&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;                            &lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Jumat, 31 Juli 2009 | 04:21 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Lima kali menghadapi percobaan pembunuhan tak membuat Malalai Joya menyerah. Perempuan anggota parlemen Afganistan ini terus melawan, bahkan mengabadikan sikap perlawanannya dalam buku Raising My Voice yang tengah dipromosikan di berbagai negara. &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Rakaryan Sukarjaputra&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika mempromosikan bukunya di Inggris, Selasa (28/7), seperti ditulis The Telegraph&lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Regular" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="601" gray="100" h="9036m" it="0" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;, ia mengatakan, ”Kami tak menerima pendudukan asing. Tiga kali Pemerintah Inggris menduduki negeri kami dan menghadapi perlawanan dari rakyat.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terpilih sebagai anggota Wolesi (Loya) Jirga (parlemen nasional Afganistan), September 2005, sebagai wakil Provinsi Farah, Joya mengalami pahitnya masa pendudukan. Ketika Soviet menginvasi negerinya, dia (saat itu berusia 4 tahun) mengungsi keluar negeri pada 1982, dan bergabung dengan sejumlah warga Afganistan di kamp pengungsian di Iran, lalu pindah ke kamp pengungsian di perbatasan Pakistan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menyelesaikan pendidikan di Pakistan, dan mengajar kesusastraan kepada perempuan, saat berusia 19 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika Soviet hengkang, Joya kembali ke negerinya pada 1998, saat Taliban berkuasa. Ia mendirikan klinik kesehatan, lalu perlahan menjadi penentang rezim Taliban.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya tak tahu berapa hari lagi bisa hidup. Saya katakan kepada mereka yang mau membunuh suara saya, ’Saya siap kapan pun, di mana pun kamu menyerang. Kamu bisa memotong bunga, tetapi tak ada yang bisa menghentikan datangnya musim semi’,” tegas Joya kepada kolumnis London Independent, Johann Hari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Tak pernah aman&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama kali menginjakkan kaki di Loya Jirga, Joya mengatakan, hal pertama yang dilihat adalah barisan panjang pelanggar hak asasi manusia yang pernah dikenal di negerinya. Mereka adalah para panglima perang, penjahat perang, dan fasis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia melihat orang yang mengundang Osama bin Laden ke negerinya, orang yang mengenalkan aturan hukum, yang menanamkan kebencian terhadap perempuan. Banyak di antara mereka bisa masuk ke Jirga karena mengintimidasi para pemilih atau mencurangi kertas suara. Banyak juga yang masuk dengan cara mudah, ditunjuk Hamid Karzai, yang kini menjadi Presiden Afganistan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para panglima perang itu tak sanggup menghadapi seorang perempuan muda yang bicara kebenaran. Mereka mencemooh, menyebutnya ”wanita tunasusila” dan ”dungu”, bahkan melemparkan botol kepadanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sejak saat itu saya tak pernah aman. Bagi para fundamentalis, seorang perempuan adalah setengah seorang lelaki. Perempuan artinya memenuhi semua keinginan lelaki, menghasilkan anak-anak, dan tinggal di rumah. Mereka tak percaya perempuan bisa membuka kedok mereka di depan mata rakyat,” ungkapnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berbagai bentuk serangan dihadapi Joya, mulai dari kedatangan segerombolan fundamentalis ke rumah, berteriak hendak memerkosa dan menghabisinya. Ia lalu ditempatkan dalam perlindungan pasukan bersenjata, tetapi menolak berada di bawah perlindungan tentara AS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Gagal dengan upaya itu, usaha pembunuhan terus dilakukan dengan menggunakan penembak gelap. Namun, Sang Pencipta masih melindungi dia. ”Saya ingin para panglima perang itu tahu, saya tak takut.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Keberanian Joya membuahkan dukungan simpati banyak rakyat. Suatu ketika seorang nenek berusia hampir 100 tahun menggunakan kursi roda reyot mendatanginya. Dia bercerita, kehilangan dua anak lelaki, satu pada masa Soviet dan satu lagi oleh kelompok fundamentalis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia mengatakan kepada Joya, ”Ketika mendengar tentang kamu, saya tahu harus menemuimu. Tuhan melindungimu, sayangku.” Nenek itu memberinya cincin emas, satu-satunya barang berharga miliknya, dan mengatakan, ”Kamu harus menerima ini. Saya telah menderita sepanjang hidup. Saya hanya ingin kamu menerima pemberian ini.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Bukan demokrasi&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai salah seorang dari sejumlah kecil orang yang terpilih melalui pemilihan umum, Joya tak ragu menyatakan, demokrasi belum ada di Afganistan. Karena itu, menjelang pemilihan presiden Afganistan, 20 Agustus nanti, dia bersuara keras dan meyakini hasilnya tak akan berbeda.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hamid Karzai yang melindungi sejumlah panglima perang dan kepala suku yang telah menindas rakyat hampir pasti kembali terpilih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pemerintah asing hanya membuang uang dan darah mereka di Afganistan. Setelah pemungutan suara, hasilnya tetap ’keledai’ yang sama, dengan kursi baru,” tegasnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak sulit membayangkan, kertas suara yang dikirim sampai ke pelosok itu hanya akan diisi para penguasa perang dan orang-orangnya. Mereka tentu memilih orang yang ”bisa melindungi” mereka, dan Karzai telah menunjukkannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di wilayah yang jauh dari rasa aman, perjuangan untuk sekadar memberikan suara tak sebanding dengan nyawa yang dipertaruhkan. Meski terdaftar 17 juta pemilih, rakyat yang benar-benar bisa memberikan suara secara aman dan jujur sangat kecil jumlahnya. Sisanya adalah suara fiktif untuk keuntungan calon tertentu. Ini bukanlah demokrasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia menegaskan, semua informasi kemajuan di Afganistan setelah tumbangnya Taliban hanyalah mitos. Dalam bukunya, dia mengungkapkan, kebebasan media yang digembar-gemborkan hanya jika media tak mengkritik para panglima perang dan pejabat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Jika kamu menulis sesuatu mengenai dia (panglima perang yang namanya disebut dalam buku Joya), hari berikutnya kamu disiksa atau dibunuh oleh aliansi panglima perang wilayah utara,” tulisnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Soal kebebasan bersekolah bagi perempuan di luar ibu kota Kabul pun sama. ”Hanya 5 persen anak perempuan, menurut PBB, bisa meneruskan pendidikan hingga tingkat 12 (lulus SMA),” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Demokrasi Afganistan, kata Joya, terperangkap di antara dua musuh, yakni pasukan pendudukan yang menjatuhkan bom renteng dari udara dan di darat ada pasukan panglima perang dan Taliban dengan senjata mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjuangan Joya masih panjang. Ia terus berjuang untuk demokrasi Afganistan di luar parlemen, sejak dihukum tak boleh hadir di parlemen mulai Mei 2007.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Joya juga terus memperjuangkan kehidupan kaum perempuan di negerinya melalui Organization of Promoting &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Afghan Women’s Capabilities (OPAWC) di wilayah Provinsi Herat dan Farah, di barat Afganistan. &lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;(malalaijoya.com)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Biodata&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Nama: Malalai Joya &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Lahir: 25 April 1978 &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Keluarga: Memiliki 3 saudara laki-laki dan 6 saudara perempuan &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Pekerjaan: &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Anggota parlemen mewakili Provinsi Farah pada September 2005, tetapi dikenai sanksi tak boleh menghadiri persidangan selama 3 tahun sejak Mei 2007. Ia dinilai menghina anggota parlemen lainnya &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Direktur Organization of Promoting Afghan Women’s Capabilities &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Pencapaian: &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Ia disejajarkan dengan tokoh demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1747004384499973738?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1747004384499973738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1747004384499973738' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1747004384499973738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1747004384499973738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/malalai-joya-perempuan-berani-mati.html' title='Malalai Joya, Perempuan Berani Mati Afganistan'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-4390002381816044846</id><published>2009-07-31T16:18:00.000+07:00</published><updated>2009-07-31T16:21:26.687+07:00</updated><title type='text'>Maharani Gayatri Devi Mengantar Sang Maharani Terakhir</title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/31/03291752/mengantar.sang.maharani.terakhir#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/31/3433587p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5" align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Jumat, 31 Juli 2009 | 03:29 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Maharani Gayatri Devi (90) telah menutup perjalanan hidupnya sebagai ratu yang glamor dan penuh warna. Kepergiannya menjadi akhir dari era aristokrat India.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sebuah penghormatan kematiannya, Amit Roy, seorang komentator veteran, mengatakan, ”Wafatnya Maharani Gayatri Devi meniadakan ratu sejati terakhir India.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlahir dari keluarga bangsawan, Devi tumbuh di istana di Jaipur dengan 500 pelayan. Dalam otobiografinya yang populer, A Princess Remembers, Devi menuturkan masa kecil yang dikelilingi 100 mahout (pawang gajah), 20 tukang kebun, 20 tukang kuda, seorang pelatih tenis, serta pelayan dan juru masak yang banyak jumlahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Devi sangat dekat dengan keluarga kerajaan Inggris. Oleh kalangan internasional, dia dikenal sebagai ratu jet set yang mengobrol dengan Ratu Elizabeth dari Inggris pada permainan polo, berdansa di kelab malam, dan mengatur kehidupan di Istana Jaipur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah India merdeka dari Inggris tahun 1947, Devi meniti karier sebagai politisi yang sukses. Dia tiga kali terpilih sebagai anggota parlemen. Dia juga pernah dipenjara selama lima bulan tahun 1975 atas tuduhan penggelapan pajak yang tidak terbukti menyusul perseteruan dengan perdana menteri waktu itu, Indira Gandhi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;The Times of India&lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Regular" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="601" gray="100" h="9036m" it="0" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt; menggambarkan Devi sebagai ”bocah berusia empat tahun yang tinggal di London dan sering berbelanja sendiri di Harrods”. Pada usia 21 tahun, dia telah punya pesawat jet pribadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mail Today&lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Regular" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="601" gray="100" h="9036m" it="0" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt; mengenang Devi yang makan kaviar saat di penjara dan mengendarai Jaguar putih. Perkawinannya dengan Maharaja Jaipur tercatat dalam Guinness Book of World Records sebagai yang paling mahal sepanjang masa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Devi mewakili sejumlah tradisi kebangsawanan, yaitu maharani cantik yang berkuasa, kaum jet set dunia, teman dekat keluarga Kerajaan Inggris, dan politisi kuat. Demikian digambarkan Hindustan Times.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada usia 14 tahun, Devi jatuh cinta kepada Maharaja Jaipur dan menikah sebagai istri ketiga. Kehidupannya menjadi lebih mewah kendati harus memenuhi sejumlah larangan bagi kaum perempuan bangsawan India, termasuk periode purdah atau dipingit.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari situ, dia berjuang agar perempuan diberi lebih banyak kebebasan. Tahun 1943, Devi membuka Sekolah Perempuan Gayatri Devi, yang hingga kini masih menjadi salah satu sekolah terbaik di India.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah wafatnya sang suami tahun 1970, Devi kian aktif dalam kehidupan sosial. Waktunya terbagi antara musim panas di London dan musim dingin di India hingga jatuh sakit beberapa pekan lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jenazah Devi disemayamkan di City Palace di Jaipur, Kamis (30/7), dan akan dikremasi. &lt;credit&gt;&lt;/credit&gt;(afp/fro)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-4390002381816044846?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/4390002381816044846/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=4390002381816044846' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4390002381816044846'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/4390002381816044846'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/maharani-gayatri-devi-mengantar-sang.html' title='Maharani Gayatri Devi Mengantar Sang Maharani Terakhir'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-2258747129627066220</id><published>2009-07-13T08:22:00.000+07:00</published><updated>2009-07-13T08:23:36.620+07:00</updated><title type='text'>La Toya: Michael Jackson "Dibunuh"</title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/13/04241758/la.toya.michael.jackson.dibunuh#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/13/3409721p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5" align="right"&gt;AP PHOTO&lt;/div&gt;                     &lt;div class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;La Toya Jackson&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;                            &lt;div class="font36 c_black"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;                  &lt;p&gt;Senin, 13 Juli 2009 | 04:24 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;London, Minggu&lt;bell&gt;&lt;/bell&gt; - La Toya Jackson (53), saudari mendiang Raja Musik Pop, Michael Jackson, menuding bahwa saudaranya dibunuh oleh sekumpulan pengikut yang tamak. La Toya mengungkapkan soal kematian adiknya dan masa-masa sesudahnya kepada surat kabar Inggris, &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;The Mail, dan mingguan &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;News of the World, Minggu (12/7).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya yakin Michael dibunuh. Saya merasakannya sejak awal,” ujar La Toya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tak hanya satu orang yang terlibat, tetapi lebih pada persekongkolan orang-orang. Dia dikelilingi lingkaran (orang-orang) jahat,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Michael, lanjut La Toya, adalah orang yang lembut hati, pendiam, dan amat penyayang sehingga orang-orang mengambil keuntungan darinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kurang dari satu bulan yang lalu saya mengatakan bahwa Michael akan meninggal sebelum pertunjukannya di London karena dia dikelilingi orang-orang yang tidak memiliki ketertarikan yang sama di hati mereka,” tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;La Toya mengatakan, dialah yang meminta dilakukan otopsi privat terhadap jenazah Jackson. Otopsi pertama oleh kantor koroner Los Angeles belum bisa mengungkap penyebab kematian Raja Musik Pop itu pada 25 Juni lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Michael berharga lebih dari satu miliar dollar AS. Saat seseorang berharga sebanyak itu, selalu ada orang tamak di sekelilingnya,” kata La Toya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya bilang kepada keluarga saya bulan lalu, ´Dia (Michael) tidak akan pernah sampai di London´. Dia lebih berharga saat mati daripada hidup,” lanjutnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Bayang-bayang&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;La Toya menuduh sebuah kelompok ”bayang-bayang” yang memutus saudaranya itu dari keluarga dan teman-temannya dan memaksa dia untuk menggelar 50 konser kembalinya sang bintang bertajuk ”This Is It” di O2 Arena di London. Konser itu sedianya dimulai pada 13 Juli ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mereka melihat Jackson seperti ”sapi perah”, kata La Toya, dan membuat dia bergantung pada obat-obatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya tidak akan berhenti sampai saya menemukan siapa yang bertanggung jawab. Mengapa mereka menjauhkan keluarganya? Ini bukan soal uang. Saya ingin keadilan bagi Michael. Saya tidak akan istirahat sampai saya tahu apa dan siapa yang membunuh saudara saya,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Soal saat-saat sekitar kematian Jackson, La Toya menuturkan, Jackson ditemukan di ruang tidur dokter pribadinya, Conrad Murray. ”Michael berjalan dari kamarnya ke kamar dokter Murray. Apa yang terjadi di sana, kita tidak tahu,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia tengah mengendarai mobil saat ibunya, Katherine, berteriak di telepon, ”Dia meninggal!”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya hampir mengalami kecelakaan. Kaki saya lemas. Mereka membawa saya ke tempat di mana Michael dibawa. Ibu menangis, anak-anak Michael menangis,” ujarnye mengenang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia juga mengaku bahwa sejumlah perhiasan hilang dari rumah Michael. Tidak ada uang tunai ditemukan meskipun biasanya Michael secara teratur menyimpan sekitar 1 juta dollar AS di rumah itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengenai pemakaman Jackson, La Toya mengatakan, saudaranya pasti tidak akan dimakamkan di Neverland, lahan peternakan luas milik sang bintang di utara Los Angeles.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia menambahkan, otak Jackson, yang diambil dari tubuhnya untuk otopsi dan uji racun, telah dikembalikan ke jenazah Jackson. Keluarga Jackson pernah menyatakan bahwa Raja Musik Pop itu tidak akan dimakamkan tanpa otaknya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;La Toya mengenang salah satu impian Jackson yang ingin berhenti dari dunia musik dan ingin menjadi sutradara film. ”Film pertama yang akan disutradarainya adalah sebuah film horor berjudul &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;Thriller,” tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Thriller adalah juga salah satu judul album Jackson.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”´This Is It´ benar-benar sebuah akhir. Dia tidak ingin pentas lagi,” kata La Toya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, keluarga Jackson tengah menunggu surat wasiat terbaru Jackson, yang diperbarui setiap lima tahun, pada tahun 2007. Surat wasiat yang diungkapkan dibuat tahun 2002. &lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;(AFP/FRO)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-2258747129627066220?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/2258747129627066220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=2258747129627066220' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2258747129627066220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2258747129627066220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/la-toya-michael-jackson-dibunuh.html' title='La Toya: Michael Jackson &quot;Dibunuh&quot;'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1252950817775654240</id><published>2009-07-13T07:41:00.000+07:00</published><updated>2009-07-13T07:42:41.059+07:00</updated><title type='text'>PROFIL Rebiya, Ibu Pejuang Uighur</title><content type='html'>&lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/13/03411690/rebiya.ibu.pejuang..uighur#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/13/3409720p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div style="text-align: left;" class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;AP PHOTO&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                     &lt;div style="font-weight: bold;" class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;Rebiya Kadeer&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;         &lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;         &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Tokoh Uighur di pengasingan sering dituduh sebagai motor penggerak kerusuhan di dalam negeri China, tidak terkecuali Rebiya Khadeer. Pemerintah China menuduh Rebiya sebagai dalang di balik kerusuhan di Urumqi, ibu kota Provinsi Xinjiang, pekan lalu, bahkan ketika Rebiya berjarak ribuan kilometer dari Urumqi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rebiya lahir 21 Januari 1947. Dia merupakan aktivis politik dan perempuan pebisnis tangguh dari Provinsi Xinjiang. Dia ditangkap Pemerintah China pada 1999. Rebiya juga dikenal sebagai pegiat hak asasi manusia dan sering disebut ”pemimpin” rakyat Uighur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah China menangkapnya dengan tuduhan membocorkan rahasia negara kepada pihak asing. Dia bertemu dengan anggota Kongres AS. Pemerintah China pun berang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selain itu, dia juga mengirimkan kliping surat kabar kepada suaminya, Sidik Rouzi, yang tinggal di AS dan terus aktif memprotes tindakan pemerintah pusat terhadap masyarakat Uighur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atas kesalahan itu, Rebiya dijatuhi hukuman delapan tahun penjara pada Maret 2000. Pada awal 2004 Pemerintah China mengurangi hukumannya satu tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemerintah AS dan kelompok hak asasi manusia di segala penjuru dunia menekan Pemerintah China untuk membebaskannya. Dia dilepaskan pada 14 Maret 2005. Rebiya lalu pergi ke Virginia Utara untuk bergabung dengan keluarganya yang sudah terlebih dahulu tinggal di sana. Dua anak lelakinya masih tetap ditahan di penjara, di China.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjuangan Rebiya tidak terlepas dari sejarah hubungan Xinjiang dengan pemerintah pusat. Sejak akhir 1980-an, kebijakan pemerintah dan faktor lain membuat kesenjangan etnis di Uighur yang memiliki status daerah otonomi. Dalam beberapa tahun, ribuan orang menjadi korban kekerasan hak asasi manusia, perlakuan tidak adil, dan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rebiya lahir dalam keluarga miskin, tetapi dapat menapaki kariernya dan sukses sebagai pengusaha. Usahanya dimulai dari jasa binatu dan terus berkembang menggurita hingga akhirnya dia memiliki perusahaan dagang dan toko serba ada yang sangat besar di Xinjiang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Banyak korban tewas&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai pengusaha sukses, Rebiya juga melaksanakan berbagai pelayanan sosial melalui yayasannya. Kegiatan yayasan itu membantu perempuan &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Uighur memulai bisnis sendiri, seperti yang telah dia lakukan. Sebenarnya, aktivitas sosial Rebiya ini juga mendapat penghargaan dari Pemerintah China. Dia ditunjuk sebagai anggota Kongres Konsultatif Politik dan anggota delegasi China pada Konferensi Perempuan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1995.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada awalnya, sepak terjang ibu dari 11 anak (dari dua perkawinan) ini bertujuan mengubah keadaan masyarakat &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Uighur dengan bekerja pada sistem yang telah digariskan pemerintah pusat. Dia berupaya membujuk para petinggi China, termasuk presiden, untuk mengubah pendekatan mereka yang keras terhadap rakyat &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Uighur.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, pemerintah pusat kemudian menganggap Rebiya terlalu banyak mengkritik dan merupakan ancaman. Sebaliknya, rakyat Uighur menganggapnya sebagai ibu yang selalu memperjuangkan nasib mereka agar berubah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Washington, AS, Jumat (10/1), Rebiya prihatin. ”Menurut informasi tak resmi, korban tewas mencapai 3.000 orang. Aparat bertindak berlebihan. Korban tewas bukan saja di Urumqi, tetapi juga di seantero Xinjiang,” katanya. &lt;bell&gt;&lt;/bell&gt;(AP/AFP/JOE)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;textmetadata&gt;&lt;/textmetadata&gt;&lt;textlinkedpage number="9"&gt;&lt;/textlinkedpage&gt;&lt;/p&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;/div&gt;         &lt;!-- end isi berita --&gt;                                        &lt;!-- komentar --&gt;                           &lt;!--s:rating and share --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1252950817775654240?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1252950817775654240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1252950817775654240' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1252950817775654240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1252950817775654240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/profil-rebiya-ibu-pejuang-uighur.html' title='PROFIL Rebiya, Ibu Pejuang Uighur'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-8191290753756328303</id><published>2009-07-12T20:41:00.001+07:00</published><updated>2009-07-12T20:44:08.306+07:00</updated><title type='text'>Persona  "Passion" Meuthia Ganie-Rochman</title><content type='html'>persona&lt;br /&gt;"Passion" Meuthia Ganie-Rochman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu, 12 Juli 2009 | 03:42 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maria Hartiningsih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang baik saja tak cukup untuk membawa perbaikan berarti bagi pemajuan bermasyarakat dan bernegara kalau sistem untuk menghentikan tawar-menawar politik tidak terbangun dengan baik melalui serangkaian norma, aturan, dan hukum yang diterapkan secara ketat. Begitu diyakini Dr Meuthia Ganie-Rochman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ahli sosiologi organisasi dari Universitas Indonesia ini, sistem di lembaga legislatif saat ini membuat pemerintahan dari presiden terpilih mana pun harus benar-benar kuat dan punya political cunning, yaitu cerdik secara politik untuk menghentikan tawar-menawar politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Untuk melakukan perubahan, dibutuhkan dukungan dari kekuatan di dalam masyarakat,” ujar Meuthia yang ditemui di Jakarta, pekan lalu. ”Karena itu, arenanya harus dibuka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arena itu, misalnya, perbaikan pelayanan publik yang langsung menyentuh persoalan paling riil dalam masyarakat, seperti pembuatan kartu tanda penduduk dan pelayanan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau birokrasi di arena itu dibenahi, dukungan akan datang. ”Itu akan sangat mengurangi tekanan politik di belakang layar,” lanjut Meuthia, yang ditemui pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif lain adalah pembaruan kelembagaan dan membuka komunikasi dengan berbagai kelompok masyarakat. Ini penting untuk membangkitkan pertukaran argumen secara bertanggung jawab menuju pada konsensus pemikiran terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Artinya, ada semangat di masyarakat untuk terlibat memikirkan secara bersama suatu sistem yang lebih baik,” lanjut Meuthia. ”Komunikasi dibuka untuk menyerap ide politik terbaik, sekaligus dukungan yang lebih luas sehingga arena gelap yang belum terlihat akan tertangani, bisa jauh berkurang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meuthia menilai, pemerintahan kemarin belum mampu mengambil strategi itu dan tidak tahu cara membuka dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Meski di atas baik, tetapi tak bisa melakukan perubahan sistem sampai ke bawah dan kadang dia dijegal, perubahan tak akan terjadi. Padahal, perubahan itu sangat penting untuk menghadapi para politisi, yang tak terlihat akan lebih terkontrol dan lebih akuntabel dalam membuat kebijakan publik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang lima tahun kemarin, Meuthia mengamati, kebijakan yang diproduksi Dewan Perwakilan Rakyat, kalau tidak merugikan, tak jelas arahnya untuk perbaikan kesejahteraan. Argumentasinya tidak bermutu dan perangkat penunjang komunikasi dengan rakyat sangat lemah. Banyak peraturan dihasilkan tanpa melalui pembahasan yang terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi tentang ”rakyat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan yang sangat teliti menyikapi diksi itu menelisik pemaknaan kata ”rakyat” oleh para capres melalui artikelnya dalam suasana pemilu putaran kedua tahun 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari program-program yang ditawarkan, Meuthia membaca persepsi para capres tentang ”rakyat” sebatas pihak yang harus dipenuhi kebutuhannya. Rakyat sebagai subyek dalam kerangka yang ditawarkan, menghilang di keriuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat tidak digambarkan sebagai sesuatu yang potensial ikut melakukan perbaikan melalui jaringan sosialnya, gagasan moralnya, atau organisasinya. Persoalan rakyat seolah bukan persoalan peradaban dan keadaban terkait dengan kemampuan suatu bangsa untuk ikut dalam kehidupan global dan kemampuan bersosial membangun kemaslahatan bersama (Kompas, 2 september 2004)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sampai sekarang persepsinya masih sama, malah makin kacau,” ujar Meuthia, yang juga kritis mengamati bagaimana kata ”rakyat” menjadi seperti mantra dalam kampanye pemilihan para calon anggota legislatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program bantuan langsung tunai (BLT) tidak membuat keadaan rakyat lebih baik. Tak ada nilai tambah untuk peningkatan kapasitas sosial dari suatu bantuan program sosial. Bantuan semacam itu juga cenderung mendorong orang melakukan manipulasi agar mendapat BLT. Persoalannya bukan hanya soal membantu orang miskin, tetapi juga bagaimana menciptakan lapangan kerja lebih luas supaya mereka bisa bekerja dan bagaimana kapasitas ekonomi rakyat diperkuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang memang tercapai konsensus atas kebijakan tertentu yang tak bisa ditolak, seperti alokasi dana pemerintah untuk pendidikan dasar sembilan tahun. Kebijakan itu sebenarnya jauh dari kebutuhan suatu bangsa untuk melakukan perbaikan. Yang dibutuhkan adalah bagaimana sistem pendidikan diarahkan untuk memecahkan masalah-masalah kita sekarang; kapasitas manusia macam apa yang mau dihasilkan, apakah lewat pendidikan formal atau apa, yang jelas bukan sekadar alokasi dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang miskin menghadapi ketidakpastian yang tinggi akan nasib mereka. Mereka adalah sasaran premanisme dan organized crime. Mengurangi kemiskinan tak cukup dengan BLT dan pendidikan dasar sembilan tahun. Harus dilakukan perubahan dasar-dasar institusional organisasi masyarakat kita dan itu terkait dengan kebijakan ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain-lain. Belum ada kebijakan yang semendalam itu karena pemerintah terlalu diganggu oleh permainan politik di arena-arena itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kemajuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meuthia yang melakukan penelitian selama bertahun-tahun mengenai kondisi organisasi masyarakat sipil di berbagai wilayah di Indonesia menyimpulkan, masyarakat sipil yang sehat harus terdiri dari organisasi-organisasi (formal dan informal) yang berfungsi mengolah tantangan dan persoalan dalam masyarakat sehingga dapat menghasilkan gagasan tentang solusi, norma, dan nilai baru. Selain itu, juga menjadi jembatan atas konflik dan tensions dalam masyarakat dan menjadi jembatan yang efektif sebagai komunikator langsung untuk disalurkan dalam saluran pengambilan kebijakan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Arah masyarakat sipil, bagaimanapun bisa dipengaruhi lembaga negara atau kekuatan lain dalam masyarakat, seperti parpol dan kelompok bisnis,” ujar Meuthia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Institusi negara seharusnya memperkuat masyarakat sipil, misalnya dengan membuat kebijakan yang mengurangi ketimpangan, memperkuat perekonomian rakyat, dan mengembangkan teknologi tepat guna. Dengan itu, masyarakat sipil dapat memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan inovasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara harus memberikan keamanan dalam arti luas terhadap berbagai kelompok sehingga energi dan sumber daya kelompok masyarakat tak harus dihabiskan untuk mempertahankan keamanan, menjaga identitas, dan lain-lain. Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) harus lebih transformatif dan mendukung organisasi masyarakat, misalnya dalam gerakan bersama melawan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kemajuan masyarakat sipil kita terkait pemilu kemarin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum ada kemajuan, dalam arti bertanggung jawab sebagai warga negara yang ikut memikirkan berbagai hal di luar diri kita. Warga negara yang bertanggung jawab tak sekadar lahir dari gagasan menjadi orang baik. Banyak orang dengan niat baik tak bisa menerjemahkan gagasan itu sehingga akhirnya menjadi pragmatis lagi. Ini terjadi di semua level.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir dan ini passion saya, orang harus menyadari kelemahan dalam organisasi-organisasi masyarakat kita, termasuk bisnis dan birokrasi pemerintah, dan mulai memperbaikinya, dengan mengembangkan pengetahuan baru dan inovatif sesuai keberagaman masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gagasan, pengaturan sumber daya, niat baik, solidaritas, dan trust harus ada normanya dalam kehidupan sehari- hari. Norma itu menjadi landasan aturan main yang dibuat bersama. Dengan cara itu, sedikit demi sedikit bisa terjadi peningkatan, misalnya dalam pengelolaan solidaritas sosial. Trust tak bisa dibentuk dari angan-angan, tetapi harus dibangun dari aturan main yang ditetapkan bersama dan harus terus diuji untuk menjaga kekonsistenan karena kita ini manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kalau tak ada aturan main untuk saling menghormati dan membantu orang lain agar kinerjanya dalam kehidupan sosial menjadi lebih baik, niat menjadi orang baik hanya berhenti pada angan-angan. Organisasi sosial yang punya berpengaruh besar dalam masyarakat sangat bertanggung jawab dalam pembaruan masyarakat sipil. Sayangnya, pola komunikasi dan pengambilan keputusan organisasi- organisasi tua itu masih terikat pada pola-pola lama sehingga tidak responsif terhadap persoalan-persoalan kontemporer dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Jejaring Kesalingterkaitan&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan-pilihan dalam hidup senantiasa berakar pada pengalaman panjang. Pun pada Meuthia Ganie-Rochman. Dia tumbuh dalam keluarga yang mengajarinya melihat bagaimana struktur sosial membangun pembedaan dan perbedaan di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalau sejak dini, anak dibimbing untuk peka pada kehidupan di sekitarnya, melalui buku, film, dan kegiatan apa pun, dia akan belajar tentang kesalingterkaitannya dengan orang lain, juga lingkungan, dan berbagai dimensi kehidupan sehingga dia peduli dan tak mudah menghakimi orang lain,” ujar anak kedua dari lima bersaudara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil, Meuthia menyadari bahwa setiap orang memiliki sisi baik dan buruk. ”Kita hidup dengan itu. Dari yang buruk, manusia mengenali kebaikan. Tugas kita adalah mengembangkan sisi baik sehingga menghasilkan yang terbaik dalam hidup untuk diri kita dan orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman mengantarkan Meuthia pada keyakinan akan jaring kehidupan, yang mengharuskan setiap orang maupun kelompok saling peduli agar fungsi-fungsi positif berkembang. Kebaikan bersama tak mungkin tercapai dalam kotak-kotak perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maka, pendidikan sejak kecil idealnya berada dalam kerangka meletakkan diri berkaitan dengan fungsi kebaikan orang lain supaya peduli kalau orang lain mempunyai fungsi positif yang harus dibantu,” tutur Meuthia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan kesalingterkaitan akan berimbas pada pengembangan ilmu pengetahuan yang terfokus pada keterhubungan antara satu komponen dan komponen lain dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah filosofi yang melandasi passion dalam dirinya untuk menyebarkan gagasan tentang organisasi yang baik dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita harus terdorong untuk tak hanya memikirkan organisasi sendiri, tetapi dalam kaitannya dengan organisasi lain supaya terjadi pemanfaatan yang lebih baik dan sumber-sumber daya material dan pun modal sosial,” kata Meuthia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi sekarang justru sebaliknya. ”Ego yang begitu besar membuat orang maupun organisasi berebut sumber daya dan berkompetisi secara tidak sehat,” lanjut Meuthia. ”Dengan situasi seperti itu, perbaikan masyarakat adalah ilusi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meuthia meyakini, kesadaran akan kesalingterkaitan akan mengantarkan pada penghormatan kepada manusia lain dan kesadaran akan suatu proses pencapaian; bukan hasil akhir, tetapi cara mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Semua itu bukan hanya dalam pemikiran, tetapi juga terumuskan cara-caranya dengan baik dalam norma, aturan, dan hukum agar energi kita tidak terserap pada penonjolan keberhasilan material yang sering kali tidak dicapai dengan cara yang baik.” (MH)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-8191290753756328303?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/8191290753756328303/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=8191290753756328303' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8191290753756328303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8191290753756328303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/persona-passion-meuthia-ganie-rochman.html' title='Persona  &quot;Passion&quot; Meuthia Ganie-Rochman'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-6826081262828306705</id><published>2009-07-10T06:46:00.000+07:00</published><updated>2009-07-10T06:47:35.482+07:00</updated><title type='text'>Roger "The Greatest" Federer</title><content type='html'>&lt;span id="article_body"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Oleh &lt;strong&gt;Anton Sanjoyo&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="article_body"&gt;&lt;p&gt;Roger Federer adalah sederet rekor. Dalam namanya yang biasa disingkat RF, ada 15 gelar grand slam&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;, 77 games&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt; laga final, rating&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt; televisi tertinggi, dan sejumlah catatan menakjubkan lain. Pete Sampras, legenda tenis Amerika Serikat yang rekor perolehan grand slam&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;-nya dipatahkan Federer di All England Club hari Minggu lalu, tak ragu berujar, ”Ia (Federer) adalah yang terbesar sepanjang sejarah tenis.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perdebatan tentang siapa the greatest dalam sejarah tenis praktis berhenti di All England Club saat Federer mengangkat trofi Wimbledon-nya yang keenam. Sebelumnya, perdebatan tentang siapa yang terbesar selalu menyeruak, terutama membandingkan pemain-pemain beda generasi: Rod Laver, Bill Tilden, Sampras, atau Federer. Namun jelas, gelar ke-14 di Roland Garros dan ke-15 di Wimbledon menghentikan semuanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, Federer menjadi yang terbesar bukan sekadar karena sederet gelar, bukan pula karena catatan dan rekornya. Federer yang sejak tiga tahun lalu sudah disebut sebagai the legend in the making ini menjadi yang terbesar karena tak pernah sedetik pun kehilangan hasrat dan passion untuk menjadi yang terbaik. Ia juga menjadi sejarah karena punya rivalitas indah dengan Rafael Nadal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun lalu, selepas dipermalukan Nadal di Roland Garros, banyak orang menduga karier hebat Federer akan selesai. Lagi pula, apa lagi yang harus dikejar? Dengan total prize money mencapai hampir 50 juta dollar AS, usia menjelang 28 tahun, dan menantikan kelahiran anak pertamanya musim panas ini, apa lagi yang ingin diraih Federer? Bahkan, Federer pun tak mampu menjawabnya. Petenis yang menguasai enam bahasa Eropa itu hanya berujar, ”Saat terbangun saya tersadar, saya melakukannya lagi (menjadi juara),” ujar Federer yang tertidur selama dua jam setelah laga 4 jam 16 menit yang melelahkan melawan Andy Roddick.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Faktor Rafael Nadal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Federer memang menorehkan sejarah di Wimbledon 2009 dengan mematahkan rekor Sampras. Namun, semuanya bermula di Madrid Masters, medio April lalu. Di turnamen pemanasan menjelang Perancis Terbuka itu, Federer mengalahkan ”Raja Tanah Liat” Nadal di laga puncak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menjadi juara seri Masters adalah hal biasa bagi Federer, tetapi mengalahkan Nadal di lapangan clay menjelang Roland Garros adalah luar biasa. Selepas itu, Federer melenggang menjadi juara dan mengakhiri semua mimpi buruknya tentang Perancis Terbuka. Sepanjang kariernya, Perancis terbuka memang menjadi beban hidupnya. Namun, beban itu tak seberat rivalitasnya dengan Nadal. Federer takluk di tangan Nadal dalam tiga final grand slam terakhir yang mempertemukan keduanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nadal ada dan menjadi ”hantu” dalam pikiran Federer, bukan sekadar lawan di seberang jaring. Vic Baden, seorang pelatih tenis yang juga psikolog, punya penemuan menarik tentang ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengamati rekaman pertandingan Federer, layar demi layar, Baden menemukan bahwa melawan pemain lain, mata Federer terbuka lebar, sangat fokus dengan gerakan bibir mengarah ke depan. Namun, melawan Nadal—dan hanya melawan Nadal—mata Federer redup, dan segala hal di wajah Federer tampak kelu. Bukan hanya saat laga, bahasa tubuh Federer terlihat gamang bahkan saat pemanasan. ”Nadal tidak hanya berada di kepala Federer, bahkan di wajahnya,” papar Baden.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di final Madrid, seluruh bahasa tubuh Federer berubah drastis. Ia lantas mengakhiri 18 bulan tanpa menang lawan Nadal, sekaligus menyudahi 33 kemenangan beruntun petenis Spanyol itu di lapangan tanah liat. Federer membuka lebar pintunya untuk mencatat sejarah menjadi yang terbesar. Persaingannya dengan Nadal-lah yang merevitalisasi spirit dan passion Federer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nadal memang tak tampil di Wimbledon 2009. Cedera lutut memaksa sang juara bertahan mundur sebelum kejuaraan. Namun, tentu itu tak mengurangi nilai sejarah yang dicatat Federer yang tahun lalu meneteskan air matanya setelah kalah melawan Nadal dalam final lima set.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tempat sama, lapangan utama All England Club tahun lalu, Federer mengalami kondisi yang nyaris serupa. Tahun lalu, ia selamat dari match point di set keempat, tetapi terpeleset 7-9 di tie game set penentuan melawan Nadal. Tahun ini, Federer selamat dari set point Roddick di tie break set kedua, untuk kemudian menang 16-14 di tie game set kelima.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saat posisi 13-13 di set penentuan, saya hanya berpikir positif, saya hanya beberapa menit menjelang kemenangan. Saya percaya mampu melakukannya,” ujar Federer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepercayaan diri juga yang terlihat saat Federer tertinggal 2-6 di tie break set kedua. Sebagian orang mengira titik balik Federer adalah saat Roddick melakukan kesalahan fatal dengan backhand volley-nya saat unggul 6-5.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, jauh sebelum itu, saat Roddick masih unggul 6-2 dan tinggal satu poin untuk unggul dua set, Federer menunjukkan kelasnya sebagai yang terbesar. Roddick melepas pukulan forehand dahsyat. Bola meluncur deras tepat di depan kaki Federer di sisi backhand. Dengan instingnya yang luar biasa, Federer melakukan half volley, menyilangkan bola ke wilayah tak bertuan di sisi permainan Roddick. Selepas itu, Federer merebut lima poin beruntun untuk merebut set kedua.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Nemesis Nadal memang tak tampil. Namun, Roddick memberikan perlawanan terbaik sepanjang hidupnya. Itulah mengapa Federer tetap menjadi yang terbesar sepanjang sejarah tenis karena ia tetap akan merebut grand slam-nya yang ke-16, 17, bahkan yang ke-18.&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-6826081262828306705?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/6826081262828306705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=6826081262828306705' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6826081262828306705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6826081262828306705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/roger-greatest-federer.html' title='Roger &quot;The Greatest&quot; Federer'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-741990466147233642</id><published>2009-07-10T06:43:00.001+07:00</published><updated>2009-07-10T06:46:29.280+07:00</updated><title type='text'>MENGENANG RAJA MUSIK POP Michael Jackson, "Daddy" yang Terbaik...</title><content type='html'>&lt;a href="http://kita.kompas.com/" target="_blank"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; &lt;!-- ===================================================  DAERAH  =========================================================== --&gt;     &lt;!-- ===================================================  BODYLINE  =========================================================== --&gt; &lt;div class="ml_50 mr_50 pl_20 pr_20 "&gt;  &lt;!-- kolom kiri --&gt; &lt;div class="left w650"&gt;    &lt;!-- headline--&gt;         &lt;div class="w650"&gt;          &lt;div&gt;                          &lt;div class="w600 ml_10 pt_15 pb_15 pl_20 pr_20 bg_artikel_top"&gt;                                      &lt;div class="fix"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/09/04452544/michael.jackson.daddy.yang.terbaik...#"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/07/09/3403467p.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;                                         &lt;div style="text-align: left;" class="bg_color2 font10 c_grey pt_5 pb_5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;GETTY IMAGES/KEVORK DJANSEZIAN&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                     &lt;div class="font10 bg_color2 mt_2 pd_5"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Paris Katherine Jackson, putri Michael Jackson, berbicara tentang ayahnya pada acara penghormatan terakhir di Staples Cent e r, Los Angel e s, California, Selasa (7/7). Ia dikelilingi oleh keluarga besar Jackson, Marlon, Tito, Jermaine, Randy, Rebbie, dan Janet.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                 &lt;/div&gt;          &lt;/div&gt;                   &lt;!-- judul + lead --&gt;          &lt;div class="pl_24 pr_0 pb_15"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;           &lt;!-- end judul + lead --&gt;                  &lt;/div&gt;           &lt;!-- end headline --&gt;                       &lt;!-- isi berita --&gt;         &lt;div class="font14n pl_25 pr_24" style="line-height: 18px;"&gt;         &lt;p&gt;Kamis, 9 Juli 2009 | 04:45 WIB&lt;/p&gt;             &lt;span id="article_body"&gt;             &lt;p&gt;Suasana hening penuh haru menyelimuti Staples Center, Los Angeles, California, Amerika Serikat, ketika putri mendiang Michael Jackson, Paris Katherine Jackson (11), mengucapkan salam perpisahan kepada ayah tercintanya, Selasa (7/7) pagi. ”Saya hanya mau bilang...,” kata Paris dengan suara lirih berusaha menahan tangis. Di sampingnya berdiri tantenya, Janet Jackson. ”Ayo sayang, bicara saja,” kata Janet sambil mengusap pelan rambut panjang Paris.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paris kemudian memegang tengkuknya dan mikrofon. ”Sejak saya lahir, &lt;text bd="0" co="K" f="602" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" modedata="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;Daddy adalah ayah yang terbaik yang tidak pernah bisa kalian bayangkan. Saya hanya ingin bilang, saya mencintainya... amat sangat,” kata Paris yang segera menghambur ke pelukan Janet dan menangis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seketika itu dunia tersentak. Jackson bukan hanya Raja Musik Pop atau ”Wacko Jacko”, julukan negatif yang kerap diberikan media tabloid. Terlepas dari segala anggapan negatif dan persoalan yang melingkupi Jackson, seperti tuduhan pelecehan seksual terhadap anak, ia tetap seorang ”&lt;text bd="0" co="K" f="602" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" modedata="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;daddy”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paris yang mengenakan rok hitam semula diam menunduk mendengarkan paman-pamannya, Jermaine dan Marlon Jackson, mengucapkan salam perpisahan. Tiba-tiba Paris mengutarakan keinginannya untuk ikut bicara kepada Janet. Untuk pertama kalinya, Paris dan dua putra Jackson—Michael Joseph Jr atau kerap dipanggil Prince Michael (12) dan Prince Michael II atau Blanket (7)—muncul di hadapan publik tanpa selubung.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk melindungi ketiga anaknya dari sorotan media dan kejaran paparazi, Jackson kerap menutup wajah anak-anaknya dengan kain atau topeng. Jackson tidak mau anak-anaknya menjadi konsumsi media seperti yang ia alami sejak masih berusia lima tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini selubung Prince Michael, Paris, dan Blanket terbuka di hadapan ribuan orang di Staples Center dan masyarakat dunia. Karena duduk di deretan kursi paling depan, ketiga anak Jackson itu disorot terus-menerus oleh kamera. Prince Michael sibuk dengan permen karet di mulutnya dan Blanket memeluk erat boneka Michael Jackson. Ketiga anak itu duduk diapit kakek-neneknya, Joe dan Katherine Jackson, tepat di depan peti jenazah emas 14 karat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pakar media di Syracuse University, Robert Thompson, menilai Paris sudah ”terbebas” dari segala selubung yang harus dikenakan. ”Bagi banyak orang, ini menggembirakan. Namun, ketika ia mulai bicara, kita semua diingatkan bahwa ia telah kehilangan ayahnya,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Tetap tegar&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Paris beberapa kali mengusap air matanya sepanjang prosesi mengenang ayahnya yang berlangsung sekitar dua jam. Namun, Paris sontak berdiri dan bertepuk tangan ketika pejuang hak-hak sipil Al Sharpton menyampaikan pesan kepada ketiga anak Jackson. ”Tidak ada yang aneh dari ayahmu. Yang aneh justru lingkungan yang dihadapi ayahmu. Namun, ia tetap menghadapinya,” kata Sharpton dengan suara tinggi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kepada stasiun TV CNN, Sharpton menjelaskan lingkungan ia maksud adalah ketidakadilan sosial yang harus dihadapi Jackson, seperti melawan ketidakadilan ras dan hambatan sosial lain di industri musik. ”Penting menjelaskan konteks masalah yang dihadapi Jackson kepada ketiga anaknya dan apa yang ia lakukan. Suatu hari nanti tiga anak itu akan ingat pemakaman ayahnya ini. Saya ingin mereka memahami konteks situasi yang dihadapi Jackson,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sharpton juga menegaskan pentingnya proses perjalanan Jackson hingga sukses di dunia musik, bukan hanya menyoroti persoalan yang melingkupinya. ”Setiap kali didorong hingga jatuh, ia bangkit lagi. Michael tak pernah putus asa,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sharpton juga mengingatkan jasa-jasa Jackson menyingkap ”tirai warna” melalui pesan-pesan cinta kasih dan perdamaian dalam lagu-lagunya. ”Michael berhasil menyatukan kulit hitam dan putih serta Asia dan Latin,” kata Sharpton.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Acara mengenang Jackson telah berakhir meski lokasi makam Jackson belum diketahui. Namun, Prince Michael, Paris, dan Blanket harus menghadapi persoalan baru, yakni ”pertarungan” hak asuh antara Katherine Jackson dan Debbie Rowe yang menginginkan Prince Michael dan Paris kembali ke pangkuannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rowe mengaku masalah hak asuh kedua anaknya ini belum selesai. Rowe yang menikah dengan Jackson (1996-1999) adalah ibu biologis Prince Michael dan Paris. Sementara ibu kandung Blanket sampai sekarang belum diketahui identitasnya.(REUTERS/AFP/AP/LUK)&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-741990466147233642?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/741990466147233642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=741990466147233642' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/741990466147233642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/741990466147233642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/getty-imageskevork-djansezian-paris.html' title='MENGENANG RAJA MUSIK POP Michael Jackson, &quot;Daddy&quot; yang Terbaik...'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-6412289640628298604</id><published>2009-07-07T05:55:00.000+07:00</published><updated>2009-07-07T05:56:34.502+07:00</updated><title type='text'>Paris Tak Ingin Serius dengan Ronaldo</title><content type='html'>&lt;span class="judul"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="reporter"&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;             &lt;div class="illustrasi"&gt;   &lt;img src="http://www.detiksport.com/images/content/2009/07/07/424/parishilton-reuters.jpg" border="0" hspace="0" vspace="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;color:#000000;"&gt;&lt;small&gt;Paris Hilton (Reuters)&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;!--rgpa @ related foto video--&gt;     &lt;!-- end rgpa @ related foto video--&gt;   &lt;!--  &lt;br/&gt;--&gt;  &lt;strong&gt;New York&lt;/strong&gt; -  &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:worddocument&gt; &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt; &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt; &lt;w:punctuationkerning&gt; &lt;w:validateagainstschemas&gt; &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt; &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt; &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt; &lt;w:compatibility&gt; &lt;w:breakwrappedtables&gt; &lt;w:snaptogridincell&gt; &lt;w:wraptextwithpunct&gt; &lt;w:useasianbreakrules&gt; &lt;w:dontgrowautofit&gt; &lt;/w:Compatibility&gt; &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt; &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt; &lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-parent:"";  margin:0cm;  margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:12.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1  {size:612.0pt 792.0pt;  margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt;  mso-header-margin:36.0pt;  mso-footer-margin:36.0pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;  font-family:"Times New Roman";  mso-ansi-language:#0400;  mso-fareast-language:#0400;  mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Hubungan antara Cristiano Ronaldo-Paris Hilton ternyata tak akan berumur lama. Paris sudah berjanji bahwa hubungan dengan Ronaldo tidak akan pernah ke jenjang yang lebih serius. Ada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Paris Hilton, selama ini dekat dengan kehidupan yang penuh glamor. Pria-pria rupawan dan tajir, pernah menjalin hubungan khusus dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Tak terkecuali Ronaldo. Pemain Real Madrid bernomor punggung sembilan ini sudah pasti masuk dalam kategori Paris. Kedua insan berstatus selebritis ini sempat&lt;a href="http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2009/06/12/134707/1146808/424/cr7-menghabiskan-malam-dengan-paris-hilton"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt; berkencan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; pada bulan lalu. Keduanya sempat digosipkan memiliki&lt;a href="http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2009/06/16/141906/1148752/424/paris-memang-ingin-pacari-ronaldo"&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt; hubungan khusus. &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Namun bila ditanya soal apakah hubungan itu akan berlanjut menjadi sesuatu yang serius, Paris menepisnya. "Orang kebanyakan mengatakan kami adalah pasangan Posh dan Becks jilid dua. Namun bahwa kami adalah Posh-Becks jilid dua, itu tak benar," kata Paris merujuk pada pasangan Victoria dan David Beckham. &lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;"Saya tidak ingin berkencan dengan Ronaldo karena saya tidak punya rencana untuk menjadi pasangan pesepakbola," ujar pesohor yang dikenal &lt;em&gt;doyan party &lt;/em&gt;itu, kepada &lt;em&gt;People.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Selebritis berusia 28 tahun ini menyatakan alasan di balik keenggananya menjadi bagian dari WAG's. "Beberapa wanita akan menjadi terkenal bila menjadi pasangan pesepakbola. Saya tidak ingin mendompleng ketenaran seperti mereka," tutupnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Jadi selama ini status kalian apa &lt;em&gt;dong&lt;/em&gt;? TTM (Teman Tapi Mesra) atau &lt;span&gt; &lt;/span&gt;HTS (Hubungan Tanpa Status), atau … ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;b&gt;  ( nar / a2s ) &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-6412289640628298604?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/6412289640628298604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=6412289640628298604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6412289640628298604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6412289640628298604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/paris-tak-ingin-serius-dengan-ronaldo.html' title='Paris Tak Ingin Serius dengan Ronaldo'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-5907832334368657612</id><published>2009-07-06T16:51:00.001+07:00</published><updated>2009-07-06T16:51:58.653+07:00</updated><title type='text'>IRAK  Kisah Saddam di Akhir Hidupnya</title><content type='html'>Senin, 6 Juli 2009 | 03:31 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah invasi di Irak pada 19 Maret 2003, Saddam Hussein bertahan di Baghdad hingga dia melihat ibu kota Irak itu segera jatuh. Beberapa bulan kemudian dia kepergok bersembunyi di sebuah ladang yang sama, tempat pelariannya tahun 1959, setelah turut ambil bagian dalam upaya pembunuhan terhadap PM Irak Abdul-Karim Qassim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara Biro Investigasi Federal AS (FBI) berlangsung saat dia berada dalam tahanan tentara AS. Dari sini muncul cerita Saddam dalam pelarian, sebelum dan setelah dijungkalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokumen itu juga mengkonfirmasikan laporan sebelumnya bahwa Saddam sengaja membuat dunia percaya bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, salah satu faktor pendorong invasi AS. Kepemilikan senjata pemusnah massal itu sengaja dia tiupkan untuk membuat Iran yakin Irak memiliki senjata kuat. Saat itu Irak beranggapan Iran lebih berbahaya ketimbang AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam ditangkap tentara AS pada 13 Desember 2003, delapan bulan setelah invasi. Pengadilan Irak menuduhnya berbuat kejahatan terhadap kemanusiaan dan dihukum gantung pada akhir 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam mengatakan, dia tidak pernah berada di sekitar Baghdad saat bom berdentuman di Baghdad. Saat itu tentara AS yakin Saddam ada di sekitar Baghdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam terakhir kali tampil di depan publik di Azamiyah pada 9 April, sehari sebelum patung perunggu bergambarkan dirinya dijungkalkan di pusat kota Baghdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam mengatakan sempat kembali ke Baghdad sekitar 10 atau 11 Aril 2003 ketika kota itu hendak jatuh. Saat itu dia bertemu dengan para pemimpin Irak dan mengatakan, ”Kita berjuang secara tersembunyi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak lama kemudian Saddam meninggalkan Baghdad. Dia mengurangi tenaga pengamanan pribadi untuk mengelabui tentara AS yang memburunya. Kepada penjaganya, dia mengatakan mereka telah menunaikan tugas dengan bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua terungkap dalam dokumen lebih dari 100 halaman ditulis George Piro, seorang agen FBI. Piro mewawancarai Saddam setelah Saddam ditemukan dalam sebuah lubang di sebuah lahan pertanian di Tikrit, kota asalnya, yang berjarak sekitar 80 km di utara Baghdad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara itu tersedia untuk publik pada Rabu, 1 Juli, lalu oleh National Security Archive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam membantah kepercayaan luas bahwa dia menggunakan orang yang mirip dengannya untuk menghindari penyergapan. ”Ini tipuan film, bukan kisah nyata,” kata Saddam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam mengatakan, dia menghindari musuh dengan menggunakan telepon hanya dua kali dalam satu dekade. Saddam terus berpindah-pindah tempat. Dia berkomunikasi dengan kerabat melalui kurir atau bertemu secara pribadi. ”Dia sangat sadar kecanggihan teknologi AS,” demikian salah satu kutipan tulisan Piro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangkaian wawancara antara Februari dan Juni 2004, Saddam membantah bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal. Hal itu sengaja ditiupkan sebelumnya untuk membuat Iran ketakutan. Iran berperang dengan Irak pada periode 1980-1988.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Saddam menolak kunjungan tim PBB untuk memeriksa keberadaan senjata tersebut selama 1998-2002. Tim pemeriksa kembali berkunjung ke Irak pada November 2003 dan tetap menyimpulkan bahwa Irak tidak kooperatif. ”Demi Tuhan, jika saya punya senjata itu, saya sudah pasti menggunakannya untuk melawan AS,” kata Saddam kepada Piro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan Presiden AS, George W Bush, memutuskan untuk menginvasi Irak dengan alasan bahwa Saddam punya senjata pemusnah massal. Bush juga yakin senjata pemusnah massal itu bisa disebarkan kepada para teroris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ini terbukti salah total, tetapi tak pernah dipertanggungjawabkan oleh Bush, ataupun Tony Blair, PM Inggris yang berkolaborasi dengan AS saat invasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bertemu Bin Laden&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bush juga yakin Saddam merupakan orang yang dekat dengan Osama bin Laden, pemimpin Al Qaeda. Ini juga memperkukuh niat Bush menginvasi Irak. Ini pun terbukti tak benar. Saddam mengatakan sama sekali tak pernah bertemu dengan Bin Laden secara pribadi. Saddam juga mengatakan Irak sama sekali tak pernah bekerja sama dengan kelompok teroris mana pun untuk melawan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dari The National Security Archive ini diperoleh berdasarkan Freedom of Information Act yang dimintakan The New York Daily News.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam juga mengatakan bahwa Bush telah memanipulasi serangan 11 September 2001 sebagai alasan kuat untuk menginvasi Irak. Saddam mengatakan, AS telah kehilangan nalar karena 9/11, julukan terkenal bagi serangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piro telah pernah bertutur soal wawancaranya dengan televisi CBS dalam program “60 Minutes” tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepadanya Saddam mengatakan, dia salah perhitungan dengan Bush, yang dia kira tak akan menginvasi Irak, paling-paling hanya melakukan serangan terbatas. ”Saddam mengatakan seharusnya Irak bisa bertahan dalam serangan AS kedua dengan anggapan serangan AS tidak segencar yang diduga,” kata Piro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam mengira, Iran-lah yang lebih berbahaya ketimbang AS, berdasarkan wawancara pada 11 Juni 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam juga bertutur soal keadaan menjelang invasi AS tahun 1991, yang didorong oleh invasi Irak ke Kuwait, negara sahabat AS. Hal ini membuat AS kukuh untuk menginvasi Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam mengutip peringatan Menlu AS saat itu, James A Baker III, kepada Menlu Irak Tariq Aziz pada Januari 1991. Kalimat Baker, ”Jika Irak tak memenuhi permintaan AS, kami akan membuat Anda kembali ke situasi negara terbelakang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saddam mengaku pihaknyalah yang memerintahkan peluncuran rudal Scud ke Israel saat invasi AS tahun 1991. Alasan Saddam, Israel-lah yang memengaruhi AS untuk semua prahara di dunia Arab. (AP/MON)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-5907832334368657612?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/5907832334368657612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=5907832334368657612' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5907832334368657612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5907832334368657612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/07/irak-kisah-saddam-di-akhir-hidupnya.html' title='IRAK  Kisah Saddam di Akhir Hidupnya'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-5669166953921790248</id><published>2009-06-29T13:43:00.000+07:00</published><updated>2009-06-29T13:44:12.155+07:00</updated><title type='text'>Pangeran Alwaleed bin Talal</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sukses Tanpa Menggantungkan Kekayaan Orangtua&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;Pantas sekiranya bila Majalah Forbes menyebutkan Pangeran Alwaleed bin Talal adalah orang terkaya nomor 13 di dunia dan urutan pertama untuk level Arab .Dengan total kekayaan bersihnya mencapai  23 miliar dolar (Rp 215,4 triliun) sampai 2007, dia  merupakan pemilik saham terbesar Citigroups dan 95% saham Kingdom di Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas kertas, imperium Alwaleed terdiri atas 42 investasi di 10 sektor dari Apple Computers dan Citigroup sampai ke Four Seasons dan News Corporation. Dalam praktiknya, jangkauan investasinya jauh lebih besar dan sebagian besar  tak terlihat dunia luar.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski baru saja mengalami kerugian 2,5 miliar dolar AS akibat krisis perkreditan di AS, kerajaan bisnisnya tak bergoyang. Nama sang miliarder dari Arab Saudi tersebut malah semakin melambung.  Bahkan ia menjadi  orang pertama yang memiliki pesawat super mewah A380 Super Jumbo. Baru-baru ini Alwaleed menyuntikkan dana baru ke bank terbesar AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, pangeran kaya Arab tersebut juga punya tujuan lain. Yakni  meningkatkan kepemilikan sahamnya yang saat ini kurang dari empat persen agar bisa menjadi lima persen. Strateginya berhasil mulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saham Citigroup yang sebelumnya anjlok hingga 23% akhirnya bisa naik 21% menjadi 6,61 dolar pada transaksi pra pembukaan. Bagi Alwaleed, yang  telah memiliki saham Citi sejak awal 1990-an dan ikut merancang program penyelamatan bank, langkahnya itu merupakan salah satu bagian dalam mempertahankan prosi kepemilikan di bawah lima persen untuk menghindari penyelidikan regulator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bemula dari modal pinjaman  30 ribu dolar AS dari sang ayah, Pangeran yang dijuluki Istana Terbang itu kini menjadi salah satu investor terbesar dunia. Bagaimana bisa si putra Arab tersebut  menanjak ke posisi tinggi sedemikian cepat? Banyak yang menduga bahwa  pria langsing itu punya fungsi sebagai ujung tombak investasi buat para pangeran Saudi lainnya yang kurang suka publisitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula yang menyebarkan gosip tentang kontrak membangun pangkalan militer rahasia di Arab Saudi atau bahkan komisi-komisi melimpah dari pengapalan minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak Pernah Miskin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari latar belakang keluarganya,  Alwaleed memang  tidak pernah miskin. Lahir di Riyadh pada 7 Maret 1955, ayahnya, Pangeran Talal, adalah putra Abdulaziz. Ibunya, Mona El-Solh, adalah putri perdana menteri pertama Lebanon modern, Riad El-Sohl. Saat pangeran itu lahir, Riyadh masih merupakan kota gurun yang terlarang buat orang asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski berlimpah harta,  Alwaleed bertekad ingin menunaikan misi untuk sukses di bisnis secara mandiri. Ia  tak ingin bergantung seperti saudara-saudaranya yang lebih suka menghabiskan jatah dari istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya lebih indah memiliki sesuatu yang didapat dari jerih payah sendiri.&lt;br /&gt;Sejak usia 16 tahun, Alwaleed memang telah memimpikan untuk memiliki  sebuah pesawat, sebuah perahu, dan menghasilkan uang. Ia pun bertekad bulat untuk mewujudkan semua itu tanpa sedikit pun menggunakan uang istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah bagi Alwaleed adalah modal utama untuk meraih kesuksesan. Tahun 1976 ia mendarat di San Francisco untuk memulai kuliah Administrasi Bisnis. Studi tersebut ia tempuh dengan baik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di usia 24 tahun, Alwaleed meraih gelar Bachelor of Science bidang Administrasi Bisnis di Menlo College, dengan spesialisasi Manajemen.&lt;br /&gt;Kemudian, gelar MA bidang Ilmu Sosial di Syracuse University, Negara Bagian New York, pada 1985. Sementara keahlian finansial ia peroleh melalui pekerjaan, bukan dari buku kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah seluruh pendidikan terselesaikan, akhir 1979 Alwaleed pulang ke Riyadh. Sebuah keadaan menguntungkan saat itu untuk memulai bisnis. Harga minyak mencapai rekor dan pemerintah memompa miliaran dolar uang ke sektor konstruksi, dari jalan tol dan gedung-gedung kementerian baru hingga skadron-skadron pesawat tempur teranyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alwaleed memulai karier bisnisnya dengan mempialangi transaksi perusahaan asing yang ingin berbisnis di Arab Saudi. Ini berkembang ke transaksi-transaksi tanah pada 1980-an, di samping investasi di perbankan Saudi, yang terbukti undervalue pada masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1982, dua tahun setelah mendirikan perusahaan bernama Kingdom Establishment di sebuah kantor mungil di Riyadh, Alwaleed menggolkan transaksi pertamanya: proyek 8 juta dolar AS untuk membangun klub bujangan di sebuah akademi militer dekat Riyadh. Ia mewakili kontraktor kecil dari Korea Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ, bisnis Alwaleed tumbuh pesat dan menjadi lebih canggih. Tidak sekadar bertindak sebagai agen, ia meningkatkan keuntungannya dengan mendirikan perusahaan sendiri, dan membentuk usaha patungan dengan orang asing.  (Sasi/Pusdok SM-59)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-5669166953921790248?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/5669166953921790248/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=5669166953921790248' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5669166953921790248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5669166953921790248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/pangeran-alwaleed-bin-talal.html' title='Pangeran Alwaleed bin Talal'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1892833556979670428</id><published>2009-06-21T17:12:00.000+07:00</published><updated>2009-06-21T17:13:32.243+07:00</updated><title type='text'>Meretas Batas (Anis Baswedan)</title><content type='html'>Toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman merupakan pengalaman sepanjang hidup Anies Baswedan. Pengalaman masa kecil telah melepaskan dia dari kotak-kotak yang diciptakan untuk menekankan perbedaan yang satu dari yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anies tak hanya dilahirkan dari kalangan terpelajar, tetapi juga menemukan keteduhan dan ”lahan subur” untuk menyemai bibit toleransi dan keberagaman melalui berbagai kegiatan orangtua dan kakeknya. Itulah yang kemudian mengendap di ruang batinnya dan menyatu sebagai prinsip dan sikap hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya merasa sangat dirahmati oleh suasana di mana saya tumbuh dan berkembang,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Drs Rasyid Baswedan dan Prof Dr Aliyah Rasyid MPd yang dibesarkan di Kota Yogyakarta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anies kecil sangat dekat dengan kakeknya, Abdurrahman Baswedan, lebih dikenal sebagai AR Baswedan, pendiri Partai Arab Indonesia pada tahun 1930-an, dan menteri penerangan pada zaman revolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Almarhum kakek saya sangat dekat dengan Ahmad Wahib almarhum,” ungkap Anies mengenai Wahib, aktivis dan pemikir Islam pada akhir tahun 1960-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantarnya pada buku Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib (1981), intelektual Muslim, Djohan Effendi, menulis, AR Baswedan adalah satu dari dua orang yang disebut sering dikunjungi Wahib. Bahkan, Wahib boleh dibilang anak muda kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sahabat dekat kakeknya adalah biarawan dan budayawan Katolik (alm) Romo Mangunwijaya. ”Teman diskusinya sehari-hari adalah (alm) Romo Dick Hartoko,” kenang Anies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kakeknya meninggal di Jakarta, menurut Anies, pada pengajian hari ketiga, Romo Mangun khusus datang dari Yogya untuk hadir di acara pengajian dan berbicara di situ. ”Orang yang datang waktu itu bertanya-tanya, tetapi kami malah heran kenapa dipertanyakan,” Anies melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemui harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kakek dan orangtuanya mengajarkan nilai-nilai keagamaan yang kuat, yang dalam keseharian mewujud sebagai persahabatan, penghargaan pada perbedaan, toleransi kejujuran, dan ketulusan. Menjumpai Anies sekarang terasa seperti menjumpai harapan akan masa depan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecilnya terkesan menyenangkan. Ayah-ibunya adalah ”arsitek” yang membentuk Anies menjadi pembaca buku. Sejak kecil ia sudah menjadi anggota perpustakaan Kedaulatan Rakyat, koran tertua di kota gudeg itu. ”Seminggu sekali naik sepeda ke kantor KR, diantar ayah dan ibu, pinjam buku,” ia mengenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biografi menjadi buku favoritnya. ”Karena bercerita tentang kehidupan seorang tokoh sejak kecil. Jadinya nyambung dengan saya yang masih kecil. Cita-cita saya juga berubah-ubah, sesuai buku yang sedang dibaca. Misalnya, saya ingin jadi insinyur setelah baca biografinya Thomas Alva Edison.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman menetap setahun di Milwaukee, Wisconsin, AS, dalam Program Pertukaran Pelajar AFS saat duduk di bangku SMA membukakan perspektif yang lebih luas. Di situ ia tinggal dengan keluarga Katolik Jerman yang taat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ketika kita hidup berdampingan, sebenarnya kita memiliki perasaan damai yang lebih. Suasana yang terbangun adalah kesalingpengertian yang dalam.” (MH)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anies Rasyid Baswedan PhD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tempat/Tanggal Lahir: Cirebon, 7 Mei 1969&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Status: Menikah dengan Fery Farhati, SPsi, MSc, dengan empat anak, Mutiara Annisa (12), Mikail Azizi (9), Kaisar Hakam (4), dan Ismail Hakim (2 bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pendidikan:PhD, Departemen Ilmu Politik Northern Illinois University, AS (2005), Master of Public Management, International Security and Economic Policy University of Maryland School of Public Policy, College Park, AS (lulus tahun 1998), Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (lulus tahun 1995), Kajian Asia, Sophia University, Tokyo, Jepang (non-degree, 1993).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Beasiswa dan penghargaan:Gerald Maryanov Fellow, Northern Illinois University (2004-2005), Indonesian Cultural Foundation Scholarship (1999-2003), William P Cole III Fellowship, Universitas Maryland (1998), Fulbright Scholarship (1997-1998), ASEAN Students Assistance Awards Program (1998), JAL Scholarship (1993), AFS Intercultural Program, SMA di Milwaukee, Wisconsin, AS (1987).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pengalaman kerja, antara lain:Rektor Universitas Paramadina, Jakarta (sejak Mei 2007), Direktur Riset The Indonesian Institute Center for Public Policy and Analysis, Jakarta (sejak November 2005), Kemitraan untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan (Januari 2006-Mei 2007), peneliti pada Pusat Penelitian, Evaluasi, dan Kajian Kebijakan, Northern Illinois University (tahun 2000), Pusat Antar Universitas, UGM (1994-1996).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1892833556979670428?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1892833556979670428/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1892833556979670428' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1892833556979670428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1892833556979670428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/meretas-batas-anis-baswedan.html' title='Meretas Batas (Anis Baswedan)'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-166091348157324364</id><published>2009-06-21T17:11:00.001+07:00</published><updated>2009-06-21T17:11:59.138+07:00</updated><title type='text'>Kesantunan Anies R Baswedan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Maria Hartiningsih&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesantunan dinilai menyebabkan absennya perdebatan dalam acara debat tiga calon presiden di satu stasiun televisi swasta. Namun, menurut Anies Rasyid Baswedan PhD (40), pemandu acara itu, Kamis (18/6) malam, yang menyebabkan absennya debat adalah keterusterangan dalam mengekspresikan ide dan gagasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan tidak terus terang dengan alasan kesantunan,” ujar Anies mengenai debat tiga capres bagian pertama, yang bertema tata kelola pemerintahan itu. Acara bersejarah ini masih akan berlangsung empat kali dengan tema-tema berbeda dan pemandu berbeda-beda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anies menilai, yang tertangkap malam itu dari jawaban para capres sebagian lebih pada to impress (memberi kesan), bukan to express (mengungkapkan pendirian secara terus terang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi intelektual, pemikir, dan Rektor Universitas Paramadina itu, ”Pemimpin harus bicara secara terus terang dan lugas, tetapi santun. Itu gaya komunikasi politik modern.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang diajukan Anies, yang tampil santun dan bersahaja, mencakup beberapa isu peka yang masih terus menjadi persoalan, seperti penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia pada masa lalu karena peristiwa politik, masalah tenaga kerja Indonesia di luar negeri, serta lumpur Lapindo yang menyengsarakan ribuan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pertanyaan saya buat setelah mengadakan diskusi tertutup dengan dosen-dosen Paramadina dan beberapa kolega analis serta tokoh-tokoh muda untuk mendapatkan masukan tema-tema tentang tata kelola pemerintahan dan penegakan hukum yang layak didiskusikan,” tutur Anies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari masukan-masukan itu, Anies memilih 15 tema, kemudian ia mencari data-data dan menyusun pertanyaan secara serius. ”Tugas ini adalah amanat yang mulia,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk acara itu, ia mempersiapkan 15 pertanyaan, meski hanya enam yang kemudian dipakai. Kata Anies, ”Pemilihan pertanyaan baru dilakukan saat acara berlangsung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari 100&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Anies Baswedan tercantum sebagai orang Indonesia pertama di antara 100 public intellectuals dunia pilihan majalah yang berwibawa, Foreign Policy, edisi April 2008. Di antara para tokoh lainnya adalah tokoh perdamaian, Noam Chomsky, para penerima penghargaan Nobel, seperti Shirin Ebadi, Al Gore, Muhammad Yunus, dan Amartya Sen, serta Vaclav Havel, filsuf, negarawan, sastrawan, dan ikon demokrasi dari Ceko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anies ditemui suatu siang pekan lalu di ruang kerjanya di Universitas Paramadina, Jakarta. Ruang kerja seluas empat kali empat meter persegi itu dulu juga menjadi ruang kerja almarhum Nurcholish Madjid, tokoh demokrasi, pemikir, dan intelektual Muslim, serta pendiri dan rektor pertama Universitas Paramadina. Tak ada yang berubah di ruangan itu, kecuali tambahan rak buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diangkat menjadi rektor, Mei tahun 2007, usianya baru 38 tahun, menjadikannya rektor termuda di Indonesia. Ia merintis Program Paramadina Scholarship dengan mengadopsi konsep yang biasa digunakan di universitas-universitas di Amerika Utara dan Eropa, yakni mencantumkan sponsor kuliah ataupun riset sebagai predikat penerima beasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mahasiswa A mendapat beasiswa dari The Jakarta Post, yang memang menjadi salah satu sponsor, di belakang nama mahasiswa dicantumkan nama sponsor, menjadi A, Paramadina, The Jakarta Post Fellow. Predikat itu wajib digunakan dalam berbagai publikasi dan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paramadina mengumpulkan sponsor dari berbagai lembaga dan menyiapkan suatu tim, terdiri dari para dosen, untuk menyeleksi siswa terbaik—tak hanya dari segi intelektualitas—langsung ke berbagai kota. Mahasiswa penerima beasiswa tidak lepas hubungan dengan pemberi beasiswa sehingga tercipta jejaring lintas generasi, lintas strata sosial ekonomi, dan lintas geografi. Lewat program beasiswa ini jejak untuk masa depan dibangun bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Beasiswanya Rp 110 juta per mahasiswa dari luar Jakarta untuk empat tahun kuliah. Kami menyediakan asrama dan membebaskan mereka dari tuition fee,” jelas Anies. Saat ini terjaring 69 mahasiswa dari seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Anda sampai pada gagasan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak mungkin mendapatkan yang saya dapatkan sekarang tanpa beasiswa. Para deputi saya juga bersekolah dengan beasiswa. Sekarang inilah waktu untuk membayar kembali semua yang pernah kita dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan mahasiswa dan perguruan tinggi tak boleh dipandang sebagai hubungan transaksional komersial. Selama universitas memandang dirinya sebagai ”penjual” jasa pendidikan dan memandang mahasiswa sebagai ”pembeli” jasa pendidikan, komersialisasi pendidikan akan terjadi. Pendidikan tinggi di Indonesia harus memandang dirinya sebagai pendorong kemajuan bangsa dan memandang mahasiswa sebagai agent of change, karena anak-anak muda bangsa ini yang akan meneruskan peran kita. Universitas Paramadina memilih mengambil peran menghasilkan agent of change.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengelolaan pendidikan memang mahal. Itu tantangan bagi pimpinan universitas untuk kreatif membuat model-model pendanaan alternatif, baik dari pemerintah maupun swasta. Tantangan seperti ini tidak baru. Di negara-negara kapitalis saja pendidikan tinggi tetap dikelola sebagai pendorong kemajuan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana manajemen pembiayaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Rp 110 juta, kita keluarkan Rp 20 juta per tahun, sisanya di deposito. Di ujung tahun terakhir tersisa Rp 30 juta. Itu masuk endowment fund sehingga setelah 10 tahun, program itu tak perlu sponsor lagi. Mahasiswa penerima beasiswa juga bisa menyumbang. Caranya dengan menyelesaikan kuliah lebih cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menciptakan harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anies terlibat dalam gelombang demokratisasi sejak mahasiswa. Ia menolak otoritarianisme Orde Baru. Meski aktif dalam Himpunan Mahasiswa Islam, temannya berasal dari berbagai kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anies yang pernah menjadi Ketua Senat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada itu memahami Indonesia sebagai negara dengan keberagaman yang tinggi, ”Baik dari suku, etnis, agama, kelompok, maupun geo-sosial-ekologi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anda, bagaimana mengelola keberagaman?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita buat pameran masjid di Jerman bekerja sama dengan Goethe Institute. Kita ingin menyampaikan pesan, untuk mampu berbuat fair, adil, kita harus mampu melihat dari perspektif minoritas. Warga Muslim di Jerman tak akan bisa membangun masjid kalau tak ada penghargaan akan hak-hak beragama, penghargaan pada keberagaman, dan toleransi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mempresentasikan kehidupan warga Muslim sebagai minoritas untuk menyadarkan Muslim mayoritas. Dengan begitu, ketika kita membuat aturan dan kesepakatan, harus digunakan perspektif sebagai mayoritas ataupun minoritas. Agama dan budaya harus dipandang sebagai sumber nilai yang tinggi, tak bisa direduksi dan disederhanakan menjadi hukum teknis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah agama dibawa ke ranah politik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu agama dibawa ke ranah politik, segera terjadi distorsi. Wilayah politik adalah tempat menegosiasikan perundingan, dan karena itu, akan ada banyak kompromi. Itu wajar. Kalau kita mencampuradukkan antara agama dan politik, dalam arti negara dipaksa menjadi representasi agama, ya bagaimana, karena negara berhadapan dengan kesejahteraan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadi jembatan antara nilai agama dan realitas adalah manusia. Maka, manusia harus mampu menerjemahkan gagasan-gagasan dari nilai ke dalam realitas, dan bukan sebaliknya. Kalau seseorang menjalankan hidupnya dengan andap asor, rendah hati, santun, dalam Islam namanya tawadu’, tak harus bilang, ”Saya melakukan ini karena agama saya mengajarkan itu”, tetapi just do it. Dengan demikian, nilai-nilai itu menjadi universal dan dapat diterima oleh semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpolitik dengan etika, dengan nilai, menurut saya, hanya terjadi kalau mampu menerjemahkan nilai-nilai ke dalam bahasa universal yang dapat dinegosiasikan. Sekarang ini agama, etnis, dan apa pun bercampur dalam isu identitas. Politik bukan soal itu, tetapi soal nilai-nilai, yang tak hanya bersumber dari agama, tetapi juga adat dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mulai berpikir melampaui simbol-simbol, logo. Masyarakat Indonesia ke depan harus mampu mengekspresikan itu. Ini yang diperlukan untuk merawat keberagaman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda optimis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap tantangan, selalu ada jalan keluar. Optimisme. Tuhan mengajarkan untuk memandang dunia dengan optimisme. Sejak kecil, ibu dan bapak saya selalu menekankan soal optimisme ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-166091348157324364?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/166091348157324364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=166091348157324364' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/166091348157324364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/166091348157324364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/kesantunan-anies-r-baswedan.html' title='Kesantunan Anies R Baswedan'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3698951865278713794</id><published>2009-06-19T06:06:00.001+07:00</published><updated>2009-06-19T06:06:42.954+07:00</updated><title type='text'>Buya Syafii</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Azyumardi Azra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah menulis sebuah buku utuh, yang dirancang sejak semula sebagai buku; bukan buku kumpulan tulisan. Kesulitan itu terjadi bukan hanya menyangkut soal substansi, yang bisa menyangkut bidang-bidang sangat luas, tetapi juga karena sulitnya ketersediaan waktu dan bahkan dana yang perlu untuk menunjang penelitian dan penyediaan bahan kepustakaan yang dibutuhkan. Karena itu, karya yang lahir dari tangan seorang pengarang, yang kita tahu menghadapi kesibukan luar biasa, sepatutnyalah kita berikan apresiasi selayaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bisa membayangkan dan merasakannya secara persis kesulitan semacam itulah yang dihadapi Prof Dr Ahmad Syafii Maarif ketika menyiapkan bukunya, Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah (Mizan, 2009), yang diluncurkan pekan silam. Seperti yang dia tulis, buku ini sudah terbayangkan sejak 2 Mei 2006; dan karena perhatian dan kesibukannya juga terpecah kepada hal-hal lain yang perlu pula ia tangani, proses penulisan menjadi tersendat. Tapi, naskah lengkap  masterpiece , karya besar, ini akhirnya selesai juga pada 9 Februari 2009. Sebelum naik ke percetakan,  manuscript buku ini dibahas dalam sebuah panel khusus untuk penyempurnaan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara profesi keilmuan, Buya Syafii--begitu dia akrab dipanggil--memang dikenal sebagai sejarawan yang berbasis di kampus. Dan, jika Maarif seperti ia sering menyebut dirinya adalah sejarawan murni yang hanya 'bertungkus lumus' (istilah Melayu yang sering dia pakai) di kampus, pastilah ia punya lebih banyak kesempatan untuk menulis; meski kebanyakan orang kampus dengan gelar yang gagah-gagah tidak pernah menulis karya substantif dan signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Maarif lebih daripada sekadar sejarawan kampus. Kita mengenalnya aktif dalam dunia keilmuan lebih luas; menjadi pemakalah dan narasumber berbagai seminar dan konferensi, baik di dalam maupun di luar negeri. Di atas segalanya, dia juga aktif di Muhammadiyah, sehingga pernah menjadi orang nomor satu di organisasi pendidikan modern Islam terbesar di Dunia Muslim ini; jelas bahwa mengurus organisasi sebesar Muhammadiyah menyita banyak waktu. Belum lagi aktivismenya dalam berbagai organisasi atau kelompok yang peduli dengan masalah tertentu, sejak dari demokrasi, kerukunan hidup beragama, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kiprah akademik dan sosialnya, Ahmad Syafii Maarif adalah sosok penuh integritas yang hidup sederhana dan qana'ah. Ia tidak pernah tergoda dengan politik kekuasaan; bahkan ia tak jarang mengkritik mereka yang hanya berorientasi kepada kekuasaan. Dengan orisinal dia memperkenalkan, misalnya, istilah 'syahwat politik', yang kemudian menjadi sangat populer dalam kosakata perpolitikan Indonesia. Tanpa lelah Buya Syafii mengkritik perkembangan politik dan juga demokrasi yang tidak selalu sesuai dengan harapan; dan semua ini dia lakukan tanpa pretensi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itulah Buya Syafii menjadi salah seorang dari sedikit 'guru bangsa' yang kita miliki hari ini. Dalam kapasitas ini, ia sekaligus menjadi 'intelektual publik' yang selalu menyuarakan nurani anak negeri. Sekali lagi, tidak mudah menjadi 'publik intelektual', karena sangat boleh jadi ada pihak-pihak yang tersinggung dan tidak menerima apa yang dia suarakan. Tetapi, terlepas dari ketidaksenangan kalangan tertentu terhadap pandangan-pandangannya, Buya Syafii tetap adalah ' man of integrity ' yang tidak pernah menyerah pada keadaan. Dan, tidak jarang ia menjadi ' solitary public intellectual ', intelektual publik yang sendirian, karena memang hanya dia sendiri yang berani bersuara di tengah cenderung membisunya banyak kalangan masyarakat lainnya ketika sebuah respons diperlukan masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan adalah sebuah refleksi kerisauan dan kepedulian intelektual seorang guru bangsa terhadap masa depan bangsa yang sekitar 88 persen penduduknya memeluk Islam. Judul karya ini saja secara jelas menunjukkan kepedulian seumur hidup ( lifetime concern ) seorang Syafii Maarif; persisnya tentang integrasi keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Dan secara implisit, ini mengindikasikan masih terjadinya 'tarik-menarik' di kalangan masyarakat kita dalam hubungan ketiga entitas tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerisauan dan kegundahan Buya Syafii terlihat dalam kata-katanya sendiri: ''Sebagai penduduk mayoritas di Nusantara semestinya umat Islam tidak lagi sibuk mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsep ini haruslah diembuskan dalam satu napas, sehingga Islam yang mau dikembangkan di Indonesia adalah Islam yang ramah, terbuka, inklusif, dan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa dan negara; sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat dengan lingkungan kultur, subkultur, dan agama kita yang beragam; sebuah Islam yang memberikan keadilan, kenyamanan, keamanan, dan perlindungan kepada semua orang yang berdiam di Nusantara ini tanpa diskriminasi apa pun agama yang diikutinya atau tidak diikutinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin, sampai kemiskinan itu berhasil dihalau sampai ke batas-batas yang jauh di negeri kepulauan ini. Dalam usianya yang sudah lebih 70 tahun, Buya Syafii tidak hanya terus berkarya, tetapi sekaligus tetap dengan kritisismenya. Selamat untuk Buya, semoga tetap sehat wal'afiat agar dapat terus memberikan kontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;(-) &lt;br /&gt;Index Koran&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3698951865278713794?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3698951865278713794/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3698951865278713794' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3698951865278713794'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3698951865278713794'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/buya-syafii.html' title='Buya Syafii'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-8677523507913014121</id><published>2009-06-17T17:34:00.000+07:00</published><updated>2009-06-17T17:35:23.680+07:00</updated><title type='text'>Arsene Wenger, "Profesor" Sepak Bola</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table width="300" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/06/16/0614578p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="224" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;ADI PRINANTYO&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun bergelar master ekonomi lulusan Robert Schuman University, Perancis, Arsene Wenger lebih tersohor sebagai pelatih sepak bola. ”The Gunners” Arsenal, salah satu klub kontestan Liga Inggris, di antarnya meraih tiga gelar juara Liga Primer dan empat trofi Piala FA. &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pelatih berjuluk ”The Professor” itu bakal sibuk saat Piala Dunia 2010 berlangsung di Afrika Selatan (Afsel), terkait Castrol Index yang dimotorinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesibukan Wenger, yang 22 Oktober nanti genap 60 tahun, mulai terasa Selasa (9/6) lalu, saat ia hadir di lapangan Dataran Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia. Sore itu, Wenger yang menjadi duta Castrol, sponsor resmi Piala Dunia 2010, mengadakan coaching session dengan tim sepak bola yunior Malaysia, berpedoman pada Castrol Challenge Test, salah satu bagian dari Castrol Index.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tes ini kelihatannya sederhana, tetapi jangan diragukan urgensinya. Uji sprint 20 meter bagi pemain sepak bola layak dilakukan karena pemain yang berlari lebih cepat dalam sekian meter pertama dan bisa mempertahankan performa itu akan lebih sukses dalam berebut bola. Jarak 20 meter signifikan, sesuai riset pergerakan pemain sepak bola dalam pertandingan elite. Jarak rata-rata pemain berlari itu sejauh 20 meter,” ujar Wenger.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih detail lagi ia menjelaskan, pemain harus berjuang untuk lebih cepat menguasai bola. Bagi pemain bertahan, lebih cepat merebut bola sama artinya bisa segera menggagalkan serangan tim lawan. Untuk striker, lebih dulu merebut bola berarti ia berpeluang lebih besar menciptakan gol. Tentu saja, potensi kecepatan lari itu harus disempurnakan dengan polesan teknik dan ketangguhan mental.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penjelasan Wenger membawa pengertian bahwa usaha pelatih untuk mengukur kualitas pemain seharusnya berpijak pada data, bukan atas perkiraan kasar. Pesan yang penting untuk siapa pun pelatih di dunia karena kadang ada unsur like and dislike di hati terdalam pelatih, saat ia harus menentukan 11 pemain yang tampil di lapangan hijau.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pendekatan Wenger bahwa ”kualitas pemain adalah segalanya” membawa konsekuensi penolakan terhadap konsep Federasi Asosiasi Sepak Bola Internasional (FIFA), yang berusaha memproteksi pemain domestik. Konsep FIFA itu biasa dikenal 6 + 5, penerjemahan sederhana dari enam pemain domestik plus lima pemain asing. Jika pola ini diberlakukan, klub-klub kaya Eropa hanya bisa memainkan maksimal lima pemain asing.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wenger menolak dari sisi ide dan telah menerjemahkan sikap itu selama bertahun-tahun di Arsenal. ”Sepak bola modern harus terbuka. Setiap saat harus selalu dibangun upaya meningkatkan kualitas permainan. Oleh sebab itu, menetapkan aturan semu seperti 6 + 5, yang tak lain proteksi terhadap pemain lokal di mana kompetisi berlangsung di sebuah negara, bukan langkah yang tepat,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak heran jika Arsenal jarang memainkan pemain asal Inggris sebagai starter. Paling hanya gelandang serang Theo Walcott dan bek Kieran Gibbs. Selebihnya, pemain The Gunners justru berasal dari Afrika, seperti Kolo Toure yang asal Pantai Gading, atau Emmanuel Adebayor dari Togo. Andalan lain dari sesama negara Eropa, sebut saja Cesc Fabregas dari Spanyol, Robin van Persie (Belanda), juga Andrey Arshavin (Rusia) dan Samir Nasri (Perancis).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sepak bola membawa pesan tentang pentingnya memadukan pemain terbaik dengan pemain terbaik lainnya di dunia. Definisi pemain terbaik sebaiknya tidak dihalangi kewarganegaraan seorang pemain. Menghentikan persaingan pemain terbaik dunia untuk berlaga di klub-klub elite, sama artinya dengan menolak berlangsungnya kompetisi yang sehat,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Dari klub amatir&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wenger dilahirkan pasangan Alphonse dan Louise, pebisnis suku cadang mobil di Strasbourg. Karier panjang sepak bolanya dimulai saat ia kuliah di Robert Schuman University, ketika bermain untuk klub amatir sampai menjelang lulus pada 1971. Ia mulai berkiprah di jalur profesional pada 1978, membela RC Strasbourg, dengan laga debut melawan Monaco. Ia tampil 12 kali untuk Strasbourg, termasuk dua kali saat mereka merebut juara Liga pada 1978 dan satu partai Piala UEFA.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiga tahun kemudian ia memperoleh gelar diploma kepelatihan sepak bola dan langsung melatih tim yunior Strasbourg. Tim senior yang pertama kali ditangani Wenger adalah Nancy, namun ia tak meraup sukses berarti selama tiga tahun itu, periode 1984-1987.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kesuksesan mulai lekat dengannya sejak dipercaya mengasuh AS Monaco, ketika ia membawa klub Perancis itu juara Liga Perancis 1988. Sukses itu makin mengilap karena itulah pencapaian musim pertamanya di Monaco. Satu gelar lagi yang dicapai adalah French Cup 1991. Di Monaco, ia merekrut sejumlah bintang, seperti Glenn Hoddle, George Weah, dan Juergen Klinsmann.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kejeliannya terhadap bakat pemain muda sudah terlihat sejak di Monaco, sewaktu ia memboyong Youri Djorkaeff yang berusia 23 tahun, dari Strasbourg. Pada musim paripurna Wenger di Liga Perancis, 1993-1994, Djorkaeff menjadi pencetak gol terbanyak dengan 20 gol. Pada 1998 publik dunia tahu, Djorkaeff pilihan Wenger ikut membawa Perancis menjadi juara dunia 1998.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ia lantas hijrah ke Jepang, menangani Nagoya Grampus Eight. Kebersamaan Nagoya-Wenger selama 18 bulan terasa manis karena mereka menjuarai Emperor’s Cup dan mengangkat derajat klub yang semula berada di tiga urutan terbawah Liga Jepang, ke urutan kedua klasemen akhir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wenger hijrah ke Arsenal pada 28 September 1996, diiringi tanda tanya pers Inggris soal kemampuannya menangani Arsenal. Ia menjawab cibiran itu dengan mempersembahkan dua gelar juara sekaligus, Liga Primer dan Piala FA, pada musim 1997-1998, tahun kedua Wenger di Highbury Park (home base Arsenal sebelum kini di Stadion Emirates).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oktober 2009 nanti, ia genap 13 tahun bersama The Gunners dan memenangi tujuh trofi, tiga Liga Primer dan empat Piala FA. Dia menjadi satu-satunya pelatih Liga Inggris yang memimpin tim tanpa pernah kalah dalam satu musim, yakni total dalam 49 laga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selalu berpijak pada data statistik dan berupaya memahami kondisi psikis pemain dalam menyiapkan tim sebelum pertandingan menjadi ciri Wenger. Dia pula yang ”menyulap” Arsenal menjadi tim dengan permainan positif (tak pernah tampil defensif) dan enak ditonton. Umpan-umpan pendek pemain Arsenal menjadikan serangan The Gunners mengalir tenang untuk kemudian mencetak gol jika lawan lengah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentang Arsenal yang tak pernah juara lagi sejak 2004, Wenger optimistis. ”Kami punya tim dengan pemain muda yang menjanjikan. Saya yakin dalam beberapa tahun ke depan mereka pasti bisa juara lagi,” kata The Professor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada musim 2008-2009 yang berakhir Mei lalu, Arsenal mengakhiri penampilan di Liga Inggris pada posisi keempat, di bawah Manchester United (MU), Liverpool, dan Chelsea. Keyakinan Wenger, lagi-lagi, berdasar data bahwa Arsenal tampil cukup baik dalam laga sesama the big four, setelah Liverpool. Sedangkan MU, meski juara liga, justru menjadi tim dengan performa terburuk saat menghadapi tim empat besar.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-8677523507913014121?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/8677523507913014121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=8677523507913014121' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8677523507913014121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8677523507913014121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/arsene-wenger-profesor-sepak-bola.html' title='Arsene Wenger, &quot;Profesor&quot; Sepak Bola'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3693830864772988034</id><published>2009-06-17T05:50:00.000+07:00</published><updated>2009-06-17T05:51:32.948+07:00</updated><title type='text'>Mohamad Roem, Pemimpin Tanpa Dendam</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table width="300" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/06/17/3373497p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="223" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    &lt;span style="font-size:85%;"&gt;KOMPAS/DUDY SUDIBYO   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    Mohamad Roem &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p&gt;Semua tergelak ketika Butet dalam monolognya di depan ketiga pasang capres mengatakan, Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri berjabat tangan dengan mesra. Maklumlah, semua tahu, kedua capres ini sudah &lt;line&gt;&lt;/line&gt;cukup lama tak bertegur sapa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berkaca pada para pemimpin masa lalu, agaknya sikap itu kurang pas, tidak menampakkan sikap kenegarawanan. Dosen Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung, pernah mengatakan, Presiden Soekarno menanggapi kritik pedas Sutan Sjahrir dengan mengatakan, ”Kalau saya rotan, rotan itu melengkung, tetapi tidak patah.” Para pemimpin itu memiliki &lt;line&gt;&lt;/line&gt;kecerdasan hingga mampu membuat metafora.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kecerdasan seperti itu pun menjadi milik Mohamad Roem, Menteri Luar Negeri Indonesia dalam kabinet Natsir. Ia tidak pernah menyimpan dendam kepada Soekarno yang telah memenjarakannya di Madiun. Ia memang menyebut Soekarno oligarkis dan feodal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal itu terungkap dalam pembukaan Annual Lecture bertajuk ”Mengenang Tokoh Diplomasi Mohamad Roem”, Selasa (16/6) di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengatakan, dalam pertemuannya dengan Mohamad Roem, Hassan sempat &lt;line&gt;&lt;/line&gt;menanyakan apakah Roem sakit hati saat dipenjarakan Soekarno. Jawaban Roem kala itu, dalam politik, menang atau kalah merupakan hal biasa. Perbedaan tajam tidak pernah menghalangi hubungan baik antarpribadi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebagai diplomat, kala itu, Mohamad Roem memang &lt;line&gt;&lt;/line&gt;tidak semenonjol Sutan Sjahrir. Ia bukanlah pemikir seperti Sjahrir. Namun, perannya dalam kemerdekaan Indonesia tidak kecil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan Belanda yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Roem-Roijen adalah sebagian kecil dari kiprahnya di dunia diplomasi. Perjanjian tersebut menjadi tapak penting bagi lahirnya perjanjian Meja &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Bundar di Den Haag, Belanda. Perjanjian tersebut telah mengantarkan lahirnya pengakuan Belanda atas kemerdekaan &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Indonesia.&lt;/p&gt;Upaya kerasnya dalam berdiplomasi mengantarkan Indonesia dalam ruang kemerdekaan. Meski pada satu masa &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Soekarno memenjarakannya, &lt;line&gt;&lt;/line&gt;tidak pernah sedetik pun ia &lt;line&gt;&lt;/line&gt;menyimpan dendam kepada proklamator itu. Ia berani mengambil risiko dan tetap &lt;line&gt;&lt;/line&gt;berjiwa besar, ciri yang selayaknya dimiliki para pemimpin &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Indonesia saat ini jika mereka ingin menjadi negarawan. (B Josie Susilo)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3693830864772988034?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3693830864772988034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3693830864772988034' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3693830864772988034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3693830864772988034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/mohamad-roem-pemimpin-tanpa-dendam.html' title='Mohamad Roem, Pemimpin Tanpa Dendam'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-57263413967262393</id><published>2009-06-11T16:29:00.000+07:00</published><updated>2009-06-11T16:31:50.847+07:00</updated><title type='text'>Air Mata Roger Federer</title><content type='html'>&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Oleh ANTON SANJOYO&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Untuk ketiga kalinya sepanjang tahun ini, Roger Federer menangis di hadapan orang banyak. Pertama setelah dikalahkan Rafael Nadal di final Australia Terbuka, kedua di altar gereja Basel saat mengucapkan janji perkawinan dengan Miroslava Vavrinec, dan ketiga di lapangan berdebu Roland Garros. Dalam tiga kesempatan berbeda, air mata menjadi tonggak paling penting dalam kehidupan petenis Swiss tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Rod Laver Arena, Federer tak kuasa menahan rasa kecewa yang teramat dalam setelah Nadal untuk ketiga kali beruntun mengalahkannya di final grand slam. Sebelumnya, dalam laga yang dijuluki sebagai ”yang terakbar sepanjang sejarah tenis”, Nadal juga mendepak Federer di final Wimbledon. ”Saya akan kembali tahun depan dan menjadi juara,” ujar Federer dengan suara parau dan air mata masih menggenang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita tahu, di usianya yang tidak muda lagi untuk seorang petenis profesional—menjelang 28 tahun— Federer tak pernah kehilangan energi untuk selalu menjadi yang terbaik. Bahkan, setelah gelar petenis nomor satunya dirampas Nadal selepas Olimpiade Beijing, Federer tak sedetik pun mengendurkan semangatnya untuk berkompetisi dengan para rising star, Nadal, Novak Djokovic, Andy Murray, dan Juan Martin del Potro.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun lalu memang menjadi periode berat bagi petenis yang mulai mengayun raket pada usia delapan tahun itu. Selain kehilangan gelar nomor satu, Federer juga mengalami kekalahan final grand slam paling menyakitkan setelah hanya diberi empat game oleh Nadal di Roland Garros.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dilanjutkan dengan kekalahan di Wimbledon, banyak orang mengira ”the legend in the making” ini sudah kehilangan gairah untuk berkompetisi. Namun, Federer menjawab tuntas keraguan itu dengan merebut gelar kelimanya di Flushing Meadows, sekaligus gelar grand slam-nya yang ke-13.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sukses di Amerikat Serikat Terbuka membuat Federer makin bersemangat untuk menyamai rekor Pete Sampras, perebut 14 gelar grand slam. Namun, kampanye Federer pada 2009 diawali oleh mimpi buruk dan Nadal kemudian membuatnya menangis di hadapan publik Rod Laver Arena.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampai sebelum Madrid Masters, perjalanan Federer untuk menjadi legenda tampaknya akan terhenti. Tak satu gelar pun yang didapat, dan pernikahannya dengan Vavrinec yang dipacarinya sejak tahun 2000 membuat para penggemarnya ragu. Tapi Federer tak pernah sedikit pun kehilangan keyakinan. Dia lantas menjungkalkan Nadal di Madrid, sepekan sebelum Perancis Terbuka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika diamati, penampilan Federer sangat konstan sepanjang 2009 meski baru merebut gelar pertamanya di Madrid. Dia tampil stabil di Indian Wells dan Miami sebelum berjumpa dengan Murray dan Djokovic. ”Orang bilang, saya sudah kehilangan sentuhan. Pada banyak hal ya, tapi saya tak pernah kehilangan kepercayaan diri,” ujar Federer seusai mengalahkan Robin Soderling di final Perancis Terbuka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Federer, sukses di Roland Garros adalah ”kemenangan terbesar sepanjang kariernya”. Sebelum hari Minggu yang dingin dan mendung itu, lapangan tanah liat paling masyhur itu selalu menjadi mimpi buruk Federer. Seakan, 13 gelar grand slam yang sudah diraihnya—5 di Wimbledon, 5 di AS Terbuka, dan 3 di Australia—tak berarti apa-apa. Maka, dia langsung berlutut, mengepalkan kedua tangannya, lantas bangkit dengan mata basah begitu merebut poin terakhir dari Soderling.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Benar, Federer tak pernah kehilangan keyakinan. Tiga kali beruntun tumbang di tangan Nadal di final Perancis Terbuka tak membuatnya patah arang. Federer mengakhiri seluruh perdebatan tentang siapa petenis terbesar sepanjang sejarah. ”Apa yang dia (Federer) lakukan dalam lima tahun terakhir sulit disamai. Bahkan tak akan pernah ada yang menyamai,” ujar Sampras, yang tak pernah merasakan nikmatnya mengangkat piala di Roland Garros. ”Federer adalah petenis terhebat sepanjang sejarah,” lanjut Sampras.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan merebut gelar Perancis Terbuka, selain menyamai rekor Sampras, Federer juga menyejajarkan diri dengan lima legenda tenis lain yang sukses menjuarai empat seri grand slam: Don Bunge, Fred Perry, Rod Laver, Roy Emerson, dan Andre Agassi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Kebahagiaan Sampras&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jika Bjorn Borg begitu gembira rekornya di Perancis Terbuka gagal dilampaui Nadal—sampai berkali-kali mengirim pesan singkat kepada Soderling yang mengandaskan Nadal di babak keempat— tidak demikian dengan Sampras. Pria yang santun berhati lembut itu justru mengaku ikut bahagia atas prestasi Federer. ”Saya berbahagia untuk Roger,” ujar Sampras yang mengikuti pertandingan lewat layar kaca di rumahnya di Los Angeles.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sampras pantas mengakui itu. Selain tak pernah juara di Garros, Federer memang lebih unggul. Pada laga terakhirnya, Sampras mengalahkan Agassi pada final AS Terbuka 2002, saat usianya 31 tahun, pada pertandingannya yang ke-52 di ajang grand slam. Federer usianya baru akan 28 tahun, Agustus nanti, dan menyelesaikan 40 laga grand slam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lepas dari tekanan luar biasa dan terutama mimpi buruk Perancis Terbuka, Federer sulit dibendung untuk merebut gelar grand slam-nya yang ke-15 di Wimbledon, 22 Juni mendatang. Lapangan rumput All England Club adalah permukaan favoritnya, dan tahun lalu dia hanya kalah oleh ketidakberuntungan yang setipis rambut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Petenis nomor satu Rafael Nadal masih tetap akan jadi batu sandungan paling besar, tapi yang pasti, sukses atau tidak, kita akan kembali melihat air mata Federer di Wimbledon nanti.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-57263413967262393?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/57263413967262393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=57263413967262393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/57263413967262393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/57263413967262393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/air-mata-roger-federer.html' title='Air Mata Roger Federer'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-7383214340633118859</id><published>2009-06-09T06:25:00.000+07:00</published><updated>2009-06-09T06:26:42.534+07:00</updated><title type='text'>Roger Federer, Terbaik Sepanjang Masa</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;   &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;  &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/06/09/3361384p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" width="250" height="300" /&gt;         &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;   &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;!--  &lt;table width="250" height="300" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;    &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/06/09/3361384p.jpg" width="250" height="300" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;       &lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt; --&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span class="tglct"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Yulia Sapthiani&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di tengah prestasi yang tidak lagi segemilang pada tahun 2004-2007, Roger Federer menciptakan sejarah. Gelar juara yang untuk pertama kalinya dia dapatkan dari Roland Garros, Paris, Perancis, setelah mengalahkan Robin Soderling di final, Minggu (7/6). Pencapaian ini mengukuhkan dirinya sebagai petenis terbaik sepanjang masa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Meski status petenis terbaik sepanjang masa ini sekadar pendapat yang dikemukakan para pengamat tenis, tetapi data dan fakta memang menunjukkan hal seperti itu. Federer, yang memulai kariernya sebagai petenis profesional sejak tahun 1998, sampai sekarang telah mengumpulkan 14 gelar juara grand slam&lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="0" h="9036m" gray="100" f="601" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Regular" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pencapaian Federer itu sama seperti yang diperoleh Pete Sampras. Jumlah ini merupakan yang terbanyak dari turnamen tenis dengan level paling bergengsi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, dibandingkan Sampras, prestasi Federer sebenarnya lebih istimewa. Sebanyak 14 gelar grand slam yang dikumpulkannya sejak tahun 2003 ini didapat lengkap dari empat turnamen di tiga jenis lapangan berbeda, yakni lapangan keras di Australia dan AS Terbuka, rumput (Wimbledon), dan tanah liat (Perancis Terbuka).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adapun Sampras memiliki ”cacat” dalam prestasinya karena dia belum pernah menjadi jawara di Perancis Terbuka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seperti Sampras, sejumlah nama besar di dunia tenis juga tidak memiliki gelar juara selengkap Federer. Bjorn Borg yang memiliki 11 gelar grand slam, misalnya, tidak pernah bisa menjadi juara di Australia dan AS Terbuka. Demikian pula dengan enam trofi grand slam kepunyaan John McEnroe, tidak ada yang diperolehnya dari Australia dan Perancis Terbuka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Percaya diri&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Petenis terakhir yang bisa mengumpulkan secara lengkap gelar juara dari empat turnamen grand slam adalah Andre Agassi pada era 1990-an. Agassi pula yang menyerahkan trofi kepada Federer di Lapangan Philippe Chatrier, Roland Garros, hari Minggu lalu, hingga membuat Federer menitikkan air mata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya memang selalu percaya pada diri sendiri kalau suatu saat saya bisa menjadi juara di Roland Garros. Saya tidak pernah menghilangkan kepercayaan diri itu,” kata Federer yang selalu gagal di final pada tiga tahun sebelumnya karena kalah dari Rafael Nadal.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan modal tersebut, Federer berhasil mematahkan keraguan banyak pihak di tengah prestasinya yang dinilai terus menurun sejak tahun 2008. Sebagai akibatnya, peringkat nomor satu dunia yang ditempati Federer selama 237 pekan sejak tahun 2004 itu berpindah ke tangan Rafael Nadal pada 18 Agustus 2008.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hingga awal tahun 2009, prestasi Federer juga belum meyakinkan. Meski dia bisa tampil di final Australia Terbuka, untuk dua tahun berturut-turut, Federer gagal menjadi yang terbaik. Gelar di Melbourne awal tahun ini diperoleh Rafael Nadal. Adapun pada tahun lalu gelar di Melbourne tersebut didapat Novak Djokovic.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akurasi dan emosi Federer pun mulai labil. Puncaknya ketika dia membanting raket hingga patah saat melawan Djokovic pada semifinal ATP Masters 1000 di Miami pada bulan Maret lalu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kejadian itu mengejutkan para pemerhati tenis karena selama ini Federer terkenal sebagai petenis yang berpenampilan tenang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Orang-orang berbicara kalau saya sudah kehilangan gaya permainan. Pada tingkat tertentu, pendapat mereka ada benarnya. Tetapi, hingga sekarang ini saya belum terlempar dari peringkat 10 besar dunia. Itu artinya, saya masih konsisten, terutama untuk turnamen grand slam,” kata Federer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Federer memang tidak pernah tersisih sebelum semifinal grand slam sejak Wimbledon tahun 2005. Finalnya di Roland Garros, hari Minggu lalu, bahkan menjadi final ke-19 bagi Federer di ajang grand slam.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada usianya yang akan menginjak 28 tahun pada 2009 ini, Federer dinilai masih bisa menambah koleksi gelar grand slam-nya. Apalagi, jika dibandingkan dengan Andre Agassi yang masih bisa menjadi juara di Australia Terbuka 2003, sewaktu dia berusia 33 tahun. Begitu pula dengan Pete Sampras, yang menjadi juara AS Terbuka 2002 pada usia 31 tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya memang akan terus mencoba bermain sebaik mungkin selama saya belum pensiun. &lt;line&gt;&lt;/line&gt;Saya pikir, saya masih memiliki kesempatan untuk menang. Tentang hasilnya, saya serahkan kepada orang lain. Apakah mereka akan menilai saya sebagai petenis besar, cukup bagus, atau biasa-biasa saja,” kata Federer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Tiga bahasa&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Federer, yang mulai berlatih tenis sejak usia delapan tahun, sebenarnya tumbuh di sebuah kota kecil dekat Basel yang bernama Munchenstein. Wilayah ini berdekatan dengan perbatasan Perancis dan Jerman. Tidak mengherankan jika kemudian Federer fasih berbahasa Perancis, Swiss-Jerman, dan bahasa Inggris.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam setiap jumpa pers, misalnya, Federer selalu menjawab pertanyaan wartawan dalam tiga bahasa tersebut. Setelah melakukan tanya jawab dalam bahasa Inggris, petenis yang merupakan suporter klub sepak bola FC Basel ini akan menyediakan waktu khusus bagi mereka yang mau bertanya dalam bahasa Perancis dan Swiss-Jerman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun memiliki talenta bermain tenis sejak kecil, Federer, yang merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Robert Federer dan Lynette Durand ini, terbilang tidak mudah dalam mengawali kariernya sebagai petenis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam film dokumenter tentang Federer yang berjudul Making of A Champion dikisahkan, Federer kecil pernah merasa frustrasi ketika dia harus mulai berlatih di sebuah klub tenis di Basel.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hobinya bermain sepak bola bahkan pernah membuat Federer berpikir untuk menjadi pesepak bola profesional, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk fokus dalam tenis pada usia 12 tahun. Pada usia 14 tahun, Federer menjadi juara nasional dan setahun berikutnya dia mulai mengikuti sirkuit tenis yunior Federasi Tenis Internasional (ITF).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kecintaan Federer pada dunia tenis membuat suami dari mantan petenis Miroslava Vavrinec ini belum berniat untuk pensiun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya selalu mengatakan, tidak masalah kapan pun saya harus pensiun. Tetapi, saya tidak akan memilih jalan itu sekarang karena saya sangat mencintai permainan ini. Saya tahu, menjadi petenis tidak akan selamanya saya jalani. Tetapi, saya akan menikmatinya selama mungkin,” kata Federer yang akan menjadi seorang ayah pada tahun ini.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-7383214340633118859?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/7383214340633118859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=7383214340633118859' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7383214340633118859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7383214340633118859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/roger-federer-terbaik-sepanjang-masa.html' title='Roger Federer, Terbaik Sepanjang Masa'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-5487609465344032651</id><published>2009-06-09T05:36:00.000+07:00</published><updated>2009-06-09T05:37:39.654+07:00</updated><title type='text'>Mike Lazaridis, Sang Pendiri BlackBerry</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="300" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/06/08/3360448p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="222" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;AMIRSODIKIN &lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="left"&gt;Anak dari Turki ini dapat merealisasikan mimpi guru SMA-nya bahwa suatu hari nanti fungsi elektronik, komputer, dan wireless akan menjadi satu. Lewat temuannya, Mike Lazaridis berhasil menggabungkan teknologi yang unik dan gaya hidup menjadi satu: BlackBerry. &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sela-sela kesibukannya menerima tamu dari sejumlah negara pada acara Wireless Enterprise Symposium (WES) 2009 di Orlando, Florida, Amerika Serikat, awal Mei 2009, akhirnya Mike Lazaridis, sang pendiri BlackBerry, bisa meluangkan waktu untuk &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;Kompas. ”Apa yang bisa saya sampaikan? Saya mulai saja dengan kondisi BlackBerry kini,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak seperti yang dibayangkan sebelumnya, dari alotnya mengatur jadwal dengan pihak perwakilan BlackBerry, sosok Lazaridis terlihat kalem, rendah hati, dan apa adanya. Wawancara digelar di sebuah hotel di Orlando.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tak ada pengawal, tak ada pendamping atau yang berada di sekitarnya. Salah satu orang paling berpengaruh di dunia versi majalah &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;Time tahun 2005 itu tampil layaknya orang biasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bersahaja, tetapi justru wibawa sebagai inventor penting dekade ini makin terpancar. Pagi itu, Lazaridis melayani wawancara sambil sarapan &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;sandwich.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”&lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;Upps...,” sergahnya saat &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;sandwich yang dipegangnya jatuh ke lantai. Dengan santai Presiden dan Co-Chief Executive Officer and Director Research In Motion (RIM) ini memungutnya kembali.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia membuka dialog dengan angka-angka. ”Saat ini jumlah &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;subscriber BlackBerry ada 25 juta orang,” katanya sambil menyodorkan buku &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;Life on BlackBerry, RIM 2009 Annual Report.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Ini laporan terbaru,” katanya. Doktor bidang &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;engineering yang tak menamatkan kuliah ini tak hanya mengawal RIM dari sisi teknologi. Dia juga menguasai manajemen, pemasaran, dan strategi invasi produk ke penjuru dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Poin terakhir itulah yang menciptakan fenomena baru dunia: masyarakat di 160 negara yang gandrung dengan cara baru berkomunikasi dan berkirim data. Dialah yang bertanggung jawab atas mewabahnya ”virus” teknologi dan gaya hidup itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut peringkat Milward Brown Top 100 Most Powerfull Brands, BlackBerry urutan ke-51 dunia dan disebut sebagai yang tercepat pertumbuhannya dengan angka kenaikan 390 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Pentingnya riset&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan kondisi global yang lesu, tahun 2009 telah mengirim 26 juta BlackBerry ke sejumlah negara. Januari 2009, BlackBerry sudah membuat perangkat BlackBerry ke-50 juta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pendapatan RIM tahun fiskal 2009 naik 84 persen dari 6 miliar dollar AS menjadi 11 miliar dollar AS,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 2009, BlackBerry mendapat penghargaan GSMA Chairman’s Award untuk kategori pionir bidang &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;wireless. Di tengah stagnannya penemuan baru, bisa dibilang Lazaridis mendominasi sebagai inventor pada dekade ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lazaridis menyadari, kesuksesan RIM merupakan dampak dari ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, dia yakin ilmu pengetahuan yang didorong universitas bisa diharapkan membawa perubahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dukungannya terhadap dunia penelitian tak tanggung-tanggung. Oktober 2000 dia mendirikan Perimeter Institute for Theoretical Physics dengan dana 100 juta dollar AS yang diambil dari kantong pribadinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;April 2004, bersama istrinya dia mendonasikan 33,3 juta dollar AS untuk Institute for Quantum Computing di University of Waterloo. Mei 2005, dia memberi tambahan lagi 17,2 juta dollar AS untuk membangun gedung Institute for Quantum Computing dan Waterloo Institute for Nanotechnology.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lazaridis tak hanya penemu BlackBerry. Sekitar 50 hak paten miliknya berkisar pada &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;wireless dan sistem &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;display industri. DigiSync, pembaca &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;barcode untuk industri film, ternyata juga di bawah hak paten dia, yang membuatnya mendapatkan penghargaan Emmy dan Academy Award tahun 1999.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Sejarah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lazaridis bukan asli Kanada. Dia lahir 14 Maret 1961 di Istanbul, Turki. Kedua orangtuanya yang berasal dari Yunani membawa Lazaridis ke Kanada saat usianya lima tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1966 Lazaridis tinggal di Windsor, Ontario. Bakatnya mulai tampak sejak dia bersekolah di Windsor. Kutu buku ini menghabiskan banyak waktunya di perpustakaan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Umur 12 tahun dia mendapat penghargaan Windsor Public Library karena telah melahap semua buku ilmu pengetahuan di perpustakaan itu. Di SMA, minat terhadap elektronik terfasilitasi karena bertemu dengan guru-guru hebat. Dalam setiap wawancara dia selalu merujuk pada guru-guru SMA yang menjadi motivator paling baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tahun 1979 dia memutuskan kuliah di University of Waterloo jurusan Electrical Engineering bidang ilmu komputer. Saat menjadi mahasiswa, dia mendapat kontrak 500.000 dollar dari General Motors (GM) untuk membangun &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;display kontrol jaringan komputer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari dana kontrak dengan GM itu, ditambah pinjaman 15.000 dollar dari orangtuanya, Lazaridis yang masih mahasiswa mendirikan RIM. Dia keluar dari universitas dua bulan sebelum lulus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;RIM bergerak di bidang teknologi &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;barcode untuk film. Lambat laun, RIM merambah ke &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;wireless dan tahun 1999 memperkenalkan BlackBerry.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Walau akhirnya &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;drop out dari universitas, berkat dedikasinya, pada Oktober 2001 dia meraih penghargaan Doctor of Engineering dari University of Waterloo. Pada Juni 2003 ia bahkan ditunjuk menjadi &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;chancellor kedelapan universitas itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;BlackBerry unik karena punya sistem sendiri dalam mengelola &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;e-mail, terutama teknologi &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;server yang tak dimiliki perusahaan lain. Di saat produsen telepon genggam lainnya puas dengan memanfaatkan sistem yang sudah ada, Lazaridis berpikir lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kami sangat hati-hati dalam mengembangkan perangkat ini. BlackBerry punya sistem yang unik, inilah yang membuat layanan kami akan unggul di mata konsumen,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia yakin, ke depannya kebutuhan akan transmisi data makin tinggi dan &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;wireless akan menjadi solusi. ”Kami menggabungkan fungsi perangkat bergerak dengan fungsi komputer,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apakah BlackBerry akan menggantikan komputer &lt;text modedata="0" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" bd="0" co="K" f="602" gray="100" h="9036m" it="1" jmp="0m" mode="0" small="0" w="9036m"&gt;&lt;/text&gt;desktop atau laptop? Apakah BlackBerry juga punya ambisi mengambil alih sistem telekomunikasi GSM yang populer saat ini?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Tidak, kami juga terlibat dalam pengembangan teknologi lain,” katanya. Teknologi GSM, misalnya, jaringannya masih bisa kita manfaatkan dengan berbagai pengembangan riset.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di balik ambisi membuat BlackBerry mewabah, Lazaridis tetap lari ke dunia riset, mengembangkan berbagai kemungkinan teknologi yang tersedia. Jadi, tak harus menjadi dominan dan membunuh yang lain jika ingin sukses.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Biodata &lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;• Nama: Michael Lazaridis&lt;/p&gt;&lt;p&gt; • Lahir: Istanbul, Turki, 14 Maret 1961&lt;/p&gt;&lt;p&gt;• Tempat Tinggal: Waterloo, Kanada&lt;/p&gt;&lt;p&gt;• Pendidikan: Electrical Engineering, University of Waterloo (tak lulus, keluar tahun 1984, mendapat gelar penghargaan doktor di bidang Electrical Engineering pada 2000)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;• Jabatan: Presiden dan Co-Chief Executive Officer and Director Research In Motion&lt;/p&gt;&lt;p&gt;• Pencapaian: Selain mendirikan RIM pada 1984, tahun 2000 ia mendirikan dua institusi riset, Perimeter Institute for Theoretical Physics dan Institute for Quantum Computing di University of Waterloo&lt;/p&gt;• Penghargaan: &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Peringkat 397 orang terkaya dunia tahun 2009 versi ”Forbes” &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Gelar Officer of the Order of Canada dan anggota Order of Ontario, 2006 &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- 100 Orang Paling Berpengaruh di dunia versi ”Time”, 2005 &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Chancellor kedelapan University of Waterloo, 2003 &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;- Canada’s Nation Builder of the Year 2002 dari Globe and Mail&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-5487609465344032651?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/5487609465344032651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=5487609465344032651' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5487609465344032651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5487609465344032651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/06/mike-lazaridis-sang-pendiri-blackberry.html' title='Mike Lazaridis, Sang Pendiri BlackBerry'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-5878241360504446097</id><published>2009-05-18T05:06:00.001+07:00</published><updated>2009-05-18T05:06:36.557+07:00</updated><title type='text'>Anak Pedagang Batik itu Pendiam</title><content type='html'>&lt;h1 class="judul_artikel"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h1&gt;     &lt;p class="jam_artikel"&gt;Sabtu, 16 Mei 2009 | 11:35 WIB&lt;/p&gt;     &lt;p&gt;   &lt;span style="color:#666666;"&gt;&lt;strong&gt;TEMPO &lt;em&gt;Interaktif&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, BLITAR: - Dilahirkan dari keluarga pedagang batik, Boediono tumbuh sebagai pribadi yang sederhana. Dia cenderung pendiam, tak banyak tingkah, dan kurang suka bergaul. Namun begitu, otak cerdasnya di bidang ilmu ekonomi telah nampak sejak duduk di bangku SMA Jurusan C (ilmu sosial) Kota Blitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://image.tempointeraktif.com/?id=11329" alt="" align="left" /&gt; Putra pertama pasangan Ahmad Siswa Sarjono dan Samilah ini lahir pada tanggal 25 Februari 1942 di Lingkungan Magersaren, Kelurahan Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar. Bersama dua adiknya Tutik dan Kuncoro, Budiono menjalani kehidupan di rumah sederhana ukuran 8 x 25 meter di Jalan Wahidin nomor 6 milik orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang masih tampak bagus tersebut difungsikan sebagai toko sekaligus tempat tinggal. Sepekan sekali ayahnya bertandang ke Solo dan Yogyakarta untuk mengambil kain batik. Selanjutnya kain tersebut dipajang di ruang tamu rumahnya yang disulap menjadi toko kecil. “Tak banyak keuntungan yang diambil dari dagangan batik,” kata Bambang Heri Subeno, saudara sepupu Boediono yang dipercaya merawat rumah tersebut, Jumat (15/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah Ny Samilah memutuskan membantu nafkah suaminya dengan berjualan perhiasan emas. Berbeda dengan toko emas besar, Ny Samilah hanya menerima titipan emas dari kawan-kawannya untuk dijual di toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dibenarkan oleh rekan sekolah Boediono, Ny Syamsiah Syafaat, 69 tahun, warga Jl Musi nomor 6 yang berteman akrab sejak kecil. Menurut pengakuannya, kedua orang tuanya cukup dekat dengan orang tua Boediono. Hal ini lebih dikarenakan profesi orang tua Ny Syamsiah yang kerap mengambil kain batik dari toko Ahmad Siswa. “Biasanya kita ambil dulu, bayarnya belakangan. Jadi keuntungan mereka cukup kecil,” ujarnya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai teman sekelas, Ny Syamsiah mengakui kecerdasan rekannya itu. Boediono selalu unggul pada mata pelajaran bahasa Inggris dan ilmu ekonomi meski jarang terlihat belajar. Dari posisi tempat duduk di deretan bangku belakang, Boediono dengan cepat mampu menyerap materi pelajaran. Kemampuan itulah yang tidak dimiliki 39 siswa lainnya di Program Pendidikan Ilmu Sosial SMA Blitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan akademik ini dibuktikan dengan dengan nilai rapor yang tercantum dalam buku induk kesiswaan. Dalam buku besar ini tertulis jika Mantan Gubernur Bank Indonesia itu masuk sebagai siswa kelas satu SMA Blitar pada tanggal 1 Agustus 1957. Dia tercatat sebagai murid termuda dengan rata-rata usia siswa sekelasnya dua tahun lebih tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, berdasarkan buku tersebut, nilai ujian Boediono jauh mengungguli rekan-rekannya. Diantaranya adalah nilai mata pelajaran Ilmu Hitung Dagang dan Ilmu Perekonomian yang meraih angka delapan. Sementara puluhan siswa lainnya hanya meraih nilai antara 3 – 4. Demikian pula dengan Ilmu Pelajaran Bangsa-bangsa dan Bahasa asing yang meliputi Bahasa Jerman, Prancis, dan Inggris. “Nilai akademis ini menjadi bukti otentik kecerdasan Pak Boediono,” kata Kepala Sekolah SMA 1 Blitar Puryono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, begitu berhembus kabar dipilihnya dia sebagai calon wakil presiden mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono, tidak terlintas sedikitpun keraguan para alumnus SMA 1 Blitar kepada Boediono. Sebagai pribadi yang santun dan cerdas, dia dianggap figur pemimpin yang bersih. “Kami akan memberikan dukungan kepada beliau jika benar-benar maju menjadi wakil presiden,” kata Puryono.&lt;/p&gt; HARI TRI WASONO&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-5878241360504446097?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/5878241360504446097/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=5878241360504446097' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5878241360504446097'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5878241360504446097'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/05/anak-pedagang-batik-itu-pendiam.html' title='Anak Pedagang Batik itu Pendiam'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-2706817542156316245</id><published>2009-05-12T15:50:00.000+07:00</published><updated>2009-05-12T15:51:41.261+07:00</updated><title type='text'>Kisah "Besar" Keluarga Toer</title><content type='html'>&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;NIRWAN AHMAD ARSUKA&lt;/p&gt;&lt;p&gt;data buku&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Judul: Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Penulis: Koesalah Soebagyo Toer dilengkapi Soesilo Toer &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Penerbit: KPG, Jakarta, 2009 &lt;flashout&gt;&lt;/flashout&gt;• Tebal: 505 halaman (termasuk lampiran)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Sebagai karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak lurus kronologis, karangan itu akan menjadi biografi atau otobiografi penting.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Jika ingatan tak harus tunduk sepenuhnya pada catatan ketat kejadian sejarah dan karangan disusun tak harus mengikuti aliran waktu yang lurus, tak jarang bahkan membiarkan diri terseret oleh arus kesadaran yang berkelok-kelok, karangan itu bisa menjadi novel besar.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memoar ini memang disusun mengikuti arus waktu linier, tetapi terasa agak menjauh dari ”riwayat hidup” Pramoedya Ananta Toer yang ”seharusnya” menjadi pusat cerita dari awal hingga akhir. Pram memang tampil juga dalam karangan ini, tetapi cukup sering ia hadir agak jauh di latar belakang. Kita harus menempuh sekitar 100 halaman untuk sampai pada momen penting yang bisa mengoreksi, setidaknya memperkaya, pemahaman kita tentang Pram.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Momen-momen penting itu, antara lain, pertemuan Pram dengan ayahandanya yang sekarat, tekadnya membangun kembali rumah warisan yang telantar, atau pilihannya pada keris pusaka ayahandanya saat terjadi pembagian warisan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buat saya, kisah kecil itu mengubah kesan tentang Pram yang pendendam, yang tak bisa melupakan perlakuan ayahnya yang menyakitkan karena menganggap dia dungu dan harus mengulang sekolah. Kesan pendendam ini mencuat dalam prosa awal Pram sendiri, yang kemudian banyak dikutip dan disebarkan sejumlah pengkaji Pram.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah kecil lain, seperti tekad Pram menyekolahkan adik-adiknya dan merawat yang sakit, kegundahannya menumpang sementara di rumah adik ipar yang kurang ia sukai, menunjukkan Pram, meski punya cita-cita kebangsaan besar, memang hanya manusia biasa saja yang tak perlu ditakuti. Maka, memang ada yang luar biasa ganjil jika pemerintah resmi negara besar yang punya angkatan bersenjata paling kuat di Asia Tenggara begitu takut kepada seseorang sehingga ia harus dicurigai dan diawasi terus dan seluruh karyanya digolongkan terlarang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Pisau lipat&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cerita tentang Pram yang sempat membawa pisau lipat ke tempat kerja, prinsipnya untuk harus selalu menang dalam perdebatan, dan bahwa kepentingan bangsa lebih tinggi daripada kepentingan keluarga dan anak, semua ini mempertegas apa yang dengan mudah kita temui pada karya sastranya: ketangguhan tak tertandingi dalam memperjuangkan sesuatu yang dianggap berharga dan kesediaan menanggung seluruh akibat dari perjuangan tersebut.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membaca memoar dua adik Pram ini dan mengingat apa yang telah diberikan Pram kepada bangsanya, kita memang bisa kecut melihat ketimpangan yang mencolok mata itu. Pram telah mempersembahkan begitu banyak buat bangsanya dan begitu sedikit yang dia peroleh.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari Pram, kita memperoleh karya yang bisa membangunkan pembaca menyadari sisi kelam masyarakat sembari menghamparkan wawasan sejarah dan dunia rasional buat bangsa belia yang tengah menjadi. Jika Raja Ali Haji dengan karya sastranya, misalnya, bisa diperjuangkan menjadi pahlawan nasional, Pram dengan anak-anak rohaninya jelas sangat layak (kalau bukannya lebih) juga dihormati sebagai putra terbaik bangsa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sambil menunggu berubahnya sikap resmi pemerintah terhadap Pram, saya membayangkan ada penulis yang bekerja mengolah lagi dengan sungguh-sungguh memoar setebal 500 halaman ini. Bahan yang disajikan bisa tumbuh menjadi novel bagus, di mana Blora bisa menjadi sejajar dengan Combray (Marcel Proust), Yoknapatawpha (William Faulkner), atau Macondo (Gabriel Garcia Marquez). Bedanya, Combray, Yoknapatawpha, atau Macondo adalah tempat fiktif meski mengambil ilham dari tempat nyata, sementara Blora sepenuhnya tempat yang benar-benar nyata.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Buat saya, Mastoer Imam Badjoeri, ayahanda Pram bersaudara itu, menduduki posisi yang agak mirip dengan Jose Arcadio Buendia dalam Seratus Tahun Kesunyian. Tentu saja Jose Arcadio Buendia, yang lahir dari tangan seorang tukang cerita piawai pemenang Hadiah Nobel, akan terasa lebih mencengangkan dibandingkan Mastoer. Tetapi, ada pola yang mirip di antara kedua kepala keluarga ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memang, Mastoer tak membangun permukiman baru surgawi, yang ia namakan dengan kata yang tak pernah ia dengar sebelumnya, yang tak punya arti sama sekali, sebuah gema adikodrati dari mimpinya. Tetapi, Mastoer juga adalah seorang patriarkh yang melalui masa mudanya sebagai seorang penuh semangat, pekerja keras yang setia pada impiannya—membangun pendidikan dan menyebarkan pengetahuan ilmiah di kalangan pribumi yang tertinggal dan tertindas. Jika Jose Arcadio Buendia menjalani masa tuanya sebagai patriarkh linglung dan bertahun-tahun terikat pada pohon chestnut raksasa di halaman, Mastoer menghabiskan masa akhir hidupnya sebagai kepala sekolah yang kecewa, penjudi tangguh, sebelum akhirnya terpacak di tempat tidur dengan paru-paru remuk dimakan TBC.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah Mastoer dan sejumlah tokoh kecil dalam memoar ini membuat saya sadar bahwa cara baca yang suntuk mencari Pram ternyata keliru. Pembacaan yang terpaku pada Pram, yang diarahkan judul memoar ini, mencegah saya larut sepenuhnya sejak dari halaman pertama. Buku ini harusnya dibaca tanpa perhatian yang memusat pada satu tokoh. Ia mesti dibaca dengan keterbukaan yang setara pada semua karakter yang muncul. Pram memang tokoh yang sangat menarik, tetapi buku ini menghidangkan sesuatu yang lebih kaya ketimbang ingatan pada seorang sosok istimewa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada akhirnya, buku tebal ini adalah cerita tentang keluarga dengan anggota yang bergerak mencapai impian masing-masing, menanggapi zaman yang kadang bergejolak di luar kendali, dan kadang berselisih karena sejumlah hal yang mungkin penting mungkin sepele. Mereka menempuh berbagai gerak turun dan naik zaman yang berlalu, dari zaman kolonial Belanda hingga sekarang. Terbawa arus waktu tak menentu, keluarga dengan patriarkh yang begitu peduli pada pendidikan bangsanya itu dihantam prasangka umum dan gejolak politik: hampir separuh anak sang patriarkh dituduh sebagai musuh negara. Tetapi, keluarga yang guncang dan terburai terjangan sejarah ini pelan-pelan berusaha menyembuhkan diri sembari membela dan meraih kembali martabatnya yang terampas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisah keluarga Blora dengan segenap warnanya yang tak semua amat memikat ini adalah juga kisah orang-orang &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;—kisah yang mirip dengan yang dialami ribuan keluarga di Tanah Air. Setidaknya, kisah dengan pola seperti ini mungkin terjadi pada keluarga yang beberapa anggotanya punya nalar yang bermimpi kelewat aktif, mimpi tentang revolusi yang dapat mengubah nasib bangsanya dengan cepat. Sayangnya, mimpi itu tertabrak berbagai mimpi lain yang mungkin saja tak kalah aktifnya, tetapi telah diracuni berbagai prasangka dan kepicikan kolektif.&lt;/p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Nirwan Ahmad Arsuka Penulis Esai&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-2706817542156316245?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/2706817542156316245/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=2706817542156316245' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2706817542156316245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2706817542156316245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/05/kisah-besar-keluarga-toer.html' title='Kisah &quot;Besar&quot; Keluarga Toer'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-5348253037938038075</id><published>2009-05-08T09:41:00.000+07:00</published><updated>2009-05-08T09:42:10.156+07:00</updated><title type='text'>"Cinta Segitiga" Pep Guardiola</title><content type='html'>&lt;!-- reporter start--&gt;    &lt;div class="reporter"&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="box_share"&gt;&lt;br /&gt;                     &lt;!-- AddThis Button BEGIN --&gt;      &lt;script type="text/javascript"&gt;var addthis_pub="republikaonline";&lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript" src="http://s7.addthis.com/js/200/addthis_widget.js"&gt;&lt;/script&gt;      &lt;!-- AddThis Button END --&gt;           &lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;    &lt;!-- reporter end--&gt;      &lt;!-- contents lainnya start--&gt;                     &lt;!-- lainnya dalem start--&gt;           &lt;div class="image_detail"&gt;     &lt;img alt="&amp;quot;Cinta Segitiga&amp;quot; Pep Guardiola" style="width: 325px;" src="http://republika.co.id/images/news/2009/05/20090508070259.jpg" /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/div&gt;     &lt;div id="detail_news_text" class=""&gt;     &lt;p&gt;JAKARTA -- Dengan bermodal satu sayap terkoyak, cinta dari pemilik nama lengkap Josep "Pep" Guardiola i Sala - yang kerap disingkat IPA - melanglang buana dengan bermodal tritunggal, yakni keteguhan hati, kepercayaan akan keindahan kasih, serta kekerasan hati untuk terus bekerja dengan ikhtiar tanpa henti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagat bola, bagi Pep Guardiola, yang lahir pada 18 Januari 1971 di Santpedor, Barcelona, Catalonia, "nyerempet" petualangan cinta segitiga antar anak manusia. Kecintaan Pep akan bola, bukan semata tereduksi pada keinginan memiliki tetapi terjelma pada rajutan persahabatan tiada henti. Yang ia inginkan, berkubang dalam misteri cinta segitiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pep tidak tidak ingin terengah bahkan terpedaya oleh ujaran klasik bahwa cinta berasal dari mata turun ke hati. Cinta akan bola seakan mengobarkan bara hati, bara kasih, dan bara asa bagi Pep. Pengalamannya sebagai pemain boleh dibilang segudang, dari FC Barcelona, sampai Brescia Calcio, A.S. Roma, Al-Ahli dan Dorados de Sinaloa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal Pep relatif sederhana. Ia mengenal dan mengetahui paradoks jagat bola, yakni berlari, berkejaran bersama lawan, berjuang mencetak gol beralaskan keindahan cinta yang bukan semata mengharapkan balasan, tetapi ingin memberi, memberi dan memberi. Cinta yang diintroduksi Pep bukan sebatas mabuk kepayang, tetapi mabuk keindahan dan keteguhan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak meneken kontrak untuk melatih Barca pada 5 Juni 2008, Pep yang menggantikan Frank Rijkaard, tiada henti mendapat kepercayaan dari Presiden FC Barcelona Joan Laporta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah jagat cinta menyimpan formasi tritunggal, dari ketiadahentian dan kepercayaan sampai kecintaan yang terbalut keindahan? Jawabnya, Pep mengetahui, memahami dan mempraktekkan sepakbola menyerang yang memuat ketiga unsur tritunggal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada serangan ke jantung pertahanan lawan, bila tidak ada jalinan kepercayaan antar sesama pemain. Jangan sesekali berharap kemenangan bila terbersit keraguan. Yang tidak kalah pentingnya, menaruh hati kepada keindahan persahabatan yang ditawarkan laga bola, meski di seberang sana ada lawan yang siap menerkam dan pendukung tim lawan yang siap meneror. Antusiasme laga tandang adalah kekuatan ekstra bagi skuad Barca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buktinya, dalam duel semifinal kedua Liga Champions antara Chelsea dan Barcelona, Rabu (6/5) di Stamford Bridge, Barca akhirnya menang dan berhak melaju ke final dengan keunggulan gol tandang. Energi cinta terus terkuras lantaran Barcelona yang tampil memikat di leg pertama lagi-lagi kehilangan ide membongkar kedisiplinan pemain "The Blues".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi cinta pasukan Pep tergetar oleh gol aduhai yang diciptakan oleh Michael Essien pada ke-9. Chelsea di bawah arsitek Guus Hiddink berhasil unggul 1-0. Energi cinta skuad Barca tergerus oleh ulah wasit Tom Henning Ovrebo yang mengeluarkan kartu merah langsung kepada Eric Abidal di menit ke-66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa serupa terulang ketika Ovrebo meloloskan sejumlah pelanggaran yang menuai protes dari kedua kubu. Tetapi cinta pasukan Guardiola tidak bertepuk sebelah tangan. Dewi Fortuna membayar kontan cinta Barca. Andres Iniesta menyamakan skor menjadi 1-1 dan membawa Barca ke panggung final.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari sesudah tim asuhannya melumat musuh bebuyutan Barca, Real Madrid dengan skor 6-2 di Bernabeu, Pep kian merebut hati pecandu sepakbola La Liga. Ketika memasuki musim kompetisi domestik, ia melepas sejumlah pemain bintang antara lain Ronaldinho, Deco, Samuel Eto`o. Yang tersisa tanda tanya, ada apa dengan Pep?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagai tim, kami tampil lepas bebas menjalani laga di La Liga. Coba meraih kemenangan di ajang Piala Raja pekan berikutnya ketika melawan Bilbao kemudian berpikir untuk melaju ke final di Roma," katanya. Saat menghadapi final yag akan digelar pada 27 Mei 2009 di Stadio Olimpico, Roma, Pep tetap menjanjikan sepakbola menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami konsisten, tampil dengan menyerang, dengan didukung kekuatan penuh, keberanian dan ketenangan dalam memanfaatkan setiap peluang gol," kata Pep. Untuk mendulang optimisme, Iniesta pun tidak ingin ketinggalan kereta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami telah memberi segalanya. Kami menarik segala pelajaran dari setiap laga di musim kompetisi. Inilah roh dari tim ini," kata Iniesta kepada Canal Plus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar Pep bukan bermula dari khayalan setinggi langit, tetapi berasal dari sederet pengalaman yang ditimba dari bawah. Ia bukan pelatih karbitan. Kalau bintangnya terus bersinar, itu karena ia paham dan tahu bahwa prestasi adalah sebuah simbol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol adalah tanda yang tidak hanya melulu menunjukkan (indikatif) tetapi lebih mengartikan. Manusia adalah "animal symbolicum", kata filsuf Ernst Cassirer, artinya manusia menciptakan dan membebaskan unsur "kebinatangan" (animalitas) dalam dirinya. Manusia mengonstruksikannya ke dalam bentuk bahasa, mitos, seni dan agama. Dan Guardiola terpapar sebagai anak kandung dari animal symbolicum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guardiola terlahir sebagai produk asali dari Akademi Sepakbola FC Barcelona, kemudian meniti karier di tingkat junior bersama dengan Gimnastic de Manresa and FC Barcelona B. Antara 1990 dan 2001, ia tampil sebanyak 379 bersama Barca, mencakup 263 di ajang La Liga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 16 Desember 1990, ia memulai debut bersama Barcelona dalam pertandingan yang dimenangkan Barca 2-0 melawan Cadiz CF. Bermain sebagai gelandang bertahan, ia bergabung bersama The Dream Team di bawah asuhan pelatih Johan Cruijff.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1997, ia mengenakan ban kapten menggantikan Jose Mari Bakero. Akan tetapi, cedera lutut membekap Pep yang membuat dirinya absen selama setahun. Pada 17 Juni 2001, ia mengucapakan selamat berpisah kepada Barca dalam pertandingan melawan Valencia CF yang berakhir 3-2 untuk kemenangan klubnya. Ia membetot perhatian publik setempat dengan menyabet predikat sebagai Legenda Camp Nou.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meninggalkan Barca pada 2001, ia menambatkan hati kepada Newcastle United, West Ham United, Tottenham Hotspur dan Liverpool, ditambah AC Milan and Internazionale. Ia tidak menemukan hakekat cinta di Italia. Dewi Amor tidak menyambangi dirinya karena terlibat dugaan kasus doping. Enam tahun kemudian, ia&lt;br /&gt;dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1992, Guardiola ditunjuk sebagai kapten timnas Spanyol. Tim Matador merebut medali emas di Olimpiade Barcelona. Antara 1992 dan 2001, Guardiola tampil sebanyak 47 kali dan menyarangkan lima gol bagi timnas negaranya. Pada 14 November 2001, ia menutup lembaran indah untuk kali terakhir bersama Spanyol dalam laga persahabatan melawan Meksiko yang berakhir 1-0 bagi negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak menangani Barca, Pep mendatangkan Dani Alves dan Seydou Keita dari FC Sevilla, Martin Caceres dari Villareal CF, Gerard Pique, dan Henrique Adriano Buss dari Palmeiras meski akhirnya dijual ke Bayer Leverkusen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guardiola cenderung memainkan formasi 4-3-3, berpadanan dengan sistem yang digunakan pelatih sebelumnya Frank Rijkaard. Ini bukti dari kecintaannya akan rajutan historis yang dijalani Barca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menghadapi final Liga Champions, cinta segitiga Pep Guardiola mengalir dari oase kehidupan yang tiada henti mengalir, mengalir dan mengalir. Tujuannya tunggal. Ia ingin menciptakan dunia simbolis dengan menampilkan idea-idea sederhana dalam nilai praktis untuk bertindak secara ekspresif. Inilah misteri cinta dari Pep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami terus mencoba untuk memenangi setiap laga. kami coba mencipta," katanya dalam jumpa pers setelah pertandingan. "Saya punya kepercayaan penuh kepada tim ini. Kami tetap konsisten," katanya pula. Tembang cinta segitiga Pep Guardiola teruntai dalam nada dan lagu: "jangan pernah kau coba untuk berubah.". AA Ariwibowo/ant/kpo&lt;/p&gt;   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-5348253037938038075?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/5348253037938038075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=5348253037938038075' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5348253037938038075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/5348253037938038075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/05/cinta-segitiga-pep-guardiola.html' title='&quot;Cinta Segitiga&quot; Pep Guardiola'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3204615865614049124</id><published>2009-05-08T07:47:00.000+07:00</published><updated>2009-05-08T07:48:14.270+07:00</updated><title type='text'>Martinelli, Jutawan Jadi Presiden</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;   &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;  &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/05/08/0514566p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" width="250" height="300" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Lima tahun lalu, Ricardo Martinelli mencalonkan diri sebagai Presiden Panama. Kandidat dari golongan konservatif yang probisnis itu ada di tempat terakhir dari empat kandidat dengan 5,3 persen suara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tahun 2004 itu, Martinelli nyaris tak bisa mempertahankan partainya, Cambio Democratico (Perubahan Demokratis), dalam pemilu. Namun, siapa menyangka kalau lima tahun kemudian dia kembali menang telak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Multijutawan pemilik rangkaian pasar swalayan Super 99 dan mantan Menteri Urusan Terusan Panama itu menang besar. Martinelli mengalahkan Balbina Herrera, calon Partai Demokrat Revolusioner (PRD) yang berkuasa, dalam pemilu hari Minggu, 3 Mei, itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia menjanjikan membentuk sebuah pemerintah persatuan nasional, karena itulah yang diharapkan oleh negerinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Esok kita semua akan menjadi orang Panama, dan kita akan mengubah negara ini sehingga mempunyai sistem kesehatan yang baik, pendidikan yang baik, transportasi yang baik, serta keamanan yang baik,” kata Martinelli dalam pidato kemenangannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemenangan Martinelli itu menandai dimulainya sebuah masa konservatif dalam politik Panama. Peralihan arah ke kanan dengan menangnya jutawan itu berarti Panama melawan gelombang yang terjadi di Amerika Latin dengan terpilihnya pemimpin-pemimpin kiri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, semua ini tidak akan banyak artinya secara diplomatis di kawasan itu, selain dari kemungkinan Presiden Panama dan Presiden Venezuela akan saling sindir.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kecewanya rakyat kepada pemerintah yang sekarang diperkirakan menjadi sebab mengapa Martinelli mendapatkan 61 persen suara, sedangkan Herrera hanya 37 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selama lima tahun terakhir perekonomian Panama tumbuh rata-rata 8,7 persen dan angka pengangguran turun dari 12 persen menjadi 5,6 persen. Namun, rakyat menganggap pemerintahan Presiden Martin Torrijos tidak cukup adil mendistribusikan hasil pertumbuhan itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Perbedaan pendapatan sangat lebar di Panama dengan 28 persen penduduk yang lebih dari 3 juta itu masih hidup dalam kemiskinan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlebih dengan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Para ahli ekonomi meramalkan pertumbuhan tahun ini hanya 3 persen sampai 4 persen. Popularitas pemerintah digerogoti oleh melambatnya pertumbuhan, krisis ekonomi global, dan meningkatnya kejahatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Martinelli memanfaatkan ketidakpuasan rakyat itu dengan menjanjikan memosisikan diri sebagai warga negara biasa yang telah terpukul oleh naiknya harga-harga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Soal harga mahal&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Panama yang menggunakan dollar AS sebagai mata uangnya tahun lalu menderita tingkat inflasi tertingginya sejak awal 1980-an. Inflasi telah dijinakkan, sementara pertumbuhan ekonomi melambat. Namun, para pemilih marah pada kenaikan harga yang terus bertahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Setiap 15 hari saya pergi ke pasar dan harga makanan naik terus. Anda tidak bisa lagi membeli daging,” kata Oreida Sanchez (36), seorang guru, setelah memberikan suara untuk Martinelli di kawasan Calidonia, Panama City.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Masalah kami yang paling serius adalah biaya hidup. Ini yang menyebabkan kriminalitas karena orang tidak punya cukup uang untuk makan,” kata penyemir sepatu, Aladino Inestrosa (67), di San Miguelito, pinggiran Panama City, di mana Herrera pernah menjadi wali kota.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Sebuah pisang sekarang harganya 45 sen, sebelumnya 10 sen. Itu sebabnya saya memilih Martinelli,” kata Inestrosa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Berpenghasilan rendah&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Martinelli, multijutawan yang juga bergerak di bidang bisnis perbankan, pertanian, dan media itu, mendekati hati pemilih dengan menyatakan kepeduliannya pada masalah mereka. Dia berhasil merebut dukungan dari banyak pemilih berpenghasilan rendah. ”Kita tidak bisa terus mempunyai negara di mana 40 persen warganya miskin,” katanya ketika terpilih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Walau bukan berasal dari keluarga miskin seperti saingannya, Herrera, informasi dalam situs internetnya, Martinelli2009.com, memperlihatkan bahwa dia ingin memberi kesan peduli kepada rakyat kecil. Menurut situs itu, sejak kecil dia ingin tahu mengapa anak-anak dari Distrik Sona, Provinsi Veraguas, tempat asalnya, bekerja begitu berat dan harus membantu mencari uang untuk pendapatan keluarga.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Menurut pengasuh masa kecilnya, Ny Emilia Garcia, Martinelli adalah ”seorang anak yang tidak bisa diam dan pemberani yang selalu memimpikan untuk berbuat hal-hal besar bagi Panama”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Martinelli Berrocal, menurut situsnya, ”adalah seorang pria pekerja, sederhana, punya visi, pemimpin, humanis dan dengan sebuah hati yang besar”.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia menjanjikan sebuah program pekerjaan umum besar-besaran untuk mengembalikan pertumbuhan Panama. Martinelli ingin membangun pelabuhan-pelabuhan, jalan-jalan raya, dan sebuah kereta bawah tanah Panama City.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, sebagian orang mengkhawatirkan Martinelli mungkin tidak bisa menjaga kehidupan bisnisnya terpisah dari menjalankan negara.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya mempunyai keraguan mengenai biaya hidup karena dia di bisnis bahan pangan. Dia tidak akan berminat menurunkan harga,” kata Gabriel Tunon (59), seorang akuntan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;crosshead&gt;&lt;/crosshead&gt;&lt;strong&gt;Investasi asing&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Urusan Martinelli setelah dia dilantik tanggal 1 Juli nanti tentu saja tak hanya urusan harga pisang. Hal yang pasti, dia akan mengawasi pelaksanaan proyek perluasan Terusan Panama senilai 5,25 miliar dollar AS, berupa penambahan seperangkat kunci ketiga yang bisa menangani kapal sampai masing-masing 12.000 kontainer.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia berjanji menarik investasi asing dan meningkatkan perdagangan bebas, terutama dengan mitra dagang utama Panama, AS. Panama telah menyetujui sebuah kesepakatan perdagangan bebas dengan AS, tetapi pakta itu tertahan di Kongres AS oleh kekhawatiran mengenai hak-hak buruh dan peraturan perbankan yang bisa membantu para penghindar pajak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Presiden terpilih itu menyatakan akan menyelesaikan kesepakatan perdagangan bebas dengan AS itu sebagai prioritas utama. Namun, dia menolak tuduhan AS bahwa negaranya merupakan tempat berlindung para penghindar pajak.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Itu akan menjadi prioritas nomor satu kami,” kata Martinelli.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Para pemilih jelas terkesan dengan ketajaman bisnis Martinelli dan kritik tajamnya pada pemerintah yang sekarang sehingga dia menang dengan angka yang sangat meyakinkan. Namun, di tengah keadaan ekonomi yang sulit ini, diperkirakan masa bulan madunya begitu menjadi presiden akan sangat singkat. Dia harus segera membuktikan bahwa dirinya mampu mengatur sebuah negara.(AP/AFP/Reuters/DI)&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3204615865614049124?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3204615865614049124/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3204615865614049124' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3204615865614049124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3204615865614049124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/05/martinelli-jutawan-jadi-presiden.html' title='Martinelli, Jutawan Jadi Presiden'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-7903892262275128835</id><published>2009-05-05T17:57:00.000+07:00</published><updated>2009-05-05T17:58:13.989+07:00</updated><title type='text'>Jejak Pemimpin dalam Lintasan Zaman</title><content type='html'>&lt;h1&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;/h1&gt;    &lt;br /&gt;     &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Salahuddin Wahid&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;(Pengasuh Pesantren Tebuireng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TV kabel C-SPAN meminta 65 sejarawan untuk menilai siapa presiden AS terbaik dengan skala 1 (tidak efektif) sampai 10 (sangat efektif) terhadap 10 aspek kepemimpinan, termasuk hubungan dengan kongres dan kemampuan persuasif terhadap masyarakat dan otoritas moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 43 presiden AS,  Abraham Lincoln dinyatakan sebagai presiden terbaik. Berikutnya ialah George Washington, Franklin D Rosevelt (FDR), Theodore Rosevelt, dan Harry S Truman. Presiden terburuk adalah James Buchanan, Andrew Johnson, dan Franklin Pierce.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibanding penilaian C-SPAN terdahulu (2000), Clinton naik dari peringkat 21 ke 15. Reagan dari urutan 11 ke 10. Bush Sr dari urutan 20 ke 18.  Bush Jr pada urutan 36. Dalam hubungan internasional, ia berada pada urutan ke-41 dan dalam pengelolaan ekonomi berada pada urutan ke-40. Ia juga berada pada urutan ke-25 kepemimpinan krisis dan penyusunan visi serta agenda. Lincoln berada pada urutan tiga besar dari tiap aspek yang dinilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan penilaian itu terjadi karena kepedulian terhadap kondisi kekinian yang memengaruhi penilaian para ahli dan juga masyarakat terhadap apa yang dilakukan pemimpin masa lalu. Di Rusia, kini mayoritas masyarakat kembali menilai tinggi Joseph Stalin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah &lt;em&gt;Time&lt;/em&gt; (1998) menugasi sembilan ahli sejarah untuk memilih siapa presiden terbaik AS pada abad 20. Yang terbaik adalah Franklin Roosevelt, disusul oleh Theodore Roosevelt. Pada urutan ke-15 adalah Nixon dan yang terburuk adalah Herbert Hoover.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Versi masyarakat vs versi ahli&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tentu, ada jajak pendapat tentang siapa presiden terbaik AS yang tidak kita ketahui. Tidak semua nama pilihan ahli bisa tetap di peringkat lima teratas dalam jajak pendapat. Tampaknya, beberapa nama, seperti Kennedy, tidak mendapat tempat teratas dalam penilaian ahli, tetapi bisa mendapatkannya pada jajak pendapat. Walaupun demikian, Kennedy akan dikenang di masa depan dan memberi ilham kepada Clinton. Sejumlah nama akan tetap berada pada peringkat teratas pada kedua cara itu, seperti Lincoln, Washington, dan FDR.&lt;br /&gt;Washington adalah presiden pertama AS. Dia membentuk peradilan federal dan bank nasional. Dia menolak untuk dipilih ketiga kalinya. Dalam pidato perpisahannya, dia meminta rakyat Amerika untuk meninggalkan fanatisme kepartaian dan kedaerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpilihnya Lincoln hanya didukung negara-negara bagian utara, negara-negara bagian selatan menyatakan keluar dari AS sehingga terjadi perang saudara. Pada 1863, Lincoln mengeluarkan Proklamasi Emansipasi yang menyatakan bahwa budak di wilayah negara bagian selatan yang masih menerapkan perbudakan sepenuhnya bebas. Ia juga secara resmi menghapus serta melarang perbudakan di seluruh wilayah Amerika Serikat. Lincoln berhasil mempersatukan kembali AS setelah perang saudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FDR berhasil membawa AS keluar dari depresi ekonomi dengan memberikan bantuan pemerintah untuk meringankan penderitaan rakyat. Dia memperkenalkan empat kemerdekaan, yaitu bebas berbicara, hak beribadah, bebas berkeinginan, dan bebas dari rasa takut. FDR adalah satu-satunya presiden AS yang terpilih empat kali. Partai Demokrat meminta Truman  menjadi cawapres FDR (1944), tapi dia lebih suka tetap menjadi senator karena banyak tugas yang harus diselesaikannya. FDR sendiri memintanya sehingga dia terpaksa menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Truman menggantikan FDR yang wafat (April 1945). Truman mendesak Belanda untuk mengakui Indonesia. Dia  menyetujui militer menjatuhkan bom atom di Jepang. Dalam pemerintahannya, Marshall Plan dijalankan untuk membantu negara Eropa agar dapat memperbaiki ekonominya. Dia menyetujui pembentukan negara Israel. Tahun 1948, dia menjadi presiden atas usahanya sendiri, mengalahkan Thomas Dewey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pengalaman Indonesia&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selama 53 tahun merdeka, Indonesia hanya punya dua presiden dan satu presiden pada masa PDRI. Keduanya turun dari jabatan secara terpaksa. Selama 11 tahun berikutnya, Indonesia punya empat presiden. Presiden kelima berhenti secara tidak terduga. Baru presiden keenam dan ketujuh yang berhenti pada waktunya. Belum ada upaya dari para ahli sejarah atau ahli politik untuk membuat kajian guna menentukan siapakah presiden terbaik di Indonesia tampaknya sesuatu yang wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jajak pendapat (2008) tentang presiden terbaik di Indonesia diadakan Laksnu (Lembaga Kajian dan Survey Nusantara) dengan 1000 responden dari 33 provinsi. Jawabannya menarik. Urutannya adalah Soeharto, Soekarno, SBY, Habibie, Megawati, dan Abdurrahman Wahid. Harian &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; mengadakan jajak pendapat serupa (2008) dengan hasil yang sama. Kalau kita meminta penilaian sejumlah ahli (sejarah, politik, ekonomi, hukum, dan militer), hasilnya bisa berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah waktunya ada prakarsa untuk melakukan penilaian bersama siapa yang terbaik terhadap para pemimpin Pemerintahan Indonesia (presiden dan PM) oleh sejumlah ahli. Kita perlu mengetahui bagaimana sebenarnya posisi para pemimpin kita dalam perjalanan panjang bangsa, mengetahui apa sumbangsih mereka bagi pembangunan bangsa dan negara, serta mengetahui juga apa kesalahan yang telah mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan lebih baik apabila sumbangsih para tokoh, seperti Jenderal Sudirman dan tokoh di luar pemerintahan, juga dikemukakan secara terbuka kepada masyarakat. Rakyat kita sudah cukup dewasa untuk bisa menerima dengan utuh dan secara seimbang para pemimpin kita. Tidak ada pemimpin yang sempurna dan tidak ada yang sepenuhnya salah. Yang baik bisa kita jadikan acuan dan yang buruk bisa kita hindari supaya tidak terulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dikemukakan terbitnya buku rekam jejak para menteri agama Indonesia sejak 1946-1998 yang digarap dengan baik oleh para penulis yang mengenal Departemen Agama. Dr Taufik Abdullah memberi kata pengantar yang amat baik. Dalam buku itu, dapat dibaca perkembangan Departemen Agama dan masalah yang dihadapi dari tahun ke tahun. Buku itu amat bermanfaat bagi menteri yang akan menjabat dan juga bagi anggota DPR yang tugasnya berkaitan dengan Departemen Agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah usul kepada pejabat dari Departemen Kesehatan dan Departemen Pekerjaan Umum untuk membuat buku seperti itu guna memperkenalkan perjalanan departemen itu dan para menterinya kepada masyarakat dan  pihak terkait, yang juga menguraikan perubahan struktur dan latar belakangnya. Departemen lain, TNI, dan Polri perlu melakukan hal yang sama. Yang penting ialah membuat kajian yang objektif dan tidak memihak sehingga masyarakat mengetahui sebanyak mungkin fakta. Tidak boleh ada kultus individu dan pemojokan terhadap tokoh tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya semacam ini akan mencerdaskan dan mendewasakan bangsa kita. Juga, menyadarkan kita bahwa kita punya banyak putra terbaik bangsa yang bisa kita teladani dan supaya tidak selalu mengambil acuan (referensi) dari mancanegara.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-7903892262275128835?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/7903892262275128835/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=7903892262275128835' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7903892262275128835'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/7903892262275128835'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/05/jejak-pemimpin-dalam-lintasan-zaman.html' title='Jejak Pemimpin dalam Lintasan Zaman'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-6678319752910255036</id><published>2009-05-03T18:29:00.000+07:00</published><updated>2009-05-03T18:30:57.332+07:00</updated><title type='text'>Febri Mengangkat Martabat Singkong</title><content type='html'>&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Selama ini singkong identik dengan makanan orang ndeso, jauh dari kesan ”wah” , sehingga sering disepelekan. Namun, di tangan Febri Triyanto (27) dan teman-temannya, umbi tanaman khas tropis bernama Inggris cassava itu berubah menjadi ladang emas yang menjanjikan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melalui usaha Tela Tela, singkong diolah menjadi kudapan dengan berbagai jenis rasa, mirip kentang goreng yang hadir di tiap restoran cepat saji. Dalam waktu empat tahun, Tela Tela menjadi merek waralaba populer, yang tersebar di 182 kota, dari Banda Aceh hingga Papu, dengan 1.650 gerai.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dengan harga jual satu pak Rp 3.000-Rp 6.000, omzet usaha ini Rp 2,5 miliar-Rp 3 miliar per bulan. Tenaga kerja yang terserap sekitar 3.500 orang. Tak mengherankan bila Febri terpilih menjadi salah satu Wirausaha Muda Terbaik 2008-2009 pada Dji Sam Soe Award.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Febri bersama Eko Yulianto, Ashari Tamimi, dan Fath Aulia Muhammad memulai usaha Tela Tela pada September 2005. Saat itu, Febri dan Eko, yang bersaudara kandung, mencari usaha yang bisa mengatasi masalah keuangan keluarga mereka. ”Waktu itu ibu kami terlilit utang. Berbagai usaha kami coba, mulai &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;ngasih les anak SD, membuka warnet dan warung bubur kacang ijo. Hasilnya tidak mencukupi,” kata Febri di kantor pusat Tela Tela di Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (26/4).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bersama dua teman kuliah Eko, yaitu Ashari dan Fath, empat anak muda ini menjual singkong goreng. ”Kami coba buat singkong goreng dengan potongan kecil yang lebih praktis,” kata Febri. Mereka mengajukan pinjaman Rp 3,5 juta ke bank, untuk membuat gerobak dan perlengkapan lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertama berjualan di lingkungan Kampus Universitas Gadjah Mada. Pembeli, yang kebanyakan mahasiswa, memberi respons positif. Namun, mereka tidak lama berjualan di sana karena diusir satpam kampus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Febri lalu memindahkan dagangan di dekat rumahnya, yang berada di lingkungan kos-kosan mahasiswa di Tambak Bayan, Caturtunggal, Depok, Sleman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Peluang mengembangkan usaha datang saat mendapat tawaran ikut Atmajaya Expo 2005 di Yogyakarta. ”Dari situ, kami sukses besar, bisa menjual 4-5 kuintal singkong dalam lima hari. Selain itu, banyak yang ingin ikut berbisnis Tela Tela. Namun, saat itu kami belum mengenal sistem &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;franchise,” kata Febri.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah Atma Jaya Expo, Febri mulai menata usahanya, antara lain dengan mendesain kemasan dan gerobak, selain mulai mengadopsi sistem waralaba.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setiap orang yang berminat membuka usaha Tela Tela cukup menyediakan modal Rp 12 juta untuk dua gerai. Selanjutnya, para agen mesti menyetorkan tiga persen dari omzet kotor tiap gerai per bulan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pengolahan produk dilakukan para agen dengan bumbu yang disediakan Tela Tela, ”Mereka terlebih dahulu mengikuti pelatihan dari kami,” kata Febri. Salah satunya, tentang seluk-beluk singkong yang bisa diolah untuk Tela Tela.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Harus jenis singkong ketan dan baru dicabut,” katanya. Untuk urusan singkong, pasokan diperoleh dari Kecamatan Kalasan dan Tempel di Sleman, sebanyak 5 kuintal per hari untuk 52 gerai yang ada di Yogyakarta.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini, Febri dan teman-temannya memimpikan bisa membawa Tela Tela &lt;text w="9036m" small="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" f="602" co="K" bd="0" fontfamily="Chronicle Text G1" fontname="ChronicleTextG1-Italic" modedata="0"&gt;&lt;/text&gt;go international. ”Kami sudah menerima banyak aplikasi, seperti dari Kamboja dan Malaysia. Karena birokrasi berbelit-belit, maka belum bisa direalisasikan,” tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mimpi lain adalah menembus pasar ritel modern. Untuk itu, mereka harus terus mengembangkan diri dan berinovasi terhadap semua aspek bisnis, terutama produk, strategi pemasaran, dan pelayanan pelanggan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Kalau berhenti berinovasi, jangankan berkembang, bisa-bisa bisnis tidak berumur panjang,” katanya. &lt;strong&gt;(Mohamad Final Daeng)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-6678319752910255036?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/6678319752910255036/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=6678319752910255036' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6678319752910255036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6678319752910255036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/05/febri-mengangkat-martabat-singkong.html' title='Febri Mengangkat Martabat Singkong'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1575369958250876966</id><published>2009-04-30T15:29:00.001+07:00</published><updated>2009-04-30T15:29:58.093+07:00</updated><title type='text'>Awak Harian "Merdeka" Tak Ada yang Curiga kepada Sigid</title><content type='html'>&lt;div class="judulisiberita" style="margin: 5px 0px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;div style="width: 300px; float: left; margin-right: 10px;"&gt;         &lt;div style="padding: 0px 0px 5px; width: 298px;"&gt;       &lt;div id="loadarea" style="margin-bottom: 5px; width: 298px;"&gt;&lt;img src="http://www.kompas.com/data/photo/2009/03/24/1119008p.jpg" border="0" width="298" /&gt;     &lt;/div&gt;                   &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/30/14432729/Awak.Harian.Merdeka.Tak.Ada.yang.Curiga.kepada.Sigid#" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;"&gt;Nova&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;             &lt;/div&gt;                                &lt;!--- video --&gt;             &lt;div id="boxpoto" style="margin-bottom: 0px; text-align: right; font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102);"&gt;&lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/30/14432729/Awak.Harian.Merdeka.Tak.Ada.yang.Curiga.kepada.Sigid" style="font-family: arial; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 9px; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; color: rgb(102, 102, 102); text-decoration: none;" target="_blank"&gt;/&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;        &lt;div id="boxterkait" style="width: 300px; background-color: rgb(255, 255, 255); margin-bottom: 20px;"&gt;      &lt;b class="judulnolead"&gt;Artikel Terkait:&lt;/b&gt;      &lt;ul id="navlist"&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/30/13463659/tersangka.pembunuh.nasruddin.dibawa.ke.tempat.rahasia"&gt;Tersangka Pembunuh Nasruddin Dibawa ke Tempat Rahasia&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/30/1143129/kapolri.bantah.keterlibatan.anggota.militer"&gt;Kapolri Bantah Keterlibatan Anggota Militer&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/04/30/1056412/pembunuh.nasruddin.ada.pengusahanya"&gt;Pembunuh Nasruddin Ada Pengusahanya&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/03/15/21465665/27.jam.peluru.bersarang.di.kepala.nasruddin."&gt;27 Jam Peluru Bersarang di Kepala Nasruddin &lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://megapolitan.kompas.com/read/xml/2009/03/15/14395498/korban.penembakan.di.modernland.akhirnya.tewas"&gt;Korban Penembakan di Modernland Akhirnya Tewas&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;     &lt;/div&gt;       &lt;div style="padding: 0pt;"&gt;        &lt;/div&gt;                                  &lt;/div&gt;  &lt;div class="tanggal"&gt;Kamis, 30 April 2009 | 14:43 WIB&lt;/div&gt;       &lt;b&gt;Laporan wartawan KOMPAS.com Rita Ayuningtyas&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;JAKARTA, KOMPAS.com&lt;/strong&gt; - Harian Merdeka telah memastikan komisaris utama induk perusahaannya, PT Pers Indonesia Merdeka, Sigid Haryo Wibisono, sedang diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Rekannya, Mulyana W Kusumah, tak pernah menyangka Sigid dapat terlibat dalam pembunuhan berencana itu. Menurut Mulyana yang kini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Harian Merdeka, Sigid merupakan sosok pengusaha muda sukses. "Saya kira seperti tidak ada sesuatu yang menonjol selain kepemimpinan," ujar Mulyana saat dihubungi &lt;strong&gt;Kompas.com &lt;/strong&gt;di Jakarta, Kamis (30/4).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kecurigaan juga tidak muncul dari segi pemberitaan. Menurut dia, harian &lt;em&gt;Merdeka &lt;/em&gt;juga memuat berita tentang kejadian penembakan Nasruddin yang terjadi pada 14 Maret. "Namun, setelah itu perkembangannya memang agak landai. Jadi, kami juga tidak mengikuti lagi," katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, mengenai sanksi, tuturnya, perusahaan inti yang akan mengatur dan menjawab. Sebagai pemimpin redaksi, Mulyana hanya bertugas memberikan penjelasan mengenai kebenaran keterlibatan Sigid.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nasruddin dibunuh seusai bermain golf di Kawasan Lapangan Golf Modern. Dia dibunuh saat duduk di kursi kiri belakang mobil BMW abu-abu dekat Danau Modernland, Cikokol Tangerang Kota, pukul 14.00.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Korban ditembak dua kali mengenai jendela mobil lalu mengenai pelipis kiri korban. Pelaku diduga pria berjaket coklat dengan mengendarai sepada motor Yamaha Scorpio. Korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Mayapada yang masih berada di sekitar kawasan Modernland.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari sana korban dibawa ke RS Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto, 15 Maret sekitar pukul 12.05. Nasruddin tewas dengan dua peluru masih bersarang di kepala dan kemudian dimakamkan di Makasar, 16 Maret.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1575369958250876966?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1575369958250876966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1575369958250876966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1575369958250876966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1575369958250876966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/04/awak-harian-merdeka-tak-ada-yang-curiga.html' title='Awak Harian &quot;Merdeka&quot; Tak Ada yang Curiga kepada Sigid'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-8045087854809247411</id><published>2009-04-30T15:05:00.000+07:00</published><updated>2009-04-30T15:06:41.882+07:00</updated><title type='text'>Pemikiran Sigid Haryo Wibisono Dalam Sebuah Buku</title><content type='html'>&lt;div id="judul_detail"&gt;     &lt;h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;    &lt;/div&gt;        &lt;div id="nama_wartawan"&gt;     oleh: boni.hargens[at]merdeka.co.id   &lt;/div&gt;        &lt;div id="tanggal"&gt;     Sabtu, 13 Desember 2008   &lt;/div&gt;         &lt;div id="detail_utama"&gt;     &lt;div id="foto"&gt;           &lt;img id="main" style="border: 1px solid rgb(204, 204, 204); padding: 3px;" src="http://foto.merdekainteraktif.com/2008/11/18/200811181045151226979915_400x310.jpg" title="Pemikiran Sigid Haryo Wibisono Dalam Sebuah Buku" alt="Pemikiran Sigid Haryo Wibisono Dalam Sebuah Buku" width="268" /&gt;          &lt;/div&gt;     &lt;div id="isi_berita"&gt;      &lt;p&gt; &lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Judul&lt;span&gt;                &lt;/span&gt;: Membangun Pilar Persatuan dan Kesatuan Bangsa&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penulis&lt;span&gt;             &lt;/span&gt;: Sigid Haryo Wibisono&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Editor&lt;span&gt;               &lt;/span&gt;: Julius Pour&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pengantar &lt;span&gt;        &lt;/span&gt;: Satjipto Rahardjo&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penerbit&lt;span&gt;            &lt;/span&gt;: PT Pustaka Merdeka&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tahun&lt;span&gt;               &lt;/span&gt;: November 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tebal&lt;span&gt;                &lt;/span&gt;: xi + 98 halaman&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kenegarawanan di Tengah Turbulensi Politik &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di tahun 1930an terjadi polemik kebudayaan di antara Sutan Takdir Alisabana (STA), Sanusi Pane, Poerbatjaraka, dan R.Sutomo di Harian &lt;em&gt;Soeara Oemoem.&lt;/em&gt; Mereka mempersoalkan identitas keindonesiaan (Achadiat K. Miharja, &lt;em&gt;Polemik Kebudayaan&lt;/em&gt;,1948). Ada STA di satu sisi yang menolak Indonesia dilihat sebagai sambungan langsung dari Kerajaan Kutai, Samudra Pasai, Majapahit, Sriwijaya, ataupun Mataram dalam satu kontinum sejarah yang linear dan ada&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Sanusi Pane, Poerbatjaraka, dan R. Sutomo di lain sisi yang membantah STA dengan berlandaskan Dialektika Hegel sebagai dasar logika, bahwa sejarah berkembang secara linear. Sebagai implikasi,&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;tak akan pernah ada Indonesia tanpa adanya kerajaan-kerajaan kecil ataupun besar sebelum abad ke-19.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tak menentukan salah-benar, intensi STA cukup jelas, bahwa ketika kita berbicara tentang Indonesia, kita berbicara tentang bangsa yang konstruktif dan dinamis (&lt;em&gt;dynamisch)&lt;/em&gt;. Karena kontinuitas sebuah bangsa ditentukan oleh dinamika peradabannya. Peradabanlah yang menjadi fondasi bagi seluruh komponen plural dan kompleks untuk berpikir, berbayang, dan berasa sebagai satu-kesatuan entitas yang dinamakan &lt;em&gt;bangsa &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;nation&lt;/em&gt;). Atau dalam bahasa Anderson (1986), keindonesiaan kita dapat bertahan sejauh ia bisa dibayangkan oleh seluruh elemen yang membentuknya sebagai sebuah &lt;em&gt;nation&lt;/em&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Apakah Indonesia sudah dirasakan sebagai sebuah bangsa oleh seluruh elemen dan warga yang hidup dari Pulau Weh sampai Merauke? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Gagal di Dua Ranah&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ini pertanyaan retorik yang menyadarkan kita betapa pentingnya &lt;em&gt;nation and state building, &lt;/em&gt;membangun bangsa dan negara. Ada dua substansi di sini. Pertama adalah membangun sistem kenegaraannya dan kedua adalah&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;membangun manusianya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Pada ranah sistem, pembangunan sudah berjalan dengan cukup baik dengan adanya berbagai pranata demokrasi. Namun pada tataran manusia, kita masih jauh dari harapan. Siklus kemiskinan, pragmatisme politik, demokrasi tak bersubstansi, korupsi, pengangguran, dan kelambanan ekonomi masih merupakan kotak persoalan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Untuk diketahui, tahun 2005, Indonesia salah satu dari 89 negara yang kebebasan politiknya bagus, meninggalkan 58 negara yang setengah bebas, dan 45 lainnya yang sama sekali terkekang. Prestasi ini bertahan pada 2006-2008 dalam penelitian di 195 negara. Pada periode yang sama tercatat 46 persen (2,97 miliar) penduduk dunia hidup bebas, 18 persen dalam situasi setengah bebas, dan 36 persen lainnya (2,33 miliar) dalam keterkekangan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Data yang dikeluarkan &lt;em&gt;Freedom House&lt;/em&gt; di Washington ini belum melegakan karena dalam hal-hal spesifik kita masih belum berhasil. Angka akuntabilitas dan kepedulian terhadap suara publik, misalnya, masih tertahan di skor 4.70 pada skala 0-7 dimana 0 representasi dari keadaan yang terburuk dan 7 yang terbaik.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Disusul angka kebebasan sipil 3.70, penegakan hukum 2.97, transparansi dan antikorupsi 2.45.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bahkan dilaporkan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum), posisi Indonesia kurang stabil&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;dalam peta ekonomi dunia, di antara 121 negara. Tahun 2001, Indonesia di&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;tangga ke-57, tahun 2002 turun ke urutan 66, tahun 2003, kembali naik dan berada di posisi 50, tahun 2004 kembali turun ke posisi 53, trend menurun berlanjut ke tahun 2005 (59), lalu sempat naik ke posisi 35 di 2006, tapi tahun 2008 kembali jatuh ke posisi 55 dengan skor 4.25.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kompleksnya kotak persoalan di Tanah Air membuktikan keresahan STA di era 1930an, bahwa membangun bangsa adalah membangun karakternya, sekaligus memperkuat keyakinan tentang perlunya perubahan. Kenapa sudah 63 tahun kita masih gagal? Bagaimana menciptakan perubahan ke depan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Menjawabi dua pertanyaan ini, dan tepat pada ruang ini, kehadiran buku &lt;strong&gt;Sigid Haryo Wibisono&lt;/strong&gt; berjudul &lt;em&gt;Membangun Pilar Persatuan dan Kesatuan Bangsa&lt;/em&gt; menjadi penting. Ketajaman gagasan dan kejernihan alur berpikir penulis dalam memotret persoalan bangsa dan terutama dalam mengkanalisasi masalah membantu kita memahami latar dan sebab dari stagnasi berkepanjangan di Tanah Air. Bahwa dasar masalah kita adalah &lt;em&gt;lack of&lt;/em&gt; &lt;em&gt;statesmanship spirit,&lt;/em&gt; kurangnya roh kenegarawanan.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Secara konsisten, Sigid fokus pada masalah kenegarawanan dalam tujuh bab bukunya yang disunting Julius Pour dengan kata pengantar Prof. Satjipto Rahardjo,S.H. Dibentuk dalam keluarga nasionalis dan dididik oleh ayah militer barangkali menjadi dasar sosial bagi penulis dalam melahirkan pemikiran macam ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hal itu terbaca mulai dari awal hingga akhir buku. “&lt;em&gt;Untuk mensukseskan penyelenggaraan pembangunan nasional dibutuhkan elit-politik yang tidak sekedar sebagai pemimpin politik namun justru sebagai negarawan yang mampu mengayomi dan melindungi segenap bangsa. Dengan telah terbentuknya sikap kenegarawanan elit-politik ini, maka secara gradual namun pasti, keresahan social di daerah-daerah akan segera teratasi sehingga pembangunan nasional akan terwujud…”.&lt;/em&gt; Demikian penegasan penulis di bagian awal (hal.3). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Masalah sekaligus Solusi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Unggulnya buku ini juga terletak pada kecerdasan mengungkap akar masalah yang sekaligus merupakan jalan keluar. Krisis roh kenegarawanan akar krisis multidimensi, maka penguatan roh kenegarawanan adalah solusi. Kalau Max Lane (2008) bilang, Indonesia adalah bangsa yang belum selesai, maka membentuk sikap kenegarawanan di kalangan elite yang menjalankan kekuasaan politik adalah jalan penyelesaian. Maka keunggulan ide Sigid Haryo Wibisono tak terbantahkan dalam konteks ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di bidang ideologi, penulis menekankan pentingnya elite politik memahami makna eksistensial Pancasila sebagai &lt;em&gt;Weltanschauung,&lt;/em&gt; pandangan hidup, bangsa.&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Di bidang politik, demokrasi mesti dipahami dan diberdayakan untuk memperjuangkan kemaslahatan bersama (&lt;em&gt;bonum commune)&lt;/em&gt; dengan&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;menegakkan supremasi hukum sebagai bagian dari prioritas. Di bidang ekonomi, penegakan demokrasi ekonomi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan koperasi sebagai fondasi adalah strategi memperkuat ekonomi nasional. Di bidang sosial budaya, penulis menghimbau elite politik untuk mendalami Wawasan Nusantara dengan menghormati kebhinekaan budaya melalui edukasi, sosialisasi, keteladanan, dan pemberdayaan kebhinekaan. Lalu di matra pertahanan dan keamanan, kesertaan warga Negara dalam membela negara merupakan kewajiban (hal. 86-89). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Keunggulan lain dari buku ini, skeptisisme penulis terhadap kualitas kepemimpinan di Tanah Air tidak menjebaknya dalam tuduhan &lt;em&gt;ad hominem. &lt;/em&gt;Dengan santun, khas bangsawan Jawa, penulis mengajukan kritik demi kritik tanpa sedikit pun menyerang elite tertentu. Model kritik macam ini dibutuhkan di tengah turbulensi politik menuju pemilu 2009 saat ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Panduan Politik&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Buku karya tokoh muda yang sudah bergelut dengan lima pemerintahan (Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan Yudhoyono) ini merupakan panduan politik. Tepat sekali diketahui oleh para politisi dan pekerja politik lainnya dalam rangka mematangkan agenda kampanye mereka. Tentu tak terkecuali, para aktivis, intelektual, dan pembelajar demokrasi juga perlu membaca buku ini sebagai panduan dalam mendorong perubahan nasional. ***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;/div&gt;         &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-8045087854809247411?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/8045087854809247411/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=8045087854809247411' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8045087854809247411'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/8045087854809247411'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/04/pemikiran-sigid-haryo-wibisono-dalam.html' title='Pemikiran Sigid Haryo Wibisono Dalam Sebuah Buku'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-3975436005365381969</id><published>2009-03-19T16:45:00.000+07:00</published><updated>2009-03-19T16:47:32.380+07:00</updated><title type='text'>Markopolos, Pembongkar Skandal Madoff</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;          &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;            &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;   &lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="300" height="200"&gt;     &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/03/18/3245165p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" width="300" height="223" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;          &lt;/div&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    Markopolos   &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;                               &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;          &lt;span class="tglct"&gt;Rabu, 18 Maret 2009 | 03:54 WIB&lt;/span&gt;   &lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;”Saya menyurati Madoff agar saya diperbolehkan menanamkan dana di perusahaannya. Namun, dia menolak dengan alasan tidak lagi menerima uang dari pelanggan baru,” demikian kesaksian Larry Leif di situs majalah Time, 5 Januari 2009. Leif adalah pebisnis AS dan juga sahabat Bernard Madoff. &lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Simon Saragih &lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Penolakan Madoff, pria Yahudi kelahiran Queens, New York City, 29 April 1938, membuat banyak warga kaya berlomba menjadi pelanggan Bernard Investment Securities LLC. Tak sedikit yang berlomba menjadi teman sepermainan golf dengan Madoff.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Jika Anda kesulitan menempatkan dana, pilih saja Madoff,” demikian komentar soal kehebatan Madoff. Dalam 20 tahun terakhir, dia memberi keuntungan 12 persen per tahun setelah dipotong komisi 4 persen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adalah Frank Avellino, mantan karyawan Madoff, pada akhir 2008, yang turut memicu kebohongan besar Madoff, awal dari kisah lenyapnya lebih dari 160 miliar dollar AS dana investasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Avellino menyatakan telah digugat pembantu di rumahnya karena uang tabungan senilai 120.000 dollar AS lebih lenyap di perusahaan Madoff. Kemudian kepada putranya, Madoff yang beristrikan Ruth Alpern mengakui telah melakukan kesalahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Informasi ini&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;menjadi sumber keberanian Badan Pengawas Pasar Modal AS (US Securities and Exchange Comission/SEC) mengusut penipuan yang melenyapkan dana perorangan, lembaga, badan sosial, termasuk yayasan milik komunitas Yahudi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Membuat ramai dan hebohnya kasus ini adalah tampilnya Harry Markopolos di Komisi Keuangan DPR AS, 4 Februari 2009 di Capitoll Hill, Washington. Di hadapan para anggota komisi, Markopolos yang ahli investasi itu mengatakan sudah tahu kebohongan Madoff di balik pengelolaan dana-dana investasi milik 13.500 nasabah, di antaranya bank-bank kaliber dunia seperti UBS (Swiss), Great Eastern (asuransi Singapura), aktor/aktris Hollywood, sutradara peraih hadiah Oscar, Steven Spielberg, hingga Larry King dari CNN.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa dan bagaimana lenyap? Ini masih misterius.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada 1999, ketika Arthur Levitt, Yahudi asal Brooklyn, New York, memimpin SEC 2001- 2003, Markopolos sudah memberi SEC informasi soal penipuan Madoff. Markopolos oleh anggota Kongres AS dijuluki sebagai pahlawan Yunani pada era modern.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kisahnya, periode 1991-2004, Markopolos bekerja di Rampart Investment Management Co. Sejak berdiri pada awal dekade 1990-an, berita keuntungan perusahaan Madoff menyebar. Sang bos meminta Markopolos mempelajari cara Madoff meraih untung tinggi. Siapa tahu bisa ditiru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dibantu ahli matematika bernama Dan diBartolomeo, Markopolos melakukan simulasi. ”Tidak semua paham produk derivatif jika tak paham matematika,” kata Markopolos yang lahir 22 Oktober 1956 di Erie, Pennsylvania, AS. Simulasi melahirkan 25 model bernama Red Flags.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dia juga bicara dengan berbagai pakar investasi, bankir, dan berkunjung ke Swiss. Kesimpulannya, tidak ada satu pun broker investasi mampu meraih rata-rata keuntungan 0,40 persen di atas London Interbank Offered Rate (LIBOR). Ini merujuk pada suku bunga pinjaman antarbank di pasar uang London yang secara empiris selalu di bawah 10 persen per tahun.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ditabung di bank&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertumbuhan ekonomi &lt;line&gt;&lt;/line&gt;tertinggi di dunia 20 tahun terakhir terjadi di China. Keuntungan investasi jauh di atas angka pertumbuhan dan berlangsung bertahun-tahun sungguh luar biasa.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Madoff, ayah dari Mark (lahir 1964 dan Andrew lahir 1966), pada Desember 2008 mengaku tak pernah menempatkan dana di bursa, tetapi ditabung di Chase Manhattan Bank atas namanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Bisnis Madoff tidak lain adalah skema Ponzi,” kata Markopolos merujuk pada arisan berantai. Investor pertama dijanjikan dan diberi keuntungan tinggi dengan memakan uang masuk dari pelanggan baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Skema Ponzi mengambil nama Charles Ponzi, imigran Italia di Boston, yang melakukan hal serupa pada periode 1919-1921. Cikal bakal skema Ponzi adalah ulah serupa oleh pengusaha New York tahun 1899, William Miller.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Pada tahun 2005, 2007, hingga 2008 saya sudah melapor ke SEC, termasuk informasi pembagian bonus Merrill Lynch. SEC tak peduli,” kata Markopolos yang pernah menjadi anggota pasukan khusus militer AS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Georgia Markopolos, ibunya, menyebut putra sulungnya dari tiga bersaudara itu tidak bisa menerima penipuan dengan alasan moral. Sejak kecil, kata Georgia, Markopolos bukan tipe yang mudah menyerah walau menghadapi tantangan berat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah keluar dari militer, Markopolos terus mendalami investasi, bisnis, keuangan, dan lalu mendapatkan profesi sebagai analis, serta penyelidik keuangan bersertifikat. Dia juga gencar melakukan penyelidikan atas pengelolaan keuangan negara secara independen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di sela kesibukannya, dalam 10 tahun terakhir dia tak lelah melaporkan penipuan Madoff ke SEC saat dipimpin Harvey Pitt, keturunan Yahudi, periode 2001-2003. Aduan tidak didengar, tidak pula oleh Bill Donaldson (Ketua SEC, 2003- 2005), tidak juga oleh Christopher Cox.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Era kepemimpinan Presiden Barack Obama, yang menjanjikan pemberangusan kerakusan Wall Street, dan SEC di bawah Mary Schapiro, memberi angin segar kepada si ”peniup peluit”, termasuk Markopolos.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Terancam bahaya&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di dalam laporannya berjudul The World’s Largest Hedge Fund is a Fraud tahun 2005, Markopolos mengatakan, Madoff dan istrinya, adiknya Peter Madoff, adalah keluarga kuat terkait politik di AS. Di hadapan Komisi DPR AS Markopolos menyatakan, dia dan keluarganya merasa khawatir akan sebuah bahaya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Madoff adalah mantan pejabat keuangan World Jewish Congress dan donatur rutin Partai Demokrat. Dia malang melintang di lingkungan keuangan New York dan pernah mengetuai Bursa Saham Nasdaq, tempat perusahaan-perusahaan berbasis teknologi mendaftarkan saham untuk dijual ke publik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika James Segel, orang suruhan Barney Frank, Ketua Komisi Keuangan DPR AS, membujuknya memberi kesaksian, Markopolos meminta identitas Segel. ”Anda harus yakin bicara dengan siapa,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Justin Fox, kolumnis Time, menuliskan, ketika Markopolos mengadu ke SEC, jawaban yang didapat adalah, ”Harry diminta menjadi peneliti resmi dan terdaftar.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Buset!” kata Fox.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Fox menambahkan, Madoff memperlakukan pegawai SEC seperti anak buah. Ini memungkinkan Madoff memalsukan laporan keuangan Bernard Investment Securities LLC, yang terdaftar di SEC. Pada tahun 2007, Madoff mengatakan, ”Saya dekat dengan regulator. Keponakan saya menikahi seorang regulator.” Adiknya, Peter, juga merupakan orang yang disegani di bisnis keuangan di New York.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Atas keberaniannya, situs Boston.com menyebut Markopolos sebagai pahlawan. Boston Security Analyst Societty, 11 Februari, menganugerahi Markopolos medali perak atas keberaniannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;SEC dan jaksa penuntut di New York lalu menjatuhkan dakwaan kepada Madoff dengan kesalahan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kini Markopolos menjadi bintang. Warga AS berterima kasih kepadanya. Media terus memburunya untuk wawancara.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-3975436005365381969?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/3975436005365381969/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=3975436005365381969' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3975436005365381969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/3975436005365381969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/03/markopolos-pembongkar-skandal-madoff.html' title='Markopolos, Pembongkar Skandal Madoff'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-1693137106832211797</id><published>2009-03-03T16:54:00.000+07:00</published><updated>2009-03-03T16:55:25.115+07:00</updated><title type='text'>Sjahrir dan Sosialisme Indonesia</title><content type='html'>&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt; &lt;!--l version="1.0" encoding="UTF-8--&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;Oleh &lt;strong&gt;IVAN A HADAR&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;lead&gt;&lt;/lead&gt;Tanggal 5 Maret 2009 genap 100 tahun Sutan Sjahrir. ”Bung Kecil”, begitu Sjahrir dijuluki, tercatat sebagai tokoh sentral perjuangan kemerdekaan &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;, khususnya bidang politik dan diplomasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dikenal cerdas, Sjahrir saat berusia 19 tahun mengambil bagian dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Pada usia 36 tahun Sjahrir terpilih sebagai Perdana Menteri I RI.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Piawai di meja perundingan, Sjahrir mendirikan Partai Rakyat Sosialis, lalu berganti nama menjadi Partai Sosialis &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; (PSI). Dalam Pemilu 1955, PSI gagal meraup suara yang signifikan. Lima tahun kemudian PSI dibubarkan Presiden Soekarno.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tahun 1963, Sutan Sjahrir resmi ditetapkan sebagai tahanan politik hingga meninggal di Swiss dalam masa pengobatan. Pembubaran PSI dan Masyumi menandai berlakunya masa otoritarian. Hingga akhir rezim Orde Baru, wacana terkait dengan ideologi bangsa yang termanifestasi dalam tatanan ekonomi politik, sistem budaya, dan nilai-nilai idealnya praktis terhenti.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;subtitle&gt;&lt;/subtitle&gt;&lt;strong&gt;Sosialisme &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam membicarakan tatanan sosial politik yang ideal, sering hadir kerinduan untuk menemukan jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme. Sjahrir adalah salah satu perintis pencarian jalan itu, yang tertuang dalam konsep Sosialisme &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;. Pertanyaannya, mungkinkah ada ”jalan tengah versi &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;”? Mungkinkah menyatukan dua isme yang ibarat minyak dan air?&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan lebih konkret ialah, perlukah Sosialisme &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;? Perlu. Alasannya, agar sisi positif sosialisme sebagai perangkat analisis sosial yang tajam dalam menggambarkan tatanan berkeadilan bisa digabungkan dengan tatanan politis demokratis yang menjadi persyaratan berfungsinya sebuah ekonomi pasar dalam konteks &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di negara-negara kapitalis modern yang maju berlaku demokrasi politik. Namun, tidak demikian halnya dengan demokrasi ekonomi. Pencapaian demokrasi politik secara historis amat penting, tetapi itu kurang lengkap. Ia sekadar demokrasi perwakilan yang pasif, di mana sebagian besar rakyat memilih orang lain untuk bertindak bagi mereka. Juga kekuatan ekonomi tetap terkonsentrasi dan demokrasi ekonomi masih menanti masa depan yang lebih baik.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara itu, eksperimen sosialisme (tepatnya komunisme) Blok Timur telah gagal. Tidak adanya demokrasi politik mengakibatkan krisis politik berujung pada tumbangnya Uni Soviet dan Blok Timur. Tak adanya demokrasi politik ekonomi di negara- negara komunis saat itu, dikemas dalam konteks &lt;text w="9036m" small="0" modedata="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" f="602" co="K" bd="0"&gt;&lt;/text&gt;full employment yang dipaksakan dan perencanaan sentralistis, mengakibatkan stagnasi dan inefisiensi ekonomi dan lemahnya disiplin kerja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketidakpuasan atas dua isme itu memicu pencarian alternatif. Secara teoretis, memunculkan berbagai aliran sosialisme. Sosialisme-demokratis adalah salah satu bentuk sosialisme yang menemukan lahan berkembang di beberapa negara industri maju, seperti Jerman dan Swedia. Selain itu, kita pernah mendengar berbagai genre sosialisme, seperti sosialisme-non-marxis, sosialisme-&lt;text w="9036m" small="0" modedata="0" mode="0" jmp="0m" it="1" h="9036m" gray="100" fontname="ChronicleTextG1-Italic" fontfamily="Chronicle Text G1" f="602" co="K" bd="0"&gt;&lt;/text&gt;science-movement, dan sosialisme-utopis.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;subtitle&gt;&lt;/subtitle&gt;&lt;strong&gt;Sosialisme Sjahrir&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam catatan sejarah &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;, ada empat partai politik yang pernah menyandang nama ”sosialis” sebagai nama dan ideologi resmi partai, yaitu Partai Sosialis yang diketuai Amir Sjarifuddin, Partai Rakyat Sosialis (Paras) yang didirikan dan diketuai Sutan Sjahrir. Lalu, ada Partai Sosialis yang merupakan fusi dari kedua partai itu. Partai inilah yang sejak November 1945 menguasai kabinet RI hingga pertengahan 1947, saat terjadi keretakan antara kelompok Sjahrir dan Amir Sjarifuddin. Sjahrir lalu membentuk partai baru, Partai Sosialis &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; (PSI), pada awal 1948, bertahan hingga 1960, saat dibubarkan Soekarno.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam sejarah pergerakan kemerdekaan, kita mengenal para tokoh, termasuk Soekarno dan Hatta, yang berkeyakinan membangun masyarakat dan negeri ini atas prinsip sosialis. Namun, di antara tokoh-tokoh itu, mungkin hanya Sjahrir yang paling tegas dan nyata dalam keyakinan dan perjuangan. Ia bukan saja mendirikan partai politik (PSI) untuk mewujudkan keyakinannya, tetapi sebelumnya juga telah memikirkan secara mendalam paham sosialisme apa yang paling cocok untuk &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sjahrir tegas membedakan paham sosialisme yang hendak diperjuangkannya di &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt; dengan sosialisme yang ada di Eropa Barat maupun sosialisme yang ditawarkan komunis. Pergumulannya atas paham-paham sosialisme di Eropa Barat dan kekhawatirannya akan komunisme totaliter membawanya pada pemikirannya tentang sosialisme yang sesuai bagi &lt;a style="border-bottom: 1px solid rgb(103, 165, 10); color: rgb(103, 165, 10); text-decoration: underline;" id="pilih" onmouseover="stm(Text[8],Style[5])"&gt;Indonesia&lt;/a&gt;, yaitu sosialisme-kerakyatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bagi Sjahrir, perkataan kerakyatan adalah suatu penghayatan dan penegasan bahwa sosialisme seperti yang dipahaminya selamanya menjunjung tinggi dasar persamaan derajat manusia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam catatan sejarah diketahui, cita-cita sosialisme-kerakyatan Sjahrir tidak berhasil diwujudkan. Namun, ketidakberhasilan ini mungkin bukan semata- mata karena Sjahrir tergeser dari panggung politik atau karena PSI dibubarkan. Sosialisme, apa pun namanya, hanya paham, suatu cita-cita yang masih di tingkat konsepsi. Untuk mewujudkan cita-cita itu, ia harus dibuat operasional dan harus didukung seperangkat institusi dan mekanisme-mekanisme tertentu. Ini bukan hal mudah. Tanpa itu, ia akan berhenti pada imbauan moral atau etis, tetapi tidak membawa perubahan apa-apa.&lt;/p&gt;&lt;byline&gt;&lt;/byline&gt;&lt;strong&gt;IVAN A HADAR&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Wakil Pemimpin Redaksi Jurnal SosDem&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-1693137106832211797?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/1693137106832211797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=1693137106832211797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1693137106832211797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/1693137106832211797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/03/sjahrir-dan-sosialisme-indonesia.html' title='Sjahrir dan Sosialisme Indonesia'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-6853228614665868410</id><published>2009-03-01T20:49:00.000+07:00</published><updated>2009-03-01T20:50:46.039+07:00</updated><title type='text'>Zuckerberg, Si Pembuat Facebook</title><content type='html'>&lt;span class="tglct"&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p style="text-align: left;"&gt;&lt;strong&gt;Joice Tauris Santi dan Simon Saragih&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lebih dari seratus juta warga dunia kini keranjingan dengan jaringan sosial di dunia maya, Facebook.com. Lewat situs ini pengguna dapat memperluas pertemanan lintas benua, bahkan kembali ”bertemu” dengan kawan-kawan atau pacar lama yang tidak terlihat lagi seusai perpisahan sekolah.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Presiden AS Barack Hussein Obama bahkan memanfaatkan situs ini sebagai salah satu cara untuk meraih dukungan dalam Pemilihan Presiden AS, tahun lalu. Inilah buah karya Mark Elliot Zuckerberg, seorang keturunan Yahudi AS, salah satu dari tiga pendiri Facebook.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa Facebook melejit? Pakar teknologi informasi, Dr Linda M Gallant, Asisten Profesor dari Emerson College, Boston, memberi penjelasan, ”Situs internet umumnya menyajikan informasi dan para penjelajahnya hanya menerima apa adanya. Sekarang ini para penjelajah ingin berpartisipasi sebagai pengisi situs. Facebook memenuhi hasrat itu.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mengapa Facebook mengejar My Space, situs jaringan sosial terbesar pertama di dunia sebelum April 2008? Keadaan bahkan sudah berubah, Facebook tidak lagi nomor dua sebagaimana ditulis di situs Techcrunch.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Situs Mashable (The Social Media Guide) menyatakan, desain Facebook lebih enak dilihat dan dijelajahi serta menawarkan hal-hal yang lebih riil. Sebagai contoh, Facebook menawarkan orang lain yang kira-kira Anda kenal untuk di-add (ditambahkan) jadi teman. My Space juga menyodori Anda beberapa teman, tetapi termasuk menyodori orang-orang dari negeri antah berantah menjadi teman.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Apa pun latar belakang kemajuan Facebook, nama Zuckerberg sudah melejit ke seluruh dunia seperti meteor. Banyak pengguna Facebook yang merupakan orang-orang elite dunia. Facebook juga menjadi sarana komunikasi para karyawan Toyota, Ernst &amp;amp; Young, dan perusahaan kaliber dunia lainnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Siapa Zuckerberg? Dia adalah pemuda berusia 25 tahun dan masih singel, perancang teknologi informasi sekaligus pemuda berjiwa wiraswasta. Saat belajar di Harvard University pada tahun 2004, dia menciptakan Facebook bersama kawannya, Dustin Moskovitz dan Chris Hughes.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hughes kemudian direkrut Obama saat masih menjadi calon presiden untuk membuat situs barackobama.com.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di Facebook, Zuckerberg bertanggung jawab untuk urusan garis kebijakan umum dan penyusunan strategi perusahaan yang kini menjadi rebutan para pemasang iklan dan para investor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Zuckerberg telah mendapat julukan sebagai ”salah satu orang yang paling berpengaruh pada tahun 2008” versi majalah Time. Pada Forum Ekonomi Davos 2009, Zuckerberg termasuk dalam daftar pemimpin muda karena prestasi dan komitmen terhadap masyarakat serta berpotensi menyumbangkan ide untuk membentuk tatanan dunia baru.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pemuda itu tampil dalam sesi ”Pengalaman Digital Mendatang” pada Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Peserta lain yang hadir antara lain Chad Hurley (YouTube), Craig Mundie (Microsoft), Shananu Narayen (Adobe), Hamid Akhvan (T-Mobile), dan Eric Clemmons (Wharton).&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Salah satu poin menarik yang diberikan Zuckerberg adalah bahwa lebih dari 100 juta orang secara aktif menggunakan aplikasi bergerak pada Facebook. iPhone Facebook saja telah memiliki 5 juta pengguna aktif bulanan dan Blackberry untuk Facebook memiliki 3,25 juta pengguna aktif bulanan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kiprah Zuckerberg lewat Facebook melesat seperti roket. Pada Februari 2004 ketika Zuckerberg meluncurkan program itu, para siswa di AS langsung membuka akun di Facebook dan dari mulut ke mulut menyebar hingga merambah ke sekolah dan universitas lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Zuckerberg dan timnya pun kemudian pindah ke Palo Alto, California, dan mulai merangkul investor, seperti pendiri PayPal, Peter Thiel, dan pendiri Napster, Sean Parker.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada Agustus 2005 Zuckerberg secara resmi menamakan perusahaannya Facebook. Setelah berhasil mengumpulkan modal 12,7 juta dollar AS, dia mengembangkan perusahaan ke level berikutnya. Situs itu secara bertahap dan konsisten terus memperluas jaringan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat ini ada lebih dari 175 juta pengguna aktif dengan berbagai fasilitas yang ada di situs itu. Facebook kini menjadi situs keempat yang paling sering dikunjungi di dunia.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;”Pencuri”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tentu saja sukses Zuckerberg dibarengi dengan kontroversi. Beberapa teman sekolahnya menuduh dia mencuri ide ConnectU untuk Facebook. Namun, gugatan soal itu ditepis pengadilan. Dia menyebabkan kehebohan karena dianggap ”menjual” data-data pribadi pemilik akun, tanpa menghargai privasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Pada tahun 2006 Zuckerberg mencengangkan dunia karena menampik tawaran Yahoo untuk membeli Facebook seharga 1 miliar dollar AS (atau sekitar Rp 12 triliun). Setahun kemudian, Microsoft membeli 1,6 persen saham Facebook seharga 240 juta dollar AS. Kini nilai ekonomi Facebook ditaksir sebesar 15 miliar dollar AS.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Zuckerberg yang lahir dari keluarga dokter yang kaya memiliki 20 persen saham di Facebook senilai 3 miliar dollar AS. Majalah Forbes mendeklarasikan Zuckerberg sebagai miliuner ”self made” termuda di planet ini.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, jangan tanyakan perihal kehidupan pribadinya, tidak banyak yang diketahui. Maklum, ketika di SMA pun dia sudah berkutat dengan urusan komputer. Ketika itu dia ingin membantu jaringan yang dimiliki ayahnya untuk dipertemukan lewat dunia maya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kebiasaan ini terus melekat dan dia lupa belajar. Karena urusan komputer dan teknologi informasi inilah dia drop-out dari Harvard.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Entah iseng atau tidak, Facebook kini kebanjiran uang. ”Mengherankan juga, begitu banyak tawaran datang,” kata Zuckerberg kepada Techcrunch pada 7 Desember 2008.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tidak banyak kalimat lain dari Zuckerberg selain ambisinya terus membuat Facebook senyaman mungkin untuk jadi alat penyatu warga dunia. ”Bukankah kami memiliki situs, yang membuat Anda merasa lebih enak menggunakannya?” ujar Zuckerber.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hmmm.... Zuckerberg, iya deh!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-6853228614665868410?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/6853228614665868410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=6853228614665868410' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6853228614665868410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/6853228614665868410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/03/zuckerberg-si-pembuat-facebook.html' title='Zuckerberg, Si Pembuat Facebook'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-2351697331951790442</id><published>2009-02-27T19:56:00.000+07:00</published><updated>2009-02-27T19:57:56.171+07:00</updated><title type='text'>Ki Enthus Susmono, Kreativitas Tiada Henti</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;  &lt;div class="txtartikelcetak"&gt; &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;  &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/02/27/3214318p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" width="250" height="300" /&gt;         &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;   &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;!--  &lt;table width="250" height="300" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;    &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/02/27/3214318p.jpg" width="250" height="300" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;       &lt;br /&gt;      &lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt; --&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span class="tglct"&gt;Jumat, 27 Februari 2009 | 00:13 WIB&lt;/span&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Siwi Nurbiajanti&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalang wayang kulit dan wayang golek asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Ki Enthus Susmono, berusaha mengikuti persoalan yang dihadapi masyarakat. Kelebihannya berimprovisasi dan menciptakan kreasi wayang membuat dia diperhitungkan di dunia seni pewayangan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Akhir Januari lalu, karya wayang terbarunya, wayang Rai Wong atau wayang berwajah orang, dipamerkan di Museum Rotterdam, Belanda. Pameran yang rencananya berlangsung selama enam bulan itu bertajuk Wayang Superstar The Theaterworld of Ki Enthus Susmono. Pameran ini menampilkan wayang kulit dan wayang golek karya Enthus yang dimiliki Museum Tropen.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jumlah wayang yang dipamerkan sebanyak 57 buah, di antaranya wayang berwajah George Bush, Saddam Hussein, dan Osama bin Laden. Seusai pameran Juni nanti, Enthus akan mementaskan wayang kulit Rai Wong dengan lakon Dewa Ruci di Amsterdam, Dohctrect, dan Paris.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Popularitas Enthus sebagai dalang tak diperoleh dengan mudah, meski darah seni sang ayah, Soemarjadiharja, yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit dan wayang golek, mengalirinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Meskipun lahir dari keluarga dalang, Enthus tidak diizinkan oleh ayahnya menjadi dalang. ”Alasan ayah saya, dadi dalang kuwi abot sanggane (menjadi dalang itu berat bebannya),” kata Enthus.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika itu dia tak begitu mengerti makna ucapan sang ayah. Seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami maksud sang ayah. Katanya, hal paling pokok yang sering terjadi pada dalang adalah manajemen keuangan yang salah. Dalang sering menggunakan manajemen ayam, yaitu langsung menghabiskan uang yang diperolehnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh karena itulah, ayahnya tak ingin Enthus menjadi dalang. Dia diharapkan belajar sampai perguruan tinggi agar mempunyai bekal hidup cukup. Namun, sejak masih kecil ia justru sering mencuri kesempatan memainkan wayang milik ayahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Saya memainkan wayang kalau ayah saya sedang tidur, seusai pentas. Kalau beliau bangun, semua perlengkapan sudah saya rapikan lagi,” ujarnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Disindir guru&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semangat Enthus untuk menggeluti dunia wayang terusik ketika ia disindir salah seorang gurunya. Saat itu ia duduk di bangku SMP Negeri 1 Tegal. Gurunya mengatakan, sebagai anak dalang kok dia tak bisa memainkan gending.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Merasa tertantang, ia lalu mengikuti kegiatan ekstra kulikuler karawitan. Enthus dibimbing gurunya, Prasetyo. Menurut dia, ilmu dari gurunya itu yang menjadi dasar kemahirannya memainkan gamelan dan mendalang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Bisa dikatakan, ilmu itu yang membuat saya bisa makan sampai sekarang,” tuturnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Berkat latihan rutin karawitan, Enthus menjadi mahir memainkan kendang, hingga ia dijuluki teman-teman sebagai Enthus tukang kendang. Lulus SMP, ia bisa memainkan kendang untuk mengiringi tari Eko Prawiro.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selepas SMPN 1 Tegal, ia melanjutkan belajar di SMAN 1 Tegal. Saat duduk di bangku SLTA inilah, ia mulai mendalang. Ini berawal dari acara lomba karya penegak pandega dalam kegiatan ekstra kulikuler pramuka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Enthus mendalang menggunakan wayang dari batang pohon pisang, dengan gamelan cangkem (suara mulut). Layar atau geber diikatkan pada tongkat pramuka yang dipegangi teman-temannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Lampu untuk penerangan dengan obor. Wayang yang dimainkan Punokawan,” ceritanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ternyata pentas sederhana itu mendapat sambutan para guru dan teman-temannya. Sejak itu ia sering diminta mendalang pada acara pramuka di sekolah-sekolah lain.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Melihat potensi Enthus dalam dunia pewayangan, salah seorang guru SMA-nya, Marwadi, mendatangi ayah Enthus untuk memintakan izin agar anak itu diperbolehkan mendalang. Dari sinilah hati ayahnya luluh, bahkan membuatkan geber kecil untuknya. Untuk latihan ia membuat wayang dari kertas yang diwarnai dengan cat air.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat lustrum V SMAN 1 Tegal pada 24 Agustus 1983, Enthus diminta mendalang selama dua jam. Ketika itu sang ayah menyaksikan pementasannya. Setelah itu, tak hanya mengizinkan, ayahnya pun mewisuda Enthus sebagai dalang di hadapan warga setempat.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Dia hanya berpesan agar saya memahami pakem kehidupan lebih dulu, sebelum belajar pakem wayang,” katanya. Sejak itu, Enthus menjadi dalang yang sesungguhnya. Ia kerap diminta pentas di balai desa dan acara hajatan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Ekonomi keluarga&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Februari 1984, Soemarjadiharja wafat dalam usia 55 tahun, karena sakit. Ketika itu Enthus duduk di kelas II SMA. Kepergian sang ayah mengakibatkan ekonomi keluarga itu terseok-seok.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Enthus pun mengambil alih peran sebagai kepala keluarga, untuk menghidupi ibu dan membiayai sekolahnya. Ia juga harus menghidupi 11 anak pungut sang ayah. Jadilah dia bersekolah pada pagi hari, dan malamnya mendalang untuk mendapat penghasilan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Selepas SMA ia diterima di Jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo lewat jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Mengingat keterbatasan dana, kesempatan itu tak diambilnya. Ia juga mendaftar di Akabri, tapi tak diterima.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Memanfaatkan relasi sang ayah, Enthus terus mendalang. Ia pernah menjadi pembuat minuman di Akademi Seni dan Karawitan Indonesia (ASKI) Solo selama 1984-1986. Di sini pula ia belajar banyak hal dengan melihat bagaimana mahasiswanya berlatih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Di sini (ASKI), saya ketemu Pak Bambang Suwarno. Dia dosen yang mengajari saya menggambar,” kenangnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Nama Enthus berkibar setelah ia memenangi Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri tahun 1988. Ia juga terus berkreasi mengembangkan berbagai jenis wayang, sampai wayang Rai Wong.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Wayang Rai Wong dia buat untuk mengenalkan wayang klasik kepada orang yang baru mengenal wayang. Enthus mengakui, sebagai dalang ia tak terikat pakem sehingga dalam pementasan lebih sering menyesuaikan pada situasi dan suka memakai bahasa sehari-hari.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Hal itu dia lakukan sejak awal mendalang, mengingat banyak orang yang menjadi tanggungannya. ”Jadi, wayang saya harus laku. Kalau ikut pakem, saya ada di urutan ke berapa?” tambahnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun, justru dari kondisi seperti itulah Enthus merasa lebih bebas bereksplorasi. Sanggar Satria Laras yang dikelolanya pun makin berkembang, dengan lebih dari 200 orang terlibat di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;DATA DIRI&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nama:&lt;/strong&gt; Enthus Susmono&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Lahir:&lt;/strong&gt; Tegal, 21 Juni 1966&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Istri:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Romiyati (40), menikah 1990 dan bercerai 1995&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Nur Laelah (33), menikah 1997-kini&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Anak:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Firman Jindra Satria (18)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Firman Haryo Susilo (15)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Firma Nur Jannah (11)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Firman Jafar Tantowi (5)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penghargaan:&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Juara I Festival Dalang Remaja Tingkat Jawa Tengah di Wonogiri, 1988&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Dalang Terbaik se-Indonesia pada Festival Wayang Indonesia, 2005&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Gelar doktor honoris causa bidang seni budaya dari International University Missouri AS, Laguna College of Business and Arts, Calamba, Filipina, 2005&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Rekor Muri sebagai dalang terkreatif dengan kreasi jenis wayang terbanyak (1.491 wayang), 2007&lt;/p&gt;&lt;p&gt;- Pemuda Award Bidang Seni dan Budaya dari DPD Hipmi Jateng, 2005&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;/div&gt;    &lt;!-- akhir --&gt;                                   &lt;!--ads --&gt;      &lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;!--//&lt;![CDATA[   var m3_u = (location.protocol=='https:'?'https://ads.kompas.com/www/delivery/ajs.php':'http://ads.kompas.com/www/delivery/ajs.php');   var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999);   if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ',';   document.write ("&lt;scr"+"ipt type="'text/javascript'" src="'" zoneid="23" cb="'" exclude=" + document.MAX_used);   document.write (" loc=" + escape(window.location));   if (document.referrer) document.write (" referer=" + escape(document.referrer));   if (document.context) document.write (" context=" + escape(document.context));   if (document.mmm_fo) document.write (" mmm_fo="1"&gt;&lt;\/scr"+"ipt&gt;");   //]]&gt;--&gt;&lt;/script&gt;&lt;script type="text/javascript" src="http://ads.kompas.com/www/delivery/ajs.php?zoneid=23&amp;amp;cb=81634296636&amp;amp;loc=http%3A//cetak.kompas.com/sosok&amp;amp;referer=http%3A//cetak.kompas.com/international"&gt;&lt;/script&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3054272626233848488-2351697331951790442?l=sosok2009.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sosok2009.blogspot.com/feeds/2351697331951790442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3054272626233848488&amp;postID=2351697331951790442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2351697331951790442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3054272626233848488/posts/default/2351697331951790442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sosok2009.blogspot.com/2009/02/ki-enthus-susmono-kreativitas-tiada.html' title='Ki Enthus Susmono, Kreativitas Tiada Henti'/><author><name>f1@faridakhwan.net</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://www.freewebs.com/arsipkliping/flasasww.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3054272626233848488.post-6534779237124213740</id><published>2009-02-23T20:11:00.000+07:00</published><updated>2009-02-23T20:12:36.885+07:00</updated><title type='text'>Yasir, Melestarikan Mi Lethek di Bantul</title><content type='html'>&lt;div id="judulartikelcetak"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;!--&lt;div id="subjudulartikelcetak"&gt;Satuan Keamanan PBB Diterjunkan&lt;/div&gt; --&gt;  &lt;div class="txtartikelcetak"&gt; &lt;!--zoom image--&gt;  &lt;script language="javascript"&gt;  function Big(me)  {  me.width *= 1.700; me.height *= 1.700;  }  function Small(me)  {  me.width /= 1.700; me.height /= 1.700;  }  &lt;/script&gt;    &lt;div id="boximartikelcetak1"&gt;  &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/02/23/3210987p.jpg" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" width="250" height="300" /&gt;         &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;   &lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;!--  &lt;table width="250" height="300" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;      &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;    &lt;img src="http://www.kompas.com/data//photo/2009/02/23/3210987p.jpg" width="250" height="300" onmouseover="Big(this);" onmouseout="Small(this);" align="left" /&gt;   &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;     &lt;tr&gt;    &lt;td&gt;     &lt;div align="right"&gt;&lt;span class="txfotocetak"&gt;    &lt;div style="border:1px solid #990000;padding-left:20px;margin:0 0 10px 0;"&gt;  &lt;h4&gt;A PHP Error was encountered&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Severity: Notice&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Message:  Trying to get property of non-object&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Filename: views/sosok_view.php&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Line Number: 127&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;br /&gt;   &lt;div style="border:1px solid #990000;padding-left:20px;margin:0 0 10px 0;"&gt;  &lt;h4&gt;A PHP Error was encountered&lt;/h4&gt;  &lt;p&gt;Severity: Notice&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Message:  Trying to get property of non-object&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Filename: views/sosok_view.php&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Line Number: 129&lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;   &lt;/span&gt;    &lt;/div&gt;    &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;    &lt;/table&gt; --&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;span class="tglct"&gt;Senin, 23 Februari 2009 | 00:47 WIB&lt;/span&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;Eny Prihtiyani&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di rumah yang sederhana itu, sekitar 22 tenaga kerja menggantungkan nasib pada usaha mi lethek. Kenyataan itu membuat Yasir Feri Ismatrada tetap mempertahankan metode produksi tradisional. Meski memakai peralatan tradisional, kapasitas produksinya bisa mencapai 10 ton per bulan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yasir Feri Ismatrada adalah warga Dusun Bendo, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia memulai usaha membuat mi sejak tahun 2002, meski mi lethek sebenarnya adalah usaha turun-temurun keluarga yang mulai diproduksi sejak tahun 1940-an. Tahun 1982 usaha tersebut sempat terhenti karena kesulitan ekonomi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah lama produksi mi lethek terhenti, Yasir mulai tergelitik untuk menggerakkan kembali usaha keluarganya. Ide itu muncul setelah dia mendengar informasi dari seorang dokter tentang khasiat singkong. Yasir pun teringat akan mi lethek produksi keluarganya yang dibuat dengan bahan dasar singkong.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;”Penjelasan dokter itu membuat saya tergugah. Saya sekaligus merasa tertantang untuk mengembangkan kembali mi lethek. Saya yakin mi produksi saya bisa menguasai pasar karena rasanya berbeda dengan mi pada umumnya. Saya juga percaya khasiat singkong sangat baik untuk kesehatan tubuh,” katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mi lethek terbuat dari bahan dasar tepung tapioka atau tepung singkong yang dicampur dengan gaplek. Kedua bahan itu diaduk dengan menggunakan alat berbentuk silinder. Silinder tersebut digerakkan oleh tenaga sapi. Setelah bahan baku diaduk, dimasukkan ke tungku kukusan, lalu diaduk lagi untuk mengatur kadar airnya. Kemudian adonan tersebut dipres dan dikukus lagi. Proses terakhir berupa pencetakan dan penjemuran mi hingga kering.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Produk ini disebut mi lethek karena warna mi ini tidak secerah mi pada umumnya, yakni putih atau kuning. Warna mi ini butek atau keruh karena tidak menggunakan bahan pemutih, pewarna, ataupun pengawet. Lethtek dalam bahasa Jawa artinya kotor.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Justru warna mi lethek benar-benar alami muncul dari proses produksi. Meski diolah secara tradisional, mi lethek bisa bertahan hingga tiga bulan apabila disimpan dalam ruangan yang tidak lembab.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Langganan Presiden&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Konsumen awam yang melihat wujud mi lethek mungkin tidak akan te
